SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 20


__ADS_3

Marco menunggu Bella berganti pakaian, hingga wanita itu masuk ke mobil, dan pulang kerumahnya, sembari memberikan makanan kepada Duke, sebelum Marco membawa hasil ternaknya ke pedagang bahan makanan segar.


Sesaat sebelum Bella memasuki mobilnya, dan meninggalkan Marco, Bella masih mengulangi lagi tawarannya, agar Marco menyediakan Pai untuk toko kue miliknya.


Marco tetap tidak menjanjikan apa-apa kepada Bella, dan hanya berkata kalau dia akan mempertimbangkannya terlebih dahulu.


Kelihatannya, hingga Bella pulang tadi, Bella masih tampak biasa saja, dan seolah-olah tidak terganggu dengan apa yang mereka berdua lakukan semalam.


Dengan kecepatan sedang, Marco membawa mobilnya pulang kerumahnya.


Sebelum pergi ke hutan, Marco perlu menurunkan barang-barang yang jadi tempat mengemas hasil ternaknya tadi.


Botol bekas susu yang terlalu lama terjemur sinar matahari, akan dengan mudahnya berjamur, dan akan sulit dibersihkan.


Setelah semua barang-barang dari bak bagian belakang mobilnya sudah diturunkan, Marco bersiap-siap untuk pergi ke hutan, dan seperti biasa, air minum dalam botol besar, tidak boleh tertinggal.


Marco memacu mobilnya dijalanan menuju ke hutan, dan setibanya disana, dan Marco sudah memarkirkan kendaraannya dipinggir jalan, seperti biasa Marco selalu mendatangi titik yang sama, untuk mengubah bentuk tubuhnya.


Sepertinya ada yang Marco lupakan, namun dia sama sekali tidak tahu apa itu.


Sedikit rasa yang mengganjal dihatinya, mengganggu konsentrasi Marco.


Kesana kemari Marco melayangkan pandangannya, ketika dia sudah didalam hutan itu, sambil mengingat-ingat semua, dan meyakinkan dirinya kalau tidak ada yang terlewatkan olehnya.


Merasa yakin kalau saat ini ditempat itu dia benar-benar aman, setelah menyimpan pakaiannya, Marco mengubah bentuk tubuhnya, lalu dengan cepat terbang naik ke angkasa.


Ketika Marco sudah di ketinggian yang cukup, Marco mengurangi kecepatan kepakkan sayapnya, dan dengan terbang melayang, Marco lalu melihat kebawah.


Ada sesuatu yang lain dari biasanya.


Dalam pandangannya, ada semacam garis-garis buram yang mengganggu ketajaman penglihatannya.


Benar-benar tidak seperti biasanya.


Berkali-kali Marco mengedipkan matanya, tapi garis-garis samar itu tidak menghilang.


Sedikitpun, tidak ada kotoran yang terasa mengganjal dimatanya, yang membuatnya merasa tidak nyaman.


Lalu, apa yang membuat penglihatannya terganggu?


Entah apa yang dipikirkan Marco, saat itu secara spontanitas saja, dia ingin mencoba membersihkan matanya dengan uap air yang berbentuk awan.


Dengan mengepakkan sayapnya secepatnya, Marco menembus awan yang benar-benar tebal.


Tapi, setelah melewati awan itu, tetap tidak ada perubahan yang dia rasa dalam penglihatannya.

__ADS_1


Marco menertawakan dirinya sendiri, yang dipikirnya hanya melakukan hal yang konyol.


Percobaan yang bodoh!


Marco lalu melihat awan dibawahnya, yang nampak seperti lantai kosong berukuran luas.


Garis-garis samar di penglihatannya, tidak terlihat seperti garis-garis acak tidak beraturan biasa.


Garis-garis itu nampaknya membentuk sebuah pola.


Marco tetap terbang bertahan diketinggian itu, sambil memperhatikan baik-baik garis-garis pola, yang bisa dia lihat sekarang ini.


Saat itu juga Marco menyadari sesuatu yang membuatnya benar-benar terguncang.


Marco benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat, di awan yang seperti kertas kosong yang bisa dipakai, untuk mencetak gambaran dari penglihatannya.


Hal yang rasanya dia lupakan tadi, adalah kalung liontin yang terpasang dilehernya sejak malam tadi.


Dan saat ini, ketika dia mengubah bentuk tubuhnya, dengan liontin yang masih menempel ditdadanya, membuatnya bisa melihat pola yang terlihat seperti sebuah peta.


Benar kata suster Martha!


Marco hanya tidak tahu cara melihatnya saja.


Dalam bentuknya sebagai manusia biasa, tidak akan bisa mengetahui rahasia apa yang tersimpan didalam liontin itu.


Dengan terus mengepakkan sayapnya, Marco mencatat dalam ingatannya, peta yang bisa dia lihat sekarang ini.


Tapi, kelihatannya masih belum ada yang menunjukkan dengan tepat dimana tempat tinggal kaum shapeshifter berada.


Ketika Marco tidak sengaja bergeser posisi terbangnya, garis-garis peta itu juga ikut berubah.


Marco yang menjadi semakin penasaran, lalu menggeser posisi terbangnya.


Terjadi lagi.


Garis-garis samar itu berubah posisinya.


Sedikit demi sedikit Marco bergeser, dan memperhatikan semua perubahan yang bisa dilihatnya itu.


Itu bukan peta biasa.


Melainkan denah yang tepat dengan rencana arah yang bisa diikuti Marco, ketempat yang menjadi tujuannya.


Mirip dengan cetakan blueprint!

__ADS_1


Dibawah sana... Semuanya yang ada dibawah sana, menjadi semacam ruangan demi ruangan yang dipetak-petakan.


Marco terus bergeser sedikit demi sedikit, sambil memperhatikan titik yang kira-kira bisa jadi kemungkinan sebagai tujuan utamanya.


Tapi, selama Marco diatas situ, kelihatannya tidak ada apa-apa yang terlihat menonjol, atau berbeda dari yang lainnya.


Marco mulai merasa kelelahan, karena sedari tadi tidak berhenti mengepakkan sayapnya.


Mau tidak mau, Marco harus turun sekarang juga.


Dengan menghentikan kepakannya, dan sayap yang menutup, menempel ke tubuhnya, paruh Marco menjadi ujung runcing, untuk mengurangi tekanannya saat kembali turun dari ketinggian, dengan kecepatan tinggi.


Ketika, Marco merasa kalau ketinggiannya sekarang sudah cukup, Marco membentangkan sayapnya, untuk mengurangi kecepatan menukiknya, sebelum menyentuh permukaan tanah.


Kepakan demi kepakan, perlahan-lahan Marco terbang mendekat ke tempat biasa dia mengubah bentuk tubuhnya.


Kibasan sayap yang menghasilkan desiran angin kencang, kasar, dan bising, kini semakin perlahan, dan menghilang, setelah Marco menginjakkan kakinya ketanah.


Marco memakai pakaiannya lagi, dan berjalan pelan keluar dari hutan, menuju mobilnya yang terparkir dipinggir jalan.


Marco memang belum berhasil menemukan titik keberadaan kaumnya dengan tepat sasaran, tapi paling tidak, sekarang Marco sudah tahu caranya untuk mencari tempat itu.


Sedikit rasa penasarannya terobati, saat dia terbang tadi, dan Marco akan kembali besok, untuk mencobanya lagi.


Saat ini, Marco harus pulang untuk makan dan beristirahat, agar tenaganya bisa terisi kembali.


Setibanya dirumah, Marco buru-buru menyiapkan makanannya.


Rasa laparnya yang berlebihan, bahkan bisa membuat tubuhnya gemetaran.


Sambil menunggu makanannya matang, Marco menyuapkan sepotong roti yang diberi olesan selai diatasnya.


Bukan cuma Marco, Duke sekarang, pasti juga sudah lapar.


Telur dadar, kentang panggang, dua paha ayam goreng, dan sedikit salad sayuran, jadi menu makannya kali ini.


Dengan cepat, Marco melahap makanannya yang sudah siap untuk dimakan.


Sembari menyuapkan makanannya, dengan duduk di meja makan, Marco teringat perkataan Bella pagi tadi, yang mengira seolah-olah Marco memakai sesuatu, agar bertenaga ekstra saat melayaninya.


Marco tertawa sendiri, karena merasa malu saat mengingatnya.


Marco belum pernah melakukan hal itu sebelumnya, dan dia memang tidak tahu sama sekali, seberapa lama orang biasanya bisa bertahan saat melakukannya.


Yang Marco tahu, dia hanya melakukannya begitu saja, tanpa memaksakan diri dengan sengaja, supaya terlihat kuat, ataupun hebat dibandingkan orang kebanyakan.

__ADS_1


Semua makanan Marco sudah bersih dihabiskannya, kini Marco harus memberi makan Duke, sambil memeriksa hewan ternaknya.


"Duke! Makananmu sudah siap!" seru Marco, memanggil Duke, sambil berdiri diberanda rumahnya.


__ADS_2