
Dari kejauhan, Marco mengawasi daratan yang akan menjadi tujuannya untuk memijakkan kakinya.
Selain melihat-lihat keberadaan Adaline, Marco juga harus hati-hati agar tidak ada shapeshifter lain yang melihat kedatangannya.
Entah apa yang akan terjadi, kalau sampai Marco ketahuan saudara laki-laki Daddy-nya, saat datang kesana.
Marco tidak berniat untuk berkelahi dengannya, dan sebagian besar keinginannya sampai dia pergi mendatangi tempat itu, hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya yang besar tentang kaum itu.
Kalau Marco bisa menemukan Mommy-nya yang asli, maka akan lebih baik lagi.
Setelah beberapa kali berputar-putar diatas pesisir pantai, Marco bisa melihat ada wanita berdiri didekat pantai, sambil bernaung dari teriknya sinar matahari, dibawah salah satu pohon besar, dan tampak sedang memegang pakaian.
Perlahan-lahan, Marco mengurangi kecepatan kepakkan sayapnya, dan terbang menukik turun, sampai mendaratkan cakarnya, tepat didepan wanita itu.
Sedikit pasir pantai terangkat, karena cakar Marco yang menginjaknya dengan cukup kasar, hingga membuat Adaline mengibas-ngibaskan celananya yang terkena pasir.
Marco mengubah bentuknya sebagian, dan tersenyum kepada Adaline yang berdiri didepannya.
Adaline terlihat kebingungan saat melihat Marco, dan hanya terdiam sambil menatap Marco.
"Itu pakaian untukku?" tanya Marco.
"Eh! Iya... Ini!" jawab Adaline terbata-bata.
Adaline benar-benar tampak terkejut melihat Marco, dengan alisnya yang mengerut, dan matanya yang membesar.
Tapi, Marco tidak terlalu mau memikirkan raut wajah Adaline, karena dia harus berpakaian sebelum dia mengubah bentuknya keseluruhan, untuk menjadi manusia.
Marco lalu mengambil pakaian dari tangan Adaline yang menjulur kearahnya, dan dengan terburu-buru memakai celananya terlebih dahulu.
Setelah celananya sudah terpasang, Marco menghilangkan semua sisa bulu keras di sebagian tubuhnya, dan sayap di punggungnya.
Marco lalu lanjut memakai kemeja, yang diberikan oleh Adaline kepadanya, bersama-sama dengan celananya, dan sepasang sepatu boots.
Sepasang pakaian itu, terasa agak sesak ditubuhnya, tapi Marco tetap memakainya, daripada dia harus bertelanjang.
"Marco!" kata Marco, sambil mengulurkan tangannya, hendak mengajak Adaline berjabat tangan.
"Kita kemarin tidak berkenalan dengan baik," lanjut Marco.
Adaline tersentak, lalu ikut mengulurkan tangannya, dan menyambut tangan Marco ditangannya.
"Bagaimana caranya kamu melakukannya?" tanya Adaline, tampak penasaran, dan masih bertahan dengan raut wajah terkejut, dan terheran-heran.
Marco mengangkat alisnya, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Adaline.
__ADS_1
"Eh! Maafkan aku... Adaline!" kata Adaline, yang terlihat canggung, sambil berjabat tangan dengan Marco.
"Marco!" kata Marco.
"Aku penasaran, bagaimana kamu bisa mempertahankan bentukmu sebagian seperti itu?" lanjut Adaline, yang kembali memasang raut wajah kebingungan.
"Hmmm... Bukannya kita semua sama saja?" tanya Marco, yang ikut merasa bingung.
"Aku tidak pernah melihat ada yang bisa melakukannya," jawab Adaline dengan cepat.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku bisa begitu saja," kata Marco.
"Apa orang tuamu bisa melakukannya juga?" tanya Adaline, yang tampak masih penasaran.
Marco terdiam sebentar, sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk dia katakan.
"Orang tuaku sudah meninggal dunia..." jawab Marco pelan.
"Maafkan aku..." kata Adaline.
Adaline tampak seolah-olah menyesali pertanyaannya kepada Marco, hingga sedikit menundukkan kepalanya sesaat, sebelum kembali mengangkat wajahnya melihat Marco.
"Tidak apa-apa. Mereka sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu," kata Marco.
"Yang kamu lakukan itu hebat. Setahu aku, tidak ada satupun yang tinggal disini, yang bisa menahan bentuknya sebagian seperti itu," kata Adaline.
Marco hanya terdiam termangu, melihat Adaline yang berbicara dengan mata berbinar-binar seperti itu, seolah-olah Adaline sangat mengagumi kemampuan Marco.
"Apa kamu bisa terbang, dengan sebagian bentuk seperti tadi?" tanya Adaline tampak makin tertarik, dengan apa yang bisa Marco lakukan.
"Iya. Aku bisa terbang dengan sebagian bentukku yang masih menjadi manusia," jawab Marco.
Adaline tampak seolah-olah akan meloncat kegirangan, dengan senyum yang mengembang lebar diwajahnya.
"Hebat! Benar-benar hebat! Apa kamu mau mengajariku caranya?" ujar Adaline.
"Hmmm... Maafkan aku. Tapi, aku sungguh tidak tahu caranya, karena aku benar-benar hanya melakukannya begitu saja," jawab Marco jujur.
Untuk sesaat, Adaline terlihat kecewa, tapi mungkin dia bisa merasakan kalau Marco tidak berbohong, tidak berapa lama, Adaline tampak sudah bisa tersenyum lagi.
"Ayo, kita masuk!" ajak Adaline, sambil berjalan pelan memasuki hutan.
Tanpa mengatakan apa-apa, Marco juga ikut berjalan menyusul Adaline, dan berjalan bersebelah-sebelahan dengannya.
"Kita ke rumahku saja!" celetuk Adaline.
__ADS_1
"Oke!" jawab Marco.
"Aku semalam sempat bertanya kepada orang tuaku. Katanya, memang banyak kaum kita yang terpisah dari tempat ini, yang tidak orang tuaku ketahui kota-kota tempat tinggal mereka yang baru, sejak meletusnya gunung berapi ditempat ini," kata Adaline, sambil terus berjalan pelan.
"Semestinya akan ada pertemuan, saat pergantian Alpha. Jadi, seluruh kaum kita bisa berkumpul. Tapi, sesuatu terjadi, lalu Alpha wafat sebelum ada penetapan penggantinya," lanjut Adaline.
"Kalau begitu, berarti masih banyak kaum kita yang tinggal terpencar didaerah lain?" tanya Marco.
"Iya, kalau menurut cerita orang tuaku," jawab Adaline.
"Gunung berapi yang meletus beberapa abad yang lalu, membuat banyak dari kaum kita yang kocar-kacir, dan melarikan diri ke tempat lain," lanjut Adaline.
"Lalu sekarang siapa yang menjadi Alpha, kalau tidak ada pewaris?" tanya Marco.
"Saudara laki-laki Alpha. Hmmm... Dia memegang status Alpha dengan terpaksa, daripada tidak ada yang memimpin sementara," jawab Adaline.
"Dirumahmu ada siapa saja?" tanya Marco.
"Orang tuaku, dan dua saudara laki-laki ku," jawab Adaline.
"Kenapa?" tanya Adaline.
"Hmmm... Apakah tidak apa-apa, kalau aku tiba-tiba berkunjung ke rumahmu?" tanya Marco.
"Ooh... Tidak apa-apa. Aku sudah memberitahu orang tuaku, kalau ada salah satu dari kita, yang berasal dari kota lain yang akan datang kerumah. Keluargaku justru senang, karena bisa bertemu denganmu," jawab Adaline.
"Apa ada orang lain yang tahu kedatanganku?" tanya Marco hati-hati.
"Hey! Kamu kira aku akan membocorkan rahasia?" ujar Adaline ketus.
"Maafkan aku..." kata Marco pelan.
"Tidak. Tentu saja tidak. Keluargaku juga bisa menutup mulut. Kami mengerti rasanya, saat dianggap pengecut," kata Adaline.
"Apa maksudmu?" tanya Marco.
"Keluarga kami juga pelarian dari tempat ini waktu gunung meletus, lalu kami kembali setelah kondisi ditempat ini sudah membaik," kata Adaline.
"Buyut kami dianggap sebagai pengecut, karena melarikan diri waktu itu," lanjut Adaline.
"Hmmm... Begitu rupanya," ujar Marco.
"Kapan kalian kembali tinggal ditempat ini? Apa baru saja?" tanya Marco.
"Tidak. Sudah hampir dua puluh generasi. Tapi, kami tetap diingat sebagai keluarga pengecut," jawab Adaline.
__ADS_1
"Kami kesulitan untuk mencari pasangan ditempat ini, karena banyak yang menolak kami. Sehingga banyak anggota keluarga kami, yang pergi lagi ke kota lain...
Sedangkan anggota keluarga yang tetap bertahan disini, banyak yang mati dalam kesepian..." lanjut Adaline, dengan raut wajah sedih.