
Bella sudah pulang sejak tadi.
Beberapa toples selai dan satu loyang Pai, jadi pemberian Marco untuk dia bawa pulang.
Marco sempat ingin memberikan beberapa buah apel segar, tapi Bella menolaknya, dan tetap menyarankan agar Marco menjualnya saja.
Diluar sudah gelap malam, dan Marco akan memeriksa keadaan didalam gudang pertanian miliknya.
Duke yang tadi dipercayakan Marco untuk menggiring semua hewan ternak kedalam kandangnya lagi, tampak bersemangat ketika Marco datang sambil membawa sepotong Pai untuknya.
"Ini bagianmu! Tunggu sebentar! Setelah aku selesai memeriksa semuanya, aku akan memberikanmu makan malam," kata Marco.
Duke memakan kuenya, ketika Marco berkeliling didalam gudang, dan menutup pintu-pintu setiap petakan hewan ternak peliharaannya.
Menambahkan makanan kedalam kandang sapi, begitu juga kedalam kandang biri-birinya, agar dipagi hari, Marco tidak perlu sibuk dengan makanan mereka lagi.
"Ayo, Duke! Ikut denganku!" kata Marco setelah selesai memeriksa semua yang ada didalam gudang.
Marco kemudian memberi makanan dan air kepada Duke diberanda rumahnya, lalu melihat Duke yang memakannya sampai makanannya habis.
Setelah selesai memakan makanannya, Duke tanpa diperintah kembali berjalan menuju gudang pertanian, dan Marco berjalan menyusulnya.
Malam ini, Marco tidak perlu menutup pintu gudang, karena semua pagar pembatas sudah diperbaiki, dengan begitu, Duke juga bisa bebas berkeliaran disana.
Marco tidak berselera untuk makan lagi, karena perutnya sudah terasa kenyang karena pai yang dimakannya tadi, dan memilih untuk mandi lalu langsung beristirahat saja didalam kamarnya.
***
Keesokkan paginya, setelah Marco melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukannya, kemudian pergi ke hutan untuk berubah bentuk disana.
Diperjalanan, Marco memikirkan orang-orang yang berkemah hari itu.
Apa mereka masih disana?
Atau sudah keluar dari hutan, karena kejadian yang di alami salah satu temannya itu?
Marco melihat-lihat kesegala arah, dan memastikan kalau dia benar-benar aman, lalu saat sudah merasa yakin, Marco kembali mengubah bentuk tubuhnya menjadi seekor burung elang.
Burung elang memiliki banyak kelebihan, dan memang menjadi pilihan tepat bagi Marco, untuk menirukannya di setiap ada kesempatan.
__ADS_1
Tanpa perlu khawatir akan predator yang akan memangsanya, Marco bisa dengan bebas terbang melayang, dan seakan-akan menjadi raja di angkasa.
Marco terbang mengarah ke air terjun, dengan menjaga ketinggiannya agar tidak terlalu menarik perhatian, kalau orang-orang yang berkemah waktu itu masih ada disana.
Kelihatannya, muda-mudi itu tidak merasa jera dengan kejadian yang menimpa salah satu teman mereka.
Orang-orang itu, masih berkemah disana.
Seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi, suara tertawa bahagia dari beberapa orang itu, masih bisa didengar Marco dari ketinggian.
Marco tidak terlalu mau berlama-lama melihat gerak-gerik mereka dibawah sana, dan memilih untuk terbang lebih tinggi lagi, sampai menembus awan.
Marco berdiam diri diatas sana, sampai dia merasa puas, sebelum dia kembali terbang rendah, memantau wilayah pendaratannya, dan akhirnya memijakkan kaki ditempat biasa.
Cukup memuaskan, tanpa ada sedikit pun gangguan.
Marco akan mencoba menemui suster Martha, dan tanpa pulang kerumahnya lagi, Marco hanya singgah membeli dua potong roti isi, diperjalanan yang mengarah ke biara, untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Dua bangunan tua yang megah, terlihat dari kejauhan, dijalanan yang menanjak.
Pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berdiri tegak, disepanjang perjalanan mendekati biara dan panti asuhan, seolah-olah menjadi pagar hidup yang besar, menyembunyikan semua yang ada dibagian dalam hutan Pinus.
Bangunan panti asuhan terlihat sangat berbeda, jika dibandingkan dengan biara.
Banyaknya jendela yang menghiasi bagian depan dinding panti asuhan, tampak kontras dengan bangunan biara yang tidak terlihat ada satupun jendela disana.
Dengan kecepatan sedang, mobil Marco melewati pintu gerbang besi raksasa yang terbuka.
Setahu Marco, jalan yang sedang dilewatinya itu, adalah jalan satu-satunya untuk akses masuk, dan keluar dari biara, dan panti asuhan.
Marco memarkirkan mobilnya, disalah satu sisi halaman depan bangunan-bangunan itu.
Mobilnya bisa dibawa lebih jauh sampai ke depan biara atau panti asuhan, tapi Marco memang lebih suka memarkirkannya disitu saja.
Selain ditempat itu banyak pepohonan yang bisa membuat mobilnya terlindung dari sinar matahari, Marco juga bisa berjalan kaki sembari melihat anak-anak panti asuhan, yang bermain dilapangan berumput.
Marco segera berjalan mengarah ke biara, lantas menemui beberapa suster yang sedang berada didepan biara itu.
"Permisi, Suster! Selamat siang!" sapa Marco, sambil menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Selamat siang! Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari suster itu.
"Saya ingin mengunjungi suster Martha!" jawab Marco, tanpa mau banyak berbasa-basi.
"Anda tahu, kalau suster Martha tidak bisa dijenguk siapa-siapa?" tanya suster itu.
"Saya sudah tahu! Tapi, saya membutuhkan bantuannya. Dan semakin lama saya menunggu, saya mungkin akan terlibat dalam masalah hidup dan mati," kata Marco mengiba.
"Meskipun anda bisa menemuinya, suster Martha tidak akan bisa banyak membantu. Sampai saat ini, suster Martha masih belum sadar," kata suster itu.
"Maafkan saya, Suster! Saya hanya sedikit berharap, kalau-kalau saya bisa melihatnya sebentar saja. Paling tidak, saya bisa mengucapkan terimakasih, dan berpamitan sebelum saya pulang." kali ini Marco tidak mau menyerah.
Setidaknya, Marco bisa bertemu dengan suster Martha.
Mana tahu, saat Marco melihat wajahnya, ada sesuatu yang bisa Marco ingat.
Bagi orang kebanyakan, itu memang hal yang mustahil, jika Marco yang bertemu suster Martha saat dia masih bayi, lalu saat melihatnya sekarang, Marco bisa mengingat sesuatu.
Tapi, jika dibandingkan dengan keanehan dan kemampuannya yang bisa berubah wujud, itu tidak menjadi hal yang mustahil lagi.
Bahkan bisa dibilang, tidak ada kata mustahil bagi Marco.
Dan, Marco memang bertekad untuk tetap bertahan menunggu didepan biara itu, selama dia belum diijinkan masuk, untuk bertemu suster Martha.
"Kali ini, sudah kesekian kalinya saya datang tanpa bisa bertemu dengan suster Martha, dan hanya pulang begitu saja. Tolong berikan saya, meski hanya satu kali kesempatan, agar bisa menjenguknya...!" kata Marco memaksa.
Tanpa berkata apa-apa, salah satu suster yang tampaknya masih muda itu, lalu berjalan masuk kedalam biara.
Marco tetap berdiri didepan biara, menunggu kesempatan baginya untuk diijinkan masuk kedalam sana.
Ketika suster itu kembali, dia bersama dengan seorang suster yang tampak sudah berumur, dan Marco mengingat wajahnya.
Marco beberapa kali datang ke biara itu, dan bertemu dengan suster Maria, yang selalu saja tidak mengijinkan Marco masuk.
"Marco... Kamu sama sekali belum mau menyerah?" tanya suster Maria, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak suster. Tolong sekali ini saja, berikan saya kesempatan!" kata Marco.
Kali ini, suster Maria tidak serta-merta menyuruh Marco untuk pulang seperti biasanya, malah terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1