
Kedatangan Bella saat ini, menjadi sedikit penghibur lara yang dirasakan Marco.
Sambil menikmati makanannya bersama-sama, sesekali mereka berdua menertawakan kekonyolan, yang mereka lakukan dimasa-masa yang telah berlalu.
"Apa kamu masih ingat, ketika aku mencium pipimu didepan Jack?" tanya Bella.
Marco teringat dengan jelas, kejadian diwaktu itu.
Rasa malu dan senang yang bercampur aduk, membuat Marco kecil tersipu-sipu.
Tapi malam ini, Marco berpura-pura kalau dia harus berpikir keras, agar bisa mengingatnya.
"Hmmm... Kita sedang berada dimana, ketika kamu mencium pipiku?" tanya Marco.
"Kamu melupakannya? Padahal, waktu itu aku memberimu bayaran permen loli, agar kamu berpura-pura senang didepan Jack," kata Bella, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh... Iya. Aku mengingatnya sekarang," kata Marco, tetap dengan kepura-puraannya.
Bella menyatukan kedua tangannya yang dijadikan sanggahan dagunya, dengan siku yang bertumpu diatas meja.
"Sayang sekali...! Kamu berakting dengan sangat baik, tapi Jack tetap tidak perduli denganku," kata Bella, dengan raut wajah kecewa.
"Kamu masih tertarik dengannya?" tanya Marco penasaran.
"Iya," jawab Bella.
"Sebenarnya, aku sempat melihatnya beberapa kali, waktu aku kuliah. Tapi masih seperti dulu. Jack seolah-olah menganggapku tidak pernah ada," lanjut Bella, setelah menarik nafas panjang dan dalam.
"Bagaimana penampilan Jack sekarang?" tanya Marco.
"Hebat! Semakin hebat!" jawab Bella, yang tampak kembali bersemangat.
"Ketampanannya berlipat-lipat. Banyak teman kuliahku yang jatuh hati kepadanya, meskipun Jack lebih sering terlihat memasang wajah dingin," sambung Bella.
Bella kemudian menurunkan tangannya, lalu memegang pinggir meja dengan kedua telapak tangannya.
"Aku harus pulang sekarang!" kata Bella, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, iya! Pai buatanmu enak. Seingatku, rasanya mirip dengan buatan Mommy-mu. Sekali-sekali, apa kamu mau membuatkannya lagi untukku?" tanya Bella.
"Bisa saja. Saat aku sedang tidak banyak pekerjaan, aku akan membuatkan Pai itu untukmu," jawab Marco.
"Tapi, jangan membayarnya hanya dengan permen! Itu merugikanku!" sambung Marco bercanda.
"Tenang saja. Aku akan membayar dengan harga yang pantas," kata Bella.
Mereka kemudian tertawa bersama, lalu ditemani Marco, Bella berjalan menuju pintu keluar dari rumah Marco.
Mereka berpelukan sebentar, sebelum Bella melewati pintu, dan melambaikan tangannya kearah Marco, sambil berjalan menuruni tangga.
__ADS_1
Bella tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat Marco, yang masih menunggu didekat pintu.
"Kapan-kapan, aku bisa kesini lagi?" tanya Bella.
"Iya!" jawab Marco buru-buru.
"Oke! Bye...!" kata Bella.
Marco masih memandangi Bella yang memasuki mobilnya, dan berlalu pergi dari halaman rumah Marco, sampai suara dan cahaya lampu kendaraan Bella itu, menghilang dikegelapan malam.
Marco menutup pintu, dan menguncinya dengan hati yang cukup senang.
Bella yang masih menganggap Marco sebagai temannya, membuat Marco bersemangat.
Marco berganti pakaiannya didalam kamarnya, lalu mengambil matrasnya, untuk tidur didekat perapian.
Malam ini Marco harus tidur dengan nyenyak, agar tidak kelihatan pucat saat akan mengunjungi suster Martha.
***
Masih seperti biasanya, Marco tetap tidak mengenal kata 'pulas'.
Seakan-akan tidak cukup dengan satu mimpi aneh, yang mengganggu tidurnya setiap malam, bertambah satu lagi mimpi yang semakin membingungkan bagi Marco.
Berlari tanpa henti mengejar sesuatu, dan entah apa yang dikejarnya.
Pagi itu, Marco terbangun dengan kelelahan.
Selimut yang dia pakai, sudah terlempar jauh dari tempatnya tidur.
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hanya dengan sekedar mengibas-ngibaskan sebisanya, Marco memulai kembali dengan rutinitas pagi, mengurus hewan ternak dikandang.
Semua sudah beres.
Hasil ternak pun sudah diantar ke pedagang bahan makanan segar.
Sisa makanan yang dibawa Bella semalam, akan menjadi makanannya sebelum berangkat ke hutan.
Dengan makanan dari dalam lemari es yang dingin, dan dipanaskannya sebentar didalam oven, Marco mengisi perutnya saat itu.
Kopi tanpa gula secangkir besar, tidak akan ketinggalan dalam menunya.
Marco menikmati makanannya, sambil melihat keluar jendela.
Burung pipit yang bermain didalam ladang jagungnya, menjadi pemandangan yang bisa ditonton Marco.
Setelah menghabiskan makanannya, Marco mengemudi mobil tuanya mengarah ke hutan.
__ADS_1
Hutan lindung, yang dijaga pemerintah kota, agar menjadi paru-paru kota yang menghasilkan oksigen.
Pepohonan didalam hutan itu akan bertahan, selama aturan kota masih menetapkan, kalau tempat itu dilindungi.
Malam tadi tampaknya di area hutan itu berkabut cukup tebal, sampai-sampai embun yang tersisa masih bisa membuat kaki celana Marco menjadi basah, saat melalui semak yang setinggi pahanya.
Titik biasa tempat Marco mengubah bentuk tubuhnya, terlihat sama seperti biasanya, meski dedaunan dilantai hutan, terasa lebih basah dengan sedikit bercampur lumpur.
Bertelanjang bulat, pakaiannya sudah dia simpan didalam tas ranselnya, Marco berkonsentrasi agar bisa secepatnya bisa menjadi seekor elang.
Dengan mengepakkan sayapnya yang lebar, Marco terbang naik melewati payung hutan, dan bergerak bebas di udara.
Kali ini, sehaus atau selapar apapun dia, Marco harus ekstra berhati-hati.
Mungkin saja, karena sekarang musim libur, sehingga seperti kemarin, ada orang-orang yang tiba-tiba ingin menghabiskan waktunya, dengan berjalan-jalan didalam hutan.
Marco mengepakkan sayapnya lebih kencang, dan terbang sampai menembus awan.
Diatas situ, tidak ada yang bisa memperhatikan gerak-geriknya.
Awan yang tebal, bagaikan lantai kapas yang lembut dan basah.
Benar-benar menyenangkan, saat merasakan kalau diatas situ hanya untuk dirinya sendiri.
Dengan ketinggian seperti Marco sekarang, tidak ada angin yang berhembus, dan Marco harus tetap mengepakkan sayapnya agar bisa tetap terbang melayang.
Akhirnya Marco merasa lelah, dan perlahan turun dan mencari area terbuka yang menghasilkan hawa panas, yang membuat udaranya terdorong keatas.
Dengan begitu, Marco hanya perlu membentangkan sayap selebar-lebarnya, dan dia akan tetap melayang, tanpa harus khawatir terjatuh ketanah secara tiba-tiba.
Seandainya saja, seluruh manusia dibumi itu sama seperti Marco, maka bumi akan jadi dunia yang menyenangkan.
Marco tidak akan dirongrong dengan rasa takut, kalau-kalau dia mungkin akan ditangkap, dan bisa dengan bebas mengubah wujudnya menjadi hewan apa saja, tanpa dibilang sebagai 'orang aneh'.
Marco kembali mengarah keatas hutan, sambil mengawasi semua gerakan yang ada didasar hutan.
Air terjun dengan sungainya yang jernih, terlihat beberapa orang disana.
Kurang lebih sepuluh orang, tampak asyik berkumpul didekat sungai, meski ada beberapa orang yang terlihat sedang berenang.
Kelihatannya, mereka bukan hanya ingin mandi dan berjalan-jalan disekitar situ.
Ada beberapa tenda yang didirikan didekat sungai, dengan asap yang mengepul tinggi dari sela tenda-tenda itu.
Orang-orang itu sedang berkemah.
Marco terbang rendah, dan tetap menjaga jarak terbangnya dengan orang-orang yang ada dibawah.
Sedikit rasa iri timbul dihati Marco.
__ADS_1
Kaula muda-mudi dibawah sana, terlihat senang berkumpul dengan teman-teman mereka.
Kapan Marco bisa merasakan, bergaul dengan orang lain sebebas itu?