SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 30


__ADS_3

Baik Flints, Seba , dan Adaline, mereka semua menampakan raut wajah sedih penuh penyesalan.


Seba bahkan hampir terlihat seolah-olah akan menangis.


Adaline menyajikan tiga cangkir kopi jagung, yang baru diseduhnya dengan air panas, kepada Marco dan kedua orang tuanya.


"Apa kamu mau ditambahkan gula? Atau susu?" tanya Adaline kepada Marco.


"Tidak perlu. Terimakasih!" jawab Marco.


"Kalau saja saya menuruti permintaan Flints waktu itu, mungkin Fent, Fint, Adaline, kami sekeluarga, sudah bisa beradaptasi ditempat lain," kata Seba.


"Maafkan saya, Ma'am! Kata Adaline tadi, anda pernah bekerja melayani pasangan Alpha. Hmmm... Apa anda bisa menceritakan, apa saja yang anda ketahui tentang pewaris Alpha, dan keluarganya?" tanya Marco hati-hati.


"Iya. Saya pernah bekerja di kastil tempat tinggal Alpha dan pasangannya," kata Seba.


Seba dan Flints hampir berbarengan, meminum sedikit kopi dari cangkir mereka masing-masing.


"Diminum kopinya!" kata Flints kepada Marco.


"Baik, Sir! Terimakasih!" kata Marco, lalu menyesap sedikit kopi panas dari cangkir didepannya, dan setelah Marco meletakkan cangkir kopinya keatas meja, Seba tampak seolah-olah akan bercerita lagi.


"Setahu saya, pasangan Alpha melahirkan pewaris Alpha, saat saya masih mengandung Adaline. Tapi, anak itu tiba-tiba menghilang," kata Seba.


"Menurut isu yang saya dengar diantara pekerja-pekerja yang lain, kemungkinan pewaris Alpha memang sengaja disembunyikan, karena perebutan kepemimpinan antara Alpha dan saudaranya," lanjut Seba.


"Hmmm... Lalu bagaimana dengan Alpha, saudaranya dan pasangan Alpha?" tanya Marco.


"Saya waktu itu hanya menjadi pelayan luar, dan tidak pernah berhadapan langsung dengan pasangan Alpha, maupun sang Alpha itu sendiri...


Jadi, saya tidak bisa memastikan benar, atau tidaknya isu yang saya dengar. Konon katanya setelah pewaris Alpha menghilang, pasangan Alpha berhenti bersuara. Wanita itu tidak mau bicara, menangis, tertawa atau apapun juga...


Benar-benar membisu...


Tidak lama, yang saya dengar, Alpha pun jatuh sakit, karena kesedihannya akan pasangannya, dan juga pewarisnya yang hilang," kata Seba.


"Lalu? Apa pasangan Alpha masih hidup?" tanya Marco, yang makin penasaran.


"Saya kurang tahu tentang itu... Hanya saja seingat saya, saat Adaline hampir berusia sepuluh tahun, semua pekerja-pekerja biasa di kastil itu diberhentikan, dan hanya ada beberapa pelayan kepercayaan saja yang masih bekerja disana," jawab Seba.

__ADS_1


"Yang saya dengar, katanya ada sesuatu yang terjadi pada pasangan Alpha, dan saat itu juga sang Alpha meninggal dunia, dan digantikan saudara laki-lakinya," lanjut Seba.


Marco mengerutkan keningnya, sambil memikirkan perkataan Seba.


Apa Mommy Marco yang asli juga sudah meninggal?


"Saat itu juga, semua keluarga dari generasi pelarian, kembali berpencar keluar dari tempat ini, dan hanya kami yang tertinggal," kata Seba.


"Kenapa?" tanya Marco heran.


"Saudara laki-laki Alpha yang menjadi pemimpin sekarang, adalah orang yang kejam, dan tidak segan untuk menghabisi, generasi pelarian yang mencoba melanggar aturannya," jawab Seba.


Seba terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan, lalu kembali menyesap sedikit kopinya.


"Tapi, kami tetap bertahan, karena rasanya sudah terlanjur basah... Asalkan kami tidak bertingkah kelewatan, selama belasan tahun ini kami disini, kami masih baik-baik saja," kata Seba.


"Meskipun demikian, saya masih sering merasa khawatir dengan anak-anak kami. Entah sampai kapan mereka mampu bertahan, dengan aturan gila, dari Alpha yang baru ini," lanjut Seba.


"Apa saja aturannya?" tanya Marco.


"Kami tidak boleh pergi ke pemukiman utama, selain disaat-saat tertentu, tidak boleh mencari kerja disana, kami tidak boleh mendatangi salah satu sisi pantai yang menjadi tempat berkumpulnya mereka, dan masih banyak lagi, yang tidak bisa kami lakukan seenaknya saja," jawab Seba.


Seba menatap Marco lekat-lekat, dengan mengerutkan keningnya, dan bibir yang mengerucut dan bergerak kesana kemari, untuk beberapa saat.


Seba lalu melihat kearah Flints dan Adaline, berganti-gantian.


"Saya khawatir, kalau-kalau kami juga tidak bisa beradaptasi ditempat lain. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan manusia, ditempat yang berbeda dari tempat ini," jawab Seba.


"Saya memang lebih memilih untuk bertahan saja disini, untuk sementara waktu lagi. Meskipun sulit dengan banyaknya aturan, tapi sudah pasti kami bisa bertahan, asalkan kami tetap mengikuti semua aturan itu," lanjut Seba.


Marco terdiam untuk beberapa waktu lamanya.


Apa mungkin, kalau Marco mengajak mereka tinggal bersamanya?


Tapi, sekarang Marco tidak tinggal sendiri lagi.


Marco harus membicarakan hal itu dengan Bella terlebih dahulu.


Belum lagi kemungkinan lain yang bisa saja terjadi.

__ADS_1


Mana tahu, kalau nanti bisa-bisa ada kecurigaan yang mengarah kepadanya, dan saudara laki-laki Alpha akan menemukan Marco, sebelum Marco mendapat lebih banyak informasi.


Meskipun merasa iba, Marco tidak bisa mengambil keputusan terburu-buru, dan memang harus memikirkan semuanya matang-matang.


Flints, Seba, Adaline, dan Marco bertatap-tatapan berganti-gantian.


"Saya juga masih berharap, kalau pewaris Alpha akan kembali ketempat ini, dan menyatakan kekuasaannya, sesuai dengan ramalan leluhur kita," lanjut Seba lagi.


"Kalau dalam beberapa waktu lamanya, saya menunggu dan pewaris Alpha tetap tidak kembali, untuk menggenapi ramalan leluhur kita, maka mau tidak mau, saya yang akan mengajak keluarga saya pindah dari sini," lanjut Seba.


Seba tampaknya masih menaruh kepercayaan yang besar, akan cerita dari leluhur shapeshifter.


Sedangkan kalau memang benar begitu, Marco yang kemungkinan besar adalah pewaris Alpha, tidak tahu apa-apa tentang bagaimana dia akan menyatakan kekuasaannya.


Apalagi, ada kemungkinan kalau Marco harus bertarung dengan saudara laki-laki Alpha, untuk merebut kepemimpinannya kembali.


Membayangkannya saja, kepala Marco sudah terasa pusing.


Marco hanya ingin mencari tahu tentang kaumnya, dan sebagian besar, sudah dia dapatkan dari penjelasan Seba.


Marco tidak perlu lagi mencari tahu apa-apa tentang Mommy-nya yang asli, karena mungkin saja juga sudah meninggal dunia, makanya Seba dan pelayan yang lain diberhentikan dari pekerjaannya.


Sekarang, Marco tidak terlalu berminat lagi untuk mencari tahu lebih banyak tentang shapeshifter, juga tidak mau terlalu mencampuri urusan kaumnya, dan hanya ingin hidup tenang.


Itu saja.


Marco melihat kearah jendela rumah, dan menyadari kalau hari sudah hampir sore.


"Maaf, Ma'am, Sir, Adaline! Tapi kelihatannya, saat ini saya harus kembali ke tempat tinggal saya," kata Marco.


"Baik!" kata Flints, Seba, dan Adaline, hampir bersamaan.


"Kami berharap, Marco akan berkunjung kesini lagi, kalau Marco ada kesempatan. Kami merasa senang jika bisa bertemu dengan orang lain," kata Flints, lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Iya, Sir! Saya akan kesini, kalau saya sedang tidak ada kesibukan ditempat tinggal saya," ujar Marco, lalu ikut berdiri.


"Besok ada perdagangan dipemukiman utama. Kalau kamu mau berjalan-jalan disana, besok kesempatannya," kata Adaline.


"Hmmm... Begitu ya?!" ujar Marco, sambil memikirkan perkataan Adaline.

__ADS_1


__ADS_2