SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 78


__ADS_3

Ketika Marco menoleh ke samping-sampingnya, terlihat Beta dan Delta sekarang sedang menatapnya lekat-lekat.


"Ada apa lagi dengan kalian berdua kali ini?" tanya Marco.


"Aku sedang menunggu, kalau-kalau aku memang akan melihatmu menangis," jawab Beta dengan santainya.


"Apa maksudmu?" tanya Marco sebal.


"Gamma suka bicara dari hati ke hati, dan biasanya orang yang bicara dengannya, meluapkan isi hatinya sampai menangis," jawab Beta datar.


"Tunggu apa lagi?! Cepatlah menangis! Agar kamu bisa merasa lega!" tukas Delta buru-buru.


"Apa-apaan kalian ini?" ujar Marco sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa kamu tidak merasa sedih sama sekali?" tanya Beta dengan raut wajah heran.


"Tidak," jawab Marco datar.


"Hey! Apa kamu tidak sedih dengan masa lalumu?" tanya Beta.


Marco menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada sedikitpun penyesalan?" tanya Beta lagi.


"Tidak," jawab Marco.


Marco kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.


"Mommy dan Daddy yang merawatku, meskipun mereka bukan orang tua kandungku, selalu menyayangiku sepenuh hati, hingga mereka menghembuskan nafas terakhirnya," kata Marco.


"Lalu, apa yang perlu aku sesali? Dengan berada dalam keluarga yang menerimaku apa adanya..." lanjut Marco.


Baik Beta, Gamma dan Delta, kini hanya terdiam sambil menundukkan pandangan mereka.


"Hmmm... Apa sekarang aku yang akan melihat kalian menangis?" tanya Marco.


"Tidak..."


"Tentu saja, tidak!"


Suara perkataan Beta, Gamma dan Delta bergantian keluar dari mulut mereka, sambil mereka menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oke!" ujar Marco datar.


"Sekarang kita bisa membicarakan hal yang lain?" tanya Marco.


Setelah beberapa saat ketiga shapeshifter di dekat Marco itu terdiam, tiba-tiba Delta seolah-olah akan mengatakan sesuatu.


"Ada apa? Katakan saja!" ujar Marco.

__ADS_1


"Hmmm... Tadi kamu sempat bilang, kalau Beta mengubah bentuk sebagai burung saat bertarung dengan Seba, maka akan jadi terlalu mudah, bukan?" tanya Delta.


"Iya," jawab Marco.


"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Delta.


"Saat Beta menjadi burung, tentu saja dadanya akan terekspos, bukan?" tanya Marco.


Ketiga shapeshifter itu bersamaan menganggukkan kepala mereka.


"Sedangkan tanda cacat di tubuh Delta, ada di bagian dadanya. Tentu saja, akan terlalu mudah bagi Seba untuk menemukannya," kata Marco.


"Aku ingin dia bisa berusaha lebih, untuk mencarinya. Masing-masing dari kalian saja, letak tanda itu berbeda-beda....


... Berarti, tidak menutup kemungkinan, kalau tanda cacat di tubuh shapeshifter pengikut Alpha pengganti, juga akan berbeda-beda letaknya....


... Dengan begitu, saat bertarung dengan shapeshifter pengikut Alpha pengganti, kalau mereka juga memiliki tanda yang sama, Seba akan mencari dengan teliti hingga menemukan tanda cacat itu," lanjut Marco menjelaskan.


"Benar katamu ... Aku tidak terpikir sampai sejauh itu," ujar Delta.


"Kalau melihat hasil pertarungan tadi, sebaiknya kalau kita mengajari semua shapeshifter yang mendukungmu tentang hal itu," lanjut Delta.


"Iya. Aku sudah tahu itu," ujar Marco.


"Tapi, masih ada yang aku pikirkan...." lanjut Marco.


"Apa shapeshifter pengikut Alpha pengganti juga memang memiliki tanda cacat itu?" tanya Marco.


Beta, Gamma dan Delta kemudian terdiam, seolah-olah mereka sedang memikirkan sesuatu.


"Lalu, kita anggap saja kalau pihak lawan memang memiliki tanda itu. Tapi, tetap saja akan membahayakan banyak nyawa....


... Walaupun semua shapeshifter yang mendukungku sudah di ajari, tentang tanda dari titik kelemahan itu, jika mereka hanya asal-asalan saja saat bertarung....


... Tidak akan cukup, kalau hanya dengan mengandalkan pengetahuan mereka tentang tanda itu, lalu mereka tidak bisa menghindari serangan lawan dengan baik," kata Marco.


"Karena itu, kita tetap harus memiliki rencana yang matang, sebelum menyergap ke dalam kastil, agar tidak banyak nyawa shapeshifter yang melayang sia-sia," lanjut Marco lagi.


"Hmmm ... Maafkan aku....


... Tapi, kalau aku menyimak semua perkataanmu, aku merasa kalau kamu juga tidak mau, kalau shapeshifter pengikut Alpha pengganti, banyak yang mati....


... Apa benar dugaanku?" tanya Gamma.


Marco menatap Gamma lekat-lekat.


"Iya. Apa ada yang salah? Kalau aku tidak mau banyak dari shapeshifter yang harus meregang nyawa, hanya karena pergeseran kepemimpinan ini?" tanya Marco.


"Tidak. Tidak ada yang salah. Hanya saja....

__ADS_1


... Jika kamu terlalu mengasihi semua nyawa shapeshifter, hingga yang notabene itu adalah pihak lawan....


... Mungkin ada yang akan memanfaatkan kebaikanmu, untuk hal yang salah, dan bisa merugikanmu nantinya," jawab Gamma.


"Hmm ... Begitu, ya?!" ujar Marco.


"Aku hanya bisa berharap, kalau tidak akan ada shapeshifter yang seperti itu....


... Karena, sebelum kekuasaan terbagi dua, bukankah dulunya shapeshifter hanya ada satu kelompok?" lanjut Marco.


"Apa mungkin, kalau kamu menyesali dua shapeshifter pengikut Alpha pengganti, yang kamu habisi waktu itu?" tanya Beta tiba-tiba, setelah sedari tadi dia hanya berdiam diri.


"Tidak. Itu hal yang berbeda, karena mereka sendiri yang mencari masalah, dengan mencoba mengusik tempat tinggalku," jawab Marco.


"Sedangkan untuk penyerangan ke kastil, kitalah yang mencari masalah di sana," lanjut Marco.


Beta, Gamma dan Delta, kini benar-benar terdiam, dan mengunci mulut mereka rapat-rapat.


"Apa ada yang mengganggu pikiran kalian? Katakan saja kalau kalian tidak setuju dengan jalan pemikiranku!" ujar Marco.


"Ah ... Hanya saja, aku baru teringat kalau Beta pernah mengatakan padaku, kalau dia mau shapeshifter bisa berdamai dengan semua mahluk, termasuk hewan asli....


... Lalu, bagaimana menurut kalian, kalau aku juga berusaha untuk mendamaikan antara sesama shapeshifter? Dengan berusaha mempertahankan nyawa shapeshifter sebanyak-banyaknya," lanjut Marco.


"Aku setuju denganmu...." jawab Beta.


"Bagaimana dengan kalian? Kalau kalian memiliki pemikiran lain, sebaiknya katakan sekarang, agar aku juga bisa mempertimbangkan ulang," ujar Marco sambil melihat Delta dan Gamma bergantian.


"Aku juga setuju," jawab Delta.


"Tentu saja aku setuju. Aku hanya tidak menyangka kalau kamu bisa terpikirkan tentang hal itu. Kamu akan jadi Alpha yang baik," jawab Gamma.


"Tidak perlu memujiku! Aku sudah mendengarnya dari Beta dan Delta. Lama kelamaan aku nanti bisa besar kepala," ujar Marco.


"Aku lebih suka kalau kalian bisa bertukar pikiran denganku. Apalagi, kalau kalian bisa mengatakan kepadaku, kalau ada sesuatu yang kalian rasa tidak baik tentangku," lanjut Marco.


Beta, Gamma dan Delta terlihat menganggukkan kepala mereka, sebelum akhirnya semua mereka yang ada di situ hanya terdiam, dan tampak tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Angin yang berhembus ke arah mereka sekarang, ikut membawa aroma harum kayu manis yang berasal dari rumah Marco.


Mungkin kue yang di masak Bella sudah hampir matang.


"Aku mau ke dalam..." celetuk Marco, kemudian berdiri dan bersiap untuk berjalan menjauh dari situ.


"Apa kami bisa ikut mencicipi korvapuusti buatan Bella?" tanya Gamma, sebelum Marco melangkahkan kakinya.


"Tentu saja! Bella dan Seba pasti membuatnya cukup banyak untuk kita semua," jawab Marco.


Marco kemudian berjalan ke arah rumah, sambil Beta, Gamma dan Delta, menyusulnya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2