SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 7


__ADS_3

Bella membawa Marco kesalah satu stand agar dilukis wajahnya.


"Mau jadi apa?" tanya Bella.


"Katak!" jawab Marco secepatnya, mengatakan nama hewan yang terlintas dikepalanya, karena sempat dikatakan Bella tadi, tanpa mau memikirkan bentuk dan rupa hewan itu berlama-lama.


"Oh, sang pangeran katak! Apa kamu sengaja agar aku menciummu?" kata Bella, lalu tertawa kecil.


"Lebih baik kamu menggambarnya saja sekarang! Nanti saja kamu berpikir, apa akan menciumku atau tidak!" jawab Marco buru-buru.


Terdengar seperti sedang bercanda dan bermain-main, tapi sebenarnya, Marco sedang bersungguh-sungguh mengatakannya.


Pikirannya mulai tertarik untuk memikirkan hewan itu, dan bukanlah hal yang lucu, kalau Marco terlalu lama tenggelam dalam pikirannya, lalu tiba-tiba berubah wujud menjadi katak sungguhan.


Bella tertawa pelan, lalu mulai melukis diwajah Marco.


Demi mengalihkan perhatiannya, Marco memandangi wanita yang juga teman masa kecilnya, yang tampak serius melukis wajahnya.


Bella wanita yang cantik, dengan bulu mata yang lentik, dan mata yang belo berwarna biru terang, bibir tipis berwarna merah muda tampak mengkilap, mungkin karena memakai lipgloss, dengan hidung kecil yang mancung seperti orang kebanyakan.


Marco memang teralihkan dari bentuk hewan yang tadi sempat terpikirkan olehnya, tapi kini sesuatu yang lain yang melintas dan terdiam didalam dikepalanya.


Bayangan bentuk tubuh wanita disungai tadi, dengan memasangkan wajah Bella disitu, cukup untuk membuat Marco merasa tegang.


Jantungnya terasa berdegup kencang.


Marco ingin menyentuh wanita didepannya itu sekarang juga.


Bukan hanya mencium bibirnya saja, Marco ingin melampiaskan kegagahannya yang tertahan.


Marco mengepalkan kedua tangannya, sekeras yang dia bisa.


Benar-benar sulit rasanya, untuk mengendalikan pikiran tentang sesuatu yang seperti itu.


Kalau saja dia tidak mencoba-coba untuk melihat wanita-wanita tadi dengan jarak sedekat itu, maka kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Sial!


Dasar Sial!


Benar-benar keisengan yang bodoh!


"Apa ada yang salah?" tanya Bella dengan alis mengerut.


Pertanyaan Bella bisa menyadarkan Marco.


"Tidak ada. Kenapa?" Marco balik bertanya, dengan menahan diri agar tetap terlihat tenang.


"Wajahmu pucat! Apa kamu sakit?" tanya Bella, sambil menyentuh dahi Marco, dengan punggung tangannya.


"Oh... Perutku terasa sedikit kurang nyaman..." jawab Marco beralasan.

__ADS_1


"Sedikit?" tanya Bella.


"Iya. Hanya sedikit saja, mungkin karena kopi yang aku minum tadi siang," jawab Marco.


"Benar tidak apa-apa?" tanya Bella lagi, seolah-olah ingin memastikan.


"Iya. Aku tidak apa-apa," jawab Marco.


"Oh... Oke! Aku bisa lanjutkan gambarnya? Sedikit lagi selesai!" kata Bella.


"Iya," jawab Marco.


Bella kemudian melanjutkan menyapukan kuas kecil diwajah Marco.


Sesekali, Bella meniup cat yang ada diwajah Marco dengan jarak yang sangat dekat.


Muncul rasa tegang yang berlebihan, menjadi-jadi dan mengacaukan semua kinerja saraf, yang menghubungkan semua jaringan otaknya.


Marco kehilangan kendali.


"Aku pulang dulu!" kata Marco, sambil berdiri, lalu berjalan pergi meninggalkan Bella yang tampak kebingungan melihatnya.


Tergesa-gesa Marco melangkahkan kakinya dengan lebar, agar bisa cepat mencapai mobilnya yang terparkir.


Memang lebih baik, kalau Marco pulang sekarang.


Setelah mesin mobilnya menyala, dan gigi persneling sudah dimasukkan, setir diputarnya dengan cepat untuk berbalik arah dijalanan.


Marco memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Segelas air yang diambil langsung dari keran, diteguknya sampai habis, dan hampir membanting gelas kosongnya ke lantai.


Marco benar-benar merasa frustrasi.


Hanya karena beberapa menit disungai tadi, mengacaukan harinya, sampai malam ini.


Entah apa yang akan dipikirkan Bella tentangnya.


Pasti gelagat Marco dibalai kota tadi, akan membuatnya semakin terlihat aneh dimata orang-orang, terlebih-lebih lagi dimata Bella.


Padahal, Bella bisa jadi temannya, meskipun Marco memang tidak akan menceritakan sesuatu tentang dirinya, tentang apa yang bisa dia lakukan.


Paling tidak, mereka bisa bicara tentang hal lain, entah tentang teman-teman mereka, atau hanya sekedar bersenda gurau.


Rasanya, Marco bisa menetapkan batasan sebagai sekedar teman, seperti masa-masa mereka berdua masih kecil, kalau bukan karena pengaruh pikiran gila, yang ingin menyentuh setiap bagian tubuh wanita itu.


Kalau seperti tadi, Marco benar-benar melewatkan kesempatan untuk mendapatkan teman bicara, dan mengurangi rasa kesepiannya.


Sudah terjadi, ya sudah.


Marco menyalakan api perapian, lalu duduk didepan situ untuk menghangatkan tubuhnya, setelah mencuci bekas cat dari wajahnya.

__ADS_1


Besok, sepulangnya dari hutan, Marco berencana untuk mencoba mengunjungi suster Martha, yang sekarang dirawat dibiara dekat panti asuhan.


Mana tahu, untuk kesekian kalinya dia datang kesana selama beberapa tahun belakangan, lalu Marco bisa diijinkan untuk menemui suster Martha.


Kalau besok Marco masih belum bisa menemuinya pun, dia tidak akan menyerah begitu saja, selama Marco dan suster Martha masih bernyawa, dia akan tetap mencoba untuk menemuinya.


Api kayu yang terbakar menghasilkan hawa panas yang cukup untuk menghangatkan satu ruangan dirumahnya itu.


Jaket yang dipakai Marco tadi, dilepaskannya dan diletakkan di atas kursi.


Marco masih merasa malas untuk pergi ke kamarnya dan berganti pakaian.


Dengan tetap memakai kemeja dan celana jeans panjangnya, Marco menikmati kesendiriannya didepan api perapian.


Cukup lama rasanya, Marco duduk memandangi nyala api didepannya, saat suara ketukan dipintu depan rumah, membuatnya berdiri dari lantai.


Benar-benar tidak biasa, kalau ada orang yang datang mengunjunginya disitu.


Marco berjalan kepintu, dan membuka pintu yang terlanjur dikuncinya tadi.


Bella yang tersenyum manis, sedang berdiri didepan pintu, sambil memegang loyang bekas Pai labu milik Marco tadi.


Sedangkan disebelah tangannya, lagi sedang membawa bungkusan, yang entah apa isinya.


Marco yang sudah jauh lebih tenang, kemudian membukakan pintu untuk Bella.


"Silahkan masuk!" ajak Marco, sambil bergeser kesamping, agar Bella bisa melewati pintu rumahnya.


"Apa perutmu sudah lebih baik?" tanya Bella, yang berjalan pelan sampai ke dekat perapian.


"Iya," jawab Marco.


Bella meletakkan loyang Pai yang sudah bersih kedalam kabinet lemari dapur Marco, lalu membuka bungkusan yang dibawanya diatas meja.


"Kamu tadi tidak sempat mencicipi apa-apa," kata Bella.


"Ini! Dimakan bersamaku!" lanjut Bella.


Marco yang sejak tadi berdiri memandangi gerak-gerik Bella, masih tetap berdiri terdiam ditempatnya.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Bella.


Marco kemudian berjalan mendekat ke meja, dimana Bella sedang berdiri.


"Hmmm... Tidak. Silahkan duduk!" kata Marco, lalu duduk disalah satu kursi yang berhadapan dengan tempat Bella duduk, setelah dipersilahkan Marco.


"Kenapa kamu perlu membawa makanan kesini? Bukannya perayaan disana masih berlangsung?" tanya Marco heran.


"Hmmm... Aku hanya merasa bosan," jawab Bella.


"Kupikir, kalau aku mengobrol denganmu, mungkin ada sesuatu yang lebih menarik yang bisa aku dengarkan," lanjut Bella, lalu tersenyum.

__ADS_1


Marco tersenyum lebar.


Berarti, belum hilang kesempatan bagi Marco untuk mendapatkan teman, meski hanya satu orang.


__ADS_2