SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 52


__ADS_3

Bella hamil?


Mendengar perkataan Bella, membuat Marco kegirangan seolah-olah dia baru saja memenangkan lotere.


Marco tidak mau berjalan keluar dari kamar, dan hanya membawa Bella yang masih dalam gendongannya, untuk duduk diatas tempat tidur.


"Sungguh? Kamu yakin?" tanya Marco memastikan, dan rasanya dia mungkin akan menangis saking bahagianya.


"Mungkin saja... Karena sudah seminggu, aku telat datang bulan," jawab Bella pelan, dan masih terlihat lemas.


"Oh, Gosh! I love you, so much!" seru Marco, lalu mencium Bella.


Bella mendorong wajah Marco menjauh darinya, dan hal itu membuat Marco kebingungan.


"Kamu tidak mau aku menciummu?" tanya Marco heran.


Bella tersenyum, lalu berkata,


"Aku baru saja muntah..."


Marco tertawa kecil, dan mempererat pelukannya dibadan Bella.


"Tidak masalah..." kata Marco lalu mencium Bella lagi.


Tapi, lagi-lagi Bella mendorongnya.


"Kenapa?" tanya Marco dengan rasa kecewa.


"Jangan terlalu senang dulu! Aku belum pasti hamil. Harus diperiksakan dulu...!" ujar Bella.


"Oh... Oke! Tapi, aku tetap ingin menciummu sebentar. Bisa 'kan?" tanya Marco.


Bella tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


Marco kemudian mencium Bella dengan lembut, untuk beberapa waktu lamanya.


"Ayo kita periksa ke rumah sakit...!" ajak Marco, lalu berdiri, tanpa mau melepaskan Bella dari gendongannya.


"Aku masih bisa berjalan, sayang..." kata Bella.


"Aku tahu... Aku hanya tidak mau melepaskanmu," kata Marco, sambil berjalan keluar dari kamar.


Seba dan Adaline yang duduk diruang tengah rumah Marco, terlihat kebingungan melihat Marco yang menggendong Bella.


"Apa Bella sedang sakit?" tanya Seba.


"Aku harap tidak. Tapi, aku akan membawanya memeriksa kesehatannya di rumah sakit sekarang," jawab Marco.


"Dimana Beta, Fint dan Fent?" tanya Marco.


"Fint dan Fent kembali ke gudang pertanian. Kalau Beta, mungkin sedang berjalan-jalan diluar," jawab Adaline.


"Oh... Kalau begitu, aku pergi membawa Bella ke rumah sakit dulu," kata Marco, lalu lanjut melangkahkan kakinya yang sempat terhenti, mengarah keluar dari rumah.


"Iya. Hati-hati... Semoga tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan," kata Seba.


"Iya, terimakasih..." kata Marco.

__ADS_1


"Aku tidak sempat mengganti pakaianku..." bisik Bella, kepada Marco ketika mereka hampir melewati pintu.


"Tidak apa-apa. Kamu tetap terlihat cantik, sayang..." kata Marco.


Bella tersenyum lebar, lalu mencium pipi Marco.


"Kamu terlalu sering memujiku," kata Bella.


"Kamu memang cantik," ujar Marco mantap, lalu mendudukkan Bella didalam mobil.


Marco kemudian dengan perlahan, memacu kendaraannya keluar dari halaman rumahnya, menuju ke rumah sakit kota.


Setibanya mereka disana, Marco tetap menemani Bella, hingga diruang pemeriksaan.


Tidak berapa lama mereka menunggu, Bella kemudian dianjurkan untuk melakukan test dengan pengawasan, oleh dokter kandungan yang ada dirumah sakit itu.


Marco tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, ketika dokter memastikan kalau Bella memang sedang hamil, dengan usia kandungan yang masih sangat muda.


Marco hampir tidak bisa berhenti tersenyum, karena membayangkan kalau dia memang akan menjadi seorang Daddy, dan menggenggam tangan Bella dengan erat.


"Apa nyonya mengalami *morning sickness?" tanya dokter yang memeriksa Bella.


(*morning sickness \= emesis gravidarum \= kondisi mual dan muntah pada tiga bulan awal kehamilan)


"Iya," jawab Bella.


Dokter yang memeriksa Bella kemudian menuliskan sesuatu keatas selembar kertas, lalu menyodorkannya kepada mereka, dan Marco menerimanya.


"Nyonya harus menjaga kesehatan, makan makanan yang bernutrisi, dan jangan beraktivitas fisik terlalu berat. Harus lebih banyak beristirahat untuk trimester awal, oke?!" kata dokter itu.


"Baik, dokter! Terimakasih!" kata Bella dan Marco hampir bersamaan.


"Selamat!" kata dokter itu, dengan senyum lebar yang mengembang diwajahnya, sambil berjabat tangan dengan Marco dan Bella bergantian.


"Terimakasih!" kata Marco, kemudian membawa Bella pergi dari sana.


Setelah mengambil vitamin yang diresepkan dokter untuk Bella, mereka berdua kemudian bergegas untuk pulang kerumah.


"Kenapa kita jalannya lambat sekali?" tanya Bella.


Marco memang hampir tidak mau menginjak pedal gas mobilnya, hingga kendaraan itu berjalan dengan sangat pelan, diperjalanan mereka untuk pulang itu.


"Aku tidak mau badan kamu terlalu terguncang," jawab Marco.


Bella tertawa kecil.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Bella.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa mempercepat sedikit laju mobil ini," lanjut Bella.


Marco menatap Bella lekat-lekat, untuk beberapa saat, sebelum dia kembali melihat kearah jalanan.


"Kamu memberikan kebahagiaan yang luar biasa untukku..." celetuk Marco.


"I love you so much, honey!" lanjut Marco.


"Love you too, babe!" ucap Bella.

__ADS_1


"Saking senangnya, aku sampai lupa bertanya, apa bayinya laki-laki atau perempuan," kata Marco.


"Eh! Belum ada yang bisa tahu, kalau usia kandungannya masih terlalu muda, sayang..." ujar Bella, sambil tertawa geli.


"Oh... Begitu, ya?!" ujar Marco.


Bella akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Iya. Tapi... Untuk apa kamu buru-buru mau tahu jenis kelamin bayi kita?" tanya Bella.


"Aku mau kita mempersiapkan nama yang bagus untuknya," kata Marco.


"Aku juga mau mempersiapkan kamar yang cocok untuknya," lanjut Marco bersemangat.


"Hmmm... Masih banyak waktu untuk itu," kata Bella.


Mereka berdua kemudian hanya terdiam, untuk beberapa waktu lamanya.


"Apa kita bisa memberitahu orang tuamu sekarang?" tanya Marco.


"Kita bisa menundanya... Tapi, kalau kamu mau, kita bisa saja mengabari mereka," jawab Bella.


"Kalau begitu, kita singgah di rumah orang tuamu saja dulu sebentar. Aku tidak sabar memberitahu semua orang, kalau kamu akan memberikan aku seorang bayi," kata Marco.


"Oh, Gosh! Rasanya aku masih belum bisa percaya. Terima kasih, sayang..." seru Marco bersemangat.


Kehamilan Bella benar-benar membuat Marco sangat bersyukur dengan kehidupannya, hingga bisa melupakan permasalahan dalam kaum shapeshifter yang akan dia hadapi.


Hanya bayangan-bayangan tentang bayi kecil yang nanti bisa dipeluknya, yang berputar-putar didalam kepala Marco.


Marco bahkan sudah mulai membayangkan, bagaimana nanti dia akan menemani anaknya dan Bella, dan Marco benar-benar bertekad untuk menyayangi, dan menjaga dua orang penting dalam hidupnya itu dengan nyawanya.


Ketika mereka tiba dirumah keluarga Graham, Ben dan Mommy Bella, dengan senang hati menyambut kedatangan mereka berdua.


"Maaf, karena kami datang tiba-tiba," kata Marco.


"Jangan berkata seperti itu...! Kami selalu senang kalau kalian mau berkunjung kesini," kata Ben.


"Mari masuk! Jangan berdiri disitu saja!" ajak Ben.


Mommy Bella terlihat berjalan masuk jauh kedalam rumah, meninggalkan Marco, Bella, dan Ben di ruang keluarga.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Ben, sambil menatap Marco lekat-lekat, ketika mereka semua sudah duduk di sofa yang ada disitu.


"Apa tampak jelas diwajahku?" tanya Marco, sambil tersenyum lebar.


"Hmmm... Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi, hingga membuatmu tampak berbahagia," kata Ben.


"Tentu saja. Saya selalu berbahagia karena ada Bella yang bersama saya," kata Marco.


"Tapi, bukan itu saja... Mungkin, sebaiknya Bella saja yang mengatakannya," lanjut Marco.


"Tunggu Mommy kembali kesini!" kata Bella.


Meskipun terlihat penasaran, namun Ben tidak memaksa Bella atau Marco mengatakan ada apa, dan dengan sabar menunggu Mommy Bella yang akhirnya datang, sambil membawa minuman dan camilan untuk mereka.


"Aku sedang hamil!" kata Bella, sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2