
Sayap besar dari punggung yang menjuntai dengan ujungnya yang menyentuh lantai, bulu keras menutupi sebagian tubuhnya, dan sebagiannya lagi masih berbentuk manusia.
Marco belum sempurna mengubah bentuknya.
Selain terlihat tegang, raut wajah yang ditampakkan Bella, tidak bisa di baca Marco.
Entah Bella merasa takut, atau apa, Marco sama sekali tidak tahu, karena Bella benar-benar hanya terdiam, dengan matanya yang hampir tidak berkedip.
Marco berniat untuk menghentikan perubahannya, dan mencoba kembali ke wujud manusianya, mengurungkan niatnya dan hanya terpaku, saat melihat Bella yang berjalan pelan menghampirinya, sambil mengulurkan tangannya kearah Marco.
"Hebat!" ucap Bella.
"Jauh lebih keren dari yang pernah aku lihat di film!" lanjut Bella bersemangat, lalu tersenyum lebar, sambil menyentuh bagian sayap dipunggung Marco.
"Kamu tidak takut?" tanya Marco memastikan.
"Kamu bercanda? Untuk apa aku takut dengan hal sehebat ini?" kata Bella, yang terdengar seperti bukanlah sebuah pertanyaan, yang perlu dijawab Marco.
"Kapan kamu bisa begini? Apa baru-baru saja?" tanya Bella, yang seolah-olah tidak bisa berhenti memandangi Marco.
Bella berjalan pelan memutari Marco, sempat berhenti dan berdiri cukup lama dibelakang Marco, dan terasa kalau dia sedang menyentuh sayap Marco disitu.
"Sudah lama. Sejak kami pindah waktu itu," jawab Marco pelan.
"Apa kamu bisa terbang dengan sayap ini?" tanya Bella, tampak sangat penasaran.
"Aku belum pernah mencoba terbang dengan bentuk tanggung seperti sekarang..." jawab Marco.
"Lalu? Bagaimana biasanya?" tanya Bella yang makin penasaran.
"Biasanya, aku berubah total menjadi seekor elang, barulah aku terbang," jawab Marco, yang sudah lebih santai menjawab pertanyaan-pertanyaan Bella.
"Apa kamu mau mencoba terbang sekarang, dengan bentukmu ini, lalu membawaku ikut denganmu?" tanya Bella, sambil mendekat hingga benar-benar dekat kepada Marco, dan hampir bersentuhan badan.
Marco tertawa kecil, karena tingkah Bella yang seolah-olah benar-benar menginginkan Marco terbang, sambil membawanya ikut serta.
"Bagaimana? Mau tidak? Aku mau mencobanya...?" tanya Bella, dengan suara memelas, tampak berusaha keras membujuk Marco.
"Hmmm... Tapi, tidak bisa aku mencobanya disini. Aku harus pergi keluar, kalau tidak mau merusak rumah yang belum selesai aku perbaiki," jawab Marco.
"Oke! Ayo kita keluar sekarang!" ajak Bella sambil menarik tangan Marco.
"Bella!" kata Marco, yang tetap menahan langkahnya agar, tetap berdiri disitu, dan membuat langkah Bella juga ikut terhenti.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bella, dengan raut wajah kecewa.
"Bukannya aku tidak mau. Tapi... Tidak semua orang bisa setenang kamu saat melihatku seperti ini. Kalau aku keluar dengan bentuk seperti sekarang, mungkin akan ada yang menghubungi nomor darurat," jawab Marco, pelan menjelaskan kepada Bella.
Bella terdiam, dengan kening mengerut, dan bibirnya yang mengerucut bergerak kesana kemari, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Hmmm... Kalau begitu, aku yang keluar terlebih dahulu. Kalau tidak ada tanda-tanda orang lain diluar, kamu mau menyusul keluar?" tanya Bella.
Marco terdiam sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya," jawab Marco.
Bella lalu melepaskan pegangannya dari tangan Marco, dan berjalan keluar tergesa-gesa, hingga tampak sedang setengah berlari.
Untuk beberapa waktu lamanya, Bella masih diluar tanpa ada suara apa-apa.
"Marco!" seru Bella memanggil Marco.
"Kelihatannya, diluar didekat sini tidak ada siapa-siapa!" lanjut Bella.
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, lalu berjalan keluar dari kamar.
Sedikit rasa khawatir, tetap membayang-bayangi dalam hati Marco.
Dengan langkah pelan, Marco berjalan hingga hampir keluar dari rumah, sedangkan Bella yang berjalan masuk kembali kedalam rumah, hampir bertabrakan dengan Marco, saat berpapasan dengannya dipintu depan.
"Tunggu sebentar!" kata Bella, menghentikan Marco agar berdiam didekat pintu depan.
Bella ternyata pergi mematikan lampu beranda, dan lampu bagian ruang depan rumah Marco, kemudian kembali menghampiri Marco ke pintu, sambil meraba-raba, karena terlalu gelap.
"Sekarang! Aku yakin kalau tidak akan ada yang melihatmu," kata Bella, ketika tangannya bersentuhan dengan dada Marco yang terbuka.
"Hati-hati! Didepan nanti ada tangga. Jangan sampai kamu jatuh disitu!" kata Marco, ketika Bella seakan-akan hendak berjalan keluar lebih dulu.
Marco memegang lengan Bella, dan menuntunnya agar berjalan pelan bersamanya keluar dari beranda rumah Marco.
"Aku mencoba terbang tanpamu dulu, ya?!" ujar Marco, sambil menghentikan langkah Bella, yang sekarang sudah berdiri dihalaman depan rumah.
"Iya," jawab Bella.
Marco kemudian membentangkan sayapnya, mencoba untuk terbang dengan mengepakkan sayapnya perlahan-lahan.
Ternyata, Marco bisa melakukannya.
__ADS_1
Meskipun, angin yang ditimbulkan kepakan sayap Marco yang berukuran besar itu, seakan-akan bisa menerbangkan atap rumahnya.
Terbang dengan bentuk yang tidak sempurna seperti itu, terasa lebih menyenangkan bagi Marco.
Kulitnya yang terbuka tanpa memakai pakaian, kecuali dari pinggang sampai ke lutut yang tertutup bulu keras, bisa merasakan udara yang menerpanya, seperti saat menjadi manusia normal, dan tertiup hembusan angin, yang cukup kencang.
Perlahan-lahan, Marco mengurangi gerakan sayapnya, dan turun keatas permukaan tanah.
Marco kemudian mendekat kepada Bella, dan menggendongnya, lalu kembali mengepakkan sayapnya, terbang naik ke angkasa.
Tidak terlalu jauh dari permukaan tanah, karena semakin keatas, tekanan karena ketinggian, dikhawatirkan Marco, bisa membuat Bella sesak nafas.
Marco bisa merasakan, kalau Bella benar-benar membenamkan wajahnya didada Marco.
Kepakkan sayap yang perlahan, membuat kecepatan terbang Marco berkurang.
Rasanya Marco sudah bisa berbicara dengan Bella sekarang, saat bunyi angin sudah tidak terdengar terlalu bising lagi ditelinga Marco.
"Kalau kamu merasa takut, katakan padaku! Aku akan membawamu turun," kata Marco.
"Tunggu dulu! Sebentar lagi...! Aku menyukainya!" seru Bella, yang terdengar bersemangat.
Marco tertawa kecil.
"Film apa yang kamu tonton? Hingga bisa membuat kamu setenang ini," kata Marco.
Bella tidak menjawab pertanyaan Marco, dan hanya tertawa kecil.
"Aku mau turun sekarang...! Dingin!" kata Bella, dengan suara bergetar, setelah beberapa saat Marco membawanya terbang berkeliling diatas lahan milik Marco.
Marco tersenyum lebar, lalu menukik pelan, turun dan mengatur kepakan sayapnya, agar menyentuh permukaan tanah dengan perlahan-lahan.
Bukan cuma Bella yang kedinginan, Marco juga merasakan hal yang sama.
Sehingga ketika kaki Marco menginjak tanah, Marco buru-buru berjalan masuk kedalam rumah, sambil tetap menggendong Bella.
Ketika, Marco menurunkan Bella dan hendak menyalakan kembali lampu-lampu yang tadi dimatikan, Bella memeluk Marco, dan seolah-olah hendak menghentikan apa yang akan Marco ingin lakukan.
"Aku semakin mencintaimu... Pangeranku yang baik hati," bisik Bella, yang membenamkan sebagian wajahnya dileher Marco.
Ucapan Bella seperti orang yang sedang bercanda, tapi sebelum Marco tertawa, Bella melanjutkan perkataannya.
"Jangan pernah sekali pun kamu berpikir, untuk coba-coba meninggalkanku! Aku mau kamu tetap bersamaku, sampai aku mati," kata Bella.
__ADS_1
Marco menarik nafas dalam-dalam, sambil memeluk Bella erat-erat, lalu memegang dagu Bella, dan mencium bibirnya dengan lembut penuh kasih sayang.