SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
TUNGGU BERITA DARIKU : Part 1


__ADS_3

"Demikian informasi terkini yang bisa kami laporkan. Dari rumah sakit umum harapan kota (menyebut nama salah satu kota)... Dengan saya Ardian Surya, terimakasih, dan selamat pagi!"


Kata-kata yang sudah melekat di kepala Ardian, dengan mudahnya meluncur dari mulutnya, tanpa perlu dia menuliskan atau membaca catatannya lagi.


Rekan kerja Ardian yang menyorot Ardian dengan kamera yang dipikul dibahunya, membentuk tanda 'ok' dengan jari tangannya, juga menjadi tanda bagi Ardian untuk bisa memegang mikrofon dengan santai, menjauh dari dadanya.


Sejak semalam Ardian menunggu, dan mencari informasi tentang kejadian pembunuhan dan pembakaran satu keluarga, hanya menghasilkan selembar catatan yang habis dibaca Ardian dalam hitungan menit.


Tayangan berita yang dilaporkan Ardian hari ini dilakukan secara langsung, dan tayang ditelevisi bersama-sama dengan penayangan liputan berita pagi.


"Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus kekamar mandi sekarang! Tolong, jaga kamera ini!"


Nurdin meletakkan kamera yang berharga fantastis itu begitu saja di atas bangku, yang berada didepan ruang penyimpanan mayat, dan setengah berlari menuju ke toilet rumah sakit.


Bau daging terbakar, meskipun sudah sering merasuk kedalam indera penciumannya, namun Ardian mungkin tidak akan pernah terbiasa dengan aroma menyengat itu.


Ardian ingin bergegas pergi dari sana secepatnya, namun karena Nurdin mempercayakan kameranya kepada Ardian, mau tidak mau, Ardian harus menunggu hingga Nurdin kembali.


Profesi Ardian sebagai seorang reporter televisi, tidaklah seindah bayangan Ardian, ketika dia menyelesaikan kuliahnya, dan dengan semangatnya melamar kerja di salah stasiun televisi, yang menjadi tempatnya bekerja sekarang.


Ardian yang ingin menjadi seorang pembaca berita yang dikenal luas, dengan wara-wiri dilayar televisi, membuatnya harus mengorbankan masa mudanya, berikut juga kantong matanya yang sekarang semakin bengkak dan menghitam.


Siapa yang menyangka kalau pekerjaan itu, adalah pekerjaan yang sangat melelahkan?


Yang terlintas didalam pikirannya, bahwa dia akan duduk manis dengan setelan jas dibelakang meja didalam ruangan berpendingin udara, tidaklah semudah itu untuk dia capai.


Sudah lebih dari tiga tahun Ardian menjadi salah satu reporter di stasiun televisi itu, namun Ardian masih menjadi pembaca berita dilapangan, tanpa ada tanda-tanda akan dipromosikan.


Pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya, hingga terkadang Ardian seakan-akan ingin menyerah, dan berhenti bekerja begitu saja.


Menahan kantuk karena bergadang semalaman, membuat kepala Ardian terasa sangat sakit.


Asam lambungnya juga tampaknya ikut-ikutan kumat, hingga membuatnya merasa agak mual.


"Ayo kita pergi dari sini sekarang!" Nurdin mengambil kameranya dan berjalan menjauh dari tempat itu bersama Ardian.


"Apa kamu tidak lapar?" tanya Nurdin.

__ADS_1


"Wah! Gila! Kamu masih berselera makan setelah mencium bau dari kamar mayat itu?" Ardian balik bertanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan rasa tidak percaya.


"Tentu saja! Aku mau makan sate kambing, agar staminaku kembali," jawab Nurdin tanpa beban.


Seakan-akan ada ular yang menggeliat didalam perut Ardian, ketika membayangkan sate kambing, dengan bau daging manusia yang hangus, yang masih bisa tercium olehnya meskipun mereka sudah cukup jauh dari kamar mayat.


Ardian sepertinya akan segera mengeluarkan isi perutnya.


Setengah berlari, Ardian mencari-cari toilet terdekat yang mungkin bisa dia lihat, tanpa memperdulikan teriakan Nurdin, yang tampaknya kebingungan dengan gerakan berlari Ardian yang tiba-tiba.


Untung saja, tidak perlu berlama-lama Ardian mencari, pintu bertanda toilet, terjangkau pandangan Ardian.


Tergesa-gesa Ardian masuk kedalam situ, dan tanpa sempat menutup pintunya lagi , Ardian mengeluarkan semua sisa-sisa makanan yang belum selesai dicerna lambungnya.


Setelah berkali-kali memaksa perutnya untuk mendorong keluar isinya, Ardian akhirnya bisa berhenti muntah.


Sambil menatap cermin, Ardian membasuh wajahnya di wastafel, dan mengambil sedikit air dari keran untuk dipakainya berkumur-kumur.


Benar-benar tidak nyaman.


Kepalanya terasa semakin sakit, ditambah lagi dengan perutnya yang ikut terasa sakit setelah bekerja keras, untuk memuntahkan cairan asam lambungnya.


Entah berapa banyak berat badannya yang menghilang selama dia bekerja.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Nurdin yang tampak berdiri di depan pintu.


"Iya. Asam lambungku saja yang kumat," jawab Ardian.


"Maka dari itu, ayo kita pergi membeli makan!" ujar Nurdin.


Mau saja Ardian membentak Nurdin saat itu juga, namun Ardian mengurungkan niatnya, dan berusaha agar bisa tetap terlihat tenang.


"Aku tidak mau makan sate kambing. Kita cari warung yang menjual nasi uduk saja," kata Ardian, sambil berjalan pelan keluar dari toilet, dan menghampiri Nurdin yang masih menunggunya disitu.


"Apa kamu tidak mau menyimpan kamera itu dulu?" tanya Ardian.


"Tidak. Parkiran mobil kita disisi berlawanan. Akan sangat melelahkan, kalau aku harus bolak-balik mengambil benda ini kesana," jawab Nurdin.

__ADS_1


Mereka memang masih harus mengumpulkan informasi tentang kejadian pembunuhan itu, hingga membuat mereka berdua tidak bisa pergi terlalu jauh, atau berlama-lama menjauh dari kamar mayat, kalau tidak mau ketinggalan informasi, yang bisa saja ada disana secara tiba-tiba.


Setelah berjalan tidak terlalu jauh dari bagian belakang rumah sakit, Ardian melihat sebuah warung makan yang menjual nasi campur, nasi kuning dan nasi uduk.


"Itu! Kita kesana saja!" ajak Ardian.


Meskipun Nurdin tampak enggan, namun pemuda itu tetap mengikuti ajakan Ardian.


Ardian hampir tidak bisa menelan makanannya dengan baik, meskipun sebenarnya rasa nasi uduk disitu cukup nikmat, karena bayang-bayang aroma dari kamar mayat, masih berputar-putar dan melekat didalam hidung Ardian.


Sembari memakan makanannya, Ardian sesekali melirik Nurdin.


Pekerjaan Nurdin tidak se-melelahkan pekerjaan Ardian.


Nurdin masih bisa mencuri-curi waktu untuk tidur, sedangkan Ardian harus tetap berjaga-jaga, dan bertanya-tanya ke semua orang yang bisa memberikan informasi untuknya.


Ditambah lagi, Ardian harus mencatat dan menata laporannya, agar bisa dimengerti dan menarik perhatian orang yang menonton berita.


Nurdin juga tidak perlu berpura-pura untuk tetap terlihat segar seperti Ardian, karena tidak ada yang akan melihatnya.


Lain lagi dengan Ardian.


Walaupun sudah sangat kelelahan, Ardian tidak bisa memperlihatkan wajah lesu, dan harus tetap terlihat segar dan bersemangat didepan kamera.


Bekerja tanpa ada waktu istirahat yang jelas, namun upah yang diterima tidaklah seberapa, dan rasanya sama sekali tidak layak jika dibandingkan dengan lelahnya bekerja.


Kalau tidak mantap dengan cita-cita untuk menjadi wartawan seperti Ardian, maka sebaiknya mencari cita-cita yang lain saja.


Sebelum Ardian dan Nurdin berjalan pergi dari warung makan itu, beberapa orang dengan memakai seragam berlambang stasiun televisi berbeda, tampak berjalan masuk kedalam sana.


"Kami duluan!" kata Ardian, sekedar menyapa orang-orang itu yang menjadi temannya bergadang malam tadi.


"Oke, Bro!" jawab beberapa dari mereka, sambil mengangkat sebelah tangannya.


########


Mohon kritik dan sarannya 🙏

__ADS_1


Author masih bimbang untuk menayangkan tulisan ini 🤔😅


Terimakasih sebelumnya 🤗🙏


__ADS_2