
Suster Martha meminta suster Maria, agar meninggalkannya untuk berbicara empat mata dengan Marco, dan mewanti-wanti agar suster Maria menyimpan rahasia tentang keadaannya sekarang.
"Tolong, jangan menceritakan kepada yang lain kalau saya sudah sadar! Setelah saya selesai berbicara dengan Marco, maka kamu bisa mengatakan kepada yang lain, kalau saya sudah bangun dari tidur panjang," kata Suter Martha, kepada suster Maria.
"Saya hanya ingin agar Marco tidak merasa malu, saat saya menceritakan silsilah keluarganya!"
Begitu kata suster Martha, demi meyakinkan suster Maria, agar mau meninggalkannya berdua saja bersama Marco.
Suster Maria mengangguk setuju, lalu berjalan keluar dari kamar itu, dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Kamu datang kesini pasti ingin tahu, dan ingin mendapatkan jawaban juga penjelasan, bagaimana saya menemukanmu bukan?" tanya suster Martha, membuka pembicaraannya dengan Marco.
"Iya," jawab Marco.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi denganmu...!" kata suster Martha.
"Iya," jawab Marco lagi.
Suster Martha menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya cepat dan kasar, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Saya sempat mengira, kalau kamu akan tumbuh menjadi manusia biasa..." kata suster Martha.
"Tapi sekarang, saya yakin kalau kamu adalah salah satu dari shapeshifter..." lanjut suster Martha.
Marco merasa canggung setelah mendengar perkataan suster Martha, dan dengan keraguan untuk berterus terang, membuat Marco hanya bisa terdiam.
"Kamu tidak perlu menyembunyikannya dari saya. Karena, hanya orang dari kaum itu, yang bisa melepaskan saya dari kutukan...
Dan bukan saya yang harus kamu khawatirkan. Melainkan, salah seorang dari kaum mu sendiri," kata suster Martha.
Marco semakin bingung dengan perkataan suster Martha, dan membuatnya semakin penasaran, dengan apa saja yang diketahui suster Martha.
"Tolong, ceritakan semua yang suster tahu tentang saya yang sebenarnya...!" kata Marco pelan.
Suster Martha tidak langsung menceritakan apa-apa, justru terlihat seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Suster Martha menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Saya tidak menemukanmu tanpa sengaja...
Seseorang, atau sesuatu yang mengantar, dan memberikanmu kepada saya malam itu, ketika saya sedang berjalan kembali ke bangunan panti asuhan, setelah selesai misa ditempat ini...
__ADS_1
Seseorang dengan wujud serigala abu-abu, dengan mata berwana keemasan, menemuiku sambil menggigit pegangan keranjang berisi seorang bayi..." kata suster Martha.
"Meskipun saya merasa ketakutan saat melihat serigala besar didepanku, tapi karena ada bayi manusia yang bisa saya lihat, saya memberanikan diri, untuk mengambil keranjang itu dari mulutnya...
Tidak berapa lama, tubuhnya lalu berubah menjadi seorang manusia. Laki-laki dewasa, tanpa mengenakan apa-apa...
Dengan selimut yang diambilnya dari keranjang berisikan kamu yang masih bayi, dia menutupi sebagian tubuhnya saat itu...
Dia tidak menyebutkan siapa namanya, dan hanya berkata kalau dia adalah Alpha..." lanjut suster Martha.
Suster Martha tampak berusaha untuk menjelaskan dengan terperinci kejadian malam itu saat dia menemukan Marco.
Dan Marco mendengarkan cerita suster Martha, dengan bersungguh-sungguh.
"Dia menanyakan nama saya, kemudian berkata kalau keesokkan harinya, dia akan datang lagi untuk melihatmu, sekalian menjelaskan segala sesuatunya...
Sebelum dia kembali menjadi serigala abu-abu, dan berlari menjauh, sampai menghilang dari penglihatan saya..." kata suster Martha.
"Dia tidak berbohong...
Keesokkan harinya, ada seseorang datang, dan mencari-cari saya didalam panti asuhan...
Kami berbicara... Maksud saya, dia bercerita cukup lama, dan saya mendengarkan setiap detail dari kisahnya, sambil dia menggendongmu didalam pelukannya," lanjut suster Martha.
Ketika kamu lahir, dia lalu mencoba, apa kamu bisa mengikutinya untuk berubah wujud. Tapi, kamu tetap bertahan dengan wujud manusia...
Sedangkan dalam cerita leluhur mereka, anak dari Alpha ke sembilan puluh sembilan, yang adalah dirinya sendiri, akan menjadi Alpha tertangguh diantara kaumnya..." kata suster Martha.
"Ketika dia melihatmu tidak bisa berubah wujud,
dia merasa khawatir, kalau-kalau bukan kamu yang dimaksud leluhur mereka, karena tidak ada penjelasan tepatnya tentang cerita itu...
Apalagi, kamu lahir karena hubungannya dengan manusia biasa, dan bukan dari salah satu kaumnya...
Karena dia menyayangimu, dia tidak mau kalau kamu akan dengan mudahnya, dibunuh oleh saudara laki-lakinya, dan dia meminta bantuanku, untuk menyembunyikanmu...
Dia bahkan berpesan kepadaku, agar tidak memberitahu siapa-siapa dimana kamu berada nanti, meskipun dia sendiri yang datang bertanya," lanjut suster Martha.
Suster Martha lalu menggerakkan tangannya perlahan dan gemetaran, dan seakan-akan mencoba menggapai air minum diatas meja, didekat tempat tidurnya.
Marco berdiri dari tempat duduknya, lalu membantu suster Martha agar bisa minum.
__ADS_1
"Selama beberapa tahun, setelah kamu diadopsi keluarga Belmont, saya tidak pernah mendengar apa-apa dari keluarga itu...
Seakan-akan, kamu memang hanya tumbuh menjadi manusia biasa...
Hingga pada hari itu...
Tiba-tiba, seseorang yang memiliki wajah yang mirip dengan Daddy-mu, datang ke panti asuhan, dan bertanya tentangmu..." kata suster Martha.
Suster Martha kini, memperlihatkan raut ketakutan diwajahnya, dengan tubuhnya yang masih berbaring ditempat tidur, tampak gemetar hebat, dan mulutnya seakan terkunci rapat-rapat.
"Suster! Anda tidak apa-apa?" tanya Marco panik, sambil memegang tangan suster Martha, yang gemetar sampai berguncang.
"Saya panggilkan seseorang kesini, ya?" tanya Marco.
Marco hampir saja pergi dari sisi suster Martha, tapi tangan suster Martha memegang tangan Marco, seolah-olah menahan Marco agar tetap didalam kamar itu bersamanya.
Suster Martha memejamkan matanya, untuk beberapa saat, sampai tubuhnya berhenti gemetar, dan kembali tenang bahkan terlihat lemas.
"Tidak perlu memanggil siapa-siapa... Saya baik-baik saja..." kata suster Martha pelan.
"Saya hanya teringat rasa takut, waktu saya bertemu orang itu..." lanjut suster Martha.
"Apa suster benar-benar baik-baik saja?" tanya Marco memastikan.
Suster Martha mengangguk pelan.
"Iya. Saya baik-baik saja," jawab suster Martha.
"Tolong bantu saya untuk minum lagi!" pinta suster Martha.
Marco lalu mengangkat sedikit kepala suster Martha, dan memberikannya minum, sampai suster Martha mendorong pelan, gelas berisi air dari mulutnya.
"Saya rasa, dia yang menemuiku waktu itu, adalah saudara laki-laki Daddy-mu..." celetuk suster Martha.
Marco yang baru saja duduk kembali dikursinya, menatap suster Martha lekat-lekat.
"Dia berkata, kalau terjadi sesuatu ditempat mereka tinggal...
Dan dia menganggap, kalau itu ada hubungannya dengan anak, yang diduga ada dipanti asuhan kami," kata suster Martha, yang melanjutkan ceritanya.
"Saya berbohong sebisanya, kalau saya tidak tahu apa-apa tentang anak yang dia maksud. Tapi, entah mengapa dia tetap tidak mempercayai perkataan saya...
__ADS_1
Seolah-olah dia bisa membaca pikiran saya, atau bisa mengetahui ketakutan, yang saya rasakan saat itu..." kata suster Martha.
"Dia memintaku untuk mempertemukan dia denganmu secepatnya. Dan apabila saya menolak, maka dia akan membunuhku," lanjut suster Martha.