
"Maafkan saya. Saya terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau Suster Martha yang ingin bertemu denganmu...
Saya tidak mau kalau ada yang salah mengira, bahwa saya meragukan Tuhan-ku dengan meminta bantuan kepada manusia," kata suster Maria, saat berjalan pelan bersama Marco, keluar dari kamar suster Martha.
"Tidak apa-apa, Suster! Tidak perlu dipikirkan," ujar Marco.
"Sebenarnya, saya sedikit penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, hingga suster Martha bisa terbangun dari tidurnya waktu itu," kata suster Maria.
"Apa Suster Martha tidak menceritakannya?" tanya Marco.
"Tidak. Saya juga tidak terlalu berharap agar kamu mau menceritakan hal itu...
Karena kalau sahabatku saja tidak mau menceritakannya, bagaimana mungkin saya memaksa supaya kamu mau menjelaskan apa yang terjadi," jawab suster Maria.
"Hmmm... Saya harap kamu tidak terburu-buru kali ini. Sudah kesekian kalinya kamu datang kesini, dan saya tidak pernah melayanimu dengan baik...
Jadi kali ini saya ingin mengajakmu minum teh bersama saya," lanjut suster Maria.
Marco sebenarnya ingin segera kembali ke rumahnya, namun rasa segan untuk menolak permintaan suster Maria, membuat Marco terpaksa menerima ajakannya.
"Baik, Suster! Saya mungkin bisa menghabiskan sedikit waktu lebih lama disini," ujar Marco.
"Bagus! Silahkan lewat sini!" kata suster Maria sambil menunjuk ke salah satu arah.
Marco masih berjalan bersama suster Maria, hingga mereka tiba di ruangan yang tampak seperti ruang makan, dengan meja-meja panjang dan bangku yang berbaris rapi.
"Silahkan duduk!" kata suster Maria.
Tanpa sempat ikut duduk, suster Maria terlihat berjalan mendatangi sebuah pintu kecil, dan berjalan melewatinya.
Marco menunggu sendiri disitu, untuk beberapa waktu lamanya, hingga suster Maria terlihat kembali sambil membawa nampan berisi dua cangkir minuman.
"Silahkan diminum!" kata suster Maria, setelah menyajikan secangkir teh untuk Marco, dan secangkir lagi untuk dirinya sendiri.
Suster Maria kemudian duduk berseberangan dengan Marco dengan berbataskan meja panjang.
"Bagaimana kabarmu belakangan ini?" tanya suster Maria, terdengar berbasa-basi.
"Saya baik-baik saja, suster!" jawab Marco.
"Apa kamu sudah menemukan keluargamu?" tanya suster Maria.
"Belum, Suster! Tapi, saya sudah tahu dimana Mommy saya tinggal," jawab Marco.
"Kenapa belum mengunjunginya?" tanya suster Maria.
__ADS_1
"Eh! Maafkan saya! Itu bukan pertanyaan yang pantas untuk saya pertanyakan," lanjut suster Maria buru-buru.
"Saya belum bisa mengunjunginya, karena kesibukan di rumah yang masih harus saya lakukan," ujar Marco beralasan.
Suster Maria tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Diminum tehnya! Kalau sudah dingin, rasanya akan lebih buruk, daripada saat tehnya masih hangat," ujar suster Maria, lalu menyesap sedikit teh dari cangkirnya.
Begitu juga Marco yang ikut meminum tehnya sedikit.
"Bagaimana ceritanya, hingga suster Martha bisa tiba-tiba jatuh pingsan?" tanya Marco.
"Hmmm..." suster Maria bergumam, sambil mengerutkan alisnya.
"Dia sedang bersama saya seperti biasanya. Pagi-pagi setelah selesai Misa, kami akan berjemur di halaman, sambil Suster Martha berlatih menggerakkan kaki dan tangannya," kata suster Maria.
"Entah ada apa yang membuatnya gelisah. Apakah mungkin karena terlalu lama tidak bisa bergerak dengan bebas dan membuatnya bosan. Dia tiba-tiba memaksakan diri untuk berjalan sendiri...
Tidak sempat beberapa langkah dia berjalan, Suster Martha kemudian terjatuh, dan tidak bisa disadarkan lagi," lanjut suster Maria.
"Apa ada yang aneh atau mungkin tidak biasa waktu kejadian itu?" tanya Marco.
"Hmmm... Aku rasa tidak ada... Di halaman hanya ada anak-anak yang sedang bermain, juga beberapa Suster lain yang menjaga anak-anak itu," jawab suster Maria.
"Yang membuat saya merasa aneh, hanya kondisinya yang pingsan lama. Hingga membuatku terpikir kalau-kalau kejadian ini, sama seperti kejadian lima belas tahun yang lalu," lanjut suster Maria.
"Itu juga yang membuatku khawatir. Karena menurut dokter, tanda vitalnya baik-baik saja...
Tidak ada dari hasil pemeriksaan, kalau dia menderita penyakit apa-apa. Benar-benar hanya masuk ke kondisi vegetatif begitu saja," jawab suster Maria.
"Tapi, mungkin saja ini memang sudah jalan-Nya bagi Suster Martha," lanjut suster Maria.
Suster Maria kemudian kembali menyesap tehnya sedikit.
"Suster Martha adalah suster pindahan dari negara yang jauh dari sini," celetuk suster Maria.
"Ketika saya pertama kali bertemu dengannya, saya langsung tahu kalau dia akan menjadi sahabat saya..." lanjut suster Maria.
"Suster Martha bukan penduduk asli negara ini?" tanya Marco.
"Bukan," jawab suster Maria.
"Setahu saya, dia pernah bilang kalau dia dulunya tinggal di belahan dunia yang lain, sebelum akhirnya menjadi Suster Gereja, dan mendapat tugas melayani di tempat ini," lanjut suster Maria.
"Apa suster Martha tidak pernah menceritakan tentang negara asalnya?" tanya Marco.
__ADS_1
"Wanita itu..." ujar suster Maria sambil tertawa kecil.
"Setiap aku bertanya kepadanya tentang itu, dia pasti mengatakan kalau dia berasal dari tempat yang penduduknya memilki sayap di punggungnya...
Lalu, karena merasa tersadarkan akan keberadaan Tuhan, hingga dia memilih untuk menjadi pelayan-Nya, dan berhenti menjadi pelayan makhluk bersayap di tempat tinggalnya," lanjut suster Maria.
"Aku tahu kalau dia hanya bercanda...
Bagaimana mungkin ada tempat di bumi ini yang dihuni makhluk bersayap. Apa dia tinggal di surga yang dipenuhi malaikat?
Kalau begitu, untuk apa dia perlu melayani Tuhan dari bumi? Bukankah akan lebih baik kalau dia melayani-Nya disana?" kata suster Maria lagi, sambil tersenyum lebar.
Marco menyimak perkataan suster Maria dengan seksama.
Makhluk bersayap?
Peri?
Seperti yang di ceritakan Delta?
Tiba-tiba Marco merasa kalau ada sesuatu yang tampaknya dia lewatkan.
Tapi apa?
"Apa tidak ada yang lain yang di ceritakan Suster Martha, tentang tempat tinggalnya?" tanya Marco.
"Kamu tertarik dengan cerita omong kosong Suster Martha?" suster Maria balik bertanya.
"Hmmm... Aku hanya merasa tertarik, tentang bagaimana persahabatan Suster Martha dengan anda selama ini," ujar Marco beralasan.
"Suster Martha, mungkin adalah Suster yang paling rajin merawat anak-anak panti asuhan, jika dibandingkan dengan kami semua yang lain, yang berada di tempat ini...
Dia juga suka bercerita dongeng kepada anak-anak di panti asuhan, tentang makhluk bersayap yang cantik, kuat, dan bisa terbang kemanapun mereka mau...
Hingga Suster Martha pernah dipanggil dengan sebutan 'Suster kupu-kupu', oleh anak-anak yang suka mendengarkan ceritanya," kata suster Maria.
"Saya yang biasanya bersama-sama dengannya merawat anak-anak, terkadang ikut mendengarkan ceritanya...
Dan memang cukup menarik, hingga membuat anak-anak mau bersikap baik, demi mendengarkan Suster Martha bercerita," lanjut suster Maria.
"Seperti apa ceritanya?" tanya Marco makin penasaran.
"Katanya, makhluk bersayap itu bisa hidup dalam waktu yang lama, dan menggunakan manusia yang terpilih untuk menjadi pelayan mereka...
Karena makhluk bersayap itu tidak suka berhadapan dengan manusia selain pelayan mereka, jadi mereka butuh bantuan pelayan untuk menyediakan kebutuhan di tempat tinggal mereka...
__ADS_1
Mulai dari membeli bahan makanan, pakaian, hingga bahan bangunan untuk rumah-rumah mereka, bahkan menjaga anak-anak mereka, saat makhluk bersayap itu sedang terbang keluar dari tempat tinggal mereka, semuanya di lakukan para pelayan," kata suster Maria.