
Marco masih diluar, tapi suara telepon didalam rumahnya yang berdering cukup nyaring, membuat Marco berlari masuk kedalam rumah, sebelum deringan itu berhenti.
Jarang-jarang Marco bisa mendengar benda itu berbunyi, dan kalau sampai telepon itu berdering berarti ada sesuatu yang penting.
"Halo!" sambut Marco.
"Halo! Bisa bicara dengan Marco Belmont?" tanya suara dari seberang.
"Iya. Saya sendiri!" jawab Marco.
"Oh, halo, Pak! Saya dari toko penyedia bahan bangunan. Barang-barang pesanan bapak sudah siap. Bapak bisa mengambilnya besok pagi!" kata orang dari seberang, yang ternyata pemilik toko bahan bangunan, tempat Marco memesan beberapa bahan, untuk renovasi rumahnya.
"Oke! Saya akan kesana besok! Terimakasih!" jawab Marco.
Setelah mendengar sahutan dari seberang, Marco lalu meletakkan gagang telepon, kembali ke tempatnya.
Besok sepulangnya dari menjual hasil ternak, sebelum ke hutan, Marco berniat untuk mengambil bahan-bahan bangunannya saja terlebih dahulu.
Makan malam kali ini, Marco sebenarnya ingin makan pai apel untuk pencuci mulut.
Beberapa pohon apel disudut pagar pembatas lahan miliknya, semestinya sekarang sedang berbuah banyak, tapi Marco belum sempat untuk memetik buah-buahnya yang matang.
Kalau diambilnya sekarang, tetap saja memakan waktu lama untuk mempersiapkannya menjadi Pai, hingga siap untuk disantap.
Sedangkan sekarang saja, sudah cukup larut malam.
Marco mengurungkan niatnya, untuk makan pai apel malam ini.
Besok akan jadi hari yang sibuk bagi Marco, dan dia harus mengatur waktunya dengan baik, agar semua pekerjaannya bisa selesai sebelum gelap malam.
Didalam lemari es, bahan makanan yang tersedia tidak ada yang terlalu menarik, dan bisa membuatnya berselera untuk makan.
Pasta akhirnya jadi pilihannya dengan bola daging giling, dan saus bolognese instan.
Diluar sudah gelap, dan dari kejauhan terdengar suara coyote bersahut-sahutan, yang mirip-mirip dengan suara anjing yang sedang terluka.
Dalam sebulan belakangan sejak Marco membeli biri-biri muda untuk dipelihara, sudah beberapa kali Marco mendengar suara coyote.
Marco tidak terlalu khawatir, karena pintu gudang pertaniannya sudah dia tutup, dan selama ini tidak ada biri-biri peliharaannya yang jadi korban coyote
Apalagi sekarang ada Duke yang berjaga-jaga didalam sana.
Tapi tetap saja, Marco harus buru-buru memperbaiki pagar-pagar pembatas, kalau dia mau hewan-hewan ternaknya benar-benar aman dari serangan coyote.
Selesai menghabiskan makan malamnya, dan membersihkan semua peralatan makan yang kotor, Marco menyusun jadwal pekerjaan yang harus dia lakukan besok, sambil meminum segelas susu segar.
__ADS_1
Kelihatannya meskipun Marco mengerjakan hal yang terpenting terlebih dahulu, Marco tetap tidak akan sempat pergi ke biara.
Mau tidak mau, Marco harus menunda lagi tujuannya yang satu itu.
Jadwal kegiatan yang ditulisnya di selembar kertas, lalu ditempelkannya dipintu lemari es.
Marco membiarkan perapiannya tetap menyala, dengan sisa kayu yang sudah terlanjur terbakar didalam situ, lalu pergi tidur didalam kamarnya.
***
Pagi-pagi sekali, Marco bergegas mengerjakan semua pekerjaannya sesuai jadwal.
Duke menemani Marco, kemana saja Marco pergi, dan rasanya menyenangkan.
Setelah selesai memerah susu sapi, Duke menggiring sapi-sapi Marco, keluar dari gudang pertanian.
Sedangkan Marco membawa ember-ember berisi susu segar kedalam rumah, lalu kembali lagi ke gudang pertanian.
Telur-telur dari ayam-ayamnya lagi, yang harus di ambil Marco.
Dengan pintarnya seolah-olah sudah pernah diajari, Duke membantu membawakan keranjang telur, sambil berjalan bersama Marco didalam petakan, tempat ayam-ayamnya di gudang pertanian itu.
Marco tertawa kecil saat melihat tingkah Duke, sambil sesekali menyentuh kepala anjing itu.
Duke lalu menggonggong, dengan ekornya yang bergoyang kesana-kemari.
"Kamu antar ayam-ayam ini keluar! Aku siapkan makananmu dulu!" kata Marco, sambil membawa keranjang berisi telur keluar dari tempat itu.
Kembali Duke menggiring ayam-ayam keluar dari kandang, sampai ke halaman berpagar, bersama-sama dengan sapi-sapi yang sudah keluar lebih dulu.
Butuh beberapa kali, Marco bolak-balik dari dalam gudang pertanian, barulah hasil ternak bisa diambil semuanya.
Sebelum Marco mempersiapkan hasil ternak untuk dijual, Marco memberikan Duke makan, lengkap dengan sepotong tulang berukuran besar, untuk jadi mainan gigit bagi Duke.
Sambil Duke memakan makanannya di beranda rumah Marco, Marco menyusun telur kedalam kotak kayu, dan memasukkannya ke dalam bak belakang mobilnya.
Marco mensterilkan susu, dan mengemasnya.
Botol-botol susu segar, kini sudah dimasukkan Marco kedalam bak mobilnya.
"Kamu mau ikut denganku?" tanya Marco.
Duke yang sudah selesai makan, kemudian menggonggong dan pergi kesisi penumpang dimobil Marco.
"Kamu mau ikut," kata Marco pelan, lalu membuka pintu mobilnya, agar Duke bisa masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
dengan ditemani Duke, Marco menjual hasil ternaknya, lalu pergi ke toko bahan bangunan.
Ternyata, di toko itu Marco masih membutuhkan waktu yang cukup lama.
Marco tidak bisa langsung mengambil barang-barang pesanannya begitu saja, dan harus antri dengan orang lain yang sudah lebih dulu tiba disana.
Sambil menunggu gilirannya, Marco bermain dengan Duke didepan toko, sampai akhirnya dia dipanggil karena barang-barangnya sudah bisa dia ambil.
Marco juga membeli beberapa barang tambahan, untuk perbaikan pagar pembatas, sebelum semua barang-barang itu dimuat naik di bagian belakang mobilnya, dan Marco kembali ke rumahnya bersama Duke.
Diperjalanan pulang, Marco merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Marco menekan pedal gas, agar bisa cepat sampai dirumah.
Tanpa membongkar barang-barang belanjaannya, Marco berlari masuk kedalam gudang pertanian, meninggalkan Duke yang masih duduk didalam mobilnya.
Marco tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Saat itu tidak ada hewan lain yang bisa terpikirkan secara mendadak olehnya, dan akhirnya berubah menjadi elang saat itu juga.
Terang saja, ketika Marco terbang keluar dari dalam gudang pertanian, menyebabkan kepanikan yang luar biasa bagi ayam-ayamnya, yang ada didekat situ.
Marco yang sudah terbang tinggi di angkasa, hanya bisa menarik nafas kecewa, sambil melihat kearah peternakan dibawahnya.
Ayam-ayam yang panik dan stres seperti itu, pasti akan berpengaruh pada hasil telur mereka nanti.
Itu sebabnya, Marco lebih memilih untuk berubah bentuk didalam hutan.
Selain lebih aman dari penglihatan orang lain, juga tidak membuat hewan ternak peliharaannya jadi takut.
Marco melihat Duke menggonggong didekat ayam-ayam sambil mengangkat kepalanya, seolah-olah sedang mengusir Marco yang sekarang berwujud elang, untuk menjauh dari situ.
Untung saja tadi Marco tidak menutup kaca jendela mobilnya, jadi Duke bisa melompat keluar dari jendela mobil.
Ayam-ayamnya sudah terlanjur ketakutan, Marco kini mau mencoba kemampuan Duke dalam menjaga hewan ternaknya.
Marco terbang rendah mendekat kearah ternaknya, ayam-ayam berlari kesana kemari, sedangkan Duke, tidak berhenti menggonggong sambil berlari mengikuti arah terbang Marco.
Hebat!
Marco tidak salah memilih Duke untuk jadi teman, sekaligus penjaga peternakannya.
Semua sudah terlanjur, Marco harus memuaskan hasratnya untuk menjadi hewan, dan dengan mengepakkan sayapnya cepat, Marco terbang tinggi ke angkasa.
Marco memantau dari angkasa, ketika Duke terlihat sudah berhenti menggonggong, saat Marco sudah terbang menjauh.
__ADS_1