SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 94


__ADS_3

Setelah beberapa waktu berlalu, semua yang duduk di beranda itu tampak tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Tapi, bisa saja dia melakukannya agar mendapatkan kepercayaan dari Marco, dan mungkin dia juga tidak mau mengotori tangannya sendiri, untuk kematian Alpha pengganti."


Akhirnya, Beta menjawab sendiri pertanyaannya tadi.


"Kalau benar begitu, kira-kira apa keuntungan baginya?" tanya Delta.


"Kalau aku di posisi itu... Hmmm... Bagaimana, ya?!


Jika Marco menaruh kepercayaan kepadaku, maka aku akan dengan mudahnya mempengaruhi Marco, untuk melakukan semua yang aku inginkan...


Tanpa perlu aku memaksanya dengan kemampuanku mengendalikan pikiran," jawab Beta.


"Lalu, jika Marco yang membunuh Alpha pengganti, maka tentu yang akan dipersalahkan hanyalah Marco dan bukan aku," lanjut Beta.


Delta tampak tersentak, dengan wajahnya yang tiba-tiba memucat.


"Ada apa?" tanya Marco.


Delta menatap Marco lekat-lekat, dan masih tetap terdiam untuk untuk beberapa saat.


"Jika kamu membunuh Alpha pengganti, maka statusmu didalam kaum yang juga adalah seorang Alpha, tidak akan membuat kecurigaan yang mengarah ke kaum lain, khususnya kaum Peri...


Semua akan mengira kalau kematian Alpha pengganti, hanya karena perebutan kekuasaan sesama shapeshifter..." kata Delta.


"Darahmu yang bercampur dengan keturunan kaum Peri, maka Peri tidak bisa mengendalikan pikiranmu begitu saja...


Kecuali ada sesuatu yang bisa memicu pikiran mu, hingga kamu masuk dalam kendalinya," lanjut Delta.


"Apa kamu mengerti arah pembicaraanku?" tanya Delta dengan raut wajah serius, sambil tetap menatap Marco.


Marco tidak segera menanggapi perkataan Delta, dan memilih untuk memikirkannya lebih dulu.


"Maksudmu Mommy Marco sengaja melakukan ini semua, agar Marco mempercayainya, dan bisa mengikuti semua keinginannya?" tanya Beta.


"Kalau benar begitu, berarti dia sedang merencanakan sesuatu yang besar, dan bukan hanya tentang shapeshifter, melainkan tentang Marco," lanjut Beta.


"Apa kamu tidak menyadari kekuatan Marco?" tanya Delta.


"Iya. Aku tahu kekuatan Marco berkali-kali lipat, jika dibandingkan kita semua," jawab Beta.


"Kemampuan Marco bertahan hidup juga tidak lumrah...


Karena, kalau Marco hanya shapeshifter biasa, dia sudah pasti lumpuh, bahkan mungkin mendekati kematian, waktu terluka di punggungnya waktu itu...


Karena racun shapeshifter masuk di bagian saraf yang vital, dan tidak dikeluarkan dari sana dalam waktu yang cukup lama..." sambung Gamma.


"Itu dia! Kita semua melewatkannya! Tidak ada keturunan yang sempurna, tanpa kedua orang tua yang mendekati kesempurnaan," kata Delta.


"Mommy-mu memang seorang Peri! Kamu makhluk terkuat yang pernah lahir di bumi ini!" lanjut Delta terlihat yakin.


"Aku rasa kamu terlalu berlebihan," ujar Marco, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Marco! Kamu tidak bisa menyepelekan ini semua!" ujar Delta.

__ADS_1


"Benar kata Delta!" sambung Beta.


"Kalau kamu sampai terpengaruh oleh mereka yang bisa mengendalikan pikiranmu, maka kekuatanmu akan dipakai, untuk menghancurkan kekuasaan pemimpin kaum lain...


Dengan mudahnya, kamu bisa menjadi penguasa semua kaum," kata Beta lagi.


Beta kemudian tampak tersentak.


"Astaga...! Jangan-jangan, itulah rencana Mommy-mu!" ujar Beta dengan suara meninggi.


"Dia ingin menghapus kekuasaan pemimpin kaum yang lain, dan menjadikan kamu sebagai penguasa, tapi di bawah kendali mereka, kaum Peri," lanjut Beta.


"Iya. Aku rasa begitu," kata Delta.


"Kalau semua dugaan kalian itu benar adanya, maka kita hampir saja melakukan kesalahan, dengan memicu perang saudara antar sesama shapeshifter," ujar Gamma.


"Tapi, semua itu masih menjadi dugaan saja..." ujar Marco.


Beta, Gamma dan Delta tampak bertatap-tatapan, kemudian hampir bersamaan melihat kearah Marco.


Daripada hanya menduga-duga, memang tidak ada cara lain, Marco harus segera mendatangi kastil, dan bertemu Alpha pengganti dan Mommy-nya bersama-sama.


Dan sebisanya, tanpa melibatkan shapeshifter lain, dan hanya dirinya sendiri saja yang pergi kesana.


Marco kemudian berdiri, dan berjalan masuk meninggalkan ketiga shapeshifter itu diluar.


Didalam dapur hanya ada Seba yang tampak sibuk memasak kue, dan Bella tidak terlihat disana.


"Dimana Bella?" tanya Marco.


Marco kemudian menyusul Bella ke kamar, dan wanita itu tampak sedang berbaring di atas tempat tidur.


Perlahan-lahan, Marco ikut berbaring di samping Bella, hingga Bella tampak membuka matanya.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Marco.


"Tidak. Aku memang tidak sedang tidur. Aku hanya ingin berbaring, karena badanku terasa pegal," jawab Bella.


"Ada apa?" tanya Bella.


Marco kemudian memeluk Bella.


"Aku merasa bingung. Aku seharusnya menemui Mommy-ku di kastil. Tapi, ada sedikit perasaan ragu untuk meninggalkanmu," jawab Marco.


"Apa rencanamu agar kamu bisa masuk kesana? Apa bersama Nancy?" tanya Bella.


"Kalau kamu pergi bersamanya, menurutku mungkin tidak apa-apa...


Karena kemarin dia mengatakan padaku, kalau dia akan memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padamu, asalkan kamu pergi kesana bersamanya...


Kamu tidak perlu terlalu memikirkan aku. Rasanya, tidak akan terjadi hal yang buruk padaku," lanjut Bella.


"Kenapa kamu terdengar yakin?" tanya Marco.


"Nancy berjanji padaku, sambil memasangkan kalung shapeshifter di leherku, kalau dia akan menjagamu dan calon keturunanmu...

__ADS_1


Dan kelihatannya, Nancy memang bersungguh-sungguh mengatakannya," jawab Bella.


"Dan kamu mempercayainya?" tanya Marco.


"Iya. Aku rasa begitu," jawab Bella.


Mendengar perkataan Bella, Marco jadi lebih yakin dengan rencananya untuk pergi ke kastil secepatnya.


"Kapan kamu berniat pergi kesana?" tanya Bella.


"Hmmm... Kalau aku harus pergi bersama Nancy, berarti aku harus menghubungi Nancy lebih dulu. Atau menunggu dia menghubungiku," jawab Marco.


"Dimana kamu menyimpan nomor telepon Nancy?" tanya Marco.


"Masih didalam tasku," jawab Bella, lalu menunjuk tas yang dia pakai kemarin, saat pergi ke pemukiman utama shapeshifter.


"Aku akan mencoba menghubunginya," ujar Marco, lalu beranjak turun atas dari tempat tidur.


Marco kemudian mengambil kertas bertuliskan nomor telepon rumah Nancy.


Marco menyempatkan untuk mencium kening Bella, sebelum dia berjalan keluar dari kamar.


Tanpa berlama-lama lagi, Marco kemudian menghubungi nomor yang tertera di kertas itu.


"Halo!" Terdengar sambutan dari seberang telepon dengan suara pelan.


"Halo! Grandma! Ini Marco!" sapa Marco.


"Iya. Ada apa?" tanya Nancy dari seberang.


"Bantu aku agar bisa secepatnya menemui Mommy-ku di kastil," kata Marco buru-buru.


Untuk beberapa saat, tidak terdengar sahutan dari seberang telepon itu.


"Apa kamu sedang merencanakan sesuatu?" tanya Nancy.


"Aku hanya ingin secepatnya bisa melihat Mommy," jawab Marco.


"Hmmm... Kamu tunggu sebentar, nanti aku hubungi kembali! Aku akan memeriksa, kalau ada kesempatan untuk kita mengunjungi kastil," jawab Nancy.


Sambungan telepon kemudian terputus.


Marco menunggu di dalam rumah, tanpa menjauh dari telepon yang menempel di dinding.


"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Gamma.


Marco melihat kearah datangnya suara Gamma, dan disana ada Beta dan Delta sedang berdiri bersama-sama sambil menatap Marco.


"Aku lelah dengan semua dugaan demi dugaan. Dan aku ingin semua ini segera berakhir," jawab Marco.


"Marco! Kalau kamu bertemu dengan Mommy-mu, aku khawatir kalau-kalau kamu akan percaya kepadanya, dan masuk dalam kendalinya," ujar Beta.


"Lalu, kalian maunya seperti apa?" tanya Marco.


"Kami harus ikut denganmu! Dan berharap dengan adanya kami, kamu tetap bisa sadar dan tidak terpengaruh dengan Mommy-mu itu," jawab Beta.

__ADS_1


Telepon di rumah Marco kemudian berbunyi.


__ADS_2