SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 96


__ADS_3

"Apa kamu yakin pernah memimpikan tempat ini?" tanya Nancy yang masih berdiri terpaku disitu.


"Rasanya memang benar, Grandma! Aku memimpikan hutan ini setiap malam, sejak aku berusia sepuluh tahun, hingga semalam pun aku masih bermimpi tentang tempat ini," jawab Marco.


"Apa lagi yang kamu lihat dalam mimpimu?" tanya Nancy.


"Bangunan kastil tua yang kosong tanpa penghuni yang bisa aku lihat. Tapi, aku bisa mendengarkan tangisan dari dalam bangunan itu," jawab Marco.


"Delta! Apa kamu tahu kalau Marco memimpikan tempat ini?" tanya Nancy.


"Dia tidak tahu, Grandma! Karena aku tidak pernah memberitahunya." Marco yang menjawab pertanyaan Nancy.


"Delta! Kamu mengerti kenapa aku menanyakan hal ini?" tanya Nancy.


Delta tampaknya mengerti, namun dia tidak mau menjawab pertanyaan Nancy.


"Tidak mungkin orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu tentang Peri!" ujar Nancy sambil menatap Delta.


"Kita tampaknya sedang berjalan masuk kedalam jebakan," lanjut Nancy terlihat gusar.


"Maaf, Ma'am! Kami sudah menduganya, tapi Marco bersikeras untuk menemui Mommy-nya," ujar Delta pelan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nancy dengan suara meninggi.


"Wanita itu memang memintamu untuk datang! Aku tahu kalau dia mungkin merindukan anaknya. Tapi kalau dia adalah Peri, seharusnya dia sudah bisa pergi dari sana sejak lama, dan mencarimu diluar...


Kalau begini, berarti ada yang dia rencanakan, hingga dia tahan menunggu, sampai kamu yang mendatanginya disana," kata Nancy.


"Kami juga sudah menduga tentang hal itu, Ma'am!" ujar Beta.


"Lalu kenapa kalian menyetujui rencana gila Marco?" tanya Nancy.


"Grandma, tidak perlu memarahi mereka. Semua sudah kami bicarakan, dan aku memang yang mengambil keputusan untuk datang kesini...


Karena aku tidak mau lagi hanya menduga-duga hal yang sama sekali tidak aku pahami," ujar Marco bersikeras.


"Aku mau berhadapan langsung dengannya, dan mendengarkan penjelasan dari mulutnya, tentang apa yang dia inginkan," lanjut Marco.


"Ini gila! Benar-benar gila! Aku tidak menyangka kalau kamu se-ceroboh ini!" ujar Nancy lalu terlihat berbalik, seolah-olah tidak mau melanjutkan perjalanan mereka.


"Grandma!" ujar Marco sambil memegang lengan Nancy.


"Kalau Grandma tidak membantu kami, aku tetap akan pergi kesana. Sendirian!" lanjut Marco bersungguh-sungguh.


"Kamu berani mengancamku dengan nyawamu?" ujar Nancy ketus.

__ADS_1


"Iya. Karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, agar aku bisa mengakhiri semua hal tentang kekacauan didalam kaum shapeshifter ini," kata Marco tetap tidak mau kalah.


"Kalaupun aku harus mati, aku tidak perduli lagi. Aku hanya meminta agar Grandma memegang janji untuk menjaga Bella," lanjut Marco lalu melepaskan tangan Nancy, dan kembali berjalan memasuki hutan.


"Marco! Berhenti sekarang juga!" seru Nancy.


Beta, Gamma dan Delta kemudian berusaha menahan langkah Marco.


"Lepaskan aku! Sebaiknya kalian semua pergi dari sini!" ujar Marco ketus.


"Tunggu sebentar! Tampaknya, Nancy masih mau mengantarkan kita," kata Gamma pelan, membujuk Marco.


Marco kemudian berbalik, dan memang benar yang dikatakan oleh Gamma.


Nancy terlihat berjalan mendekat menghampiri Marco.


"Kamu menang! Aku akan membawa kalian kesana!" ujar Nancy.


"Tapi ingat! Aku bukan melakukannya untukmu, melainkan karena janjiku kepada pasanganmu, kalau aku akan menjagamu dan calon keturunanmu," lanjut Nancy.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya.


"Terimakasih, Grandma!" ucap Marco.


"Dasar berandal! Jangan berterimakasih kepadaku untuk hal gila ini," ujar Nancy ketus.


"Apa kamu yakin, kalau kamu tidak akan terpengaruh dengan kekuatan Peri yang bisa mengendalikan pikiran orang?"


"Tidak," jawab Marco.


Nancy tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah tidak percaya dengan jalan pikiran Marco.


Kemudian, Nancy tampak menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.


"Aku sebenarnya sempat merasa curiga kalau Mommy-mu adalah Peri. Tapi, karena keberadaan mereka yang benar-benar tersembunyi, membuatku merasa ragu, kalau Peri itu memang ada...


Apalagi, rasanya tidak semudah itu, Alpha pengganti bisa membawanya kesini...


Tapi, setelah aku mendengarkan perkataanmu tentang mimpimu, aku jadi yakin kalau dia memang Peri, dan sedang merencanakan sesuatu," ujar Nancy.


"Entah apa yang dia inginkan darimu. Yang pasti, aku merasa kalau rencananya bukanlah hal yang kecil," lanjut Nancy.


Marco tidak menanggapi perkataan Nancy.


Marco khawatir, kalau-kalau dia membicarakan yang jadi pembahasannya bersama Beta, Gamma dan Delta siang tadi, akan membuat Nancy kembali berubah pikiran untuk membawanya menemui Mommy-nya.

__ADS_1


Setelah melewati cukup panjang perjalanan menanjak bukit sambil menorobos hutan, Marco akhirnya bisa melihat kastil yang berdiri di tengah-tengah bukit.


Bangunan tua megah dengan tinggi, dan bentuknya yang persis sama seperti yang ada dalam mimpinya.


Didepan bagian kastil yang menjadi arah langkah mereka, juga tidak terlihat siapa-siapa.


Aneh.


Marco merasa sangat aneh, karena baik bangunan hingga tidak adanya penjagaan yang dia lihat sekarang, tidak ada bedanya sama sekali dengan yang dia lihat di dalam mimpinya.


Semuanya persis sama, selain suara tangisan saja yang saat ini tidak didengar Marco.


Mereka semua akhirnya berhenti berjalan di antara dua barisan pohon terakhir, sebelum menginjak tanah lapang untuk mencapai bangunan kastil.


"Aku tidak tahu lagi, apakah ini hal yang benar dengan membawa kalian kesini..." celetuk Nancy.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Grandma! Aku mau segera memasuki tempat itu," ujar Marco.


"Marco! Tunggu sebentar!" ujar Nancy dengan suara memelas.


"Cobalah untuk memikirkan ulang, dengan pikiran tenang. Jangan sampai menyesal belakangan, tentu penyesalan itu jadi tidak berguna!" lanjut Nancy pelan.


Marco bertatap-tatapan dengan Beta, Gamma dan Delta bergantian.


Hanya sebentar, karena mereka semua mengalihkan pandangannya dari Marco.


Mereka bahkan menundukkan penglihatannya, seolah-olah mereka tidak mau memberikan pembenaran akan tindakan yang hendak Marco lakukan.


Mereka semua tampak ragu-ragu.


Itu yang bisa dilihat Marco, dari sorot mata dan gelagat ketiga shapeshifter itu.


Melihat gelagat Beta, Gamma dan Delta, cukup untuk membuat Marco juga ikut merasa sedikit ragu, namun rasanya sudah kepalang tanggung, kalau dia harus membatalkan niatnya untuk menemui Mommy-nya.


"Kalau kalian merasa takut. Sebaiknya, kalian menunggu saja disini. Atau kalian kembali lebih dulu. Dan biarkan aku saja yang masuk kesana..." kata Marco pelan.


"Tidak. Kami tidak akan meninggalkan dan membelakangimu. Terus terang, yang kami takutkan kalau kamu sampai masuk dalam kendalinya...


Kami yang tidak memiliki pengalaman sama sekali. Lalu kira-kira apa yang harus kami lakukan kalau hal itu terjadi?" ujar Beta.


Ketiga shapeshifter itu terlihat sangat cemas, dan rasanya itu hal yang wajar, berhubung mereka sama saja seperti Marco, yang belum pernah berurusan dengan makhluk, yang katanya sangat kuat itu.


"Aku akan masuk sekarang, Grandma! Kalau aku menunda lama-lama, tetap tidak akan ada perubahan apa-apa...


Dan kita semua hanya akan hidup dalam dugaan dan ketakutan, yang tidak jelas sampai kapan itu semua akan berakhir," ujar Marco mantap.

__ADS_1


Setelah menarik nafas panjang, Nancy kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! Ayo kita masuk, anak-anak!" ajak Nancy.


__ADS_2