
Tanpa banyak berbasa-basi.
Tidak berapa lama semenjak kedatangan Gamma, Marco segera berlatih bertarung melawan Beta, Gamma dan Delta sekaligus.
Setelah beberapa kali pertarungan yang lebih sering mereka lakukan di udara, kelihatannya, Marco masih bisa mengimbangi kekuatan tiga orang itu.
Akan tetapi benturan keras dan cakar tajam yang beberapa kali sempat mengenai punggung Marco, membuat bekas lukanya terasa cukup nyeri.
Marco tidak mengeluh.
Mau tidak mau, dia harus belajar menahan rasa sakitnya, dan tetap melanjutkan latihan bersama Beta, Gamma dan Delta.
Hingga satu ketika hantaman keras dari cakar Delta, mengenai tepat di luka Marco, membuat Marco kehilangan kendali, dan hampir terjatuh dari angkasa.
Marco menghindar dari ketiga shapeshifter itu, terbang menukik turun dengan kecepatan tinggi.
Ketika Marco hampir menyentuh tanah, Marco menahan sebagian bentuk tubuhnya dan meninggalkan sayap lebarnya, untuk memperlambat jatuhnya ke tanah.
Rasa nyeri dilukanya menjadi-jadi, hingga membuat kaki Marco gemetar saat berdiri dan mencoba untuk berjalan.
Tidak berapa lama, Beta sudah menyusul Marco, begitu juga Delta dan Gamma yang hampir bersamaan menginjakkan kaki ketanah, hingga menimbulkan angin kencang, seakan-akan bisa menerbangkan rumah Marco saat itu.
Nafas Marco tersengal menahan sakitnya, sambil berdiri dan berpegangan di batang pohon maple.
"Kamu tidak apa-apa?" terdengar suara Beta bertanya.
Marco menoleh dan melihat mereka bertiga yang masih berbentuk burung elang, kemudian Marco menggelengkan kepalanya, dan kembali menundukkan pandangannya yang terasa berkunang-kunang.
Marco masih berdiri disitu untuk beberapa waktu lamanya, dan tidak memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh ketiga shapeshifter yang berlatih bersamanya tadi.
"Alpha! Lukamu terlihat kering di bagian luar. Tapi, bagian dalamnya kelihatannya masih jauh dari kata sembuh..."
Dari belakang Marco, terdengar suara yang belum terlalu familiar ditelinga Marco, dan dia menduga kalau itu adalah suara Gamma.
"Maafkan aku! Tolong ditahan sakitnya!" Kembali terdengar suara Gamma.
"Tunggu!" Suara Beta seolah-olah menahan sesuatu, yang mungkin akan dilakukan oleh Gamma.
Beta dan Delta yang sudah berwujud manusia, kemudian terlihat menghampiri Marco, dan masing-masing memegangi kedua sisi bahu dan lengan Marco.
Dengan rasa bingung Marco melihat mereka berdua bergantian, yang berdiri di sisi-sisinya dan tampak sedang memasang kuda-kuda, seolah-olah sedang berjaga-jaga akan gerakan Marco nantinya.
"Ini akan terasa sangat sakit! Jangan sampai kamu tanpa sengaja menyakiti Gamma!" kata Beta, seolah-olah mengerti dengan apa isi pikiran Marco.
Tanpa sempat berpikir ataupun berkata apa-apa, mendadak punggung Marco terasa seakan-akan ditusuk oleh belati yang sangat tajam, dan terasa menekan masuk cukup dalam.
__ADS_1
"Aaarrrghh...!"
Spontan Marco berteriak dan mengguncangkan tubuhnya, agar mereka melepaskannya dan menghentikan apa yang mereka lakukan, yang membuat Marco sangat kesakitan.
"Tahan! Sebentar lagi!" teriak Beta mencoba menenangkan Marco, sambil tampak berusaha keras agar Marco tetap berdiri diam.
Setiap detik sejak rasa belati itu tertusuk di punggungnya, sakitnya luar biasa yang tidak tertahankan, memancing kemarahan Marco.
Marco mengeluarkan tenaganya, dan berusaha menghempaskan mereka yang memegangnya.
"Cepat! Gamma! Cepat! Aku hampir tidak bisa menahannya lebih lama lagi," teriak Delta yang terdengar panik.
Akhirnya Delta terlempar cukup jauh dari tempatnya berdiri, dan tak lama Beta pun ikut terlempar dengan kondisi yang sama seperti Delta.
Marco berbalik, tidak ada seorangpun disana, tapi seolah-olah ada yang menggantung dibelakangnya, selain dari sayapnya yang besar itu.
Dengan geramnya, Marco berusaha menggapai bagian belakang badannya, dan akhirnya tangannya terasa seperti sedang memegang tongkat yang empuk.
Marco menarik benda itu, sambil tetap memegang dan meremasnya dengan erat.
Marco melihat apa yang dia pegang itu, dan ternyata, itu adalah seekor ular yang berukuran hampir sebesar lengan Marco.
Kelihatannya, Marco memang gelap mata, dia meremas ular itu tanpa berpikir panjang.
"Marco! Itu Gamma!"
"Marco! Alpha!"
"Jangan membunuhnya!"
Teriakan demi teriakan dari Beta dan Delta yang terdengar semakin mendekat kearah Marco, akhirnya bisa menyadarkan Marco, dan membuatnya melepaskan ular itu, sebelum ular itu mati ditangannya.
Ular itu sempat terlihat lemas, dan hanya tergeletak ditanah begitu saja untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia menggeliat dan merayap menjauh dari Marco.
Sesaat setelah ular itu pergi dari pandangannya, Marco merasa kalau punggungnya sudah tidak terasa sakit lagi.
Bahkan, seolah-olah punggung Marco benar-benar baik-baik saja, dan tidak pernah terluka.
Baik Delta maupun Beta, sama-sama tampak terengah-engah menghampiri Marco, dan juga tampak sedang kesakitan, mungkin karena benturan keras ketanah yang mereka rasakan saat terlempar jauh tadi.
"Apa yang dilakukan oleh Gamma tadi?" tanya Marco.
"Dia menggigitmu, untuk mengobati lukamu dengan memakai kutukan," jawab Delta.
"Apa memang harus dia menggigitku seperti itu?" tanya Marco bingung.
__ADS_1
Belum sempat Delta ataupun Beta menjawab pertanyaan Marco, Gamma terlihat berjalan mendekat dengan bentuknya yang sudah berubah menjadi manusia.
Dari raut wajahnya, Gamma tampak kesakitan, dan sesekali meregangkan tubuhnya sambil berjalan, menghampiri Marco.
"Nyawaku hampir saja melayang di buatmu. Itukah balasanmu, setelah aku menyembuhkan lukamu?" ujar Gamma sambil tersenyum.
"Maafkan aku! Aku sama sekali tidak tahu... Aku hanya bereaksi karena rasa sakitnya," kata Marco penuh penyesalan.
"Tidak masalah... Aku mengerti kenapa kamu sampai bertindak begitu," ujar Gamma dengan santainya, dan masih tetap tersenyum.
"Terimakasih! Punggungku sekarang, sudah terasa jauh lebih baik," kata Marco.
"Lukamu itu cukup dalam, dan menyentuh syaraf di punggungmu. Ditambah lagi dengan racun shapeshifter. Itu sebabnya agak sulit disembuhkan...
Apalagi, kalau hanya memakai cara pengobatan sederhana dari manusia biasa," ujar Gamma.
Marco tidak mengomentari perkataan Gamma lagi, dan bersiap-siap untuk pergi dari situ.
"Kita istirahat sebentar. Mungkin makan siang juga sudah siap. Nanti kita lanjut berlatih lagi," kata Marco.
"Kalian tidak ikut masuk?" tanya Marco, setelah beberapa langkah kakinya berjalan.
Tanpa berbalik lagi, Marco kemudian terus berjalan kearah rumah, dengan membiarkan ujung sayap-sayapnya yang terseret ditanah.
Didalam rumah, terlihat Seba, Bella dan Flints sedang berada di dapur.
Marco tidak menyapa mereka, dan memilih untuk segera kedalam kamar untuk berpakaian.
Ketika dia kembali keluar, Beta, Gamma, dan Delta, terlihat sudah duduk di meja dapur, bersama Flints.
Sementara, Bella dan Seba masih tampak sibuk memasak.
Marco mengambil salah satu tempat duduk kosong, dan ikut berkumpul dengan mereka semua.
"Dalam beberapa hari ini, mungkin sebaiknya kalau aku dan kamu mencoba pergi ke pemukiman utama. Lalu, memeriksa dan mengawasi area kastil, agar bisa menyusun rencana untuk masuk kesana," ujar Delta.
"Bagaimana menurutmu?" lanjut Delta.
Marco terdiam, sambil memikirkan perkataan Delta.
"Apa menurut kalian aku sudah siap?" Marco balik bertanya.
Beta, Gamma dan Delta tampak bertatap-tatapan, sebelum mereka bertiga melihat kearah Marco.
"Menimbang dari bagaimana pertarungan kita tadi, kami rasa, kamu sudah siap..." jawab Beta.
__ADS_1