SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 100


__ADS_3

Setelah beberapa saat Marco berdiri di tengah-tengah lapangan itu, dan menyatakan kepemimpinannya, shapeshifter-shapeshifter liar itu, akhirnya tampak seperti sedang menunduk, memberi hormat kepada Marco.


Cecilia kemudian tampak berjalan pelan menghampiri Marco, dengan senyuman lebar yang mengembang diwajahnya.


Tapi...


Disaat Marco sedang berubah bentuk seperti sekarang ini, Marco bisa melihat bentuk asli dari Mommy-nya itu.


Sama sekali tidak cantik.


Gigi-giginya yang terlihat saat dia tersenyum, tampak seperti mata gergaji yang runcing dan tajam.


Mata yang tadinya menampakkan kelembutan, kini membulat dan besar tidak seimbang dengan ukuran wajahnya, lengkap dengan warna mata yang hitam legam tanpa ada sedikitpun warna putih di bola matanya itu.


Telinga yang tipis dan berujung runcing, menyembul keluar dari sela-sela rambutnya yang panjang.


Hanya sayapnya saja yang masih terlihat cantik.


Sayap seperti bentuk sayap capung, berbahan seperti kaca bening tembus pandang, tampak berkilauan bahkan berpendar seperti lampu yang menyala terang, dengan sinar yang berwarna-warni seperti pelangi.


"Selamat, anakku sayang! Sekarang kamu sudah menjadi Alpha yang baru bagi kaum shapeshifter," kata Cecilia.


"Sekarang Mommy sudah bebas, dan bisa kembali ke pemukiman tempat asal Mommy," ujar Marco, sambil berjalan kearah pakaiannya yang masih tergeletak.


"Tidak. Untuk apa aku kembali kesana? Aku ingin tinggal bersama anakku," ujar Cecilia.


Dengan terburu-buru, Marco memakai pakaiannya kembali.


Tampaknya, setelah Cecilia berhenti menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan pikiran Eackbert, semua niat buruk terkumpul didalam Cecilia saat ini.


Sehingga semakin Cecilia mendekat kearah Marco, semakin membuat Marco merasa jijik, benci dan marah kepada wanita itu.


Iya.


Marco sudah tahu kalau Cecilia lah yang menjadi dalang dibelakang semua kekacauan didalam kaum shapeshifter.


Marco tahu kalau dia tidak bisa ceroboh, dan tidak boleh terburu-buru melakukan gerakan berbahaya, hingga dia masih harus mengendalikan dirinya.


Marco masih harus berpura-pura, seolah-olah dia mau mengikuti perintah Cecilia, dan seolah-olah Marco memang terpengaruh dengan kemampuan Cecilia untuk mengendalikan pikiran.


Tempat itu masih di penuhi dengan shapeshifter-shapeshifter.


Jika Marco sampai salah bertindak, maka tidak menutup kemungkinan kalau Cecilia akan memakai shapeshifter-shapeshifter itu, untuk melawan Marco.


Bukannya Marco takut untuk melawan shapeshifter-shapeshifter yang ada, Marco hanya tidak ingin mereka menjadi korban dari keinginan dan rencana gila Cecilia.


"Minta mereka mempersiapkan tahtamu, Marco!" kata Cecilia, lalu memeluk Marco yang baru saja selesai mengancing butiran kancing kemejanya yang terakhir.

__ADS_1


Benar kata Nancy, kalau Marco harus lebih banyak belajar mengendalikan diri.


Marco tidak bisa mengatasi emosinya dengan baik, hingga seketika itu juga, Marco menangkap tangan Cecilia dan menariknya agar melepaskan pelukannya dari Marco.


Wanita itu tampak sangat marah dengan perlakuan kasar Marco, dan dengan cepat mengarahkan kedua tangannya ke leher Marco dan mencekiknya.


Sambil mengepakkan sayapnya, Marco dibuat Cecilia, terangkat dari permukaan tanah.


Marco kemudian melakukan perjalanan pulang ke rumahnya.


Setibanya Marco dirumah, dan berjalan masuk kedalam sana, terlihat Bella yang tampaknya sedang sibuk memasak didapur.


"Ah! Kamu sudah pulang!" ujar Bella terdengar bersemangat, lalu menghampiri Marco dan memeluknya.


"Kamu pasti lelah karena perjalananmu, bukan?!" lanjut Bella sambil mengangkat wajahnya, seolah-olah meminta Marco untuk menciumnya, dan Marco memang menciumnya disitu untuk beberapa saat.


Bella kemudian melepaskan pelukannya dari Marco, dan melanjutkan kegiatan masak-memasaknya di dalam dapur itu.


"Tunggu sebentar, sayang! Tidak lama lagi makanannya matang," lanjut Bella.


"Kamu sedang memasak apa? Aromanya sangat harum," tanya Marco.


"Rebusan daging dan kacang merah. Kamu menyukainya 'kan?" ujar Bella, sambil mengaduk masakannya yang ada didalam panci di atas tungku perapian.


"Iya," jawab Marco.


"Dimana yang lain?" tanya Marco.


"Kenapa?" tanya Bella.


"Tidak apa-apa. Aku hanya bingung melihatmu hanya sendirian, dan tidak ada yang membantumu memasak," jawab Marco.


Bella lalu tertawa kecil.


"Kamu tidak bisa menyuruh mereka untuk terus menerus menjagaku. Apalagi membantu pekerjaanku. Aku lebih suka bekerja sendiri, atau kamu yang menemani dan membantuku," ujar Bella.


"Itupun kalau kamu mau menemaniku..." lanjut Bella.


"Tentu saja aku mau," ujar Marco.


Bella lalu tampak tersenyum lebar.


"Kalau begitu, bisa ambilkan botol lada untukku?" tanya Bella, sambil menunjuk kearah kabinet lemari.


Marco yang baru saja terduduk, kemudian kembali berdiri dan membuka lemari yang ditunjuk oleh Bella.


Marco mencari-cari lada di antara beberapa botol bumbu kering yang ada didalam situ, hingga akhirnya Marco menemukannya dan memberikannya kepada Bella.

__ADS_1


Bella kemudian menaburkan sedikit bubuk lada kedalam panci berisikan masakannya.


"Kamu sudah lapar? Makanannya sudah matang," ujar Bella.


"Apa tidak mengajak yang lain untuk makan bersama?" tanya Marco.


"Nanti saja. Mereka pasti masih kenyang, kami semua baru saja makan," jawab Bella sambil menunjuk peralatan makan yang kotor, dan masih menumpuk didalam bak cuci piring.


"Tadi, sambil kami makan bersama, aku merebus makanan ini. Agar saat kamu tiba, makanannya sudah bisa kamu makan. Dan ternyata perhitunganku tidak salah," lanjut Bella.


Bella kemudian mengambil sebuah mangkuk dan mengisinya dengan hasil masakannya, lalu menyajikannya ke atas meja.


"Kamu makan saja dulu!" kata Bella, sambil menyajikan roti keras sebagai tambahan makanan Marco.


Marco kemudian mulai mengaduk-aduk makanannya, agar tidak terlalu panas untuk dia makan.


Tanpa sengaja, Marco melirik Bella yang duduk di seberang meja, dan tampak memperhatikan Marco.


Kilatan aneh terlihat sekilas di mata Bella.


Marco tersentak, dan berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi terakhir kali, sebelum dia pulang ke rumahnya.


Astaga...


Akhirnya, Marco menyadari kalau saat ini dia tidak sedang berada dalam situasi yang nyata, dan yang berada didepannya sekarang, bukanlah Bella yang sebenarnya.


Entah apa yang harus Marco lakukan sekarang ini.


Marco merasa yakin kalau dia harus membunuh 'Bella', kalau dia mau keluar dari dalam halusinasi itu.


Tapi, meskipun begitu, Marco juga masih merasa tidak tega untuk menyakiti 'Bella' yang ada didepannya saat ini.


Sambil memejamkan matanya sebentar, Marco mengumpulkan keberaniannya.


Marco kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Kenapa?" tanya Bella.


"Aku mau mengambil air," jawab Marco.


"Biar aku saja yang ambilkan!" ujar Bella buru-buru, lalu tampak berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah lemari es.


Marco menyusul dari belakang Bella.


Tanpa berlama-lama lagi, Marco mengulurkan kedua tangannya kearah leher Bella, kemudian mencekiknya.


Terdengar suara teriakan yang melengking tinggi dan memekakkan gendang telinga, namun Marco mengabaikannya, dan sambil memejamkan matanya, Marco mematahkan tulang leher Bella saat itu juga.

__ADS_1


Ketika Marco membuka matanya, Marco sudah berada di tempat lain dan sedang duduk di atas sebuah kursi, dengan pegangannya yang dipenuhi dengan ukiran seperti yang ada di liontin shapeshifter.


Marco sudah kembali ke kastil, dan seketika itu juga Cecilia dengan wajah sangar, tampak terbang menghampiri Marco, dan berhadap-hadapan dengan Marco disitu.


__ADS_2