SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 51


__ADS_3

Ketika Marco keluar lagi dari dalam rumah, dan menuju ke bagian belakang rumahnya, diluar sana tampak lima ekor serigala dengan warna dan ukuran yang sama.


Kelihatannya, Marco sudah harus melatih dirinya, agar bisa memilah siapa-siapa saja yang ada disitu.


Bukan perkara gampang bagi Marco.


Dipenglihatan Marco, tidak ada sedikitpun yang berbeda dari mereka semua.


Hingga warna mata mereka pun sama.


Apa yang harus Marco lakukan agar bisa membedakan mereka?


Marco berjalan pelan, didepan serigala-serigala yang berbaris itu, sambil memperhatikan baik-baik satu persatu dari mereka.


Tetap saja.


Hingga beberapa kali Marco bolak-balik didepan mereka, Marco tetap tidak bisa membedakan mereka.


"Kamu harus berkonsentrasi!" kata salah satu dari serigala itu, dan Marco yakin kalau itu adalah Beta.


"Kalau kamu tidak bisa membedakan kami, bagaimana kamu bisa tahu kalau salah satu dari kami, adalah Alpha pengganti atau pengikutnya yang menyusup?" suara Beta terdengar frustrasi.


"Berkonsentrasi seperti apa?" Marco balik bertanya, dengan kondisi frustrasinya dengan Beta.


"Gunakan instingmu... Bukan hanya melihat seperti biasa," kata Beta.


"Iya, tapi bagaimana caranya?" tanya Marco yang merasa kesal.


"Jangan pakai emosi...! Tenang...! Tarik nafasmu dalam-dalam, pejamkan matamu sebentar, lalu hembuskan nafasmu perlahan-lahan, bersamaan dengan matamu yang juga kamu buka secara perlahan," kata Beta.


Marco mengikuti saran Beta, dan melakukannya persis seperti yang dikatakan Beta kepadanya.


Tidak berhasil.


Ketika Marco membuka mata dan melihat mereka, tetap tidak ada yang berbeda.


"Sama saja!" ujar Marco ketus.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Beta.


"Fokuskan pikiranmu!" lanjut Beta.


Mendengar perkataan Beta membuat Marco semakin kesal, karena menurutnya itu tidak membantu sama sekali.


"Jangan memikirkan hal yang lain! Berkonsentrasilah!" kata Beta.


Entah mengapa, secara tiba-tiba meski tidak ada satupun dari serigala-serigala itu yang didengarnya sedang berbicara, Marco merasa seakan-akan ingin menyerang salah satu dari mereka.


Dengan rasa kesal, Marco yang mengepalkan tangannya, mendekat kearah salah satu serigala, dan memukulnya saat itu juga, hingga serigala itu terbaring ketanah.


Agak mengejutkan bagi Marco, ketika melihat serigala yang besar, tumbang dengan kepalan tinju Marco yang tidak seberapa ukurannya.

__ADS_1


"Kamu tahu?" tanya Beta, sambil berdiri kembali.


"Memang berbeda... Kamu Alpha yang berbeda," lanjut Beta.


"Apa maksudmu?" tanya Marco.


"Biasanya, Alpha membedakan kaumnya dengan nalurinya begitu saja. Sedangkan kamu, membedakan shapeshifter dari niat buruknya," jawab Beta.


"Aku tidak mengerti maksud pembicaraanmu," kata Marco.


"Aku tadi sempat berpikir untuk menolakmu sebagai Alpha, dan berniat menantangmu. Itu yang membuatmu mengenaliku, bukan?" tanya Beta.


"Aku tidak tahu! Yang aku tahu, tiba-tiba saja aku merasa ingin menghajarmu," jawab Marco.


"Berarti benar dugaanku... Benar-benar sesuai dengan ramalan yang tertulis..." kata Beta.


Marco sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan Beta, dan memilih untuk berdiam diri, dan menunggu Beta menjelaskannya.


"Kamu Alpha yang tidak membeda-bedakan kaum-mu antara satu dengan yang lain. Kecuali, yang ingin merusak kedamaian didalam kaum," kata Beta menjelaskan, seolah-olah mengerti apa yang Marco pikirkan.


"Jadi maksudmu, aku tidak akan menyerang shapeshifter yang tidak berniat buruk? Lalu bagaimana dengan situasi, dimana aku hampir menyerang Flints dan kamu?" tanya Marco.


"Tapi, kamu tidak segera menyerang kami, bukan? Kamu hanya waspada dan sekedar berjaga-jaga, karena melindungi pasanganmu," jawab Beta.


"Aku rasa, akan berbeda situasinya kalau kamu bertemu dengan lawan. Kamu pasti akan segera menyerangnya, tanpa menunggu lama-lama," lanjut Beta.


Marco menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.


"Maafkan aku..." kata Marco.


Beta tertawa kecil.


"Tidak ada masalah. Aku sendiri yang mencoba-coba...


Juga, karena kamu hanya memukulku dengan bentukmu sebagai manusia...


Kalau kamu sampai memukulku, saat kamu sedang berganti bentuk, maka akan fatal akibatnya bagiku," kata Beta.


"Kalau begitu, Alpha tetap tidak bisa membedakan kita?" tanya *Seba.


(*Marco tidak melihat sedikit pun gerakan mulut dari Seba, maupun yang lainnya.


Tapi secara naluriah, Marco bisa mendengar suara mereka, dan mengetahui siapa yang berbicara, meskipun dia tidak tahu yang mana satu dari serigala itu yang sedang berbicara.


Seolah-olah, mereka hanya sedang berbicara dengan menggunakan telepati.)


Akan cukup membingungkan bagi Marco, kalau dia tetap tidak bisa membedakan fisik mereka, dan hanya bisa membedakan suaranya saja.


Jadinya, Marco tidak tahu harus melihat kearah mana, ketika mereka sedang berbicara.


Dan, menurut Marco mungkin saat ini, dia pasti terlihat seperti orang linglung, karena dia harus melihat ke semua shapeshifter yang ada didepannya itu.

__ADS_1


"Setahuku kamu tetap bisa mengasah nalurimu, untuk membedakan kami. Tapi bukan aku yang bisa mengajarkannya. Melainkan Delta," lanjut Beta.


"Lalu apa yang bisa kamu ajarkan?" tanya Seba.


"Aku hanya bisa melatihnya bertarung," jawab Beta.


"Aku juga bisa mengajarinya agar bisa mengembangkan kekuatannya," lanjut Beta.


"Apa kalian semua bisa kembali ke bentuk manusia?" tanya Marco, yang sudah tidak tahan lagi dengan kebingungan, yang dia rasakan saat itu.


"Baik," kata mereka berlima hampir serempak.


Marco akhirnya bisa menarik nafas lega, lalu berkata,


"Kita bicara didalam saja!"


Marco kemudian berjalan masuk kedalam rumah, meninggalkan Beta dan yang lainnya diluar, untuk berganti bentuk kembali menjadi manusia.


Marco masih didepan pintu, tapi suara yang terdengar dari dalam rumah, mengkhawatirkan Marco hingga membuatnya berlari tergesa-gesa menemui Bella.


"Sayang... Ada apa denganmu?" tanya Marco.


Marco melihat Bella di toilet didalam kamar Marco, yang tampak sedang terduduk didepan kloset, sambil muntah-muntah seperti sedang sakit, dengan wajah Bella yang pucat pasi, dan badannya yang nampak lemas.


Buru-buru, Marco menghampiri Bella lalu berjongkok didekatnya, sambil memegang kedua pundak Bella.


"Apa kamu sakit?" tanya Marco cemas.


Bella tidak menjawab pertanyaan Marco, melainkan tampak seperti masih ingin mengeluarkan isi perutnya lagi.


Marco dengan perlahan-lahan mengusap-usap punggung Bella.


"Sayang... Kamu kenapa? Kamu membuatku cemas," ujar Marco pelan.


Bella masih terlihat sama saja, bahkan tampak semakin lemas.


"Aku bawa kamu ke rumah sakit, ya?" tanya Marco, dan hampir menggendong Bella.


Tapi, Bella melambaikan tangannya, seolah-olah meminta Marco untuk tidak berbuat apa-apa, untuk sementara waktu.


Bella memijat-mijat dahinya, lalu berkata,


"Mungkin aku sedang ha..."


Kalimat Bella terhenti begitu saja, karena dia terlihat kembali mual.


"Ayo kita ke rumah sakit!" ujar Marco yang hilang kesabarannya, kemudian menggendong Bella.


"Tidak usah buru-buru!" kata Bella, dalam gendongan Marco, setengah berbisik karena tangannya agak sedikit menutupi mulutnya.


"Mungkin aku hamil..." lanjut Bella.

__ADS_1


Seketika itu juga, mata Marco terbelalak.


__ADS_2