SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 86


__ADS_3

Beberapa saat kemudian setelah Nancy bicara, baik Beta, Gamma dan Delta, semuanya hanya terdiam.


"Kalau begitu, sebaiknya saya memperkenalkan diri saja..." kata Nancy.


"Nama saya Nancy Hawthorne. Saya adalah adik dari Daddy Alpha terdahulu. Saya hanya wanita tua yang merindukan semua anggota keluarga...


Dan ternyata di berikan kesempatan untuk bertemu dengan cucu yang sejak kelahirannya, saya hanya sempat melihatnya sebentar, sebelum dia dibawa pergi," lanjut Nancy.


"Maafkan ketidak-sopanan, kami!" celetuk Beta.


"Nama saya, Beta!" kata Beta memperkenalkan diri.


"Nama saya, Delta!"


"Nama saya, Gamma!"


Delta dan Gamma kemudian ikut memperkenalkan diri mereka.


"Sebuah kebetulan yang bagus!" kata Nancy.


"Sudah seharusnya kalian mengiringi Alpha...


Saya merasa bangga kepadamu Marco. Kamu bisa menganggap, dan memperlakukan bawahanmu seperti sahabat..." lanjut Nancy.


"Tidak ada yang perlu dipuji. Mereka memang bukan bawahanku," ujar Marco.


"Apa katamu?" tanya Nancy tampak ingin memastikan.


"Mereka bukan bawahanku. Mereka sama saja denganku," jawab Marco.


Nancy terlihat tertawa kecil.


"Coba kamu tanyakan kepada teman-temanmu ini. Apa hal yang biasa, kalau semua Alpha terdahulu bisa se-akrab kamu, dengan pendahulu mereka?!" ujar Nancy.


Marco melihat kearah Beta, Gamma dan Delta.


Ketiga shapeshifter itu tampak serempak menggelengkan kepala mereka.


Marco kembali melihat kearah Nancy.


"Sudah mengerti sekarang?" tanya Nancy.


Marco terdiam untuk beberapa saat.


"Kalau begitu, mulai sekarang harus di ubah cara berhubungan antara Alpha dengan mereka," ujar Marco.


"Hmmm... Terserah kamu, kalau kamu merasa itu lebih baik," kata Nancy.


"Bagaimana kabar orang tua kalian?" tanya Nancy.


"Selain menjadi tua, aku rasa mereka semua baik-baik saja," jawab Beta.


Nancy terlihat tertawa kecil.


"Karena Alpha yang bersahabat, kalian jadi bisa bicara sambil bercanda... Bagus...! Bagus!" ujar Nancy.


"Tapi, kalian tetap harus ingat tempat kalian!" lanjut Nancy tegas.


"Tentu saja, Ma'am!" jawab Beta, di ikuti dengan anggukan kepala dari Gamma dan Delta.

__ADS_1


"Silahkan diminum!" kata Nancy.


"Terimakasih, Ma'am!"


Beta, Gamma dan Delta, bersamaan mengucapkan terimakasih mereka, lalu mengambil cangkir teh, dan hampir bersamaan menyesap cairannya itu.


"Apa ada sesuatu yang membuat kalian sampai datang ke pemukiman utama ini?" tanya Nancy.


Gamma yang agak terlambat meminum tehnya, terlihat tersedak hingga sedikit terbatuk-batuk.


Nancy kemudian menatap mereka semua bergantian dengan raut wajah yang keras, dan seolah-olah ada yang membuatnya tidak merasa senang.


"Tidak ada apa-apa..." jawab Marco.


"Bella ingin melihat-lihat permata. Itu sebabnya aku mengajaknya kesini, karena aku melihat disini banyak batu permata yang indah dan langka," lanjut Marco.


"Lalu, mereka kemana saja?" tanya Nancy.


"Mereka tadi juga aku minta untuk melihat-lihat, kalau-kalau ada toko lain yang menjual permata yang berbeda," jawab Marco.


"Sebaiknya kalian lebih berhati-hati..." ujar Nancy.


"Disini memang tempat kalian yang sebenarnya, tapi bukan tempat yang aman untuk saat ini...


Apalagi, kalau kalian berniat melakukan sesuatu yang bodoh," lanjut Nancy datar.


Melihat gelagat Nancy, menurut Marco, Nancy kelihatannya mencurigai sesuatu.


"Apa mungkin Ma'am akan memberitahu kedatangan kami kepada Alpha pengganti?" tanya Marco hati-hati.


"Aku sudah bilang, jangan panggil aku, Madam!" ujar Nancy tegas.


Nancy terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sebaiknya biasakan dirimu memanggilku Grandma," ujar Nancy, tanpa memberikan kesempatan bagi Marco untuk bicara.


"Satu lagi! Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak menginginkan pertumpahan darah?!


Lalu untuk apa aku perlu memberitahu Alpha pengganti, tentang gerak-gerik anehmu dan pengikutmu?" lanjut Nancy.


"Maafkan aku, Grandma!" ujar Marco.


Nancy menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Siapa yang membuat rencana untuk memeriksa area kastil?" tanya Nancy.


Marco terbelalak, dan begitu juga mereka yang lain, yang tampaknya sama terkejutnya seperti Marco.


"Sudah bisa ku duga! Tapi, apa perlu kalian melakukan hal berbahaya itu?


Itu rencana yang lebih bodoh, dibandingkan dengan kalian mencurigaiku, karena khawatir kalau-kalau aku akan melaporkan tingkah kalian kepada Alpha pengganti," ujar Nancy.


"Lalu, apa Grandma bisa memberikan rencana yang lebih baik?" tanya Marco.


"Dasar berandal! Kamu mau mencobaiku?!" ujar Nancy, lalu tersenyum lebar.


Marco jadi salah tingkah karena mendengar perkataan Nancy.


"Kamu berencana menantang Alpha pengganti, bukan?" tanya Nancy.

__ADS_1


"Iya," jawab Marco sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu rasa sekarang ini kamu siap menghadapinya, bahkan membunuh Uncle-mu itu?" tanya Nancy lagi.


"Mungkin..." jawab Marco.


"Kamu terdengar ragu-ragu," ujar Nancy.


"Apa yang membuatmu merasa ragu?" tanya Nancy.


"Membunuhnya... Apa aku memang harus membunuhnya?" ujar Marco.


"Sayangnya, memang harus begitu, kalau kamu mau menantangnya," jawab Nancy.


Nada suara dan perkataan Nancy yang didengar Marco, seolah-olah ada opsi lain yang hendak dikatakan Nancy.


"Apa ada cara lain, Grandma?" tanya Marco pelan, berniat membujuk Nancy, agar bisa mengatakan apa yang dia sembunyikan.


"Kamu pintar memanfaatkan situasi!" ujar Nancy, seolah-olah dia mengetahui niat terselubung dari pertanyaan Marco.


"Kalau dia mengizinkanmu menggantikannya, maka kamu tidak perlu bertarung dengannya...


Kamu tidak perlu menantang, hingga harus membunuhnya," lanjut Nancy.


"Tapi, apa itu hal yang mungkin?" tanya Marco skeptis.


"Hmmm... Aku juga tidak bisa memastikan hal itu," jawab Nancy.


"Kecuali, Alpha pengganti mau membicarakan tentang hal itu baik-baik denganku...


Tapi, seperti yang aku bilang tadi, Alpha pengganti tidak mau terbuka, tentang apa yang dipikirkannya," lanjut Nancy.


Kali ini mereka semua yang ada ditempat itu terdiam, dan seolah-olah sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Sedikit didalam hati Marco, memang berharap kalau tidak perlu ada peperangan, hingga terjadi pertumpahan darah.


Tapi, bagaimana caranya, agar Alpha pengganti mau menyerahkan kepemimpinannya begitu saja kepada Marco?


"Grandma! Kamu bilang tadi, aku bisa ikut denganmu ke dalam kastil, untuk mengunjungi Mommy. Apa mungkin, aku sekalian bertemu dengan Alpha pengganti disana?" tanya Marco.


"Aku bisa memastikan kalau kamu bisa bertemu Mommy-mu, tapi tidak dengan Alpha pengganti," jawab Nancy.


"Mereka berdua berada dibagian kastil yang berbeda. Mommy-mu ada di bagian menara timur, sedangkan Alpha pengganti ada menara bagian barat...


Penjagaan di menara timur, lebih fokus untuk menjaga orang yang keluar dari sana. Sedangkan menara barat, itu kebalikannya," lanjut Nancy.


"Benar kata Nancy!" sela Gamma.


"Aku merasa aneh saat melihat penjagaan di bagian kastil itu. Rasanya, seolah-olah tidak mengizinkan siapapun keluar dari tempat itu dengan seenaknya...


Lebih mirip kalau bagian itu, adalah penjara yang disengaja untuk mengurung sesuatu, atau seseorang disana," lanjut Gamma.


"Jadi, itu yang membuatmu lama memeriksa tadi?" tanya Marco.


"Iya. Dan untuk memastikannya, aku sempat mencoba untuk memeriksa bagian kastil yang lain. Tapi, hanya di menara timur yang berbeda penjagaannya," jawab Gamma.


"Bagaimana dengan kalian?" tanya Marco kepada Beta dan Delta.


"Bagian tengah kastil terdapat banyak penjaga dengan titik tidak beraturan," jawab Delta.

__ADS_1


"Kalau bagian barat, jangan ditanya lagi... Penjagaannya, hingga di bagian menara. Akan kesulitan bagi kita mencari sela untuk menyusup ke bagian itu," jawab Delta.


"Kalian tidak bisa menandai titik-titik tempat penjaga berada. Setiap hari, posisi mereka selalu berubah-ubah," sambung Nancy.


__ADS_2