
Perjalanan pulang ke Bridget kali ini jauh lebih baik keadaannya.
Beta, Gamma dan Delta meskipun masih mengalami mabuk perjalanan, tapi tidak sampai mengeluarkan makan siangnya dari lambung mereka masing-masing.
Marco memang mengatur kecepatan mobilnya, agar penumpangnya tidak merasa terlalu terguncang.
Bahkan, Marco lebih banyak memberi kesempatan untuk singgah beristirahat, saat ketiga shapeshifter di jok belakang itu terlihat seolah-olah tidak sanggup menahan rasa pusingnya.
Tapi, karena itu juga, perjalanan mereka jadi memakan waktu jauh lebih lama, hingga mereka baru tiba dirumah Marco, ketika matahari sudah lama tenggelam.
Di rumah Marco, Seba dan Adaline sibuk menyediakan minuman hangat untuk Marco, Bella, Beta, Gamma dan Delta, karena Marco menolak untuk segera makan malam.
Bella tidak mau berlama-lama diluar, dan memilih untuk berbaring didalam kamar, dan Marco sempat menemaninya sebentar, sebelum Marco kembali keluar dan duduk sendirian di beranda rumahnya.
Seperti biasa, Beta, Gamma dan Delta pasti menyusul dimana saja Marco berada (selain di kamar pribadi Marco dan Bella), sambil membawa gelas minuman mereka masing-masing, dan ikut duduk menemani Marco disana.
Untuk beberapa saat mereka disitu, mereka hanya terdiam, dan bahkan tampak seperti sedang melamun.
Entah seperti apa rupa Mommy Marco...
Itu yang terlintas didalam benak Marco saat ini.
Bagaimana perasaan wanita itu?
Secara, sebagai seorang ibu, biasanya rasa kasih sayangnya jauh lebih besar kepada anaknya.
Mungkin Marco tidak terlalu merindukannya, karena Marco tidak mengenalnya, namun Marco tetap menghargai pengorbanannya yang melahirkan Marco.
Marco juga tidak bisa menyalahkan wanita itu, meskipun dia tidak merawat dan membesarkan Marco, karena pasti itu bukan kemauannya, kalau menarik ulur semua cerita yang di dengar Marco.
Menurut cerita Nancy dan Gamma, kemungkinan Mommy Marco sengaja dikurung, agar tidak bisa kemana-mana.
Alpha pengganti pun tidak menghabiskan waktunya untuk selalu bersama pasangannya itu, dan memilih untuk berkunjung saja, dan tinggal masing-masing di bagian berbeda dari kastil.
Apa yang salah di antara Alpha pengganti dengan Mommy Marco?
Apa mungkin kalau Mommy Marco tidak bisa menerima Alpha pengganti, dan dia tetap mencintai Daddy Marco?
Mungkin saja begitu keadaannya, hingga Alpha pengganti tidak bisa selalu bersama dengan Mommy Marco, karena Mommy Marco mungkin menolaknya.
Tapi, tetap saja cara Alpha pengganti yang mengurung Mommy Marco tidak bisa di benarkan, karena itu sama saja dengan menyiksa wanita itu dengan alasan cinta.
"Apa mungkin Mommy-mu itu berasal dari kaum legenda tertua? Saking tuanya, hingga keberadaan mereka, hanya di anggap sebagai mitos," celetuk Delta tiba-tiba.
Lamunan Marco mendadak buyar, dan dengan rasa tidak percaya yang namanya kebetulan, Marco benar-benar tidak menyangka kalau delta juga sedang memikirkan hal yang sama dengannya.
Tentang Mommy Marco.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Marco.
__ADS_1
"Kalau tidak salah, aku pernah mendengar dari Grandpa, tentang salah satu kaum yang hanya jadi cerita kaum ke kaum...
Dan tidak ada yang benar-benar pernah bertemu dengan mereka. Atau mungkin mereka sudah bertemu, tapi tidak menyadarinya," jawab Delta.
"Mereka adalah kaum yang terkuat dan penyendiri. Kaum Peri..." lanjut Delta.
"Apa yang kamu tahu tentang kaum itu?" tanya Marco.
"Tidak ada yang benar-benar tahu kebenarannya..." jawab Delta.
"Kalau begitu, percuma saja kamu mengungkitnya," ujar Marco sinis.
"Lalu kamu mau aku memberitahumu sesuatu yang hanya menjadi dugaan, dan belum tentu kebenarannya?" tanya Delta.
"Terserah kamu saja..." jawab Marco asal-asalan.
"Kalau aku menceritakannya, apa mungkin kamu akan menertawakanku?" tanya Delta.
"Tidak. Anggap saja sedang mendengarkan cerita dongeng, sebelum aku pergi tidur malam ini," jawab Marco.
"Hmmm... Baik!
Konon katanya, kaum Peri adalah kaum yang terkuat yang pernah ada di bumi...
Mereka terbagi dua. Peri bersayap yang hidup di daratan, dan Peri berekor yang hidup di samudera, atau yang biasanya disebut Mermaid..." kata Delta mengawali ceritanya.
Dalam kurun waktu seratus tahun kehidupan satu peri, belum tentu ada satu peri baru yang bisa terlahir. Itu sebabnya jumlah mereka tidak banyak...
Tempat tinggal mereka juga sangat tersembunyi. Hingga tidak akan semudah itu untuk menemui mereka..." lanjut Delta, lalu menyesap sedikit minuman dari cangkirnya.
"Lalu bagaimana bisa ada cerita tentang mereka?" tanya Marco.
"Sama seperti manusia biasa yang menceritakan tentang keberadaan makhluk lain. Tentang adanya mereka, juga hanya jadi cerita turun-temurun...
Tapi, belum tentu kalau itu hanya dongeng, bukan?" ujar Delta.
"Bisa saja kalau di zaman dahulu, ada yang sempat bertemu dengan mereka..." lanjut Delta.
"Mungkin saja..." celetuk Gamma.
"Selain yang kamu katakan tadi, apa ada cerita lain tentang mereka?" tanya Marco penasaran.
"Kaum Peri, baik yang hidupnya di darat maupun di lautan, sama-sama kejam...
Demi kelangsungan hidupnya, mereka tidak segan menyiksa bahkan membunuh siapa saja yang berani mengganggu...
Dengan suara mereka yang melengking tinggi, bisa mengacaukan pikiran semua makhluk bernyawa yang mendengarnya, hingga menjadi gila..." jawab Delta.
Dari gelagatnya, tampaknya masih ada yang akan di ceritakan Delta, namun seperti ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba hanya terdiam, untuk beberapa waktu lamanya.
__ADS_1
"Hey! Lanjutkan ceritamu!" ujar Beta yang kelihatannya, sama tidak sabarnya dengan Marco dan Gamma.
"Tunggu dulu! Aku teringat sesuatu..." kata Delta yang tampak mengerutkan alisnya.
Delta kemudian kembali terdiam, hingga Marco, Beta dan Gamma bertatap-tatapan.
"Ada apa?" tanya Beta.
"Ah! Kamu mengganggu saja!" ujar Delta ketus.
"Ckckck... Aku sampai lupa, apa yang sempat terlintas di kepalaku tadi," lanjut Delta, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Alasan saja! Kamu pasti hanya mengada-ada, 'kan?! Makanya, kamu bingung meneruskan ceritamu," ujar Gamma.
"Hey! Brengsek! Kamu kira aku pembohong?" kata Delta dengan suara meninggi.
"Ayo, kita berdua pergi menemui Grandpa-ku, kalau kamu tidak percaya perkataanku!" lanjut Delta yang tampak sangat kesal.
Gamma terlihat tidak perduli dengan kekesalan Delta, dan hanya senyum-senyum sendiri, sambil bersandar santai di pagar beranda rumah Marco.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Marco pelan.
"Aku mencoba mengait-kaitkan, tentang Peri dan keadaan Apha pengganti, juga apa yang terjadi di kastil... Tapi, aku rasa tidak cocok..." jawab Delta.
"Apa yang bisa dikaitkan?" tanya Marco lagi.
"Mungkin tidak? Jika Alpha pengganti sebenarnya sudah terpengaruh oleh Mommy-mu?" tanya Delta.
"Maksudmu apa?" Marco kembali bertanya dengan kebingungan.
"Peri bisa mempengaruhi pikiran... Tapi, memang yang aneh, kalau memang dia mengacaukan Alpha pengganti... Lalu untuk apa Peri itu malah bisa terkurung?" ujar Delta.
Perkataan Delta, terdengar kacau bagi Marco, seolah-olah Delta juga kebingungan menjelaskan apa yang dia pikirkan.
Marco melihat kearah Beta dan Gamma, dengan harapan, mereka bisa membantu menjelaskan maksud dari perkataan Delta.
Tapi kelihatannya, Gamma dan Beta pun sama bingungnya, hingga mereka tampak mengerutkan alis, sambil menatap Delta.
"Kamu ini bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraanmu," ujar Marco.
"Begini... Apa mungkin? Alpha pengganti, sudah tidak menguasai pikirannya sendiri, melainkan sudah dalam pengaruh Peri...
Lalu...
Ah! Tidak... Memang tidak cocok!" ujar Delta.
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Sebaiknya, kamu pikirkan dulu apa yang ingin kamu katakan. Agar aku bisa mengerti," ujar Marco.
__ADS_1