SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 18


__ADS_3

Kalau mendengar perkataan suster Martha, memang benar dan wajar, kalau suster Martha mempercayai Alpha, yang katanya adalah Daddy Marco yang asli.


Apalagi, kalau Marco mengaitkan dengan kejadian yang menimpa suster Martha.


Tapi, itu tetap tidak bisa membuktikan apa-apa.


Selama Marco menyimpan liontin itu, dan memperhatikannya, benda itu sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu yang istimewa.


Suster Martha sekarang tampak sedang berpikir keras dengan keningnya yang mengerut, dan bibir yang mengerucut, bergerak kesana kemari.


"Sepertinya, kamu salah melihat liontin itu..." celetuk suster Martha.


"Mungkin salah caranya, atau apa... Saya benar-benar tidak mengingat dengan baik, apa yang dikatakan oleh Alpha," lanjut suster Martha.


Marco hanya terdiam, sambil memikirkan perkataan suster Martha.


Dengan cara apa Marco bisa melihat sesuatu di liontin itu.


Batu yang tembus pandang, tanpa ada sesuatu yang menonjol.


"Kalau saja waktu itu saya tidak teralihkan dengan tangisanmu, saya pasti bisa mendengarkan dengan jelas perkataan Alpha, dan saya bisa mengingatnya sekarang..." kata suster Martha.


Marco menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan.


Tidak ada lagi informasi tambahan yang bisa didapatkan Marco dari suster Martha.


Sebaiknya, Marco pulang sekarang, dan membiarkan suster Martha beristirahat.


"Suster...! Saya pulang dulu! Terimakasih banyak...! Suster sudah mau menceritakan semua yang suster tahu kepada saya," kata Marco, lalu berdiri dan memegang tangan suster Martha dengan lembut.


"Marco...! Kemungkinan besar, sekarang dia tahu kalau kamu menemui saya... Sebaiknya, kamu berjaga-jaga dan lebih berhati-hati!" pesan suster Martha.


Marco menganggukkan kepalanya.


"Iya, Suster! Terimakasih! Saya permisi!" kata Marco lalu berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan suster Martha didalam sana.


Ketika Marco membuka pintu kamar, suster Maria tampak sedang duduk dikursi didekat pintu kamar, dan segera berdiri saat melihat Marco.


Suster Maria menghampiri Marco.


"Kalian sudah selesai berbicara?" tanya suster Maria.


"Iya, suster! Sekarang, saya mau pulang!" jawab Marco.


"Saya akan mengantarkanmu keluar! Sekalian mengabari yang lain, kalau suster Martha sudah sadar," kata suster Maria, lalu berjalan menyusuri lorong-lorong bangunan sambil disusul Marco dari belakangnya.


Sampai mereka berdua tiba dipintu depan biara, suster Maria masih berjalan didepan Marco.


Suster Maria kemudian berbalik.


"Terimakasih! Tampaknya, Tuhan mengerjakan mukjizatnya melalui kamu, hingga sahabat saya itu, bisa terbangun dari tidur panjangnya," kata suster Maria.

__ADS_1


"Sama-sama, Suster! Terimakasih sudah mengijinkan saya menemui suster Martha...! Saya pergi dulu!" kata Marco, lalu berjalan keluar dari biara.


Belum banyak informasi yang didapatkan Marco dari suster Martha.


Pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dikepalanya, semakin bertambah-tambah banyaknya.


Marco berjalan pelan, menuju mobilnya yang terparkir disudut halaman.


Entah apa yang harus dia lakukan lagi, agar bisa menemukan jawaban, atau sesuatu dari liontin yang disimpannya itu.


Marco memacu mobilnya dijalanan, lalu kembali mengarah pulang ke rumahnya.


Duke pasti sudah kelaparan saat ini, karena Marco hanya memberikannya makan pagi tadi.


Ketika Marco tiba dirumahnya, hari sudah mulai sore, dan Duke sudah mengiring hewan ternaknya kedalam kandang mereka masing-masing, didalam gudang pertanian.


Benar-benar anjing yang pintar.


"Duke! Ayo makan!" kata Marco, dan disambut Duke dengan gonggongan, sambil berlari kearah Marco.


Setelah Duke selesai makan makanan yang diberikan Marco, Duke kembali berjalan bersama Marco menuju gudang pertanian.


Marco menutup setiap pintu kandang yang ada didalam situ, dan seperti biasa, dia akan memeriksa keseluruhan keadaan didalam gudang pertanian itu, sebelum berjalan kembali ke rumahnya.


Sepotong daging panggang yang diberi saus, kentang tumbuk, dan beberapa potong sayur rebus, Marco menyantap makan malamnya sambil memandang keluar jendela.


Kalau memang cara Marco melihat liontin itu salah, lalu bagaimana caranya yang benar untuk melihat benda itu?


Karena itu, justru kesalahannya sendiri yang menangis, meskipun Marco masih bayi saat itu.


Sambil menyuapkan sedikit demi sedikit makanan kedalam mulutnya, dan mengunyahnya perlahan-lahan, Marco memikirkan ulang semua yang dikatakan suster Martha.


Daddy Marco yang asli menitipkan Marco kepada suster Martha, untuk disembunyikan, dan mungkin saat ini Alpha benar-benar sudah meninggal dunia.


Marco bisa saja menjadi Alpha tertangguh didalam kaumnya, tapi dia tidak tahu tempat kaumnya berada dimana.


Saudara laki-laki Alpha mencoba mencari tahu keberadaan Marco, dan itu bukan hal yang bagus.


Suster Martha mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Marco, dan sudah selayaknya Marco berterima kasih kepada suster Martha.


Itu saja.


Sekarang apa?


Kalau Marco tidak tahu tempat tinggal kaumnya, semua informasi itu tidak ada yang berguna.


Memikirkan semuanya itu, hanya membuat kepala Marco terasa sakit.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Marco lalu membersihkan semua peralatan bekas makan dan memasak, lalu pergi mandi.


Masih memakai jubah mandi, Marco membuka kotak perhiasan dan mengeluarkan kalung liontin dari dalam situ.

__ADS_1


Marco mengangkat kalung itu, dan memperhatikannya baik-baik.


Tidak ada apa-apa.


Kemudian terdengar ketukan dipintu depan rumahnya, saat Marco masih menatap kalung liontin ditangannya.


Ketukan yang terdengar seolah-olah sedang tergesa-gesa, membuat Marco berjalan keluar dari kamarnya, dengan tetap memakai jubah mandinya, dan tetap memegang kalung liontin itu ditangannya.


Ketika Marco membuka pintu rumahnya, terlihat Bella yang berdiri diluar, dengan membelakangi pintu.


Bella kemudian berbalik, dan ditangannya terlihat memegang loyang Pai milik Marco.


"Apa aku hanya mengganggumu?" tanya Bella.


"Tidak. Silahkan masuk! Aku memakai pakaianku dulu," ajak Marco.


Saat Bella melangkahkan kakinya melewati pintu, Bella berhenti berjalan, dan tampak terpaku melihat ke tangan Marco.


"Apa itu?" tanya Bella yang tampak penasaran.


Marco mengangkat tangannya, yang sejak tadi menggantung disisi badannya.


"Ini pemberian Daddy!" kata Marco, sambil memperlihatkan kalung liontin itu kepada Bella.


Bella lalu meletakkan loyang Pai, diatas meja sudut kecil yang ada didekat pintu.


"Kalung yang indah... Bisa aku melihatnya sebentar?" tanya Bella.


Marco lalu menyerahkan kalung itu kepada Bella, yang menyambutnya dengan kedua tangannya yang terbuka.


Bella berjalan pelan memasuki rumah Marco, sambil melihat kalung itu, dan Marco yang baru saja menutup pintu, berjalan tepat dibelakang Bella.


"Kenapa kamu tidak memakainya?" tanya Bella, yang tiba-tiba berbalik, dan berdiri didepan Marco.


Bella sangat dekat dengan Marco sekarang.


Dengan perlahan, Bella mengulurkan tangannya dan memasangkan kalung itu ke leher Marco.


"Kenangan yang indah, bukan hanya untuk dipegang. Apalagi untuk disimpan," celetuk Bella, yang setengah berjinjit didepan Marco.


"Begini lebih baik!" kata Bella, lalu tersenyum, setelah kalung itu sudah dipakai Marco.


Aneh.


Ukuran kalung itu seakan-akan mengikuti ukuran badan marco.


Rantainya seolah memanjang, sehingga benda itu tidak mencekik leher Marco.


Bella menjulurkan tangannya, dan menyentuh liontin yang menempel didada Marco.


Bukan hanya liontin, telapak tangan bella juga ikut menyentuh kulit dada Marco yang sedikit terbuka.

__ADS_1


__ADS_2