SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 6


__ADS_3

Pai labu yang baru matang, menyebarkan aroma harum saat dikeluarkan oleh Marco dari dalam oven.


Penampilan Pai labu buatannya, tidak seindah buatan Mommy, tapi paling tidak, rasanya akan kurang lebih sama enaknya.


"Happy great Bridget day!" ucap Marco sambil tersenyum sendiri.


Kalimat itu, adalah kalimat yang sama, yang selalu dikatakan Mommy-nya, saat melihat Pai labunya yang sudah dia letakkan diatas meja, sama seperti yang dilakukan Marco sekarang


"Mommy, Daddy, aku sangat merindukan kalian! Semoga kalian selalu berbahagia, ditempat kalian yang baru!" lanjut Marco, yang tanpa sadar meneteskan air matanya, dan terjatuh keatas meja.


Meskipun semasa Daddy Marco masih hidup selalu berkata kepada Marco, bahwa bukan kesalahan Marco yang menyebabkan Mommy-nya meninggal dunia, tapi Marco tetap menganggap itu karena dirinya yang anehlah, yang menjadi penyebab utama kematian Mommy-nya.


Daddy merawat Marco seorang diri sepeninggal Mommy, tanpa pernah terlihat ataupun terdengar mengeluh.


Kasih sayang Daddy kepada Marco, masih sama seperti saat Mommy-nya masih hidup.


Terguncang jiwa Marco, ketika dia pulang dari sekolah, dan melihat tubuh kaku Daddy yang dingin terbaring dilantai dapur.


Kematian yang tiba-tiba, tanpa ada tanda apa-apa yang bisa dilihat Marco.


Sup kacang merah yang matang siap dimakan, yang sudah diletakkan Daddy diatas meja makan, dan menjadi masakan terakhir dari Daddy untuk Marco, dimakan Marco saat itu dengan airmata yang bercucuran diwajahnya.


Semua orang terkasih, yang mengerti keadaan Marco dan tetap menyayanginya sepenuh hati, telah pergi meninggalkannya, tanpa bisa ditemui Marco lagi.


Kesedihan yang tertinggal dalam ingatan, dan kesepian yang dirasakannya sampai detik ini, mampu membuat Marco menangis sesenggukan.


Dengan cepat, punggung tangannya menyambar kasar ujung matanya yang masih basah.


Sudahlah...


Tidak ada satupun yang bisa membalikkan keadaan, waktu senantiasa berjalan maju dan tidak akan bisa berputar kembali ke masa lampau, meskipun Marco menangisinya sampai mati.


Marco sempat berkali-kali ingin menghabisi nyawanya sendiri, tapi dia mengurungkan niatnya.


Marco masih ingin hidup.


Marco ingin mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang mengganjal dihatinya, agar bisa menghembuskan nafas terakhirnya, dengan tenang.


Sudah hampir sore.


Dengan helaian plastik pembungkus makanan, Marco menutup Pai labu, lalu berjalan kembali ke kamarnya, dan terus berjalan sampai kekamar mandi.

__ADS_1


Marco membasuh wajahnya yang sembab, agar bisa kembali terlihat segar.


Setelah mengganti pakaiannya dengan kemeja lengan panjang, dan celana jeans panjang, lengkap dengan jaketnya yang tebal, dan sepatu boots semata kaki berbahan kulit, Marco keluar dari kamarnya.


Pai labu, diletakkannya di jok penumpang didalam semi truknya, kemudian dengan berkendara dengan kecepatan sedang, Marco sudah siap untuk menghadiri pesta di balai kota.


Dari kejauhan, tampak keramaian memadati hampir sepanjang jalan didepan balai kota.


Marco tidak bisa membawa mobilnya lebih jauh, dan hanya memarkirkan dipinggir jalan, yang juga berjejer mobil-mobil warga yang lain.


Dengan memegang Pai labu buatannya, Marco berjalan menghampiri tenda besar, tempat makanan bawaan penduduk kota dikumpulkan.


"Halo! Permisi!" sapa Marco, ketika dia tiba didepan tenda.


"Marco Belmont?" tanya seorang wanita, yang tampak sebaya dengan Marco, setelah terdiam cukup lama, dengan alis mengerut menatap Marco yang menyapa disitu.


Kelihatannya, wanita itu menjadi salah satu panitia penyelenggara, yang bertugas untuk menerima makanan yang diantar warga kota saat itu.


"Iya," jawab Marco.


Senyum lebar mengembang diwajah wanita itu, setelah Marco menjawab pertanyaannya, yang seolah-olah ingin memastikan, kalau wanita itu tidak salah mengenali orang.


Marco yang sama sekali tidak mengenali wanita itu, lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Maafkan aku!" kata Marco.


Wanita itu mengambil Pai labu dari tangan Marco dan meletakkannya diatas meja, kemudian menghampiri Marco, lalu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak berjabat tangan dengan Marco.


"Sungguh kamu tidak mengenaliku lagi? Aku Bella, temanmu di primary school!" kata wanita, yang bernama Bella itu.


Marco tetap tidak mengingatnya, dan hanya menyambut tangan wanita itu untuk bersalaman.


Ketika tangan Marco menyentuh telapak tangan wanita itu, dan menatap wajah wanita itu lekat-lekat, barulah dia teringat dengan anak perempuan, yang biasanya membagi permen miliknya kepada Marco disekolah.


"Bella?! Aku ingat sekarang!" kata Marco, lalu tersenyum lebar.


Bella lalu berpelukan dengan Marco, dan saling mencium pipi kiri dan kanan.


"Kapan kamu kembali kekota ini? Sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu denganmu!" kata Bella, sambil tetap berpegangan kedua tangannya, dengan kedua tangan Marco.


"Sudah hampir delapan tahun terakhir, aku kembali kesini. Tapi, baru kali ini aku bisa datang ke perayaan ulang tahun kota," jawab Marco.

__ADS_1


"Oh, begitu rupanya. Aku juga baru menyelesaikan kuliahku, dan kembali kekota ini sekitar seminggu yang lalu," kata Bella.


Bella lalu terlihat berbicara dengan orang-orang yang duduk, ditempat dia duduk tadi.


"Mari berjalan-jalan bersamaku!" kata Bella, sambil menggandeng lengan Marco.


Dengan bergandengan tangan, dan berjalan pelan, mereka melihat-lihat disekitar situ.


"Kamu tidak melanjutkan sekolahmu?" tanya Bella.


"Tidak. Ketika Daddy meninggal dunia, aku memilih untuk berhenti sekolah, dan kembali kesini, untuk merawat rumah lama kami," jawab Marco.


Bella terlihat manggut-manggut, seolah-olah mengerti dengan kejadian yang dialami Marco.


"Dengan siapa kamu tinggal dirumah itu? Apa kamu belum beristri?" tanya Bella.


Marco tertawa kecil, lalu melihat Bella yang sedang menatapnya.


"Belum. Tidak ada yang mau menikah dengan laki-laki miskin, dan tidak berpendidikan sepertiku," jawab Marco asal-asalan.


"Jangan mengolok-olokku!" kata Bella ketus.


Kenangan masa lalu, sewaktu mereka masih kecil.


Bella pernah berkata kepada Marco, kalau dia hanya mau menikah dengan seorang laki-laki yang kaya raya, dengan pendidikan tinggi, agar dia tidak perlu menetap dikota kecil itu, dan bisa tinggal dikota besar, tanpa perlu khawatir tidak mampu membeli rumah.


Bella kecil ingin berbelanja baju rancangan desainer ternama, untuk menjadi pakaian di kesehariannya, agar dia terlihat seperti putri kerajaan.


Bella yang tertarik dengan anak laki-laki dari pemimpin kota, yang selalu diantar dengan mobil ke sekolah seperti pangeran kecil, menjadikan Marco sebagai pemanas, agar anak laki-laki itu merasa cemburu dengannya.


Keduanya tertawa terbahak-bahak, ketika mengenang masa kecilnya yang konyol.


"Dimana Jack sekarang? Apa masih tinggal dikota ini?" tanya Marco.


"Sudah lama dia pindah kekota besar. Sejak Daddy-nya menjadi anggota perlemen. Setelah kepindahannya, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi," jawab Bella.


"Lalu, bagaimana denganmu? Belum menemukan pangeran tersesat?" tanya Marco, dengan nada mengejek.


Dengan wajah cemberut, Bella mencubit lengan Marco dengan keras, sampai Marco meringis kesakitan.


"Pangerannya masih berupa katak, dan menunggu aku menciumnya!" jawab Bella ketus.

__ADS_1


__ADS_2