
Marco memang tidak mau mempercayai semua shapeshifter, yang datang tiba-tiba ditempatnya itu, tanpa memastikan kalau mereka tidak berniat buruk.
Beta yang berbentuk seperti serigala, lalu tampak seperti sedang membungkuk kepada Marco.
"Kamu sang Alpha, bukan?" tanya Beta.
"Apa alasanmu mengatakan itu?" Marco balik bertanya kepada Beta.
"Shapeshifter hanya bisa tunduk kepada Alpha," jawab Beta.
"Tapi, itu tidak membuktikan apa-apa, bahwa kamu memang Beta," kata Marco masih bersikeras.
"Shapeshifter pengikut Alpha pengganti, tidak akan bisa menunduk kepada Alpha yang lain," ujar Beta.
Marco terdiam dan merasa kebingungan.
Marco memang tidak tahu susunan hierarki shapeshifter, dan bagaimana shapesifter memperlakukan pemimpinnya.
"Aku tadi memang terburu-buru, dan meninggalkan Seba dibelakangku. Aku akan kembali menyusulnya, kalau kamu tidak percaya denganku," kata Beta, lalu berjalan pergi.
"Tunggu! Aku belum selesai denganmu!" ujar Marco.
Beta berhenti bergerak, dan berbalik menghadap Marco.
"Tanpa perlu kamu membentakku, aku pasti menuruti perintahmu," kata Beta.
Ada sedikit rasa percaya, dan sedikit rasa ragu.
Marco menjadi gamang.
Tapi, kalau memang benar itu adalah Beta, Marco sebaiknya membiarkannya tetap disitu, dan menunggu Seba datang seperti perkataannya.
"Kalau memang sesuai perkataanmu, maka Seba berarti sedang mengarah kesini bukan?" tanya Marco.
"Iya," jawab Beta.
"Jangan kemana-mana! Kita sama-sama menunggu Seba datang," kata Marco.
"Baik," jawab Beta.
Untuk beberapa waktu lamanya mereka berdua berdiam disitu, Seba masih belum juga terlihat.
Marco mulai hilang kesabarannya, dan mulai menganggap kalau shapeshifter didepannya itu sudah berbohong kepada Marco.
"Kenapa Seba belum juga datang? Bukannya kamu bilang tadi, dia dibelakangmu?" tanya Marco, dengan nada sinis.
"Kamu memang tidak tahu apa-apa tentang shapeshifter?" tanya Beta.
Marco hanya terdiam, tanpa mau berkomentar apa-apa.
"Seba hanya shapeshifter biasa. Tidak mungkin kamu berharap kalau kekuatannya akan seimbang denganku, bukan?!" ujar Beta.
"Apa maksudmu?" tanya Marco yang semakin kesal dengan Beta, karena dianggapnya hanya banyak membual saja, dan mencari-cari alasan.
__ADS_1
"Alpha, sang pemimpin dan yang terkuat. Lalu Beta, Gamma, kemudian Delta. Tidak akan mungkin anggota biasa bisa menyamai kekuatan kita," kata Beta menjelaskan.
"Kalau mereka sama kuatnya dengan kita, mereka tidak butuh pemimpin, dan juga tidak perlu tunduk kepada Alpha," lanjut Beta.
"Lalu, bagaimana Alpha pengganti sekarang bisa menggeser Alpha terdahulu?" tanya Marco.
"Dia membunuh Alpha, tentu saja dia bisa memimpin, dengan kekuatan Alpha yang dia curi...
Tapi, keturunan langsung dari Alpha yang sebenarnya, itulah yang akan memegang penuh kekuasaan...
Kecuali, kamu kalah dari Alpha pengganti, dan tanpa memiliki keturunan...
Maka Alpha pengganti akan mengambil semua kekuatanmu," kata Beta.
"Aku sudah tahu itu. Yang aku tanyakan, bagaimana dia bisa membunuh Alpha?" tanya Marco.
"Alpha pasti tertipu dengannya. Atau ada yang dipakainya untuk menjadi ancaman," jawab Beta.
"Bukannya, Alpha tidak ada yang boleh menentangnya?" tanya Marco, dengan nada mengejek.
"Iya, Alpha memang tidak bisa ditentang. Tapi, semua shapeshifter bisa menantang Alpha, kalau dia cukup bernyali," jawab Beta.
"Pufftt... Ditentang tidak bisa, tapi ditantang bisa? Aturan seperti apa itu?!" ujar Marco, dengan rasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aturan itu memang sudah ada sejak shapeshifter pertama lahir. Lalu kamu akan menertawakannya?" tanya Beta.
Mendengar perkataan Beta yang terlalu tenang dan datar, hanya membuat Marco semakin merasa kesal.
Kalau saja, dia tidak ada hubungannya dengan shapeshifter, Marco memang tidak berminat untuk terlibat dengan kaum itu.
Marco hampir hilang kesabarannya, ketika dari kejauhan terlihat seekor serigala berlari mendekat kearah lahan jagung milik Marco.
"Maafkan aku... Aku tidak bisa lebih cepat dari ini lagi," kata serigala itu, yang tampaknya itu adalah Seba, dengan nafasnya yang terengah-engah.
Marco akhirnya bisa merasa lega, karena berarti shapeshifter didepannya itu tidak berbohong.
"Alpha ini Beta..." kata Seba.
"Aku sudah memperkenalkan diri, tapi Alpha tidak mempercayaiku," kata Beta.
"Kenapa kalian semua harus memilih bentuk yang membuat kalian harus berlari? Bukannya akan lebih efisien kalau kalian terbang?" tanya Marco.
"Lalu apa? Kamu mau kita jadi pusat perhatian?" tanya Beta.
"Sekarang pasti sudah tersebar informasi tentangmu, dan kita harus lebih berhati-hati, agar Alpha pengganti tidak curiga tempat tinggalmu ini," kata Seba.
Seba lalu melihat kesana kemari seolah-olah sedang kebingungan.
"Ada apa?" tanya Marco.
"Kenapa kalian bertemu diantara tanaman jagung seperti ini?" Seba balik bertanya.
Marco kemudian ikut memperhatikan disekitarnya.
__ADS_1
Tanaman jagung miliknya, banyak yang rusak dan patah karena Marco menabraknya dengan bentuknya yang sebesar itu.
"Dia masih perlu banyak belajar..." celetuk Beta.
"Iya. Aku tahu. Justru itu, kami mencari kamu terlebih dahulu," kata Seba.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi dari kebun jagung ini? Bekas kerusakannya, akan menarik perhatian kalau dilihat dari angkasa," lanjut Seba.
Marco sempat terdiam sebentar, sebelum akhirnya dia mengajak Beta dan Seba untuk pergi kebagian belakang rumahnya.
"Kita pergi disebelah sana saja!" ajak Marco, lalu berbalik dan berjalan, disusul Beta dengan Seba.
Ketika mereka bertiga sudah berada dibagian belakang rumah Marco, Seba kemudian berubah bentuknya menjadi manusia, disalah satu sudut yang menjadi tempatnya berganti bentuk waktu itu.
Sedangkan Marco dan Beta, hanya terdiam menunggu hingga Seba kembali.
"Dimana anak-anakku?" tanya Seba, yang kini sudah berbentuk manusia dan juga sudah berpakaian.
"Fint dan Fent mungkin masih di gudang pertanian. Kalau Adaline, ada didalam rumah. Aku memintanya untuk menjaga Bella," jawab Marco.
"Alpha pertama-tama harus belajar mengatur instingnya," kata Beta tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Marco, kepada Beta.
"Alpha seharusnya bisa mengetahui, siapa saja yang dilihatnya. Kamu seharusnya bisa membedakan kami, meskipun kami dalam bentuk hewan, juga kamu harus bisa membedakan shapeshifter lawan atau kawan," jawab Seba.
"Dia hampir saja menyerangku tadi," kata Beta.
"Iya. Flints juga berkata begitu. Dia hampir diserang Alpha waktu berkunjung kesini," kata Seba.
"Pertama-tama kamu harus melatih instingmu," kata Beta.
"Bagaimana caranya?" tanya Marco.
"Panggil semua shapeshifter yang ada ditempat ini!" kata Beta kepada Seba.
Seba menganggukkan kepalanya, lalu bersiap untuk berjalan menjauh.
"Aku mau memeriksa keadaan Bella lebih dulu, sebelum aku belajar apa yang kalian ingin ajarkan padaku," kata Marco.
Dengan mempertahankan bentuknya, Marco berjalan masuk kedalam rumah, dan terus berjalan masuk hingga kedalam kamar.
Adaline yang berada dikamar bersama bella, seketika itu juga berdiri dan berjalan keluar ketika Marco sudah melewati pintu, seolah-olah dia mengenali kalau itu Marco yang masuk kedalam kamar.
Sedangkan Bella, meskipun dengan wajah tegang, berjalan pelan menghampiri Marco, lalu mengulurkan tangannya dan menyentuh Marco.
"Marco?" tanya Bella.
Marco kemudian berganti bentuk, kembali menjadi manusia saat itu juga.
Hanya dengan menutup bagian bawah tubuhnya dengan selimut, Marco kemudian memeluk Bella.
"Maafkan aku... Aku pasti menakutimu," kata Marco pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lama kelamaan, aku pasti akan terbiasa," kata Bella.