SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 29


__ADS_3

Suasana didalam rumah itu cukup tenang, bahkan bisa dibilang sangat tenang, dan nyaman.


Seba menuangkan sup kacang merah bercampur potongan daging ke setiap piring yang ada dihadapan masing-masing anggota keluarganya, begitu juga untuk dipiring Marco.


Satu keranjang kecil berisi roti keras, juga diletakkan ditengah-tengah meja makan, oleh Seba.


"Apa kamu sudah punya pasangan?" tanya salah satu saudara laki-laki Adaline, tiba-tiba.


"Fint! Ada apa denganmu?" bentak Adaline, dengan raut wajah kesal.


"Tidak apa-apa..." kata Marco, menenangkan Adaline.


"Iya, saya sudah memiliki pasangan," lanjut Marco.


Semua pandangan mata anggota keluarga Sums itu terpaku kearah Marco, dengan tatapan penasaran.


"Apa sama seperti kita? Atau manusia biasa?" tanya Flints.


"Manusia biasa," jawab Marco.


"Saya sudah bisa menebaknya..." celetuk Seba.


Marco menatap Seba, yang sekarang sedang membagi-bagikan roti keras kepada semua orang yang ada disitu.


"Bagaimana bisa?" tanya Marco heran.


"Hmmm... Tidak semudah itu, anggota kaum pelarian, bisa mendapatkan pasangan yang sama seperti kita," jawab Seba.


"Silahkan, dimakan!" lanjut Seba, lalu duduk disalah satu kursi kosong disitu.


"Terimakasih!" kata semua orang yang duduk disitu, termasuk Marco, bersama-sama.


Mereka lalu mulai memakan makanan mereka perlahan.


"Bagaimana kehidupanmu dikota asalmu?" tanya Flints, sambil memecahkan sepotong kecil roti keras ditangannya, dan mencelupkannya kedalam sup kacang merah.


"Rasanya mungkin sama dengan orang kebanyakan, yang biasa saya lihat disana," jawab Marco, yang juga memotong sebagian kecil roti, dan mencelupkan kedalam sup, lalu menyuapkannya kedalam mulutnya.


"Apa pasanganmu tahu kalau kamu berbeda darinya?" tanya salah satu saudara laki-laki Adaline.


Marco tidak bisa membedakan diantara dua pemuda itu, yang mana Fint ataupun Fent.


"Dia sudah tahu," jawab Marco.


"Lalu? Dia tidak mempermasalahkan hal itu?" tanya pemuda itu lagi.

__ADS_1


"Fint! Cukup! Sebaiknya, biarkan Marco makan dengan tenang," kata Seba.


"Tidak. Dia mau menerima keadaan saya," jawab Marco.


"Mommy! Aku mau mencari pasangan dikota lain!" kata pemuda itu dengan wajah memelas.


"Aku juga!" kata salah satu dari mereka lagi.


"Fint! Fent! Kalian pikir bisa semudah itu, kalian bisa bertahan hidup ditempat lain?" bentak Seba.


Fint dan Fent terdiam, meski mereka memasang raut wajah kecewa.


Seba terlihat sedih, dan hampir tidak bisa memakan makanannya, dan hanya mengaduk-aduk sup dipiringnya dengan sendok.


"Maafkan saya! Mungkin kedatangan saya, hanya mengganggu saja," kata Marco, yang merasa bersalah, ketika melihat semua anggota keluarga Sums, yang tampak sedih dan gusar.


"Bukan kamu masalahnya..." kata Seba pelan.


"Fint dan Fent, sudah hampir berusia tiga puluh tahun. Tapi, mereka belum menemukan satupun dari kaum kita disini, yang mau menerima mereka berdua," lanjut Seba.


"Begitu juga Adaline... Tahun ini sudah dua puluh lima tahun, dan sama seperti kakak-kakaknya, belum menemukan anggota kaum yang mau menjadi pasangannya," lanjut Seba lagi.


"Mommy! Tidak perlu membahasnya! Aku tidak terlalu memikirkan tentang hal itu," kata Adaline, dengan wajah merengut.


Sekarang, semuanya tampak sedih, dan seolah-olah kehilangan selera makannya.


"Sedangkan anak-anak ini... Saya tidak tahu bagaimana caranya, agar bisa menemukan pasangan bagi mereka. Karena kami, adalah keluarga pelarian terakhir, yang masih tertinggal disini," lanjut Seba.


"Sudah cukup! Kalian benar-benar membuat tamu kita merasa tidak nyaman!" kata Flints tiba-tiba.


"Mari kita makan saja dulu! Marco dimakan makanannya sebelum supnya menjadi dingin!" lanjut Flints.


"Baik, Sir!" jawab Marco.


Flints, dan anggota keluarganya yang lain, kembali melanjutkan makan siangnya, dan Marco pun ikut melanjutkan memakan makanan yang sudah disajikan untuknya.


Sampai semua orang selesai menghabiskan makanannya, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara apa-apa lagi.


Semua memilih untuk berdiam diri, dan hanya menyuapkan makanannya ke mulut masing-masing.


Setelah selesai makan, Fint dan Fent berjalan keluar dari rumah, setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, dan menyapa Marco.


Tertinggal Adaline yang masih mencuci semua peralatan makan dan memasak, di dalam bak cuci piring.


Ketika Marco hendak membantu, baik Adaline maupun kedua orangtuanya, melarang Marco mengerjakan pekerjaan itu, dan hanya mengajak Marco untuk berbincang-bincang dengan mereka diruang makan itu.

__ADS_1


"Apa nama marga keluargamu?" tanya Flints, kemudian seolah-olah telah salah bicara, laki-laki itu tampak gusar.


"Percuma saja! Orang tuamu pasti mengubah marga dengan nama samaran," lanjut Flints.


"Belmont!" jawab Marco.


Baik Flints dan Seba, begitu juga Adaline bersamaan menatap Marco.


"Marga keluarga saya, Belmont!" kata Marco lagi.


"Apa saja yang kamu ketahui tentang kaum kita?" tanya Flints.


"Hmmm... Selain kalau ada tempat ini? Tidak banyak... Orang tua saya tidak sempat bercerita banyak. Mungkin karena saat itu, saya masih terlalu kecil," jawab Marco.


Flints tampak manggut-manggut, seolah-olah mengerti maksud Marco.


"Pelarian seperti kita, tidak bisa bergerak bebas ditempat ini. Kita dikucilkan karena status," kata Flints.


"Apa Marco sudah tahu itu?" tanya Flints.


"Sedikit... Adaline sempat menceritakannya kepada saya, meski saya belum terlalu memahaminya," kata Marco.


"Kita hanya bisa pergi ke pemukiman utama dihari-hari tertentu. Seperti pada hari perdagangan, atau ada acara besar shapeshifter," kata Flints menjelaskan.


"Kalau begitu, Fint dan Fent tadi pergi kemana?" tanya Marco.


"Mereka biasanya bermain kehutan didaerah sini, lalu ke pantai yang ada di salah satu sisi pulau ini," jawab Adaline tiba-tiba.


"Pantai tempat kamu datang kemarin, dan tadi!" lanjut Adaline.


"Hanya didaerah itu saja, kami bisa bebas berkeliaran..." lanjut Adaline lagi, setelah sempat cukup lama terdiam.


"Semua ini salah saya..." celetuk Seba.


"Jangan memulainya lagi!" kata Flints.


"Tidak ada dari kita yang bersalah... Buyut kita yang melakukan kesalahan, dan kita hanya menanggung akibatnya," lanjut Flints.


"Iya, tapi kita semestinya sudah pergi lagi, dari tempat ini sejak lama..." kata Seba, yang tampak sangat gusar.


Seba lalu menatap Marco lekat-lekat.


"Flints sudah mengajak kami pergi dari tempat ini, sebelum Adaline lahir. Tapi, karena waktu itu saya mengetahui kalau pewaris Alpha sudah lahir, saya bersikeras untuk tetap bertahan ditempat ini," kata Seba.


"Saya benar-benar yakin akan cerita leluhur, bahwa pewaris Alpha yang paling tangguh diantara semua shapeshifter, akan menyatukan kembali semua kaum, dan tidak ada lagi, anggota kaum yang akan dianggap sebagai pelarian, atau pengecut seperti anggota kaum disini menyebut kami," lanjut Seba.

__ADS_1


"Ternyata, sampai saat ini, pewaris Alpha belum menampakkan diri... Anak-anak kami, terpaksa mendapat status seperti kami orang tuanya... Pengecut!" lanjut Seba lagi, yang terlihat sedih, kecewa, bercampur aduk raut wajah yang ditampakkannya.


__ADS_2