SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 32


__ADS_3

Dengan mencampur makanan kering dan basah, dengan sedikit potongan daging segar, Marco memberikan Duke makanannya itu, dalam satu mangkuk besar.


Ketika berjalan keluar, kearah beranda rumahnya, Marco sempat melihat Bella sedang berbicara di telepon, dan tampaknya pembicaraan Bella dengan orang tuanya itu, terdengar baik-baik saja.


Setelah mengisi air minum kedalam mangkuk berbeda untuk Duke minum, Marco segera masuk lagi kedalam rumah untuk mandi, dan Bella sudah tidak terlihat lagi didekat telepon yang dia gunakan tadi.


Mendengar bunyi jatuhan air pancuran dari kamar mandi didalam kamar Marco, Bella berarti sedang mandi.


Tanpa mau mengganggu Bella, Marco mengambil pakaiannya dari dalam lemari, lalu berjalan keluar, menuju ke kamar lama orang tuanya, untuk mandi dan berpakaian disana.


Marco baru saja mengambil keputusan besar saat ini, dan tidak ada sedikitpun penyesalan dihatinya.


Meskipun ada sedikit rasa gugup dan kekhawatiran, dengan bagaimana tanggapan orang tua Bella, saat mereka bertemu nanti, tapi Marco merasa benar-benar yakin, kalau keputusan yang dia ambil sudah tepat.


Bella...


Wanita itu akan jadi pasangan Marco yang sempurna.


Marco senyum-senyum sendiri, saat membayangkan dirinya sendiri memakai setelan jas, dan wanita secantik Bella memakan gaun pengantin, akan berdiri mendampinginya.


Dengan memakai pakaiannya yang dianggapnya sebagai pakaian terbaiknya, Marco memandangi dirinya didepan cermin, yang ada didalam kamar lama orang tuanya itu.


Sekarang, Bella mungkin juga sudah selesai bersiap-siap didalam kamar Marco.


Marco berjalan keluar dari dalam kamar lama orangtuanya, dan benar saja dugaan Marco.


Terlihat didepan pintu kamar Marco, Bella yang masih berdiri disana, sudah berpakaian rapi, dan cantik seperti biasanya, dengan riasan wajah yang tipis, yang tidak mengubah kecantikan wajahnya yang asli.


"Kamu terlihat cantik..." kata Marco, sambil mendekat, dan memeluk Bella.


"Rayuan yang bagus!" ujar Bella, lalu tersenyum lebar.


"Sudah siap?" tanya Bella.


"Iya," jawab Marco.


"Tapi... Aku mau menciummu sebentar..." lanjut Marco.


Bella tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya, dan memberikan kesempatan bagi Marco, untuk berciuman dengannya.


"I love you, baby..." kata Marco.


Bella tersenyum lebar, dan mempererat pelukannya dibadan Marco.


"Love you too..." ujar Bella.


"Kita pergi sekarang? Mommy dan Daddy menunggu kedatangan kita," ajak Bella.

__ADS_1


"Oke!" kata Marco, lalu sambil merangkul pinggang Bella, mereka berdua berjalan keluar dari rumah Marco.


"Mau memakai mobilku atau mobilmu?" tanya Marco.


"Terserah saja..." jawab Bella.


Marco melihat kondisi mobilnya yang tampak buruk karena dimakan usia, lengkap dengan bekas lumpur yang melebar, hampir memenuhi semua sisi-sisi sampingnya.


"Kita pakai mobilmu saja!" kata Marco, lalu membukakan pintu mobil untuk Bella.


Bella hanya tersenyum, lalu masuk kedalam mobilnya, kemudian Marco menutup pintu mobil, dan berjalan ke bagian supir.


"Kamu tidak akan menyesal menikah denganku nanti?" tanya Marco ketika mobil yang dia kemudikan, mulai berjalan pelan keluar dari halaman rumahnya.


"Aku mencintaimu sayang... Jangan pernah berpikiran macam-macam...!" kata Bella, lalu memegang tangan Marco.


"Aku juga bukan orang yang romantis, ya? Melamarmu tanpa menyiapkan sebuah cincin, apalagi bunga..." kata Marco.


Bella tersenyum, sambil melihat Marco yang sesekali meliriknya.


"Bukan masalah besar..." kata Bella.


"Tapi, kamu tetap harus menyiapkannya. Aku menunggu!" ujar Bella berpura-pura tegas, lalu tersenyum lebar, dan hampir tertawa.


"Sepulangnya aku dari hutan besok, kita pergi melihat-lihat ditoko perhiasan, ya?" ujar Marco, lalu mengecup punggung tangan Bella, yang masih dipegangnya.


"Oke!" jawab Bella bersemangat.


Hanya butuh belasan menit saja, rumah orang tua Bella sudah terlihat, dan Marco mengemudikan mobilnya sampai terparkir dihalaman rumah orangtua Bella.


Marco kemudian membukakan pintu untuk Bella keluar dari dalam mobil, dan memegang tangan Bella saat akan berjalan ke pintu rumah itu, tapi Bella membuat tangan Marco agar merangkul pinggangnya.


"Gugup?" tanya Bella tiba-tiba, saat mereka mendekat ke pintu rumah orangtua Bella.


"Tidak terlalu... Kenapa?" jawab Marco.


"Tanganmu dingin..." kata Bella.


"Tenang saja... Kamu mengenal orang tuaku, bukan? Mereka menyukaimu," lanjut Bella, lalu mengetuk pintu rumah.


"Tunggu sebentar!"


Terdengar suara berat dan sedikit serak dari dalam rumah, tidak lama setelah Bella mengetuk pintu itu.


Daddy Bella tampak berdiri didekat pintu, setelah pintu itu terbuka, dengan senyum lebar yang mengembang diwajahnya.


"Halo, Marco! Sudah lama saya tidak melihatmu!" kata Ben Graham, Daddy Bella.

__ADS_1


"Hai Daddy!" sapa Bella.


"Halo, Mister Graham!" kata Marco, menyapa Daddy Bella.


"Tidak perlu terlalu formal... Kamu bisa memanggil saya dengan nama depan saya, Ben!" kata Ben, sambil menerima uluran tangan Marco untuk berjabat tangan.


"Oh... Oke, Ben!" ujar Marco.


"Silahkan masuk! Bella, bisa kamu membantu Mommy menyiapkan makan malam?" tanya Ben.


"Oke, Dad!" jawab Bella.


"Marco! Aku tinggalkan kamu bersama Daddy-ku, ya?" lanjut Bella sambil melihat Marco.


Marco menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.


"Oke...!" jawab Marco.


Bella kemudian berjalan masuk, jauh kedalam rumah, hingga tidak terlihat lagi dari pandangan Marco.


Sedangkan Marco, sambil dirangkul pundaknya oleh Ben, dibawa Ben pergi ke ruang keluarga.


"Silahkan duduk!" kata Ben, sambil menunjuk sofa yang ada didalam ruangan itu.


"Terimakasih!" ujar Marco, kemudian duduk disalah satu bagian sofa.


"Kamu terlihat baik!" kata Ben, terdengar berbasa-basi, untuk membuka percakapan.


"Anda juga terlihat sehat!" kata Marco.


"Kenapa selama ini kamu tidak pernah berkunjung kesini? Kata Bella, kamu sudah kembali ke kota ini sejak kurang lebih delapan tahun yang lalu," tanya Ben, dengan alisnya yang mengerut.


"Maafkan saya. Saya terlalu sering menghabiskan waktu, untuk mengurus peternakan..." jawab Marco.


"Greg pasti sangat bangga denganmu!" kata Ben.


Kali ini wajah Ben terlihat seolah-olah memancarkan kesedihan, dengan kepala dan pandangannya yang sedikit tertunduk, sebelum dia kembali melihat Marco.


"Daddy-mu... Greg, adalah sahabat yang baik... Selama ini, saya mengira kalian masih diluar kota, dan saya sama sekali tidak mengetahui keadaan Greg, karena kita putus kontak saat itu...


Padahal, sebelum kalian pindah, saya berteman baik dengannya...


Maafkan saya, karena tidak bisa datang, ketika Greg wafat," kata Ben, yang tampak memaksakan untuk bisa tersenyum didepan Marco.


"Tidak apa-apa... Saya yakin Daddy juga mengingat, dan menghargai persahabatan anda dengannya," kata Marco, dengan tenang.


"Greg memiliki anak laki-laki yang kuat... Saya ikut merasa bangga, karena kamu akhirnya akan menikah dengan Bella, anak perempuan saya. Saya berharap, dengan begitu, hubungan kita akan semakin dekat," kata Ben, kembali bersemangat.

__ADS_1


"Terimakasih, Ben! Saya juga berharap, anda menerima saya, dengan segala kekurangan saya...


Saya berjanji, akan menjaga dan menyayangi Bella, seperti anda menjaga dan menyayanginya selama ini," kata Marco.


__ADS_2