SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 15


__ADS_3

Sejak pertama kali, saat Marco masih remaja, menginjakkan kakinya di biara itu, Marco sudah pernah menceritakan alasannya, kenapa dia ingin bertemu dengan suster Martha, kepada suster Maria.


Seberapa besar keinginan Marco untuk bertemu dengan orang tua kandungnya, karena kedua orang tua angkatnya yang sekarang sudah pergi ke surga.


Kelihatannya hari ini, suster Maria mengerti betapa tertekannya Marco yang sekarang sudah dewasa, dan masih saja menunggu hingga bertahun-tahun lamanya.


"Marco... Kamu tahu 'kan kalau pertemuanmu dengan suster Martha, hanyalah sesuatu hal yang sia-sia?" tanya suster Maria.


"Iya. Saya tahu! Tapi, saya benar-benar ingin menemuinya. Kalaupun saya tidak bisa bertanya apa-apa kepadanya, paling tidak, saya bisa melihat suster yang menolong saya, ketika saya masih bayi," jawab Marco.


Suster Maria menarik nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.


"Mari, ikut dengan saya!" ajak suster Maria, lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam biara.


Marco tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, dan Marco tersenyum lebar, sambil berjalan menyusul dibelakang suster Maria.


"Terimakasih, Suster!" kata Marco pelan.


"Tidak perlu berterimakasih. Saya tidak bisa membantu, untuk permasalahan yang kamu hadapi. Saya hanya membiarkanmu, untuk melihat orang yang sedang tertidur," jawab suster Maria datar.


Dengan tetap berjalan dibelakang suster Maria, Marco dibawa melewati beberapa lorong-lorong didalam biara.


Kalau menilai biara itu dari luar saja, tidak akan ada yang menyangka, kalau didalam situ ternyata memiliki pencahayaan yang baik.


Hampir semua lorong yang dilewati Marco terlihat terang, tanpa membutuhkan cahaya bantuan tambahan.


Hasil karya arsitektur interior, yang mungkin saja sudah ada disitu sejak biara itu berdiri, beberapa abad yang lalu, masih memperlihatkan kemewahan dan keindahannya.


Dibeberapa titik didinding, dan persimpangan lorong, terdapat beberapa pajangan keagamaan yang terlihat bersih terawat.


Untuk keseluruhan yang ada didalam biara itu, semuanya terlihat indah dimata marco, dan berbanding terbalik dengan yang terlihat di bagian luar bangunan.


Setelah melewati beberapa lorong panjang, suster Maria lalu berhenti didepan salah satu pintu, dan membukanya perlahan-lahan.


Suster Maria kemudian berjalan masuk, dan Marco tetap menyusul dengan berjalan dibelakangnya.


Disamping tempat tidur, terlihat beberapa lilin yang menyala, lengkap dengan satu patung keagamaan kecil, yang diletakkan diatas meja.


Seorang wanita tampak terbaring diatas tempat tidur, dengan berpakaian lengkap selayaknya seragam, yang biasa dipakai oleh seorang suster gereja katolik.


Kulit wajah dan kulit kedua tangannya yang diletakkan bersilang diatas dadanya, terlihat masih halus, seakan-akan suster Martha masih sangat muda, dan rasanya, itu adalah hal yang aneh.


Marco menatap suster Martha dengan rasa penasaran.

__ADS_1


Setelah diperhatikan Marco baik-baik, wajah suster Martha masih merona merah.


Benar-benar hanya terlihat seperti orang yang sedang tertidur nyenyak, dan tidak terlihat sakit sama sekali.


"Entah ini adalah mukjizat atau mungkin juga sebuah kutukan... Suster Martha sama sekali tidak menua. Sejak dia ditemukan pingsan waktu itu, sampai saat ini, dia masih terlihat sama," celetuk suster Martha, yang berdiri disamping tempat tidur.


"Ini salah satu alasannya, kami tidak mengijinkan siapapun selain dokter untuk melihatnya. Karena kami tidak mau ada yang menjadikan tubuh suster Martha, sebagai berhala untuk dipuja," lanjut suster Maria.


Ada sesuatu yang mengganggu perasaan Marco, seolah-olah ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat, dan seakan-akan menginginkan Marco, agar menyentuh suster Martha.


"Apa saya bisa menyentuhnya?" tanya Marco hati-hati.


"Saya hanya ingin memeriksa tangannya," lanjut Marco.


Suster Maria terdiam beberapa saat, sebelum dia mengijinkan Marco menyentuh tangan suster Martha.


"Semestinya kamu tidak boleh menyentuhnya. Tapi, kita lihat saja. Barangkali akan ada keajaiban, atau mungkin kekacauan sesudahnya," kata suster Maria.


Tanpa menunggu lama-lama, Marco lalu mengulurkan salah satu tangannya, dan menyentuh punggung tangan suster Martha.


Sesaat, benar-benar sesaat saja, tangan Marco menyentuh tangan suster Martha disitu.


Kulit tangan wanita itu berubah keriput, begitu juga wajahnya, yang kini terlihat sama seperti suster Maria.


Kelihatannya, bukan hanya Marco yang panik, suster Maria bahkan sampai berdoa disitu, ketika melihat perubahan yang terjadi pada suster Martha.


Marco masih berdiri didekat tempat tidur suster Martha, dan tidak berhenti menatap wajahnya, yang kini kedua matanya tampak bergerak-gerak.


Tak lama, suster Martha membuka matanya perlahan-lahan.


"Tuhan maha agung!" seru suster Maria.


"Kamu sudah terbangun..." lanjut suster Maria yang terlihat senang, sambil memegang tangan suster Martha.


"Halo, suster Martha! Saya Marco Belmont!" kata Marco, ketika melihat mata suster Martha menuju kearahnya.


Wajah Suster Martha menampakkan raut yang seolah-olah sangat terkejut, setelah Marco menyapanya.


Matanya terbelalak, dengan alis terangkat, dan menggerak-gerakkan bibirnya, meski suaranya tidak ada yang keluar dari mulutnya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya suster Maria, dengan alis mengerut.


Suster Martha terlihat masih berusaha mengatakan sesuatu, tapi suaranya belum bisa terdengar disitu.

__ADS_1


Marco tidak beranjak dari tempatnya, dan tetap menatap suster Martha yang juga masih menatapnya.


"Kamu membawa keajaiban!" kata suster Maria, sambil melihat Marco sebentar, dengan mata berkaca-kaca, sebelum dia kembali melihat suster Martha.


"Jangan memaksakan diri, kalau kamu belum bisa bicara! Kami masih akan tetap disini, sampai kamu siap untuk mengatakan sesuatu," kata suster Maria.


Untuk beberapa waktu lamanya, keheningan tercipta didalam ruangan itu.


Marco dan suster Maria duduk dikursi yang ditarik mendekat, ke samping tempat tidur suster Martha.


Sesekali, terlihat suster Maria mengelap matanya yang basah dengan air mata.


Tampaknya, suster Maria sangat bahagia, ketika melihat suster Martha sudah terbangun dari tidur panjangnya.


"Marco...!" suara suster Martha, akhirnya bisa terdengar, setelah cukup lama Marco dan suster Maria menunggu disitu.


"Iya, suster?!" kata Marco.


"Kamu kembali...?!" Nada suara suster Martha cukup membingungkan Marco.


Entah saat ini dia sedang bertanya, atau hanya sekedar mengatakan sebuah pernyataan memastikan biasa.


"Kamu membahayakan dirimu sendiri..." kata suster Martha pelan.


Marco mengerutkan alisnya, sambil tetap menatap suster Martha.


"Kamu melepaskanku... Tapi, kamu mempertaruhkan nyawamu...!" kata suster Martha lagi.


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya suster Maria, yang terdengar penasaran.


Marco sama sekali tidak mengerti, arah pembicaraan suster Martha saat ini, dan hanya bisa terdiam disitu tanpa bisa berkata apa-apa.


Suter Martha tampak mengerutkan alisnya, dan terlihat seperti orang yang kebingungan.


"Apa kamu masih belum tahu apa-apa...?" tanya suster Martha.


Marco masih terdiam, karena dia tidak tahu harus menjawab apa.


Hal apa yang ditanyakan suster Martha?


Apa Marco harus menceritakan tentang perubahan wujud yang bisa dia lakukan?


Atau apa?

__ADS_1


"Seharusnya kamu tidak kembali kekota ini... Dia mengincar nyawamu..." kata suster Martha, yang kali ini menampakan raut wajah, seperti orang yang sedang ketakutan.


__ADS_2