SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 82


__ADS_3

Rambut kelabu bercampur dengan sedikit warna coklat, yang kesemuanya digulung di bagian belakang kepalanya.


Beberapa lipatan kulit yang dalam dibagian kening, dan setiap sudut bibirnya yang tersungging naik saat tersenyum, begitu juga garis kerutan di ujung matanya yang sekarang sedang menatap Marco.


Wanita yang tampaknya sudah berusia senja, tampak elegan dengan memakai gaun mewah tanpa perhiasan yang berlebihan, hanya sepasang anting dan kalung liontin shapeshifter.


Kenapa dia memandangi Marco dan Bella seperti itu?


Marco memaksakan diri untuk membalas senyumannya, dan berpura-pura agar tetap terlihat tenang.


Tanpa disangka, wanita itu berjalan pelan menghampiri Marco.


"Halo! Saya pemilik toko ini! Nama saya Nancy Hawthorne!" sapa wanita itu, sambil mengulurkan salah satu tangannya kearah Marco.


Getaran yang dihasilkan oleh kekuatan shapeshifter wanita bernama Nancy itu, tidak bisa dikenali Marco.


Getarannya berbeda dari Beta ataupun shapeshifter pengikut Alpha pengganti.


Benar-benar terasa aneh bagi Marco.


"Halo, Ma'am! Saya Marco Belmont! Dan ini istri saya Bella Graham!" kata Marco sambil berjabat tangan dengan wanita itu dan memperkenalkan Bella kepadanya.


Wanita itu kemudian memeluk Bella, dan mencium pipi kiri dan kanannya.


"Maafkan aku! Tapi, aku memang menunggu kedatanganmu!" kata Nancy, sambil tersenyum lebar, dan menatap Marco lekat-lekat, setelah selesai bersapa dengan Bella.


Mata Marco terbelalak.


Apa maksud perkataan wanita ini?


"Kita tidak bisa bicara disini..." kata wanita itu, sambil melihat kesana-kemari, tanpa menghiraukan raut wajah Marco yang kebingungan.


"Silahkan masuk!" lanjut wanita itu, sambil menunjuk ke arah pintu yang terbuka, dan hanya terhalang dengan kain gorden yang tipis.


Marco, begitu juga Bella hanya berdiri terpaku ditempatnya, dan tidak mau menerima ajakan dari Nancy.


"Tenang saja! Tidak mungkin wanita tua seperti saya, bisa menakuti kalian!" kata wanita itu.


Marco dan Bella tetap berdiri diam disitu.


"Aku tidak mungkin mencelakai cucu keponakanku sendiri..." lanjut Nancy.


"Apa maksud..." Marco tidak sempat melanjutkan pertanyaannya.


Nancy memberi tanda untuk Marco berhenti bicara, dengan meletakkan salah satu jari telunjuknya ke atas mulutnya.

__ADS_1


"Terlalu banyak telinga..." kata Nancy pelan.


Marco bertatap-tatapan dengan Bella, dan akhirnya rasa penasaran yang lebih besar, membuat Marco menerima ajakan wanita itu, dan membawa Bella berjalan ke arah yang ditunjukkan Nancy tadi.


Didalam sana, ruangan yang cukup luas, berisikan perabotan yang tidak terlalu banyak, dan hanya ada benda-benda fungsionalis saja.


"Kalian bisa duduk disini... Dan tunggu aku sebentar," kata Nancy mempersilahkan Marco dan Bella, untuk duduk disalah satu sofa yang tersedia didalam situ.


Setelah Marco dan Bella duduk, nancy terlihat berjalan ke depan mengarah ke ruangan yang memajang permatanya tadi.


Tidak berapa lama, Nancy terlihat berjalan kembali, dan salah satu pegawai toko, tampak ikut bersamanya.


"Kalian mau minum apa?" tanya Nancy.


"Teh saja sudah cukup!" jawab Bella.


Marco sudah merasa sangat tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari Nancy, tapi demi sopan santun, Marco juga meminta secangkir teh untuknya.


Nancy kemudian ikut duduk di sofa, sedangkan pegawai toko tadi terlihat berjalan lebih jauh kedalam ruangan itu.


"Kamu memiliki mata seperti Mommy-mu, tapi untuk keseluruhan kamu sangat mirip dengan Daddy-mu," celetuk Nancy.


"Maaf, Ma'am! Tapi, bagaimana anda bisa bilang begitu? Sedangkan kita baru saja bertemu, dan anda belum mengenali saya," tanya Marco.


Pegawai toko tadi, kini terlihat membawa nampan berisi tiga cangkir minuman, dan beberapa potong biskuit, kemudian menyajikannya diatas meja, sebelum dia kembali berjalan mengarah ke toko.


"Saya melihatmu waktu itu, tapi tidak sempat untuk menyapamu, karena kamu hanya berjalan melewati toko, bersama seorang gadis..." ujar Nancy, lalu melirik ke arah Bella.


"Sejak saat itu, saya menunggu dan berharap agar saya diberi kesempatan untuk bertemu denganmu," lanjut Nancy sambil melihat Marco lagi.


"Aku bersama Adaline..." ujar Marco menjelaskan kepada Bella, meskipun Bella tidak bertanya.


"Maaf, Ma'am! Tapi, anda siapa sebenarnya? Dan saya tidak mengerti arah pembicaraan anda," tanya Marco berpura-pura.


"Hmmm... Saya maklumi kalau kamu tidak mengenalku," ujar Nancy.


"Saya adik dari Daddy Alpha. Satu-satunya dari keluarga Alpha yang masih hidup," lanjut Nancy.


Marco rasanya tidak bisa mempercayai, apa yang dia baru saja dengarkan dari mulut wanita didepannya itu.


Entah Marco harus merasa senang, karena mengetahui kalau dia masih memiliki keluarga, atau justru perlu merasa khawatir.


Karena kalau benar begitu, berarti Marco sudah di curigai, meskipun dia belum berkata sesuatu, dan belum sempat bertindak apa-apa.


Apa mungkin Nancy akan memberitahu Alpha pengganti, tentang kedatangan Marco di tempat itu?

__ADS_1


Marco merasa kalau tempat duduknya kini tidak nyaman, dan ingin segera pergi dari situ secepatnya.


"Kamu tidak perlu merasa cemas... Bukankah tadi saya sudah bilang, kalau saya tidak akan mencelakai kalian? Kalian bisa memegang perkataan saya," ujar Nancy.


Nancy kelihatannya memang menyadari kecemasan yang dirasakan Marco saat ini.


"Maaf, Ma'am! Tapi, saya merasa kalau anda mungkin salah menilai orang!" kata Marco, dan bersiap-siap untuk pergi dari situ.


"Marco! Tenangkan dirimu! Tidak akan tejadi apa-apa denganmu, apalagi kamu bersama denganku," tahan Nancy.


"Meskipun kamu mengelak, saya tidak bisa dibohongi! Kamu adalah anak Alpha yang dibawa keluar dari tempat ini, sesaat setelah kamu lahir," lanjut Nancy tegas.


"Maaf, Ma'am! Saya benar-benar tidak mengerti pembicaraan anda!" kata Marco bersikeras.


Nancy terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa saya terlihat seperti orang yang suka membicarakan hal-hal yang bisa memicu terjadinya perkelahian?" tanya Nancy.


"Tidak, Ma'am! Tidak," jawab Marco.


"Saya tidak mau anda salah paham. Hanya saja, saya rasa sekarang sudah waktunya untuk kami pergi," lanjut Marco, kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kamu tidak ingin tahu tentang keluargamu? Atau kamu sudah tahu semuanya?" tanya Nancy, tanpa mau memberi jawaban mempersilahkan, agar Marco bisa pergi tanpa terlihat tidak hormat dan tidak sopan.


"Sebaiknya, kamu duduk saja dulu! Kamu tidak perlu takut mengakui siapa kamu kepadaku! Saya, bukan shapeshifter yang suka melihat pertumpahan darah!" lanjut Nancy dengan tegas.


Mau tidak mau, Marco kembali duduk di sofa itu.


"Ada apa denganmu? Apa yang pernah kamu dengarkan tentang keluarga Alpha, hingga kamu tampak ketakutan?" tanya Nancy dengan alisnya yang mengerut.


"Kamu adalah Alpha, penerus satu-satunya. Bangga dan yakinkah dengan dirimu sendiri!" lanjut Nancy.


"Tapi..." Marco kembali tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Nancy memotong perkataannya.


"Tidak ada tapi. Berhentilah berpura-pura! Saya mungkin sudah tua, tapi saya tidak gila ataupun bodoh!" ujar Nancy.


"Tidak semua isu yang kamu dengar diluar sana, itu benar adanya... Apa kamu tidak mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi didalam lingkungan keluargamu?


Tentang Daddy-mu, Alpha pengganti, juga Mommy-mu yang hingga kini merindukanmu. Apa kamu tidak mau tahu? Kamu mau membelakangi keluargamu?" Pertanyaan Nancy, seperti rententan peluru senapan mesin yang keluar dari mulutnya.


"Dan jangan memanggilku dengan sebutan Madam! Aku masih Grandma-mu!" lanjut Nancy.


Marco terdiam untuk beberapa saat, dan mendadak dia menyadari sesuatu yang membuatnya tersentak, dengan matanya yang terbelalak.


"Apa Mommy masih hidup?" tanya Marco.

__ADS_1


__ADS_2