
"Sering-seringlah berkunjung kesini! Selama saya masih hidup, saya akan menyambut kedatanganmu," kata suster Maria memberikan salam perpisahan, sebelum Marco berlalu pergi dengan mobilnya.
"Terimakasih, Suster!" jawab Marco.
Setelah Marco memikirkan ulang cerita dari suster Maria, rasanya ada garis abu-abu antara siapa Mommy Marco yang sebenarnya, dan hubungannya dengan suster Martha.
Dari sekian banyak panti asuhan yang berdiri di sepanjang negeri, yang dekat dengan pemukiman utama shapeshifter, namun panti asuhan itu yang dipilih.
Marco merasa kalau bukanlah kebetulan semata hingga Daddy Marco membawa Marco ke panti asuhan itu, dan membuat suster Martha yang menjaga Marco.
Sepertinya semua yang terjadi ada kaitannya.
Kemungkinan besar, Daddy dan Mommy Marco memang sengaja merencanakan agar Marco di titipkan di panti asuhan itu.
Suster Martha masih menyembunyikan sesuatu dari Marco.
Sayangnya, kali ini suster Martha sakit bukan karena kutukan, hingga Marco tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkannya.
Dengan rasa tidak sabar untuk bertemu Delta, Marco mempercepat laju kendaraannya.
Marco masih diperjalanan keluar dari jalan satu arah di wilayah biara dan panti asuhan, ketika dari kejauhan terdengar sirine ambulance yang meraung-raung mendekat kearah Marco.
Mau tidak mau Marco memperlambat laju kendaraannya, ketika dia melihat kendaraan berlambang nama salah satu rumah sakit yang kini hampir berpapasan dengannya.
Apa ada sesuatu yang terjadi pada suster Martha?
Marco menginjak pedal rem dalam-dalam, hingga kendaraan itu berhenti.
Marco jadi merasa gamang.
Apakah dia harus pulang sekarang? Atau berbalik arah ke biara itu lagi.
Marco memutar kemudi dan berbalik arah kembali ke biara.
Ketika Marco tiba disana, mobil ambulance tampak terparkir tepat didepan bangunan biara.
Sepertinya dugaan Marco memang benar.
Kemungkinan ada sesuatu yang lebih buruk yang terjadi kepada suster Martha, hingga kendaraan darurat rumah sakit didatangkan ke tempat itu.
Dengan rasa ingin tahu, Marco yang memarkirkan kendaraannya di salah satu sudut halaman biara, kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu depan biara yang terbuka lebar.
Meskipun pintu biara itu terbuka tanpa ada seorangpun disana, Marco tidak berani untuk memasuki tempat itu tanpa izin.
Marco hanya berdiri didepan pintu, sambil menunggu kalau-kalau ada suster yang keluar dan bisa di minta informasi oleh Marco.
Kurang lebih setengah jam Marco menunggu diluar situ, lalu terlihat beberapa petugas paramedis yang berjalan pelan keluar dari dalam biara.
Mereka tampak lesu, dan hanya membawa tandu kosong, kemudian memasukkannya kembali ke dalam ambulance, sebelum mereka semua berlalu pergi menggunakan kendaraan itu.
__ADS_1
Dentang bel di menara biara yang berbunyi cukup nyaring, membuat Marco menyadari apa yang terjadi.
Kemungkinan besar ada yang penghuni biara yang meninggal dunia.
Dan mungkin saja, itu adalah suster Martha.
Hampir saja Marco pergi dari situ, ketika dia melihat dua suster yang berjalan ke arah pintu depan dari dalam biara, dengan wajah sembab dan tampak sangat sedih.
"Maafkan saya, suster! Tapi, apa saya bisa tahu tentang apa yang terjadi di dalam?" tanya Marco pelan.
"Suster Martha telah kembali kedalam pangkuan Tuhan," jawab salah satu suster itu.
Benar saja.
"Kapan akan dilangsungkan upacara pemakamannya?" tanya Marco.
"Mungkin besok pagi setelah selesai Misa," jawab suster itu.
"Baik! Terimakasih, Suster!" ujar Marco, kemudian berjalan pergi, kembali ke mobilnya, lalu bergegas pergi dari tempat itu.
Suster Martha membawa sisa rahasianya hingga kematian menjemputnya, dan membuat satu kepingan puzzle ikut menghilang.
Setibanya dirumah, Delta tampak duduk sendirian di beranda depan rumah Marco, dan tampaknya memang sedang menunggu Marco.
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Kalau begitu kita sama-sama ingin bicara sesuatu," ujar Marco.
"Bella ada didalam?" tanya Marco.
"Iya," jawab Delta."
"Tunggu sebentar! Aku mau memberitahu Bella, kalau aku sudah pulang!" ujar Marco, lalu berjalan melewati Delta, dan terus berjalan memasuki rumahnya.
Hanya sekedar menyapa dan memberitahu tentang kematian suster Martha, sambil memeluk Bella, Marco kemudian kembali berjalan kedepan menemui Delta.
"Peri memang ada!" ujar Marco.
"Darimana kamu tahu?" tanya Delta.
"Suster Martha yang menemukanku dulu, pernah bercerita kepada sahabatnya, Suster Maria, bahwa Suster Martha dulunya tinggal di antara makhluk bersayap," jawab Marco.
"Apa ada informasi yang lain?" tanya Delta.
"Sayangnya tidak. Waktu aku kesana tadi, Suster Martha sedang dalam kondisi vegetatif, dan ketika aku pulang, Suster Martha sudah meninggal dunia," jawab Marco.
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Apa mungkin Marco bisa memarahi dan membenci semua orang yang sudah mati, sambil membawa rahasia bersama mereka?
"Padahal aku masih ingin bertanya kepadanya. Aku menduga, bukan tanpa alasan hingga Daddy menyerahkanku kepadanya," kata Marco.
"Apa yang ingin kamu katakan padaku?" lanjut Marco.
"Dugaanku kuat kalau Mommy-mu itu adalah seorang Peri. Tapi aku belum bisa memperkirakan apa yang menjadi keinginannya," jawab Delta.
"Aku merasa khawatir, kalau-kalau bukan Alpha penggantilah yang menjadi musuhmu, melainkan Mommy-mu itu," lanjut Delta.
"Dimana Beta dan Gamma? Mungkin mereka bisa membantu memikirkan sesuatu," tanya Marco.
"Sebentar! Aku akan memanggil mereka kesini," ujar Delta, kemudian berdiri dari lantai beranda dan berjalan pergi dari sana.
Ketika Delta kembali, Beta dan Gamma terlihat ikut berjalan bersamanya, kemudian sama-sama duduk di lantai beranda rumah Marco.
"Beta! Kalau kamu memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran orang lain, kira-kira apa yang kamu rencanakan dengan membuat orang lain itu malah memenjarakanmu?" tanya Delta.
"Kamu sedang membicarakan strategi?" tanya Beta.
"Iya," jawab Delta.
"Hmmm... Aku bisa mengendalikan pikiran orang, ya?! Seharusnya, aku bisa membuat orang itu tunduk dan memperlakukanku seperti raja...
Hmmm... Menurutku, itu hal yang bodoh kalau aku mau dipenjara, oleh orang yang pikirannya bisa aku kendalikan...
Yang mungkin masuk akal, kalau aku hanya berpura-pura seolah-olah aku sedang di penjara...
Padahal, aku hanya mencari simpati dari orang yang melihatku, dan membuat orang yang memenjarakanku terlihat buruk," jawab Beta.
"Itu dia!" ujar Delta bersemangat.
"Aku juga menduga seperti itu!" lanjut Delta lagi.
"Apa sebenarnya yang sedang kita bicarakan?" tanya Beta terlihat bingung.
"Tentang Mommy Marco. Sepertinya dia memang seorang Peri...
Makhluk itu bukan mitos, suster yang merawat Marco sewaktu masih bayi, pernah tinggal di pemukiman Peri," jawab Delta.
"Ooh... Jadi dugaanmu, Mommy Marco hanya berpura-pura sedang dikurung? Demi mendapatkan simpati dari siapa? Marco?" tanya Beta
"Tentu saja! Siapa lagi?!" jawab Delta.
"Oke... Lalu, apa gunanya? Agar Marco merasa marah dan menghabisi nyawa Alpha pengganti?" tanya Beta.
"Iya, bisa saja begitu 'kan?" tanya Delta.
"Pfffttt... Untuk apa dia harus memakai cara yang sulit? Sedangkan, dia bisa saja mengendalikan pikiran Alpha pengganti, hingga Alpha pengganti bunuh diri," lanjut Beta.
__ADS_1
Delta terdiam, begitu juga Marco dan Gamma.
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Beta.