SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 97


__ADS_3

Marco tertipu dengan bagian luar kastil yang tampak lengang, tanpa terlihat siapa-siapa berjaga disana.


Tidaklah se-lengang itu pada bagian dalamnya.


Shapeshifter pengikut Alpha pengganti, terlihat banyak berjaga-jaga di hampir setiap bagian yang bisa dijangkau oleh penglihatan Marco.


Tapi, mungkin karena mereka mengenali Nancy, mereka tidak menghalang-halangi perjalanan Nancy dan semua yang ikut dengannya didalam koridor.


Pencahayaan yang cukup, berasal dari lubang-lubang dengan letak yang cukup tinggi, dibuat seperti jendela di bagian dinding kastil, membuat mereka bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada di koridor didalam kastil itu.


Setelah melewati beberapa pintu besar yang tertutup rapat, Nancy kemudian berhenti di salah satu pintu yang terdapat dua orang penjaga yang memakai bentuk serigala abu-abu.


Nancy kemudian berbicara dengan mereka, dan tak lama mereka lalu membukakan pintu untuk Nancy.


Marco, Beta, Gamma dan Delta juga ikut berjalan masuk kedalam sana.


"Jangan terlalu dekat!" kata Nancy berbisik di telinga Marco.


Seorang wanita muda tampak seperti sebaya dengan Marco terbaring diatas tempat tidur, dan bertutupkan dengan selimut hingga ke bagian dadanya.


Nancy berjalan mendekat menghampiri wanita itu, lalu dengan tenang duduk disampingnya.


"Nancy!" ujar wanita itu yang tiba-tiba membuka matanya.


Wanita itu juga melayangkan pandangannya kearah Marco, Beta Gamma dan Delta yang berdiri didekat tempat tidur itu.


Marco sempat menangkap kilatan aneh di mata wanita itu saat pandangan mereka berdua bertemu, namun wanita itu buru-buru mengalihkan pandangannya, dan melihat kearah Nancy.


Wanita itu terlihat lemas dengan wajah yang pucat, tampak bersusah payah hanya untuk bangkit dan duduk menyandarkan punggungnya di bagian kepala ranjang.


Perlahan-lahan, wanita itu menyingkapkan lembaran selimut tebal yang menutupi kaki hingga ke dadanya itu.


Wanita yang memiliki garis dan bentuk wajah yang sangat cantik, lengkap dengan rambutnya yang berwarna hitam dan panjang, dan kini hanya mengenakan gaun tidur lengan panjang, dengan panjang bagian roknya yang sampai ke betis.


Marco melihat kearah kaki dari wanita yang berselonjor diatas tempat tidur.


Salah satu mata kakinya tampak terpasang sebuah pasungan besi, dengan rantai panjang yang terkait disana, dan ujung rantai yang satunya lagi yang terkait di dinding.


Wanita itu tampak kesakitan, dengan darah segar yang mengalir dari sela antara pasungan besi dan kakinya, berikut juga dengan bekas darah yang membentuk pulau di atas kasur, tempat dimana dia meletakkan kakinya yang terpasung.


Melihat kaki wanita itu yang terluka, Marco merasa iba.


Karena rasa tidak tega, tanpa disadarinya Marco memejamkan matanya sebentar.

__ADS_1


Ketika Marco membuka matanya lagi, tempat itu kini sudah berubah drastis.


Dinding yang tadinya indah dipenuhi dengan tempelan kertas dinding yang mewah dan terlihat bersih, berubah menjadi berwarna kehitaman dan dipenuhi dengan lumut dibagian sudut-sudutnya.


Bekas cakaran yang cukup dalam di dinding, masih bisa terlihat dengan campuran sisa darah kering yang ikut menempel disana.


Di atas tempat tidur yang tadinya hanya sebagian saja yang dikotori oleh bekas darah, kini tampak menjijikkan dengan warna kecoklatan, dan berbau busuk.


Marco melihat wanita itu masih ada disana, sedangkan Nancy yang tadinya duduk di bagian pinggir di atas tempat tidur itu, sudah tidak terlihat lagi.


Begitu juga Beta, Gamma dan Delta, mereka semua menghilang dari penglihatan Marco.


Di ruangan itu, sekarang hanya ada Marco dan wanita itu.


"Siapa namamu?" tanya wanita itu.


"Marco," jawab Marco.


Wanita itu tersenyum lebar, meski di wajah pucatnya yang cantik, masih terlihat sisa-sisa raut kesedihan disana, lengkap dengan air mata yang masih membasahi kedua matanya.


"Aku Mommy-mu. Apa kamu tahu?" tanya wanita itu sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Marco.


Tangan yang tampak kotor kehitaman dengan bercampur bekas darah kering, jauh sekali perbedaannya dengan keadaan awal yang dilihat Marco, saat pertama kali memasuki tempat itu dan melihat wanita itu tadi.


Semua ujung jari tangan wanita itu tampak hancur, dan membuat Marco terpikir, kalau wanita itulah yang mencakar dinding dengan kuku-kukunya.


"Apa kamu takut kepadaku? Atau kamu merasa jijik melihatku?" tanya wanita itu dengan suara memelas.


"Maafkan saya... Tapi, sebaiknya saya tidak memegang tangan anda. Mungkin nanti akan infeksi jika saya menyentuh anda dengan tangan kotorku," jawab Marco beralasan.


"Aku tidak perduli...! Aku merindukanmu anakku, dan aku ingin memelukmu," ujar wanita itu.


"Kenapa anda yakin kalau saya adalah anak anda?" tanya Marco.


"Kamu mewarisi bentuk dan warna mataku. Wajah dan penampilanmu, sangat mirip dengan Daddy-mu," jawab wanita itu sambil meneteskan air matanya.


"Saya tidak tahu... Karena saya tidak mengenal anda, dan orang yang anda bilang adalah Daddy-ku," ujar Marco.


Wanita itu akhirnya menangis sesenggukan, sambil berusaha turun dari tempat tidurnya dan tampak mencoba mendekati Marco.


Marco melangkah mundur dengan pelan, menjauh dari wanita itu.


Ketika wanita itu berdiri, Marco kini bisa melihat kalau ada sepasang sayap transparan yang menempel di punggung wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu menghentikan langkahnya, ketika Marco bergerak mundur.


"Sebenci itukah kamu kepadaku?" tanya wanita itu, masih sambil menangis.


"Tidak. Saya tidak membenci anda. Bukannya tadi saya sudah bilang, kalau saya tidak mengenal anda. Lalu, apa yang anda inginkan dengan menghampiri saya?" ujar Marco.


Tangisan wanita itu, akhirnya semakin menjadi-jadi.


"Sebaiknya anda berhenti menangis, agar saya bisa mendengar anda berbicara dengan baik," ujar Marco.


Wanita itu lalu mengelap air mata dari wajahnya dengan punggung tangannya, dan tampak berusaha untuk berhenti menangis.


"Bukan kemauanku untuk membiarkanmu dibawa pergi dari tempat ini...


Aku tersiksa selama ini, demi menunggu agar bisa bertemu denganmu lagi," kata wanita itu pelan.


"Kalau anda bertemu dengan anak yang anda cari, apa yang anda inginkan darinya?" tanya Marco.


"Kenapa kamu terus-terusan menolakku?" wanita itu balik bertanya.


"Kamu tidak bisa mengingkari kalau kamu adalah anakku," lanjut wanita itu lagi.


"Anda masih sangat muda, bagaimana mungkin anda bisa memiliki anak seusia saya? Memangnya, makhluk apa anda ini?" tanya Marco berpura-pura bodoh.


"Aku adalah seorang Peri," jawab wanita itu.


"Shapeshifter bisa berubah bentuk menjadi hewan. Lalu, apa kemampuan Peri?" tanya Marco.


"Kami bisa bertahan hidup lebih lama, dari makhluk kebanyakan," jawab wanita itu.


"Hanya itu saja?" tanya Marco.


Wanita itu tampak menatap Marco lekat-lekat, dengan waktu yang cukup lama.


"Apa ada yang mengganggumu?" tanya wanita itu.


"Hmmm... Tidak. Aku hanya ingin tahu saja," jawab Marco.


"Peri bisa membawa pikiran seseorang masuk kedalam pikiran Peri. Seperti saat ini, kamu sedang ada didalam pikiranku," ujar wanita itu.


"Lalu, apa kamu bisa berubah bentuk seperti kaum shapeshifter pada umumnya?" tanya wanita itu.


"Iya," jawab Marco.

__ADS_1


Wanita itu kemudian terlihat seperti sedang gelisah, kemudian duduk di atas tempat tidurnya.


"Lalu kenapa Daddy-mu membawamu pergi dari sini?" tanya wanita itu tampak bingung, namun seakan-akan tidak sedang meminta jawaban dari Marco.


__ADS_2