SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 12


__ADS_3

Marco menghabiskan banyak waktu di angkasa, sebelum akhirnya dia menukik dan terbang rendah, dengan mengibaskan sayapnya perlahan, masuk kedalam gudang pertanian miliknya.


Marco hanya tertawa didalam hati, saat Duke berlari mengejarnya dengan suara gonggongan yang keras dan tanpa henti.


Marco kemudian hinggap diatas tumpukan jerami.


Jelas saja dia harus mendarat ditempat yang tinggi.


Bagaimana kalau Duke menggigitnya, ketika menapakkan cakarnya ketanah?


Duke yang tampak seperti hampir berdiri, mengangkat kedua kakinya di bagian bawah tumpukan jerami, dan tidak berhenti menggonggong, sampai Marco benar-benar kembali ke bentuknya sebagai manusia.


Jika saja Duke bisa bicara saat ini, mungkin dia akan berkata, "Gila" atau "Hebat".


Marco beranjak turun dari bagian paling atas jerami tempatnya mendarat, lalu memakai pakaiannya lagi.


Ekor Duke bergoyang-goyang tanpa henti dengan lidahnya yang menjulur, ketika Marco mengusap-usap kepalanya sampai ke punggung.


"Kamu penjaga yang hebat!" kata Marco, yang berjongkok didekat Duke.


"Aku harus memperbaiki pagar! Nanti kita bermain!" kata Marco lagi, lalu berdiri dan berjalan keluar dari gudang pertanian.


Duke menyusul Marco.


Terlihat Duke mengambil tulang diatas lantai beranda rumah Marco, yang jadi mainan gigitnya, lalu kembali berlari mengarah ke halaman berpagar khusus untuk hewan ternak, dan bermain sendiri disana.


Marco tertawa kecil melihat kepintaran yang dimiliki Duke.


Barang-barang diatas bak mobilnya, diturunkan Marco dan meletakkannya dilantai beranda rumahnya.


Sedangkan bahan-bahan untuk memperbaiki pagar, dibawa Marco sampai ke pagar, yang ada bagiannya yang rusak.


Marco mengambil peralatan bertukang, mulai dari paku, martil, gergaji dan sarung tangan, dari dalam rumah.


Setelah Marco merasa kebutuhannya sudah siap semuanya, Marco mulai mengerjakan perbaikan pagar yang rusak.


Satu persatu kerusakan di beberapa bagian pagar, diperbaiki Marco dengan teliti, agar tidak harus mengulang pekerjaannya lagi, kalau hasilnya masih kurang kokoh.


Butuh waktu lama bagi Marco, saat harus mengerjakan perbaikan itu sendirian, dan hanya bisa makan roti isi, disela-sela waktunya bekerja.


Tapi, Marco tetap bekerja dengan senang hati.


Apalagi hasilnya terlihat baik dan bagus.


Hari sudah hampir sore, dan pekerjaan perbaikan sudah selesai dikerjakan Marco.


Hanya sempat beristirahat untuk duduk sebentar, Marco lalu mengambil gerobak dorong, yang tersimpan didalam gudang pertanian, mengisinya dengan empat ember besar, dan membawanya keluar.


"Duke! Ikut denganku mengambil apel!" ajak Marco.

__ADS_1


Duke lalu menghampiri Marco.


Belum sempat Marco berjalan dengan Duke ke salah satu bagian lahan Marco, terlihat sebuah mobil yang berjalan memasuki halaman depan rumahnya.


Marco menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan siapa yang datang mengunjunginya.


Bella terlihat keluar dari dalam mobil, yang pintunya sudah terbuka.


Marco melepaskan pegangan gerobak, lalu berjalan mendekat kearah Bella, sambil mengibas-ngibaskan sebisanya pakaiannya yang kotor.


"Sibuk? Maafkan kedatanganku yang mendadak tanpa mengabarimu terlebih dahulu!" kata Bella, ketika Marco sudah berdiri didekatnya.


"Aku berniat pergi memetik apel. Apa ada hal yang mendesak?" tanya Marco.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berjalan-jalan, sekalian mengunjungimu," jawab Bella.


"Apa aku bisa ikut mengambil apel denganmu?" lanjut Bella.


Marco menganggukkan kepalanya.


"Iya," jawab Marco.


Bella tersenyum lebar.


Marco lalu kembali ke tempat dia meninggalkan gerobaknya, dimana Duke juga sedang duduk disitu menunggu Marco, sambil Bella berjalan disampingnya mengikuti Marco.


"Siapa ini?" tanya Bella, sambil menunduk sedikit.


Bella berjongkok, lalu mengusap-usap kepala Duke, dan anjing itu terlihat senang, dan menyukai perlakuan Bella kepadanya.


"Benar! Duke tampaknya anjing yang pintar!" seru Bella bersemangat, sambil tersenyum lebar, ketika Duke mengendusnya, dan hampir mencium pipinya.


"Kita pergi sekarang?" tanya Marco, yang juga tersenyum, ketika melihat Bella yang tampak akrab dengan Duke.


"Iya!" jawab Bella, lalu berdiri dan berjalan bersama Marco.


Sedangkan Duke, juga ikut berjalan disamping mereka.


Sesekali, Bella mengambil ranting dan melemparkannya jauh kedepan, lalu Duke akan mengejarnya, memungut ranting itu, dan membawanya kembali kepada Bella.


"Aku tidak bisa memelihara anjing. Daddy alergi dengan bulunya," celetuk Bella.


"Kamu bisa bermain dengan Duke, kapan pun kamu mau, saat kamu berkunjung kesini," kata Marco.


"Benarkah?" tanya Bella bersemangat.


"Iya!" jawab Marco.


Marco tersenyum lebar, ketika melihat Bella yang juga tersenyum sambil menatapnya.

__ADS_1


Baik Bella, maupun Duke terlihat senang, sampai mereka tiba dibawah beberapa pohon apel.


Bulatan-bulatan merah apel yang ranum, hampir memenuhi semua pohon-pohon apel yang ada disitu.


Sebagian buah apel yang kelewat masak, sudah berjatuhan ditanah.


Sayang sekali melihat buah sebanyak itu, kalau hanya terbuang sia-sia.


Marco memungut terlebih dahulu buah yang sudah diatas tanah berumput, dan memasukkannya kedalam gerobak.


Bella ikut membantu Marco, sedangkan Duke, asyik memakan buah apel yang dia temukan.


"Apel yang kelewat masak seperti ini, akan jadi selai atau Pai yang sangat enak!" celetuk Bella, sambil memasukkan buah, yang dipegangnya kedalam gerobak.


"Iya. Rencananya aku akan membuat Pai apel nanti. Kalau sebanyak ini, sebagiannya, aku mungkin akan membuatnya menjadi selai," kata Marco.


"Kapan kamu akan memasak Pai?" tanya Bella, sambil melirik Marco.


Bella kelihatannya ingin mencicipinya, kalau Marco memasaknya setelah ini.


"Malam ini! Kamu mau memakan pai-nya?" tanya Marco, berpura-pura tidak mengerti dengan gelagat Bella.


"Iya!" jawab Bella buru-buru.


Marco tertawa melihat tingkah Bella, yang seperti anak kecil yang dijanjikan permen.


Bella tampak tersipu malu, dan memalingkan wajahnya, lalu berpura-pura sibuk memungut buah apel ditanah.


Semua buah apel yang berhamburan ditanah, dan masih layak untuk dimakan, sudah habis dipungut mereka berdua.


Kali ini, Marco akan mengambil buah apel yang masih bergelantungan di atas pohon.


Hanya dengan mengguncang batang pohon dengan keras, butiran buah apel yang memang sudah hampir terlepas dari tangkainya, berjatuhan ke tanah.


Marco bersama Bella kembali memungut buah-buah, yang sekarang sudah ditanah.


Buah apel yang segar dimasukkan kedalam ember terpisah, yang ada diatas gerobak.


Hasilnya lumayan banyak.


Buah apel segar memenuhi dua ember besar, sedangkan dua ember lainnya penuh terisi dengan buah apel yang kelewat masak, bahkan sampai berhamburan diatas lantai gerobak.


Marco mendorong gerobaknya dengan sekuat tenaga, dan Bella yang melihat kalau Marco tampak kesulitan untuk menggerakkan roda gerobak itu, ikut membantu Marco mendorongnya agar bisa berjalan.


"Duke! Ayo kita pergi!" kata Marco, yang melihat Duke masih asyik memakan buah apel ditanah.


Duke lalu berjalan mengiringi Marco dan Bella, yang kepayahan mendorong gerobak yang lumayan berat.


"Jangan memintaku untuk membayar Pai buatanmu hari ini! Sudah cukup melelahkan, mendorong buah-buah ini ke rumahmu!" celetuk Bella ketus.

__ADS_1


"Oke!" kata Marco.


Mereka berdua lalu tertawa bersama, sambil tetap mendorong gerobak itu, sampai didekat rumah Marco.


__ADS_2