SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 13


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan dengan apel segar sebanyak itu?" tanya Bella sambil membantu Marco membersihkan buah apel yang kelewat masak, yang rencananya akan dibuat selai dan Pai.


"Hmmm... Kamu bisa mengambilnya untuk dibawa pulang!" kata Marco.


"Sebanyak itu? Tidak. Sebaiknya, kamu menjualnya saja. Meski hanya satu pohon yang ada di rumahku, tapi buahnya lebih dari cukup, untuk kami makan," kata Bella, yang baru saja selesai memotong buah terakhir diatas meja.


Bella memasukkan beberapa buah yang sudah dicuci bersih, dan sudah dipotong-potong , kedalam sebuah panci besar.


Marco lalu menyalakan api perapian, karena rencananya, selai apel akan dimasak Marco diatas tungku itu saja.


Selain hemat bahan bakar, api perapian bisa untuk menghangatkan seisi rumah.


"Kamu bisa mengaduknya sebentar? Aku siapkan bahan untuk membuat kulit Pai," kata Marco, setelah mengangkat panci berisi potongan apel, dan gula dalam jumlah banyak keatas tungku.


Bella mengaduk-aduk bahan selai perlahan, agar bagian bawahnya tidak hangus, dan bisa mengganggu rasa selai.


"Sebenarnya, apa yang terjadi sampai kamu dan Daddy-mu pindah ke kota lain?" tanya Bella tiba-tiba.


Marco hampir saja menjatuhkan tepung, yang baru saja dikeluarkannya dari dalam lemari dapur.


"Hmmm... Tidak ada. Daddy hanya ingin agar kami bisa lebih tenang, dan tidak terlalu berduka karena kematian Mommy," jawab Marco beralasan.


Bella tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil tetap mengaduk selai, dengan spatula kayu yang panjang.


"Aku sudah menduganya... Kalian pasti sangat sedih karena kematian Mommy-mu yang tiba-tiba," kata Bella.


Muncul sedikit rasa penasaran Marco, yang sedang mencampur bahan-bahan kulit Pai diatas meja.


"Apa ada sesuatu yang kamu dengarkan, tentang kepindahan kami?" tanya Marco hati-hati.


"Tidak ada yang istimewa. Hanya desas desus yang mengatakan, kalau Mommy-mu terlalu cepat meninggal. Dan, banyak orang yang mengira, kalau Daddy-mu pergi untuk menikah lagi," jawab Bella.


"Tidak ada yang lain?" tanya Marco.


"Setahu saya, tidak ada. Itu saja. Memangnya kenapa?" kata Bella.


"Hmmm... Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja... 'Kan kami pindah waktu itu mendadak, kalau-kalau ada yang bergunjing sesuatu yang aneh.


Dan, ternyata memang benar...


Padahal, Daddy tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Daddy benar-benar hanya sibuk mengurusku, sampai Daddy meninggal dunia," jawab Marco.

__ADS_1


"Maafkan mulut-mulut warga disini! Seharusnya, mereka memang tidak membuat desas-desus sembarangan," kata Bella pelan.


Raut wajah Bella terlihat sedih, dan tampaknya dia memang benar-benar kecewa, dengan pergunjingan penduduk kota tentang Daddy Marco.


"Sudahlah... Tidak perlu dipikirkan lagi. Semuanya sudah terlanjur terjadi," kata Marco.


Marco mengeluarkan dua loyang Pai dan memasukan adonan kulit Pai kedalamnya, berikut juga dengan isiannya, lalu memasak Pai didalam oven.


Marco menggantikan Bella mengaduk selai didalam panci, setelah semua bekas membuat Pai sudah dia bersihkan dari atas meja.


"Kamu pintar membuat Pai. Kamu tidak pernah terpikirkan membuatnya untuk dijual?" tanya Bella, sambil mengintip Pai yang sedang dimasak, melalui kaca dipintu oven.


Marco tertawa kecil.


"Siapa yang mau membelinya?" tanya Marco.


"Aku bicara serius. Aku bisa membantumu menjualnya," kata Bella, sambil membesarkan matanya kepada Marco.


"Hmmm... Maafkan aku. Tapi, dengan semua pekerjaan mengurus tempat ini, aku tidak akan sempat membuat Pai dipagi hari," kata Marco.


"Tapi kamu bisa mempersiapkannya dimalam hari, bukan? Jadi, dipagi besoknya, kamu tinggal memanggangnya saja," ujar Bella.


"Sebenarnya untuk apa kamu membicarakan hal ini?" tanya Marco penasaran, karena rasanya, Bella seolah-olah sedang memaksa Marco saat ini.


"Makanya, aku datang mengunjungimu. Aku mau tahu, apa kamu bisa menyediakan Pai untuk toko kue ku," lanjut Bella.


"Hmmm... Kapan rencananya kamu akan membuka toko kue mu?" tanya Marco.


"Kamu mau membuat Pai untuk toko ku?" Bella balik bertanya.


"Rencananya, minggu depan. Aku sudah menemukan tempat yang cocok, dan masih dalam tahap persiapan," lanjut Bella.


"Aku pikir-pikir dulu, ya?! Aku tidak berani berjanji. Kalau aku yakin bisa melakukannya, aku akan menghubungimu," kata Marco.


"Tapi... Apa kamu memang mau menetap dikota ini?" tanya Marco heran.


"Iya. Sementara ini, rasanya lebih baik begitu. Kecuali, toko ku tidak berhasil, baru ada kemungkinan, aku akan mencari pekerjaan dikota lain, dan memanfaatkan ijazah sarjanaku," jawab Bella.


Marco menggangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali memperhatikan selai didalam panci, yang sekarang sudah mulai mendidih.


Tidak berapa lama, Pai buatan Marco sudah matang, dan Bella menggantikan Marco mengaduk selai, sedangkan Marco mengeluarkan Pai dari dalam oven.

__ADS_1


"Harum sekali...! Aku jadi tidak sabar untuk mencobanya," celetuk Bella, lalu tertawa kecil.


Marco tersenyum, lalu memotong-motong Pai menjadi beberapa bagian, dan mengambil sepotong dan diletakkannya diatas piring.


"Ini! Kamu bisa mencobanya lebih dulu!" kata Marco, sembari menyodorkan piring berisi Pai kepada Bella, lalu mengaduk selai menggantikan Bella.


"Memang enak! Sesuai dengan aromanya yang harum!" kata Bella, lalu menyuapkan sesendok Pai ke mulut Marco.


"Aku sangat berharap, kamu mau mengisi toko kue ku, dengan Pai buatanmu," lanjut Bella, kemudian lanjut memakan Pai yang dipegangnya.


Selainya sudah matang, dan Marco mengangkat panci dari atas tungku.


Sembari menunggu selainya dingin, Marco duduk dimeja bersama Bella, lalu ikut mengambil sepotong Pai untuk dirinya sendiri.


"Kamu tidak terpikir untuk mencari pasangan?" tanya Bella tiba-tiba.


Marco yang baru saja menyuapkan sedikit Pai kedalam mulutnya, hanya menyemburkan makanannya keluar dari mulutnya.


Bella menatap Marco dengan raut wajah heran.


"Maafkan aku!" kata Marco, lalu buru-buru membersihkan kotoran makanan, yang berhamburan diatas meja.


Bella kemudian tertawa terbahak-bahak, sambil menghalangi mulutnya dengan tangannya.


"Maafkan aku! Kelihatannya, aku hanya membuatmu merasa canggung," kata Bella yang sudah berhenti tertawa.


"Tapi... Aku memang sedikit merasa penasaran. Kamu tinggal sendirian disini. Apa kamu tidak kesepian?" lanjut Bella.


Kali ini, Marco memang merasa sangat canggung, dan kebingungan akan berkata apa.


"Kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku. Itu memang pertanyaan bodoh!" kata Bella.


"Aku saja belum mendapat pasangan. Padahal, teman-teman kita yang lain, sebagian besar sudah menikah. Bahkan ada yang sudah memiliki anak...


Kamu masih menunggu putri yang cantik. Sedangkan aku, menunggu pangeran tampan...


Entah sampai kapan, baru kita berdua bisa menemukan mereka," lanjut Bella, lalu tertawa kecil.


Marco terdiam dan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menyuapkan sedikit Pai kedalam mulutnya.


Tidak harus putri yang cantik, sebagaimana yang menjadi angan-angan Marco waktu masih kecil.

__ADS_1


Marco hanya ingin agar dia bisa dipertemukan dengan seseorang, yang bisa menerima kekurangannya.


Itu saja.


__ADS_2