SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 84


__ADS_3

Marco merasa kepalanya akan meletus saat itu juga, karena terlalu kebingungan memikirkan semua hal itu.


Buru-buru Marco mengangkat cangkir teh miliknya, dan meminumnya hingga kering tak bersisa.


"Bagaimana dengan Delta? Apa dia juga tidak bisa membedakan, mahluk apa Mommy itu?" tanya Marco.


"Hmmm... Saya tidak tahu. Tapi menurutku, Delta juga tidak bisa mengenali mahluk apa wanita itu," jawab Nancy.


Nancy lalu melihat kearah cangkir Marco.


"Apa kamu mau tambahan teh?" tanya Nancy.


"Tidak, terimakasih! Nanti saja!" jawab Marco.


"Apa Mommy pernah bicara dengan anda?" tanya Marco.


"Hmmm... Iya. Terakhir kali saya menemuinya, dia masih sering menangis. Dan katanya, dia merindukan anaknya," jawab Nancy.


"Apa kamu juga merasa rindu dengannya?" tanya Nancy.


"Tidak begitu. Aku hanya mau tahu bagaimana rupa dan keadaan Mommy-ku. Itu saja," jawab Marco.


"Aku sudah bisa menduganya," ujar Nancy.


"Apa maksud anda?" tanya Marco.


"Shapeshifter akan sangat terikat dengan orang tuanya, meskipun mereka tertinggal terpisah, mereka akan selalu merindukan orang tuanya," jawab Nancy.


"Saya rasa, Mommy-mu memang bukan salah satu dari kaum yang pernah ditemui di bumi ini. Itu sebabnya, karena darah campuran dari Mommy-mu, kamu tidak merasakan rindu kepada orangtuamu," lanjut Nancy.


Mendengar perkataan Nancy, Marco jadi teringat akan tingkah Gamma, Beta, dan Delta kemarin, yang menunggu bahkan menyuruh Marco untuk menangis agar bisa merasa lega.


Ternyata, shapeshifter memang biasanya merindukan orang tuanya, pantas saja mereka bertiga bertingkah aneh, saat Gamma membahas masa lalu Marco.


Marco yang tidak tahu apa-apa, malahan mengira kalau mereka hanya sekedar berniat meledeknya saja.


Terlalu banyak hal yang masih belum di ketahui Marco kalau begini keadaannya.


Bertambah-tambahlah pikiran baru yang cukup mengganggu di kepala Marco.


Marco yang sebelumnya tidak pernah memikirkan tentang bagaimana kemungkinan hingga Daddy-nya yang asli bisa bersama dengan Mommy-nya, kini jadi berpikir dua kali sebelum menganggap kalau Daddy-nya adalah orang licik.


Sekarang ditambah dengan situasi, dimana Mommy-nya yang asli masih hidup, dan diduga bukan berasal dari kaum biasa.


Marco tersentak.


"Apa tidak terpikirkan sedikitpun tentang makhluk apa Mommy-ku itu? Kata anda tadi 'kan, dia bukanlah kaum di bumi ini. Jadi, apa maksud anda dia berasal dari planet lain?" tanya Marco.


Nancy terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan begitu...


Saya tidak pernah bilang begitu. Yang saya bilang tadi, dia tidak seperti kaum yang pernah ditemui sebelumnya. Bukan berarti dia harus dari planet lain...

__ADS_1


Bisa saja dia adalah salah satu mahluk di bumi ini, tapi kaum kita tidak mengenalnya," jawab Nancy.


"Tapi, kita tidak ada yang tahu pastinya, bukan? Jadi terserah kamu saja, kalau kamu bisa menduga-duga kalau dia bukanlah mahluk bumi...


Berhubung semua tentang kaum shapeshifter ini saja, sudah bukan hal yang normal, jika dibandingkan dengan manusia biasa," lanjut Nancy.


Nancy terlihat mengambil piring berisi biskuit, dan menyodorkannya kepada Bella.


"Dimakan, sayang...! Jangan malu-malu...! Kita masih keluarga," kata Nancy.


"Hmmm... Karena, kita sudah tahu kalau kita masih dalam hubungan keluarga, kita bisa bicara biasa saja. Tidak perlu terlalu formal lagi," lanjut Nancy.


Bella kemudian mengambil sepotong biskuit dari dalam piring.


"Terimakasih!" ucap Bella.


"Kalian sudah lama berpasangan?" tanya Nancy.


"Eh! Maksudku, apa mungkin kalian menikah? Memakai cara tradisional manusia biasa?" tanya Nancy buru-buru meralat pertanyaannya yang tadi.


"Iya. Kami menikah di gereja, kurang lebih hampir dua bulan yang lalu," jawab Bella.


Nancy kemudian terlihat sedang mengerutkan keningnya, seolah-olah ada yang dia pikirkan.


"Lalu, siapa yang bersamamu waktu itu?" tanya Nancy sambil melihat Marco.


"Namanya Adaline. Dia hanya kenalanku saja," jawab Marco.


"Oh, begitu!" celetuk Nancy.


"Meskipun aku bukan shapeshifter, rasanya aku tidak akan pernah menduakan cinta Bella," ujar Marco datar.


"Baguslah kalau memang benar begitu!" tukas Nancy.


"Jangan sampai kamu merusak darah warisanmu, dengan berpasangan disana-sini!" lanjut Nancy yang tampak bersikeras.


"Tentu saja. Dan itu bukan demi warisan Alpha, tapi karena aku memang mencintai Bella," ujar Marco tidak mau kalah.


Nancy lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku hanya memberi sedikit nasihat. Mengingat kalau kamu adalah cucuku," ujar Nancy.


"Iya, aku tahu!" jawab Marco datar.


"Hmmm... Apa kalian datang kesini, hanya berdua saja?" tanya Nancy.


"Kami bersama tiga orang lagi," jawab Bella.


Marco baru tersadar.


Mungkin saja, Beta, Gamma dan Delta, sudah kembali dan mencari Marco dan Bella.


Kalau mereka didalam seperti sekarang ini, maka ketiga shapeshifter itu akan kebingungan untuk mencari mereka berdua.

__ADS_1


"Kami harus keluar sekarang! Teman-teman kami, mungkin akan kebingungan mencari kami," celetuk Marco.


"Kenapa kalian terburu-buru? Aku masih ingin berbincang-bincang dengan cucu mantuku," kata Nancy, menahan Marco dan Bella.


"Apa tidak bisa, kalau kamu saja yang menemui teman-temanmu? Ajak saja mereka masuk ke sini. Biarkan aku menghabiskan sedikit waktu lagi bersama Bella," lanjut Nancy.


Marco kemudian bertatap-tatapan dengan Bella.


Bella tampaknya tidak mau mengecewakan Nancy, hingga akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya, seolah-olah setuju dengan permintaan Nancy itu.


"Kalau aku bertemu mereka, aku akan segera kembali kesini," kata Marco dengan melihat Bella.


"Tolong, jaga pasanganku!" lanjut Marco sambil menatap Nancy lekat-lekat.


"Tentu saja!" jawab Nancy.


Marco kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan keluar dari sana.


Didepan toko, Marco sibuk melihat kesana kemari, kalau-kalau ketiga shapeshifter memang sudah kembali dan sedang mencari mereka.


Tapi, untuk beberapa saat, Marco tidak melihat salah satu pun dari mereka, hingga Marco akhirnya berjalan menuju mobilnya yang terparkir.


Sama saja, disana juga belum ada tanda-tanda kalau Beta, Gamma dan Delta sudah kembali.


Cukup lama mereka pergi.


Muncul sedikit kekhawatiran di hati Marco.


Apa mungkin terjadi sesuatu?


Tapi, Marco juga tidak bisa meninggalkan Bella lama-lama, dan mau tidak mau dia harus kembali ke toko milik Nancy tadi.


Dengan tergesa-gesa, Marco berjalan kembali ke toko permata.


Sebelum Marco tiba di toko milik Nancy, dari kejauhan, Marco bisa melihat Beta yang tampak seperti orang kebingungan, berputar-putar di tempat sambil melihat-lihat kesana kemari.


Ketika Marco semakin mendekat kepada Beta, dan Beta melihat kedatangan Marco, raut wajah Beta berubah.


"Dimana Bella? Kenapa kamu sendirian?" tanya Beta sebelum Marco sempat berkata apa-apa.


"Dia ada di toko permata. Aku tadi memeriksa kalau-kalau kalian kembali ke mobil," jawab Marco, sambil berjalan terus menuju ke tempat Bella menunggu.


Beta juga tampak mengikuti langkah Marco.


"Dimana Gamma dan Delta?" tanya Marco.


"Tidak tahu!" jawab Beta.


"Kenapa kamu berani meninggalkan Bella sendiri?" tanya Beta buru-buru.


"Dia tidak sendirian. Tapi, aku memang harus segera kembali kesana," jawab Marco.


"Apa Bella bersama orang yang kamu kenal?" tanya Beta.

__ADS_1


Marco tidak menjawab, dan hanya mempercepat langkahnya, sambil berharap kalau dia tidak salah mengambil keputusan, saat meninggalkan Bella hanya bersama Nancy.


__ADS_2