SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 22


__ADS_3

Semakin lama Marco memperhatikan gerak-gerik mereka, Marco semakin yakin kalau mereka memang sama dengan Marco.


Ketiga orang yang masih terlihat muda, kurang lebih masih terlihat seperti masih seusia dengan Marco, atau mungkin lebih muda sedikit darinya.


Ada sedikit keinginan didalam hati Marco untuk menemui mereka dan bertegur sapa, tapi masih ada keraguan jika dia serta-merta mendekat begitu saja.


Dan juga, bagaimana kalau mereka tidak bisa menyimpan rahasia, lalu saudara laki-laki Daddy-nya jadi tahu kedatangan Marco disitu?


Bukankah akan ada kemungkinan buruk, yang bisa terjadi kepada Marco?


Marco menjadi gamang, dan hanya menatap mereka disitu cukup lama, sampai akhirnya dia merasa haus dan lapar.


Kebingungan, Marco seakan-akan tidak bisa berpikir lagi, bagaimana caranya dia bisa pergi dari tempat itu, tanpa dilihat ketiga orang itu.


Untung saja, ketiga orang itu tampaknya sudah puas bermain air, dan satu persatu keluar dari air.


Dan Marco bisa melihat perubahan wujud mereka, tepat didepan mata kepalanya sendiri.


Marco tersenyum lebar.


Marco sudah menemukan tempat kaumnya bersembunyi.


Sekarang, tinggal memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa berbaur disana, tanpa membuat kehebohan.


Dua serigala abu-abu dan hitam berlari menembus pepohonan, dan wanita yang tertinggal, baru saja keluar dari air.


Marco memalingkan wajahnya, saat wanita itu berdiri menghadap kearahnya.


Entah berapa lama Marco berpaling, tapi Marco belum mendengar ada suara berlari dari tepi pantai itu, yang mengarah kedalam hutan.


Marco, mengangkat wajahnya, dan betapa terkejutnya dia, saat melihat seekor kelinci yang sudah berada didepannya.


Marco menatap kelinci itu, begitu juga kelinci itu yang tampak memperhatikan Marco.


"Apakah kamu mengerti dengan ucapanku?" tanya kelinci itu.


Mata Marco terbelalak, dengan mulut terkunci rapat.


Kelihatannya, itu bukan seekor kelinci biasa, karena Marco bisa memahami perkataannya.


Marco menganggukkan kepalanya.


"Iya!" sahut Marco.


"Siapa kamu?" tanya kelinci itu.


"Namaku Marco!" jawab Marco.


"Namaku Adaline!" kata kelinci yang berdiri didepan Marco, lalu menggoyang-goyangkan salah satu tangannya, seolah-olah sedang berjabat tangan, meski tangan mereka berdua tidak bersentuhan.


"Apa kamu bisa menjadi manusia?" tanya Adaline.


"Iya," jawab Marco, setelah sempat terdiam sebentar.

__ADS_1


"Kedua orang tadi, itu saudara-saudaraku. Aku melihatmu memperhatikan kami... Kamu baru disini?" tanya Adaline.


"Iya... Maafkan aku! Bukannya, aku berniat untuk mengintip kalian, tapi aku hanya merasa sangat penasaran," jawab Marco.


Kelinci bernama Adaline itu tertawa.


"Itu sama saja kalau kamu sedang mengintip," kata Adaline, setelah berhenti tertawa.


"Kamu darimana?" tanya Adaline.


"Bridget," jawab Marco.


"Dimana itu?" tanya Adaline.


"Tempat yang jauh dari sini. Harus menyeberangi lautan," jawab Marco.


"Oh... Kalau begitu, kamu salah satu dari kaum kita yang terpisah," kata Adaline.


"Hmmm... Lalu dengan siapa kamu kesini?" tanya Adaline, seolah-olah tidak akan kehabisan pertanyaan untuk Marco.


"Aku datang kesini sendirian," jawab Marco.


"Kita semestinya bertemu dengan menjadi manusia. Tapi..." kata Adaline.


"Kamu mengerti 'kan maksudku?" lanjutnya lagi.


"Iya," jawab Marco.


"Apa kamu mau ikut denganku ke perkumpulan?" tanya Adaline.


"Berapa banyak yang tinggal Bridget?" tanya Adaline.


"Aku kurang tahu," jawab Marco.


"Kamu tidak bisa bergaul... Aku mengerti... Kelihatannya, kamu memang pemalu," kata Adaline.


"Lalu kamu mau kemana sekarang? Kamu tidak mau ikut denganku... Apa kamu akan kembali ke Bridget?" tanya Adaline.


"Iya," jawab Marco.


"Hmmm... Baiklah! Apa kamu akan kesini lagi?" tanya Adaline.


"Mungkin..." jawab Marco.


"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan baju ganti untukmu. Ukuranmu apa sama atau paling tidak mirip dengan saudara-saudaraku?" tanya Adaline lagi.


"Mungkin..." jawab Marco yang tidak bisa mengira-ngira.


"Kalau begitu, aku pergi dulu!" kata Adaline, dan melompat pelan menjauh, tapi dia kemudian berhenti, lalu berbalik melihat Marco.


"Kapan kamu kesini lagi?" tanya Adaline.


"Besok, kurang lebih dijam-jam seperti sekarang," jawab Marco.

__ADS_1


"Oke! Hati-hati dijalan! Kapan-kapan, aku mau ikut denganmu, untuk berjalan-jalan dikota tempat tinggalmu," kata Adaline, lalu kembali melompat-lompat.


Sebelum Adaline pergi terlalu jauh, Marco teringat akan sesuatu, lalu mengejar Adaline.


"Maaf, Adaline! Tapi, apa kamu bisa menyembunyikan informasi kedatanganku kesini?" tanya Marco.


Adaline lalu terdiam untuk beberapa saat.


"Hmmm... Kamu ternyata memang terlalu pemalu. Baik, aku tidak bilang dengan siapa-siapa!" kata Adaline.


"Oke! Itu saja?" tanya Adaline.


"Iya, terimakasih!" kata Marco.


"Sama-sama...!" kata Adaline, dan kali ini dia seolah-olah mencari tempat persembunyian.


Dan benar saja.


Tidak lama, Marco bisa melihat seekor cheetah berlari kencang dari tempat Adaline pergi tadi, dan mengarah masuk jauh kedalam hutan.


Marco kemudian berganti menjadi manusia, lalu berganti lagi menjadi burung elang, dan terbang menjauh dari tempat itu.


Tubuhnya terasa cukup lemah, karena lapar dan haus, dan dengan memanfaatkan angin panas, Marco melayang, dan hanya menggerakkan ekornya sebagai kemudinya, mengarah ke hutan yang ada didekat kota Bridget.


Perasaan puas, membuat Marco makin bersemangat.


Marco sudah menemukan tempat yang dia cari selama ini, meskipun dia belum bisa menjelajah lebih jauh ditempat itu.


Apalagi, kini dia bisa bertegur sapa, dengan salah satu dari kaumnya, yang kemungkinan memang bisa jadi teman barunya.


Kalau dia kembali mengunjungi tempat itu, mungkin ada kesempatan untuk mencari tahu lebih jauh tentang tempat itu, di antarkan Adeline.


Kemungkinan besar, Marco juga akan menemukan keluarganya, atau paling tidak Mommy-nya, karena konon katanya, Daddy-nya sudah meninggal dunia.


Asalkan Adaline bisa menyimpan rahasia, Marco bisa menyelinap didalam sana, tanpa diketahui saudara laki-laki Daddy-nya, yang menurut suster Martha, berniat untuk membunuh Marco.


Marco jadi terpikirkan lagi tentang saudara laki-laki Daddy-nya.


Seperti apa dia sebenarnya, sampai bisa sekejam itu menyiksa suster Martha, dengan kutukan seperti itu?


Perjalanan kembali ke hutan diseberang lautan, tidak terasa lama.


Sepertinya hanya sebentar saja Marco terbang diangkasa menjauh dari pulau tadi, tapi kini, dia sudah bisa melihat pepohonan hutan yang menjadi tempatnya untuk kembali menjadi manusia, dan berpakaian lagi.


Marco terbang menukik, ketika dilihatnya titik pendaratannya sudah cukup dekat.


Setelah memantau sebentar diudara, Marco lalu mendarat dipermukaan tanah.


Terburu-buru, Marco memakai pakaiannya, dan berjalan keluar dari hutan, dan setengah berlari menuju ke mobilnya secepat yang dia bisa, demi sebotol air untuk memuaskan dahaganya.


Marco lalu mengemudi mobilnya untuk pulang, dan tiba dirumahnya saat hari sudah menjelang sore.


Dihalaman rumah Marco, terlihat mobil Bella susah terparkir disana.

__ADS_1


Marco tersenyum lebar, sambil menggigit bibirnya sendiri.


Kalau begitu keadaannya, terang saja kalau malam ini, Marco tidak akan merasa kesepian.


__ADS_2