
Benar kata Beta.
Marco harus mengakui kalau Delta adalah pemuda yang tampan, dan bahkan kelihatannya, Delta jauh lebih menarik daripada Beta maupun Marco.
Delta benar-benar terlihat macho, meskipun postur tubuhnya masih sedikit lebih kecil, jika dibandingkan dengan Marco.
Garis wajah tegas, sorot mata yang tajam, dengan rambut cambang tipis menutupi hampir semua bagian rahang bawahnya.
"Kamu mau aku memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Delta, sambil mengulurkan tangannya kepada Marco.
Marco menjabat tangan Delta.
"Terserah kamu saja. Namaku Marco!" jawab Marco.
"Kamu mau masuk denganku kedalam rumah sebentar? Aku memperkenalkanmu kepada pasanganku," ajak Marco.
"Tentu saja. Kenapa tidak?!" ujar Delta santai.
Dengan adanya Delta dan Beta yang berjalan dibelakangnya, Marco membawa Delta kedalam rumah, agar bisa bertemu dengan Bella.
Bella kelihatannya baru saja selesai mandi, dan masih merapikan rambut merahnya yang panjang, ketika Marco menyusulnya kedalam kamar.
"Sudah selesai latihannya?" tanya Bella.
"Kami istirahat dulu sebentar. Kedatangan Delta, membuat kami berhenti latihan sementara..." jawab Marco sambil memeluk Bella dari belakang.
"Delta?" tanya Bella.
"Iya. Sekarang, dia mau bertemu denganmu..." jawab Marco.
"Oh... Oke! Sebentar, ya?!" ujar Bella.
Setelah meletakkan sisir sikat rambut keatas meja, Bella kemudian berjalan keluar dari kamar, sambil Marco merangkul pinggangnya.
Delta tampak tersenyum lebar, ketika melihat Bella yang sekarang sudah berdiri didepannya.
Ketika Delta mengulurkan tangannya, dan berjabat tangan Beta, raut wajahnya tiba-tiba berubah, seolah-olah ada sesuatu yang mengejutkannya.
"Delta!" kata Delta memperkenalkan diri.
"Bella!" kata Bella.
"Siapa namanya?" tanya Delta.
"Bella!" jawab Bella yang terlihat kebingungan dengan pertanyaan Delta.
"Maafkan aku... Mungkin, pasangan Alpha salah memahami pertanyaanku," kata Delta.
"Apa kalian belum mempersiapkan namanya?" tanya Delta.
Bella menoleh kearah Marco dan bertatap-tatapan dengan Marco, sebelum Bella tampak kembali melihat Delta.
"Keturunan Alpha selanjutnya..." ujar Delta lagi.
"Hmmm... Bagaimana kamu bisa tahu kalau Bella sedang mengandung?" tanya Marco.
"Shapeshifter didalam kandungan pasangan Alpha sangat menonjol," jawab Delta.
__ADS_1
Kali ini, Marco kebingungan mendengarkan perkataan Delta.
"Delta memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam membedakan shapeshifter, dibandingkan aku dan Gamma," kata Beta.
"Jadi, maksudmu bayi dalam kandungan Bella adalah shapeshifter?" tanya Marco.
"Iya... Hmmm... Apa mungkin kalau kamu merasa ragu, karena pasanganmu adalah manusia biasa?" tanya Delta.
"Iya," jawab Marco.
"Shapeshifter didalam kandungan pasangan Alpha, adalah shapeshifter yang kuat, untuk usianya yang masih sangat muda," ujar Delta.
Marco kemudian melihat Bella, dengan beberapa pikiran baru yang muncul didalam kepala Marco.
Apa memang benar perkataan Delta?
Tapi, kalau Delta hanya mengada-ada, tidak mungkin dia bisa tahu kalau Bella sedang mengandung.
Kecuali, Beta yang memberitahukannya.
Marco menatap Beta lekat-lekat.
"Heh! Aku belum bicara apa-apa kepada Delta," ujar Beta buru-buru, seolah-olah mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Marco.
"Apa mungkin kalau bayi kami lahir, lalu bisa segera berubah bentuk, seperti shapeshifter pada umumnya?" tanya Marco.
Marco memang penasaran, karena mengingat dirinya dulu, yang konon kata suster Martha, dari pengakuan Daddy Marco, kalau Marco tidak bisa berubah bentuk.
Dan Marco belum mendapat kemampuannya, hingga dia berusia sepuluh tahun.
"Tentu saja," jawab Delta yang terlihat yakin.
"Kalau itu, aku tidak tahu... Mungkin saja, karena kamu memang Alpha yang berbeda," jawab Delta.
"Sayang... Aku akan lanjut berlatih bersama Beta dan Delta dibelakang," kata Marco kepada Bella.
"Oke! Tolong, lebih berhati-hati...!" ujar Bella.
Sebelum Marco berjalan keluar menyusul delta dan Beta yang sudah keluar lebih dulu, Marco menyempatkan untuk mencium Bella.
"Apa tidak masalah bagimu, kalau anak kita bisa berubah bentuk, sama seperti aku?" tanya Marco.
"Kamu bercanda? Tentu saja, aku mau memiliki anak yang hebat seperti Daddy-nya. Jadi, apa yang jadi masalahnya?" ujar Bella, sambil tersenyum lebar.
Kembali Marco mencium Bella, dan memeluk wanita itu dengan erat.
"I love you, honey..." ucap Marco.
"Love you too, babe! Hati-hati, oke?!" kata Bella.
Marco kemudian menyusul Beta dan Delta yang sudah menunggunya diluar.
"Apa ada yang menarik yang kalian bicarakan?" tanya Marco, ketika dia menghampiri Beta dan Delta, yang tampak sedang berbincang-bincang dengan wajah serius.
"Beta memintaku untuk melatihmu membedakan shapeshifter," kata Delta.
"Lalu?" tanya Marco.
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya. Itu akan muncul dengan sendirinya dalam dirimu," jawab Delta.
"Jadi, apa yang bisa kamu lakukan untuk membantuku?" tanya Marco.
"Aku hanya akan menjadi satu regu dengan Beta, untuk melawanmu saat berlatih bertarung," jawab Delta.
"Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya Delta.
Bagi Marco, cara Delta berbicara, membuat Delta tampak lebih menyebalkan dibandingkan Beta.
"Aku sedang tidak berminat untuk berlatih," jawab Marco.
"Tapi..." ujar Delta.
"Ssshhh... Aku masih mau istirahat sebentar," kata Marco, menyela perkataan Delta.
Ketika Marco baru saja berjalan menjauh, dan berniat untuk duduk dibawah pohon maple, tiba-tiba Marco merasa sangat kesal dengan Delta.
Marco tahu kalau Delta berniat menantangnya, meski Delta tidak mengeluarkan kata apa-apa dari mulutnya, yang bisa didengar oleh Marco.
Buru-buru Marco berbalik dan kalau saja Beta tidak sempat menghalanginya, Marco hampir saja memukul Delta disitu.
"Tunggu!" seru Beta, sambil menahan Marco.
Gerak-gerik Beta, memperlihatkan seakan-akan dia menyadari kalau Delta sedang berpikiran untuk menantang Marco, dan Marco tahu akan hal itu.
"Maaf, semuanya hanya salah paham!" ujar Beta pelan.
"Delta! Apa kamu sudah gila?" tanya Beta dengan suara meninggi.
"Kenapa?" tanya Delta.
"Kamu mau Alpha menghajarmu?" tanya Beta.
Delta tampak mendengus.
Kemarahan Marco menjadi-jadi, dan Marco bisa mendorong Beta ketanah seolah-olah Beta hanya selembar kain, lalu tanpa menunggu lama-lama lagi, dia menghampiri Delta dan mendaratkan tinjunya di rahang Delta.
Delta tersungkur ditanah, dengan darah segar yang mengalir dari mulutnya.
Beta tampak berjongkok diantara Marco dan delta yang hampir terbaring di tanah.
"Alpha, kamu tetap membutuhkan Delta!" ujar Beta.
"Delta! Apa kamu tetap mau menantang Alpha? Aku tidak bisa menahan Alpha lebih lama!" kata Beta lagi.
Marco bisa merasakan, kalau pikiran buruk Delta itu, kini sudah menghilang, dan kemarahan Marco kemudian mereda, dan Marco sudah merasa jauh lebih tenang.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Marco.
"Kalau kalian tidak percaya denganku, seharusnya kalian tidak perlu mendatangiku. Daripada hanya membuatku kesal saja," lanjut Marco, tanpa memberi kesempatan kepada Beta atau Delta untuk menjawab pertanyaannya.
Delta terlihat meludahkan sisa darah dari mulutnya.
"Jadi, kamu tahu?" tanya Delta.
"Tanpa kamu bicara, Alpha tahu kalau kamu berniat menantangnya," jawab Beta dengan suara tinggi.
__ADS_1
Delta kemudian mengelap mulutnya dengan tangan, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Marco.
"Maafkan aku... Alpha!" kata Delta.