SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 9


__ADS_3

Dengan terbang rendah, tidak terlalu jauh dari permukaan air sungai, Marco masih melihat gerak-gerik orang-orang yang ada dibawah sana.


Rasanya, Marco tidak mau beranjak pergi dari tempat itu, dan hanya terbang berputar-putar diatas mereka.


Sekilas, Marco melihat gerakan halus yang menarik perhatiannya.


Sesuai dengan nalurinya sebagai seekor elang yang sekarang sedang dia tiru, gerakan menggeliat merayap pelan didekat tenda memancing rasa ingin tahu Marco.


King cobra berukuran besar, meliuk pelan menuju orang-orang yang sedang asyik bersenda gurau didekat api unggun.


Kelihatannya, akan terjadi hal buruk saat ini.


Benar dugaan Marco.


Salah satu dari muda-mudi itu tanpa sengaja menginjak badan ular cobra, dan membuat binatang melata itu membuka tudungnya lebar-lebar, dan tanpa menunggu lama-lama mematuk kaki orang yang menginjaknya.


Kepanikan massal terjadi saat itu juga.


Teriakan demi teriakan histeris, seketika menggema didalam hutan.


Tidak berhenti disitu, king cobra itu tampak siap untuk menyerang dengan gigitan berbisanya lagi.


Tanpa mau menunggu lagi dengan berpikir berlama-lama, Marco terbang menukik turun mendekat ke permukaan tanah, dan menyambar ular itu dengan cakarnya, dan membawanya pergi menjauh dari sana.


Keributan yang terjadi ditempat itu, tidak diperdulikan Marco yang tetap bergegas pergi, membawa ular cobra yang berada dalam cengkeramannya, lalu menjatuhkannya ditengah hutan yang jauh dari lokasi orang-orang tadi berkemah.


Kembali Marco terbang mendekat kearah muda-mudi tadi, dan memperhatikan mereka dari udara.


Seseorang yang dipatuk ular cobra tadi, tampak terbaring ditanah.


Sedangkan teman-temannya yang lain, terlihat sangat panik, ada yang menangis, ada yang tampak mencoba memberikan pertolongan pertama dengan mengikat kaki temannya, dan ada juga yang tampak sibuk dengan ponsel seolah-olah sedang menghubungi seseorang.


Kalau orang yang dipatuk ular cobra itu tidak cepat dibawa keluar dari hutan, dan mendapat pertolongan dirumah sakit, maka kemungkinan besar, orang itu akan mati.


Marco memutar otak.


Bagaimana dia bisa menolong orang itu?


Meskipun Marco tidak mengenal orang itu dan teman-temannya, Marco tetap merasa tidak tega, kalau hanya membiarkan orang itu mati begitu saja.


Marco terbang rendah sampai akhirnya menyentuh tanah, ditempat yang tidak terlalu jauh dari orang-orang itu berada.

__ADS_1


Setelah kembali menjadi manusia, Marco kembali berubah wujud menjadi seekor kuda, dan berlari mendekat ke pinggir sungai.


Tatapan orang-orang disitu yang terlihat heran, tidak menjadi halangan bagi Marco untuk berjalan semakin mendekat, dan bertingkah seperti seekor kuda yang jinak.


Seolah-olah mengerti maksud dan tujuan Marco disitu, atau mungkin saja hanya muncul ide secara spontan, salah satu dari orang-orang itu, lalu berteriak dengan keras, sambil menghampiri Marco dengan mengulurkan tangannya perlahan, sampai menyentuh kepala Marco.


"Cepat! Naikkan dia keatas kuda ini!"


Beberapa orang laki-laki muda, mengangkat temannya yang terluka, dan tampaknya sudah pingsan keatas punggung Marco, dan orang yang memegang kepalanya tadi juga ikut naik keatas punggung Marco.


"Tolong teman kami! Jadilah kuda yang baik!" kata orang itu, lalu memukulkan kedua kakinya ke perut Marco.


Marco berlari sambil membawa dua orang diatas punggungnya.


Bukan hal yang mudah bagi Marco.


Meskipun saat ini dia berwujud seekor kuda berukuran besar, saat membawa beban dua orang manusia dewasa, membuat kaki-kaki Marco terasa sakit.


Apalagi, dengan jalan yang menanjak, untuk keluar dari hutan dan bisa mencapai jalan raya, benar-benar melelahkan.


Tenaga Marco benar-benar terkuras, dan akhirnya dia tidak mampu lagi untuk berlari.


Dengan melangkahkan kaki-kakinya seperti sedang berjalan biasa, Marco membulatkan tekad agar bisa menyelamatkan orang itu.


Beberapa orang paramedis, yang melompat turun dari dalam mobil ambulance, lalu menurunkan orang yang sudah pingsan dari atas punggung Marco, dan membawanya masuk kedalam ambulance.


Sedangkan temannya, mengelus-elus kepala Marco, sambil berterima kasih.


"Tuhan sudah mengirimkan malaikat penyelamat bagi kami! Terimakasih banyak! Kamu kuda yang baik!"


Kepala Marco sempat diciumnya, sebelum orang itu ikut pergi menemani rekannya didalam ambulance.


Marco lalu berjalan pergi dari situ, dan kembali masuk kedalam hutan.


Suara sirine ambulance terdengar semakin menjauh, dan menghilang dari pendengaran.


Setelah meyakinkan diri kalau tidak ada yang melihatnya, Marco yang sudah berada ditempat dia menyimpan tas berisi pakaiannya, kembali menjadi manusia dan memakai pakaiannya lagi.


Rasanya, Marco tidak mampu lagi untuk berjalan keluar dari hutan.


Setelah terbang dalam waktu lama, lalu memaksakan diri untuk berlari menanjak bukit, sambil membawa beban seberat itu, tenaganya benar-benar terkuras habis.

__ADS_1


Marco tidak membawa walau sedikitpun air minum didalam ranselnya, dengan rasa dahaganya yang tidak bisa terpuaskan, Marco merasa lemas.


Nafasnya terengah-engah, dan seolah-olah oksigen yang dia hirup, tidak mampu mencapai kedalam paru-parunya, Marco merasa kalau saat ini, dia mungkin akan jatuh pingsan.


Marco memaksakan untuk berdiri, dan sambil berpegangan dibatang-batang pohon, Marco berjalan pelan, berniat untuk pulang.


Beberapa kali Marco terpeleset, karena licinnya tanah yang dia lalui.


Tapi, Marco tidak menyerah.


Tidak mungkin dia tidur didalam hutan.


Marco akan mati konyol disitu, kalau dia tidak bisa minum.


Dengan usaha ekstra, Marco akhirnya bisa mencapai jalan raya, dan berusaha sekuatnya dengan sisa nafas dan tenaganya, mencapai mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


Satu botol air minum berukuran besar, yang ada didalam mobil, menjadi penyelamat Marco, dan tanpa berlama-lama lagi, ditenggaknya habis dalam sekali minum.


Marco mengemudikan mobilnya, pergi menjauh dari hutan, dan mengarah pulang kerumahnya.


Selama ini, baru kali ini kemampuannya untuk berubah wujud bisa berguna, dan menyelamatkan jiwa seseorang.


Juga rasa terimakasih yang diucapkan orang tadi, tampaknya benar-benar tulus kepada Marco.


Tapi, ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya.


Apa yang akan dipikirkan orang-orang itu nanti?


Seekor elang tiba-tiba menyambar ular cobra, lalu seekor kuda tiba-tiba datang dan menjadi tumpangan.


Pasti itu akan terasa aneh bagi mereka semua.


Kalau saja mereka semua memang bisa menganggap, kalau itu semua hanyalah kebetulan semata, dan seolah-olah itu adalah keajaiban dari Tuhan, maka Marco akan baik-baik saja.


Biar Tuhan saja yang mendapatkan pujian, asalkan tidak ada yang akan mencurigai, dan menggembar-gemborkan tentang manusia, yang bisa berubah wujud menjadi hewan.


Meskipun demikian, Marco tidak menyesali tindakan nekat yang dia lakukan tadi.


Siapa saja, dan apa saja, layak untuk dia selamatkan, semampu yang dia bisa.


Mobil tuanya yang melaju santai ditengah jalan, kini sudah memasuki wilayah perkotaan.

__ADS_1


Marco akan beristirahat sebentar, sebelum dia pergi ke biara, dan menemui suster Martha.


__ADS_2