
Kelihatannya, Flints tetap bersikeras bahwa Marco adalah Alpha.
"Saya ingin mencoba sesuatu, kalau kamu izinkan," kata Flints.
"Apa itu?" tanya Marco.
"Kamu memegang bahuku, atau apa saja bagian dari tubuhku, lalu aku memegang hewan ini," kata Flints sambil, menunjuk seekor sapi didekatnya.
Marco mengikuti keinginan Flints, kemudian memegang salah satu bahu Flints, sementara Flints mengulurkan tangannya, dan menyentuh seekor sapi.
"Luar biasa!" seru Flints kegirangan, ketika dia memegang punggung sapi itu.
"Kamu tidak bisa mengelak. Saya merasa bodoh, karena sempat tidak mempercayai ramalan leluhur kita," lanjut Flints.
"Apa maksudmu?" tanya Marco.
"Lepaskan peganganmu dari bahuku!" kata Flints, tampak bersemangat.
Marco kemudian menurunkan tangannya, menjauh dari bahu Flints.
"Lihat! Ini berhasil!" seru Flints, seolah-olah akan meloncat saking senangnya.
"Apa yang harus aku lihat?" tanya Marco datar, dan mulai merasa bosan.
"Salah satu ramalan tentang Alpha tertangguh, adalah sang Alpha bisa mendamaikan, antara shapeshifter dengan hewan asli," jawab Flints.
"Menurut Adaline, kamu juga memiliki tanda dari ramalan yang lain. Katanya, kamu bisa menahan bentukmu sebagian, dengan sayap yang keluar dari punggung, bukan terbentuk dari tanganmu," lanjut Flints.
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian lanjut mengerjakan pekerjaannya, tanpa mau menghiraukan Flints yang terlalu bersemangat.
"Marco! Kamu bukan shapeshifter biasa. Kamu adalah Alpha...! Ternyata ini sebabnya, yang membuat saya tidak bisa menentangmu kemarin, meskipun ada rasa curiga," kata Flints.
Marco akhirnya, benar-benar merasa kesal dengan ocehan Flints.
"Kalau aku memang Alpha, lalu apa? Apa yang kamu inginkan? Kamu mau aku bertarung dengan Alpha pengganti?" tanya Marco dengan suara tinggi.
"Marco! Sebaiknya, kamu mengklaim kepemimpinanmu. Semua shapeshifter berharap denganmu," kata Flints.
"Hmmm... Begitu? Semua atau kamu dan keluargamu saja?" tanya Marco.
Flints terdiam untuk beberapa waktu lamanya.
"Semakin lama kamu membiarkan Alpha pengganti menduduki tempatmu, dia akan jadi semakin kuat, dan tidak akan bisa kamu kendalikan," kata Flints.
"Dia akan membentuk kelompok baru untuk menantangmu, dan itu bukan hanya akan beresiko buruk bagi kaum shapeshifter, tapi bisa beresiko buruk untukmu dan keluargamu," lanjut Flints.
"Kamu mau menakut-nakuti aku?" tanya Marco ketus.
"Tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apalagi, keluargamu bukan dari kaum shapeshifter," jawab Flints.
__ADS_1
"Jangan membawa-bawa Bella dalam hal ini!" bentak Marco.
"Memang begitu kenyataannya," kata Flints.
"Sedangkan Alpha masih hidup, dia sudah cukup kuat untuk membunuhnya. Apalagi sekarang, atau nanti," lanjut Flints.
"Apa maksudmu? Kamu bisa buktikan kalau memang terjadi pembunuhan kepada Alpha sebelumnya?" tanya Marco.
"Semua yang ada dipemukiman utama, tahu tentang hal itu," jawab Flints.
"Bagaimana kamu bisa ikut tahu, kalau kalian hidup terpencil dari warga yang lain?" tanya Marco.
"Keluarga kami memang dikucilkan. Tapi, saya pernah menjadi penjaga kastil, sebelum terjadi pergantian Alpha," jawab Flints.
Untuk beberapa saat Marco terdiam, sambil menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan, lalu menjadi sedikit lebih tenang.
Seketika itu juga, Marco kemudian menyesali sikap kasarnya kepada Flints.
"Maafkan aku... Aku terlalu terbawa emosi, hingga bersikap kelewatan," kata Marco pelan.
"Tapi terus terang saja, aku memang tidak berminat untuk menjadi Alpha. Aku hanya ingin hidup tenang dengan keluargaku," lanjut Marco.
"Berarti kamu sudah tahu kalau kamu memang Alpha?" tanya Flints.
"Iya. Aku baru saja mengetahuinya," jawab Marco.
"Saya tidak memaksamu untuk mengambil alih kepemimpinan. Saya hanya bisa menyarankan. Karena kami tidak akan pernah bisa menentangmu," kata Flints.
Dan kemungkinan besar, keluargamu juga akan berada dalam bahaya," lanjut Flints.
"Jadi maksudmu aku tetap harus bertarung melawannya?" tanya Marco.
"Iya. Kamu mau atau tidak, entah kamu yang menemuinya, atau dia yang mendatangimu lebih dulu. Hal itu pasti terjadi, karena dia mau kekuasaan mutlak, tanpa adanya dirimu," jawab Flints.
Kekhawatiran menjalar di sekujur tubuh Marco.
Semakin membingungkan baginya sekarang ini.
"Seumur hidupku, ini kali pertamaku bisa berada didekat hewan asli, tanpa ada keributan," kata Flints.
"Apa aku bisa membantumu mengurus hewan ternak?" tanya Flints bersemangat.
Marco menatap Flints sebentar, kemudian menganggukkan kepalanya.
Marco melanjutkan pekerjaannya didalam gudang pertanian, sambil dibantu Flints yang tampak senang, mengurus hewan-hewan ternak milik Marco.
Meskipun Marco sibuk bekerja, namun pikirannya tetap terisi penuh dengan bayangan-bayangan kekhawatiran.
Hingga selesai mengerjakan rutinitas didalam gudang pertanian, Marco tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Flints.
__ADS_1
Sedangkan Flints, terlihat seperti tidak bosan dengan membantu Marco disitu, sambil sesekali bermain dengan Duke.
Bahkan saat Marco mengajaknya untuk beristirahat, Flints tampak lemas, seolah-olah tidak mau pergi dari gudang pertanian.
Flints benar-benar terlihat seperti anak kecil yang diajak bermain diwahana permainan baru, yang sangat disukainya.
"Nanti setelah sarapan, kamu bisa ke gudang pertanian lagi, dan bermain dengan Duke sepuasnya," kata Marco.
Marco kemudian berjalan kembali kerumah, disusul Flints dari belakangnya.
Didalam rumah, Bella tampak menunggu Marco kembali dari gudang pertanian, dan sudah menyiapkan sarapan untuk Marco dan Flints.
"Maaf sayang... Aku tidak tahan menunggu kalian lebih lama. Kalian sarapan saja, aku sudah sarapan lebih dulu tadi," kata Bella pelan.
"Tidak apa-apa. Seharusnya, memang kami sudah kembali kesini sejak tadi," kata Marco, lalu mencium kening Bella.
Marco dan Flints bergantian mencuci tangan didalam bak cuci piring, sementara Bella menata meja makan untuk Marco dan Flints.
"Apa se-menyenangkan itu di gudang pertanian?" tanya Bella, kepada Flints.
"Iya. Aku menyukainya," jawab Flints bersemangat.
"Keluargaku yang lain, pasti ingin merasakan pengalaman seperti aku tadi," kata Flints.
Flints lalu tampak terdiam untuk beberapa waktu lamanya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Apa aku bisa mengajak mereka kesini?" tanya Flints, yang tampak berhati-hati.
Marco yang baru saja duduk setelah mengambil botol susu dari lemari es, kemudian menatap Flints lekat-lekat.
"Tentu saja," jawab Marco.
Marco menuangkan susu kedalam dua gelas, dan menyodorkan salah satu gelas kepada Flints.
"Asalkan kalian bisa tutup mulut tentangku," lanjut Marco.
Flints tampak tersenyum lebar, lalu menganggukkan kepalanya.
"Oke! Itu perjanjian yang bagus!" ujar Flints.
Mereka berdua kemudian memakan sarapan yang terlambat, sambil ditemani Bella.
"Kamu belum pergi ke toko kue?" tanya Marco kepada Bella.
"Nanti saja. Aku hanya perlu memeriksanya sebentar," jawab Bella, sambil mensterilkan susu didalam panci diatas kompor.
"Hmmm... Aku ikut denganmu saja. Kamu bisa antarkan aku memeriksa toko sebentar?" tanya Bella.
"Iya. Kalau kamu tidak lama disana, aku akan menemanimu sampai kamu selesai," jawab Marco.
__ADS_1
"Aku tidak akan lama. Cukup melihat perkembangan pekerjaannya saja," kata Bella.