SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 35


__ADS_3

Menarik, benar-benar menarik perhatian Marco.


Pemukiman mewah, manusia biasa yang bisa berkunjung kesitu, kastil yang dijaga dengan ketat, semua hal itu benar-benar mengejutkan bagi Marco.


Tidak ada satupun yang dia lihat disana, yang pernah terlintas dalam benaknya.


Kendaraan bermotor yang berlalu-lalang, sejak tadi yang bisa dilihat Marco, adalah kendaraan yang berharga mahal, dan hanya sesekali terlihat kendaraan besar, yang mungkin membawa barang untuk diperdagangkan.


Marco melihat anggota keluarga Sums yang masih berjalan kaki bersamanya, menyusuri pinggiran jalan aspal ditengah panasnya terik matahari, benar-benar membuat Marco merasa sangat iba.


Pantas saja kalau anak-anak keluarga Sums terlihat kecewa, dengan kondisi kehidupan mereka sekarang.


Anggota keluarga Sums, memang terlihat seperti warga buangan yang sangat miskin, jika dibandingkan dengan warga shapesifter yang lain.


Apalagi ketika mereka berjalan memasuki lokasi tempat orang-orang berkumpul untuk berjual-beli.


Penampilan anggota keluarga Sums yang sederhana, tampak kontras mencolok jika dibandingkan dengan orang-orang yang lain, yang berpenampilan mewah, dengan pakaian mahal, lengkap dengan perhiasan.


Tidak jarang, Marco menangkap basah pandangan orang yang melihat keluarga Sums, dengan tatapan meremehkan, dan seolah-olah jijik melihat keberadaan keluarga Sums, yang berada diantara mereka disitu.


Keluarga Sums, menghentikan perjalanan mereka di salah satu sela bangunan yang kosong.


Mereka kemudian menggelar barang dagangan yang dibawa dalam gerobak tadi, dengan beralaskan plastik besar dan tebal diatas tanah berumput dipinggir jalan, dimana orang-orang berlalu-lalang.


"Bagaimana warga disini bisa memiliki kemewahan seperti itu?" tanya Marco, setengah berbisik kepada Adaline.


"Setiap generasi shapeshifter, selain kaum pelarian, diberikan ijin satu kali, untuk mengambil permata di salah satu titik pertambangan," jawab Seba, yang rupanya masih bisa mendengar perkataan Marco.


"Dengan bermodalkan permata, mereka bisa melakukan bisnis, seperti manusia biasa. Sehingga mereka bisa semakin kaya, dan bisa menikmati hidup seperti manusia biasa yang ber-uang," lanjut Seba.


"Iya, memang benar begitu. Tapi, karena itu juga, kekuatan mereka sebagai shapeshifter, semakin berkurang..." celetuk Flints.


"Maksudnya, bagaimana?" tanya Marco.


Flints terlihat menarik nafas panjang.


"Mereka masih shapeshifter, tapi hanya bisa berganti bentuk, sedangkan kekuatan mereka untuk bertarung semakin lama, semakin menghilang," jawab Flints.


"Semuanya karena Alpha yang baru..." sela Seba.


Marco sama sekali tidak mengerti apa hubungannya semua itu dengan Alpha, dan hanya terdiam sambil melihat Seba.

__ADS_1


Seba tampaknya menyadari tatapan Marco yang sedang meminta penjelasan darinya.


"Dugaan saya... Hanya dugaan... Kemewahan yang warga nikmati, membuat mereka tidak sering melatih kekuatan mereka saat berubah bentuk...


Dan bayangkan saja, selama belasan tahun tidak berlatih, apa mereka masih kuat untuk bertarung? Apalagi untuk menentang Alpha," kata Seba.


"Bukannya Alpha biasanya tidak bisa ditentang?" tanya Marco.


"Kalau Alpha yang sebenarnya, memang tidak ada yang bisa menentangnya. Tapi, yang sekarang memimpin bukan Alpha, hanya sekedar pengganti sementara. Sehingga kepemimpinannya masih bisa dilawan semua kaum shapeshifter," jawab Seba.


"Karena itu juga Alpha membuat aturan-aturan yang aneh, agar kaum pelarian tidak banyak berkutik, dan lebih memilih untuk pergi, atau tetap tinggal ditempat mereka bersembunyi selama ini...


Padahal, kalau saja semua kaum pelarian kembali bersama-sama kesini, Alpha yang sekarang bisa digulingkan," lanjut Seba.


"Saya tidak menolak gaya hidup yang membaur dan bertingkah seperti manusia biasa. Yang saya tidak terima, karena kaum pelarian yang terlalu direndahkan oleh Alpha," lanjut Seba lagi.


Tidak berapa lama, ada beberapa orang menghampiri mereka disitu, dan tampak melihat-lihat jagung kering yang dibawa oleh keluarga Sums.


Setelah Seba dan Flints bernegosiasi dengan orang-orang itu untuk beberapa waktu lamanya, tampaknya sudah ada kesepakatan.


Orang-orang itu membeli jagung-jagung dagangan keluarga Sums.


"Kalian bisa berjalan-jalan... Saya dan Flints yang akan mengantar jagung-jagung ini," kata Seba.


Fint dan Fent lalu berjalan-jalan, dengan arah yang berbeda dari Adaline dan Marco.


"Ada yang mau kamu beli?" tanya Adaline.


"Hmmm... Tidak ada. Apalagi aku tidak membawa uang," kata Marco.


"Aku hanya mau melihat-lihat saja," lanjut Marco.


"Kalau ada yang mau kamu beli, katakan saja. Kami semua sudah diberi uang untuk berbelanja," kata Adaline.


"Hmmm... Tidak perlu. Beli saja keperluanmu," kata Marco.


Marco dan Adaline lalu berjalan-jalan disekitar situ, dimana banyak pertokoan yang menjual pakaian, kebutuhan sehari-hari, sampai ke perhiasan, dan benda remeh-temeh yang lain.


"Apa kamu bisa membedakan yang mana dari mereka, yang adalah manusia biasa?" tanya Marco.


"Tidak. Sekarang liontin shapeshifter, sudah banyak diperjual belikan. Jadi, ada-ada saja manusia biasa yang memakainya," jawab Adaline.

__ADS_1


"Maksudmu liontin ini?" tanya Marco sambil menyentuh kalung dilehernya, dan menunjukkannya kepada Adaline.


"Iya," jawab Adaline.


"Yang berbeda hanyalah di ukiran bingkainya saja. Dan tidak mungkin kamu akan menatap kearah dada seseorang, bukan?" lanjut Adaline, lalu tertawa kecil.


Pantas saja, kalau ada liontin yang mirip dengan miliknya, yang dilihat Marco hanya dijual di pasar loak, dan garage sale waktu itu.


Tempat itu mirip dengan pusat pertokoan yang ada dikota-kota besar.


Bahkan pusat perdagangannya disitu, barang dagangannya masih lebih lengkap dibandingkan dengan yang ada dikota Bridget.


Rasanya, memang tidak ada satupun manusia biasa, yang akan menduga kalau tempat itu, adalah tempat berkumpulnya manusia-manusia yang bisa berubah bentuk.


Setelah beberapa waktu mereka berjalan, Adaline tidak juga memperlihatkan tanda-tanda kalau ada yang ingin dibelinya.


"Apa kamu tidak akan membeli sesuatu?" tanya Marco.


"Tidak. Uang yang diberikan orang tuaku biasanya lebih banyak yang aku simpan, dari pada membuang-buangnya, untuk membeli yang tidak terlalu aku butuhkan," jawab Adaline.


"Bukan hanya aku, Fint dan Fent juga biasanya begitu. Kami hanya sekadar berjalan-jalan memuaskan mata, untuk melihat-lihat barang-barang yang tidak ada dirumah kami," lanjut Adaline.


"Selain menanam jagung, apa kalian tidak mencoba untuk beternak?" tanya Marco.


"Hey! Beternak katamu?" tanya Adaline dengan alisnya yang mengerut.


"Iya. Aku beternak dirumahku, dan hasilnya jauh lebih banyak dan stabil jika dibandingkan dengan tanaman jagungku," kata Marco.


"Kamu memelihara hewan ternak? Apa kamu serius mengatakannya?" tanya Adaline, yang kini makin terlihat seperti orang kebingungan.


"Iya. Aku memelihara, sapi, ayam, dan sebulan belakangan, aku menambah beberapa ekor biri-biri kedalam peternakanku," jawab Marco.


"Apa ada yang salah?" tanya Marco.


"Bagaimana kamu bisa memelihara hewan ternak, kalau hewan biasa selalu ketakutan saat melihat kita?" Adaline bertanya lagi, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Marco.


"Tidak. Mereka... Maksudku ayam-ayamku, hanya takut kalau aku berubah menjadi seekor elang," kata Marco.


"Sedangkan kalau aku berbentuk manusia, mereka biasa saja," lanjut Marco.


Mata Adaline terlihat membesar, tampak seolah-olah sangat terkejut dengan cerita Marco.

__ADS_1


__ADS_2