
"Kelihatannya, aku benar-benar mengacau kali ini, ya?" tanya Marco, sambil memeluk Bella yang duduk diatas pangkuannya.
"Apa maksudmu?" Bella balik bertanya, dan terdengar seperti orang yang sedang bingung.
"Aku membuatmu sedih, hingga kamu menangis sampai matamu bengkak..." jawab Marco.
Bella membenamkan wajahnya didada Marco, tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku tidak tahan melihatmu terluka seperti itu," ujar Bella setengah berbisik, setelah sempat terdiam untuk beberapa waktu lamanya.
Dipintu depan terlihat Seba dan Adaline sedang berdiri disana, dan hanya memandangi Bella dan Marco tanpa mengeluarkan suara apa-apa.
Seba dan Adaline tampaknya mengerti, kalau Marco sedang tidak ingin mereka berbicara apapun tentang pertarungannya tadi, dan tidak lama kemudian, Seba dan Adaline terlihat berjalan masuk lagi kedalam rumah.
Untuk beberapa waktu lamanya, baik Marco dan Bella tidak berbicara tentang apa-apa lagi, dan hanya terdiam disana sambil tetap berpelukan.
Hingga akhirnya Beta terlihat kembali kerumah, dan berjalan pelan-pelan seolah-olah tidak mau mengganggu Bella dengan Marco.
Beta hanya menggelengkan kepalanya, sambil bertatapan mata dengan Marco, dan Marco mengerti maksud dari tanda yang dilakukan Beta.
Berarti, untuk sementara ini tidak ada lagi shapeshifter musuh, yang berada disekitar wilayah itu.
Beta terlihat berjalan melewati halaman samping rumah Marco, dan dugaan Marco, Beta mungkin pergi ke halaman belakang rumahnya.
Marco sebenarnya ingin berbicara dengan Beta sekarang ini, namun dia masih belum mau melepaskan Bella yang kemungkinan besar masih shock berat, karena melihat keadaan Marco tadi.
Kalau Marco bisa berterus-terang, Marco bukannya mau bertingkah sok jagoan dengan melawan shapeshifter musuh sendirian.
Marco benar-benar hanya terbawa dengan instingnya, dan tidak sempat berpikir panjang.
Membayangkan sepersekian menit pertarungannya tadi saja, Marco masih tidak bisa percaya kalau dia bisa seperti itu.
Cipratan darah yang terlihat seperti keran air penyiram tanaman, potongan daging segar yang terkoyak dan berhamburan, sama sekali tidak membuat Marco merasa ngeri.
Bahkan yang sudah mati pun, masih tidak bisa memuaskan Marco, untuk menghancurkan lawannya itu sampai tidak berbentuk.
Yang anehnya, ketika Marco mengingat hal itu, meskipun dia tahu kalau lawannya tadi juga manusia, bukan membuatnya merasa sedih ataupun menyesal, melainkan tetap merasa geram, dan seakan-akan dia masih ingin melakukannya lagi.
Padahal Marco tidak pernah bersikap kasar, apalagi menyakiti hingga seperti itu, kepada siapa saja mahluk hidup yang pernah dia temui.
__ADS_1
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Kamu lelah? Mau istirahat? Aku sudah merasa lebih baik sekarang," kata Bella, dan tampak akan beranjak turun dari pangkuan Marco.
"Tidak. Tapi, apa ada yang mau kamu lakukan?" tanya Marco, sambil mengusap salah satu sisi wajah Bella.
"Aku mau melihat pekerjaan seba dan Adaline," jawab Bella.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi ke belakang rumah, ya? Aku mau mengobrol dengan Beta, Fint dan Fent," ujar Marco.
"Iya," jawab Bella, lalu mencium Marco sebelum dia benar-benar turun dari pangkuan Marco, dan berjalan kepintu rumah.
"Jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatku khawatir lagi, ya?!" ujar Bella yang tiba-tiba berbalik.
"Iya, sayang..." jawab Marco, sambil tersenyum, dan melihat Bella yang lanjut berjalan masuk kedalam rumah.
Ketika Marco hampir tiba di tempat pohon maple berdiri, disana sudah ada Beta, Fint dan Fent, begitu juga Seba.
Rasanya, Marco tidak melihat Seba keluar dari pintu depan.
Apa mungkin saja wanita itu lewat dari pintu belakang rumah?
Setahu Marco, pintu disitu masih rusak, dan tidak bisa dibuka tutup seenaknya.
Marco hanya menutup pintu, dengan memakukan beberapa palang papan kayu, agar pintu itu tidak bisa terbuka lagi.
Semakin Marco mendekat ke pohon maple, Beta dan orang-orang yang lain dibawah pohon itu, tampak seperti sedang berbincang-bincang.
"Kalau aku tidak salah lihat, sepertinya Alpha tadi terluka. Tapi, dia seperti biasa-biasa saja, saat memangku pasangannya. Apa dia tidak kesakitan?" kata Beta.
Marco berhenti berjalan, dan mendengarkan baik-baik apa yang mereka bicarakan.
Beta dan yang lainnya, tampaknya tidak menyadari kedatangan Marco disitu, karena posisi duduk mereka yang membelakangi Marco.
"Meskipun aku adalah pengelana, dan seorang Beta, tapi baru kali ini aku melihat shapeshifter yang bisa membunuh shapeshifter lain se-brutal itu...
Dan masih bisa dengan tenang, seolah-olah tidak terganggu sama sekali, Alpha mengumpulkan sisa-sisa tubuh korbannya," kata Beta.
Baik Beta dan anggota keluarga Sums, lalu terdiam untuk beberapa saat, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin saja sedang memikirkan Marco, dan menilai-nilai bagaimana Marco sebenarnya.
__ADS_1
"Aku merasa itu masih dalam batas wajar...
Alpha sedang melindungi pasangan, dan calon keturunannya. Tentu saja, dia akan bersikap lebih agresif, jika dibandingkan kalau dia hanya melindungi dirinya sendiri," kata Seba.
"Hmmm... Mungkin saja begitu adanya...
Tapi, kalau kalian melihatnya dengan mata kepala kalian sendiri, kalian akan mengerti kengerian yang dilakukan Alpha tadi, kepada shapeshifter pengikut Alpha pengganti...
Aku sama sekali tidak menyangka, Alpha yang kelihatannya penyayang, ternyata bisa memiliki sisi berlawanan seperti itu," kata Beta.
"Apa masih ada yang mau kalian bicarakan dibelakangku?" tanya Marco dengan nada sinis.
Kelihatannya, perkataan Marco cukup membuat orang-orang disitu terkejut, hingga semuanya berbalik dengan serentak dan melihat Marco.
"Kami tidak menceritakan kejelekanmu..." kata Beta, tampak membela diri.
"Lalu, apa?" tanya Marco, kemudian ikut duduk disitu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Aku hanya merasa, kalau kamu bukan shapeshifter Alpha, yang bisa dianggap remeh oleh Alpha pengganti," jawab Beta.
"Hmmm... Begitu, ya?!" ujar Marco datar.
"Apa kamu sudah memeriksa baik-baik daerah sekitar sini?" tanya Marco.
"Iya. Aku sudah berkeliling untuk jarak beberapa mil, dan tidak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan shapeshifter pengikut Alpha pengganti," jawab Beta.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Beta yang terdengar berhati-hati.
"Aku terluka dipunggungku, tapi sudah diobati tadi di rumah sakit," jawab Marco.
"Aku benar-benar menyesal, karena lambat menyadari gerak-gerikmu. Hingga jadinya, aku terlambat datang untuk membantumu," ujar Beta pelan.
"Tidak perlu dipikirkan, sudah terlanjur terjadi... Aku tidak apa-apa. Hanya saja, karena melihat luka ku tadi, Bella jadi sangat khawatir...
Dengan begitu keadaannya, aku jadi cemas, kalau-kalau kekhawatiran Bella sampai mengganggu kehamilannya," kata Marco.
Marco kemudian teringat sesuatu, ketika melihat Seba.
"Bagaimana kamu kesini tadi? Aku tidak melihatmu keluar dari pintu depan," tanya Marco kepada Seba.
__ADS_1
"Ooh... Aku keluar lewat pintu belakang... Pintunya sudah diperbaiki Fint dan Fent," jawab Seba.
"Kalau di izinkan, kami yang akan meneruskan renovasi rumah Alpha. Tinggal beritahu saja, apa yang harus kami lakukan," kata salah satu dari saudara laki-laki Adaline.