
Disepanjang perjalanan menuju ke rumah orang tua Bella, Marco yang sesekali melirik Bella, merasa kalau ada yang tidak biasa dengan wanita itu.
Seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan, Bella terlihat cemas, sambil menatap keluar jendela tanpa mengajak Marco berbicara sesuatu.
Setibanya dirumah keluarga Graham, dan Marco membukakan pintu mobil untuk Bella, wanita itu masih terlihat cemas.
Marco menahan Bella, agar tidak berjalan masuk kedalam rumah untuk sementara.
"Ada apa?" tanya Marco pelan.
Bella terdiam, sambil mengalihkan pandangannya dari Marco.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Marco lagi.
"Tolong, bicarakanlah saja denganku..." lanjut Marco.
Bella menatap Marco lekat-lekat, dengan raut wajahnya yang tampak mengkhawatirkan sesuatu.
Marco menganggukkan kepalanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella.
Bella menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.
"Aku menghitung periode menstruasiku... Hari ini, aku sudah memasuki masa subur. Sedangkan kita melakukannya tadi tanpa kontrasepsi," kata Bella.
Sebenarnya, Bella sudah meminta Marco untuk pergi membeli pelindung, tapi karena rasanya sudah kepalang tanggung, Marco tetap memaksa agar melakukan itu, meski tanpa pengaman.
Dan Marco mengerti arah pembicaraan Bella kali ini, tanpa perlu Bella menjelaskan hal itu lebih jauh.
Marco tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Justru, Marco memang menginginkannya.
Pasti akan lebih menyenangkan lagi, kalau ada tambahan anggota keluarga dirumahnya, hasil dari buah cintanya dengan Bella.
"Kamu tidak perlu khawatir... Kecuali, kamu masih belum mau untuk memiliki bayi denganku," kata Marco.
"Bukannya aku menolak... Tapi, apa tidak masalah bagimu, kalau aku terlalu cepat mengandung?" tanya Bella.
"Tidak sayang... Aku mencintaimu... Aku justru berharap, rumah kita secepatnya bisa diisi dengan bagian dari dirimu dan aku," kata Marco mantap.
Bella tersenyum lebar, lalu berpelukan dengan Marco.
"Aku tadi sangat cemas, kalau-kalau kamu masih belum siap," kata Bella pelan.
Marco memegang dagu Bella, mengangkat wajahnya dan menciumnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu... Apalagi, kalau kamu bersedia memberiku anggota keluarga baru," kata Marco, sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Bella tertawa kecil, lalu membiarkan Marco mendapatkan ciuman manis darinya.
"Ayo kita masuk! Orang tuaku pasti sudah menunggu," ajak Bella, yang kembali bersemangat.
Marco merangkul pinggang Bella, sambil membawa pakaian untuk upacara pernikahan mereka besok, dan berjalan pelan bersamanya, hingga Bella mengetuk pintu rumah keluarga Graham, orang tua Bella.
Marco sering melirik Bella, sambil senyum-senyum sendiri, ketika berbincang-bincang dengan orang tua Bella, dan beberapa anggota keluarga Bella yang lain, yang ikut hadir di makan malam itu.
Marco memang berharap agar Bella secepatnya memberitahu Marco, kalau dia sudah mengandung bayi kecil milik Marco dalam perutnya.
Marco memegang tangan Bella erat-erat.
Bella yang tampaknya sudah beberapa kali menangkap basah Marco yang memandanginya sambil senyum-senyum, lalu membesarkan matanya kearah Marco.
"Kenapa?" bisik Bella.
"Tidak ada apa-apa... Aku hanya membayangkan kalau perutmu membesar, dan aku bisa merasakan tendangannya dari dalam perutmu," jawab Marco, yang juga ikut berbisik-bisik.
"Sayang... Jangan membicarakan itu dulu! Kita masih belum tahu apa aku bakalan mengandung atau belum," bisik Bella, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Marco menurunkan salah satu tangannya dari atas meja, lalu meletakkannya di atas paha Bella, dan meremasnya perlahan.
Bella melipat bibirnya, tampak berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa, hingga dia menundukkan kepalanya sedikit.
Akhirnya, Bella ikut menurunkan salah satu tangannya, dan menahan tangan Marco, agar berhenti meremas pahanya.
Bella melihat Marco sambil membesarkan matanya, dan seolah-olah memberi tanda, kalau Marco harus berhenti meremas pahanya, dimana banyak anggota keluarga Graham masih berkumpul disitu.
Semuanya terlihat masih asyik berbincang-bincang, dan tidak terlalu memperhatikan Marco dan Bella.
Marco meneruskan tingkah nakalnya di paha Bella, meskipun Bella tetap berusaha menahan tangannya.
"Tidak apa-apa. Mereka tidak ada yang memperhatikannya," bisik Marco enteng, sambil mengawasi gerak-gerik anggota keluarga yang ada disitu bersama mereka.
Kelihatannya, bella menyerah dan hanya meletakkan tangannya diatas tangan Marco, tanpa bersikeras menahan gerakannya lagi.
Hingga makan malam itu berakhir, tangan Marco tidak berhenti bermain-main di paha Bella.
Ketika mereka semua berdiri dari meja makan, barulah Marco hanya memegang tangan Bella dengan erat.
"Besok, kamu jadi milikku seutuhnya," bisik Marco, dan berhasil membuat Bella tersenyum lebar.
Ben, mommy Bella, dan beberapa anggota keluarga Graham yang lain, tampak masih sibuk berbincang-bincang, sambil sesekali bertanya dengan Bella dan Marco, untuk beberapa waktu mereka berada diruang keluarga.
Kemudian, Mommy Bella lalu mengajak Bella dan Marco pergi keruangan lain.
"Kalian tidur disini saja malam ini," kata Mommy Bella.
__ADS_1
"Hmmm... Iya! Tapi, besok pagi kami akan kembali ke rumah Marco sebentar. Semua hewan disana perlu diberi makan," kata Bella.
"Oh, begitu rupanya... Iya," kata Mommy Bella.
"Bella, bawa Marco ke kamarmu, kalian bisa istirahat saja, agar kalian bisa terlihat segar," lanjut Mommy Bella.
"Iya, Mom!" ujar Bella.
"Kami istirahat dulu, Mom!" kata Marco, lalu membawa pakaian mereka, dan berjalan bersama Bella kekamar lama Bella dirumah itu.
Bella menggantung pakaian mereka didalam lemari, sambil merapikan sedikit yang terlihat agak kusut.
Marco melihat-lihat didalam kamar Bella.
Beberapa piala dan sertifikat penghargaan dari beberapa bidang, menjadi pajangan yang mencolok diantara hiasan kamar yang lain.
Setahu Marco, Bella memang anak yang pintar, sejak pertama kali Marco mengenalnya, ketika mereka bersekolah di primary school.
Foto Bella yang terlihat cantik dengan toga wisuda sarjananya, benar-benar menarik perhatian Marco.
Ada sedikit rasa rendah diri yang timbul dihati Marco, karena tidak menyelesaikan sekolahnya.
"Kamu cantik dan pintar... Mudah-mudahan kamu tidak akan menyesal menikah denganku," celetuk Marco, sambil tetap berdiri menatap foto Bella yang menempel di dinding.
"Jangan memulainya lagi! Sayang... Aku mencintaimu. Kamu tahu itu 'kan?" kata Bella, sambil memeluk Marco dari belakang.
Marco melepaskan pelukan Bella, lalu berbalik, dan memeluk wanita itu.
"Kamu kuliah jurusan apa?" tanya Marco.
"Manajemen bisnis," jawab Bella.
"Hmmm..." Marco bergumam, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku mau anak kita nanti pintar dan normal sepertimu..." kata Marco.
"Sayang... Pertama, kita belum tahu apa aku memang akan hamil...
Kedua, kelebihanmu itu hebat, dan tidak membuatmu menjadi orang yang aneh...
Ketiga, aku tahu kalau kamu itu pintar, meskipun kamu tidak melanjutkan sekolahmu...
Jadi, ingat baik-baik! Untuk yang kedua dan ketiga, jangan pernah kamu membahasnya lagi! Oke?!" kata Bella.
Marco menatap Bella yang berbicara dengan mengangkat wajahnya, sambil melihat Marco.
"Daripada membicarakan itu, lebih baik kalau kita melakukannya lagi, kalau kamu mau secepatnya, aku bisa memberikan bayi kecil untukmu," lanjut Bella, sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Hmmm...
Marco menginginkannya, dan asalkan Bella bersedia, kenapa Marco harus menundanya?