
Duke sudah sedari tadi kembali ke gudang pertanian.
Piring-piring yang tidak sengaja berhantukan dengan bak cuci piring, dengan air keran yang kencang mengalir, membuat suara berisik dari dalam rumah, yang memecahkan keheningan malam ditempat itu.
Bella sudah selesai mencuci semua peralatan makan dan memasak, dan tertinggal Marco yang mengeringkan semua perkakas yang sudah bersih dan basah.
Dengan dua cangkir kopi yang diseduh dengan air yang baru saja mendidih, dari atas tungku perapian, Bella duduk di beranda rumah Marco.
Dan tak berapa lama kemudian, Marco menyusul keluar dan ikut duduk disana.
Bella yang tampaknya sempat melamun, menatap lurus kearah lahan jagung, refleks menoleh kesamping ketika Marco duduk disebelahnya.
Marco mengambil secangkir kopi, dari tangan Bella dan menyesapnya sedikit.
Entah apa yang ada dipikiran Bella sekarang.
Sewaktu mereka makan malam tadi, dan Bella bertanya ada apa, Marco dengan spontan menjawab kalau dia menyayangi Bella.
Semestinya itu adalah jawaban yang tepat untuk menyenangkan hati Bella.
Tapi, entah mengapa, Bella malah terlihat seolah-olah sedang merasa bersalah, sejak detik itu sampai sekarang ini.
"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Marco, mengajak Bella berbicara, daripada hanya menduga-duga sendiri.
"Hmmm... Aku hanya berpikir, kalau kamu mungkin terpaksa mengatakan, kalau kamu juga menyayangiku," jawab Bella.
Wanita itu terlihat sedih dan gusar, lalu menyesap sedikit kopinya, sambil tetap mengarahkan pandangannya lurus kedepan.
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu?" tanya Marco.
Perlahan, Marco mengambil tangan Bella, dan dipegangnya, dengan menyatukan jari-jari tangan mereka berdua.
"Bisa saja, kamu mungkin mengatakannya hanya agar supaya aku tidak merasa malu atau kecewa," kata Bella.
"Aku tahu kalau aku sekarang tampak seperti sedang memaksamu untuk menerimaku," lanjut Bella pelan.
Marco tertawa kecil, sambil menatap Bella disampingnya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi!" ucap Marco.
"Aku tidak merasa kalau kamu sedang memaksa... Kalau pun begitu, aku justru senang. Karena paling tidak, aku diberikan kesempatan untuk bersamamu, dan bukan hanya untuk membuat Jack cemburu," lanjut Marco, lalu tersenyum lebar.
Bella menyandarkan kepalanya ke bahu Marco, lalu berkata,
"Kamu mungkin akan menertawakanku, atau menganggapku pembohong, kalau aku mengatakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Jack," kata Bella.
"Apa itu?" tanya Marco.
"Kamu tahu kalau aku tertarik dengannya sejak kita masih sangat kecil, bukan?" tanya Bella memastikan.
"Iya," jawab Marco.
__ADS_1
"Ketika aku melihatnya dikampus... Kamu yang melintas dalam pikiranku. Aku mengingatmu, juga mengira-ngira dimana kamu saat itu," kata Bella.
"Entah kenapa, aku malah merindukanmu, untuk bersamaku," lanjut Bella.
"Untuk memanas-manasi Jack?" tanya Marco, berpura-pura bodoh.
"Kamu mengejekku?" nada suara Bella meninggi.
"Tidak. Tapi, bukannya itu yang selalu kamu lakukan, kalau ada Jack di sekitarmu?" tanya Marco.
"Hmmm... Iya, waktu kita masih kecil, iya. Memang benar begitu...
Tapi, setelah kamu pindah dari sini, apalagi waktu aku dikampus, aku mengingatmu, dan merindukanmu dengan cara yang berbeda...
Aku benar-benar berharap bisa bertemu lagi denganmu. Juga, sangat berharap agar kamu belum menikah," kata Bella.
"Hmmm... Ternyata begitu... Keterlaluan! Karena harapanmu itu, aku tidak bisa menemukan pasangan yang cocok untukku," ucap Marco bercanda.
Bella mengangkat wajahnya, lalu melihat Marco.
"Aku sungguh-sungguh menyayangimu... Setelah kamu pergi, barulah aku menyadarinya. Kamu pasti menganggapku konyol, bukan?" tanya Bella.
Marco mengambil cangkir kopi dari tangan Bella, dan meletakkannya bersama dengan cangkir kopi miliknya ke lantai, disamping bangku tempat mereka duduk.
Kemudian, Marco membuat Bella berdiri dan duduk dipangkuannya, berhadap-hadapan dengan Marco.
"Jujur saja... Aku memang tidak sering mengingatmu... Tapi, aku ingat rasa senang waktu kamu mencium pipiku, meski kamu saat itu hanya melakukannya, untuk membuat Jack cemburu," kata Marco.
"Aku hanya beralasan untuk mengembalikan loyang Pai kepadamu malam itu, sekalian memastikan kalau kamu memang masih sendiri," kata Bella, dengan wajah tersipu-sipu.
"Kalau begitu, aku tidak perlu malu mengakui kalau aku terlalu gugup melihatmu, hingga aku harus pulang, sebelum kamu selesai melukis diwajah ku," kata Marco.
Bella membenamkan wajahnya dileher Marco, lalu berbisik,
"Aku mencintaimu..."
Oh, my gosh!
Marco tidak salah dengar perkataan Bella, bukan?
"Kalau ada sesuatu yang salah denganku, apa mungkin kamu masih mau menerimaku?" tanya Marco hati-hati.
"Asalkan kamu tidak meninggalkanku lagi," jawab Bella.
"Bagaimana kalau aku tidak seperti orang kebanyakan?" tanya Marco.
"Bukannya kamu memang tidak seperti orang biasa?" Bella balik bertanya.
"Maksudku, bagaimana kalau aku benar-benar berbeda?" tanya Marco.
"Kamu memang berbeda dari orang-orang yang pernah aku temui," jawab Bella.
__ADS_1
"Hmmm..." Marco menggumam.
Marco benar-benar bingung, bagaimana caranya untuk memberikan sedikit bayangan bagi Bella, tentang kekurangannya.
"Kalau aku bukan manusia biasa, bagaimana?" tanya Marco.
"Memangnya, kamu vampir? Hantu? Manusia serigala?" Bella balik bertanya.
Marco terdiam, dan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
Bella mengangkat wajahnya, lalu menatap Marco lekat-lekat.
"Kalau kamu vampir, berarti kamu tidak akan menua, dan aku juga mau menjadi vampir agar bisa selamanya bersamamu...
Kalau kamu hantu... Yang aku lihat saat ini, kamu tidak ada menakutkannya sama sekali, aku masih menyukaimu...
Kalau kamu manusia serigala, juga bukan masalah bagiku, selain kamu bisa melindungiku, kamu masih bisa kembali menjadi manusia...
Asalkan kamu tidak punya wanita lain selain aku, semua itu bisa aku terima," jawab Bella.
"Bagaimana kamu bisa memikirkan hal seperti itu?" tanya Marco kebingungan.
Bella tersenyum, lalu tertawa kecil.
"Mungkin karena aku terlalu banyak menonton film... Yang pasti, aku menganggap semua itu tidak biasa, juga sesuatu yang keren..." jawab Bella.
"Apa kamu lupa, kalau aku pernah menginginkan, agar bisa bertemu pangeran baik hati, yang masih berwujud katak atau monster buruk rupa, lalu saat aku menciumnya, dia nanti berubah menjadi pangeran yang tampan?" tanya Bella.
"Tapi, itu 'kan waktu kamu masih kecil?" tanya Marco.
"Aku sudah menyukaimu, saat aku juga masih kecil. Usia kita waktu itu masih sepuluh, atau sebelas tahun...
Hmmm... Aku tidak ingat tepatnya, waktu kamu pindah dari kota ini. Yang aku ingat, kita belum menyelesaikan primary school...
Apa itu tidak mungkin? Apa itu juga tidak bisa dianggap serius?" Bella balik bertanya.
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, dan benar-benar memikirkan apa dia yakin akan memberitahu Bella saat ini.
"Apa ada yang mau kamu sampaikan padaku? Katakan saja, tanpa perlu merasa ragu! Mungkin saja, bisa membuatmu merasa lebih tenang, dan bisa sungguh-sungguh mencintaiku nanti," kata Bella.
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menggendong Bella masuk sampai kedalam kamar.
"Apa kamu bisa berjanji, kalau kamu tidak akan mengatakan hal ini kepada orang lain, meskipun kamu nanti mengganggapku, aneh dan menakutkan?" tanya Marco serius.
"Aku berjanji!" jawab Bella, lalu membuat tanda silang dengan gerakan jarinya didepan mulutnya.
Marco melepaskan pakaiannya satu persatu, hingga tidak tersisa satu helai benang pun, sambil melihat Bella yang duduk dipinggir tempat tidur, tampak memasang wajah serius menatap Marco.
Marco mengubah bentuk tubuhnya menjadi seekor elang, perlahan-lahan.
Sebelum bentuknya sempurna, Bella lalu berdiri dari tempat duduknya, dan dengan wajah tegang menatap Marco.
__ADS_1
Mungkin ini keputusan yang buruk yang diambil Marco.