SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 42


__ADS_3

Raut wajah Bella tidak menyiratkan apa-apa selain kebingungan, meskipun Marco sudah menjelaskan tentang dirinya.


Seharusnya, Marco memang sudah memberitahu Bella sebelum-sebelumnya, jadi tidak secara tiba-tiba seperti sekarang ini.


Mungkin saja, kalau Marco sudah berdiskusi dengan Bella, sejak Marco mengetahui kebenaran tentang jati dirinya, Bella bisa membantu memberikan Marco jalan keluar yang terbaik.


Kali ini, Marco harus memutar otak sendiri, agar keluarga Sums berhenti mencurigainya.


Dan kelihatannya, hal itu cukup sulit.


Karena, kalau Marco hanya asal mengelak begitu saja, kemungkinan besar keluarga Sums tidak akan percaya dengan alasannya.


Ketika sebagian tamu sudah memberikan ucapan selamat kepada Marco, Adaline yang sedari tadi hanya duduk dengan anggota keluarganya, kemudian berjalan menghampiri ke tempat Marco dan Bella duduk.


"Selamat!" ucap Adaline dengan wajah datar.


"Terimakasih," ujar Marco, sambil tersenyum untuk menutupi rasa tidak nyamannya.


"Terimakasih." Ucapan Bella menyusul kemudian.


"Silahkan, dinikmati pestanya!" lanjut Bella.


"Hmmm... Tapi, kami tidak diundang," kata Adaline.


"Begitu, ya?! Aku sudah menduganya... Apa mungkin kamu dari keluarga Sums?" tanya Bella.


"Iya. Adaline dari keluarga Sums," kata Marco.


"Oh, iya! Namaku, Bella!" kata Bella memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya kepada Adaline.


"Namaku, Adaline!" kata Adaline, menyambut tangan Bella, dan berjabat tangan dengannya.


"Pernikahan kami dilakukan secara mendadak. Rencananya, hanya pemberkatan di gereja, lalu makan malam biasa...


Kami juga merasa terkejut, ketika melihat acara yang dipersiapkan orang tuaku, yang jauh berbeda dari rencana awal," kata Bella.


"Toko kue milikku akan dibuka lusa nanti. Jadi, aku meminta kepada Marco, agar pernikahan kami dilangsungkan, sebelum aku sibuk di toko kue...


Aku sudah menduga, kalau Marco pasti tidak memberitahu kalian. Karena mengira, hanya akan ada makan malam bersama orang tuaku saja," lanjut Bella.


"Oh... Begitu rupanya," ujar Adaline.


"Jadi Marco sudah pernah menceritakan tentang kami?" lanjut Adaline.


"Iya. Marco sudah memberitahuku tentang kalian," jawab Bella.


"Hmmm... Memangnya, kalian tidak pernah merencanakan pernikahan, sejak jauh hari sebelumnya?" tanya Adaline.


"Maafkan aku... Aku mungkin terlalu banyak bicara," lanjut Adaline buru-buru.


"Tidak apa-apa. Aku memang baru berani melamar Bella, dua hari yang lalu," jawab Marco.

__ADS_1


"Kami sudah saling mengenal, sejak masih di primary school. Tapi, tidak ada yang menyangka, kalau dari pertemanan, kami bisa saling jatuh cinta," kata Bella, lalu tersenyum lebar.


Adaline tampak menggangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa aku bisa bertemu dengan keluargamu yang lain?" tanya Bella.


"Eh! Maafkan aku... Tunggu sebentar!" kata Adaline, lalu berjalan kembali ketempat keluarga Sums sedang duduk.


"Terimakasih..." bisik Marco kepada Bella.


"Tidak perlu berterimakasih sayang... Aku pasti akan berusaha membantumu. Tapi, kamu berhutang penjelasan denganku," kata Bella.


Adaline lalu terlihat kembali menghampiri Marco dan Bella, bersama semua anggota keluarga Sums.


"Ini kedua orang tuaku dan kakak-kakakku," kata Adaline.


Bella lalu mengulurkan tangannya, dan berjabat tangan dengan anggota keluarga Sums, satu persatu.


"Filnts!"


"Seba!"


"Fint!"


"Fent!"


Kata anggota keluarga Sums memperkenalkan diri mereka bergantian.


"Kalau mau berbincang-bincang dengan kami berdua, kita bisa pindah tempat duduk disebelah sana," ajak Bella, sambil menunjuk salah satu meja yang kosong.


"Maafkan kami, kalau hanya mengganggu acara bahagia kalian hari ini," kata Flints.


"Tidak masalah. Saya justru senang, karena bisa bertemu dengan kalian semua," kata Bella, lalu berjalan ke meja kosong, sambil bergandengan tangan dengan Marco.


Keluarga Sums juga tampak menyusul kesitu, dan menggeser kursi, agar semua dari mereka kebagian tempat duduk.


"Saya berharap kedatangan kalian, memang sengaja untuk memberikan kami ucapan selamat," kata Bella.


Seketika itu juga, raut wajah seluruh anggota keluarga Sums berubah drastis.


Terlihat jelas, kalau mereka sedang salah tingkah, dan tampak tidak nyaman karena perkataan Bella, hingga membuat suasana disitu menjadi canggung untuk beberapa saat.


"Maafkan kami... Jujur saja, kedatangan kami kesini, untuk menemui Marco. Ada yang ingin kami tanyakan kepadanya," kata Flints, setelah beberapa waktu semua yang ada disitu hanya terdiam.


"Ada apa?" tanya Marco, berpura-pura tidak mengerti.


"Apa kita bisa bicara terpisah?" tanya Flints.


"Maafkan saya... Bukan saya ingin masuk campur dengan urusan kalian. Tapi, kalau cuma urusan biasa tentang kaum kalian, kalian bisa berbicara disini, tanpa perlu khawatir dengan keberadaan saya," kata Bella, dengan suara lembut tapi tegas.


"Bella tahu semua tentang kita," kata Marco.

__ADS_1


"Tapi..." Flints terlihat ragu-ragu untuk berbicara.


"Tanyakan saja!" kata Seba.


Flints masih tetap terdiam.


"Apa mungkin, kamu pewaris Alpha yang bersembunyi?" tanya Seba.


"Hmmm... Rasanya tidak mungkin. Tapi, atas dasar alasan apa, hingga kalian bisa menduga kalau saya adalah pewaris Alpha?" ujar Marco.


"Kamu terlalu berbeda, dibandingkan dengan shapeshifter yang lain," jawab Seba.


"Itu saja?" tanya Marco.


Anggota keluarga Sums tampak kebingungan, dan saling bertatap-tatapan diantara mereka.


"Rasanya, itu bukan alasan yang kuat. Karena, saya tidak tahu apa-apa tentang kemampuan saya, yang kalian anggap istimewa," kata Marco.


"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Seba.


"Bukannya, sudah pernah saya ceritakan, kalau mereka wafat ketika saya masih kecil? Itu sebabnya, saya kurang tahu tentang kaum kita," jawab Marco.


"Apa ada yang lain yang bisa membuat kalian menduga-duga, bahwa saya adalah pewaris Alpha? Apa tidak mungkin kalau ditempat lain, ada shapeshifter yang memiliki kemampuan sepertiku?" tanya Marco.


Perkataan Marco, tampaknya bisa mengurangi rasa curiga keluarga Sums, meskipun kelihatannya kecurigaan mereka kepada Marco, masih belum benar-benar menghilang.


Marco menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.


"Maafkan saya, karena saya mungkin tidak bisa memuaskan keingin-tahuan kalian. Tapi, sejak awal kita bertemu, saya sudah mengatakannya kepada Adaline...


Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana bisa aku berbeda dari kalian. Kalau kalian memang menganggapnya begitu," kata Marco.


"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Marco.


Baik Seba dan Flints, begitu juga anggota keluarga Sums yang lain, hanya terdiam, sambil saling bertatap-tatapan.


"Kalian bisa menikmati pestanya... Kami harus kembali, untuk menemui para tamu yang lain," kata Marco.


"Selamat berbahagia!" kata Flints, ketika Marco dan Bella berdiri dari tempat duduknya.


"Terimakasih," kata Marco, lalu berjalan pergi sambil menggandeng tangan Bella.


Setelah Marco dan Bella kembali ketempat duduk mereka yang semula, keluarga Sums terlihat seolah-olah hendak beranjak pergi dari pesta itu.


Dan benar saja, tidak beberapa lama berselang, semua anggota keluarga Sums, menghampiri Marco dan Bella, lalu berpamitan.


"Kami pulang dulu. Apa sesekali, kami boleh berkunjung lagi kesini?" tanya Flints.


"Tentu saja. Kalian bisa berkunjung ke rumahku, karena ini rumah orang tua Bella," kata Marco.


"Baiklah kalau begitu! Kami permisi dulu," kata Flints.

__ADS_1


__ADS_2