
Latihan bertarung mereka kali ini cukup menarik.
Marco yang benar-benar sudah dalam kondisi terbaiknya, menganggap pertarungan mereka hanya seperti sedang bermain-main.
Dengan mudahnya Marco menghajar Beta, Gamma dan Delta, ketika mereka bergelut di tanah.
Begitu juga di udara, Marco yang memilih menjadi great horned owl, sama sekali tidak kesulitan untuk memukul jatuh ketiga pemuda yang menjadi lawan tandingnya, yang memilih untuk menjadi elang.
Setelah beberapa kali mereka bergelut di tanah kemudian terbang mengangkasa, Marco akhirnya menyadari kalau setiap perubahan bentuk dari Beta, Gamma maupun Delta seolah-olah ada yang cacat.
Titik kelemahan mereka masing-masing tampak terekspos, dan Marco bisa mengetahuinya.
Masih dengan bentuknya sebagai great horned owl, Marco turun dan memijakkan cakarnya ke tanah, dan berjalan mendekat ke rumah.
"Flints! Seba!" teriak Marco, memanggil sepasang suami istri itu.
Flints maupun Seba tampak setengah berlari dan keluar dari rumah.
"Iya. Ada apa?" tanya Flints.
"Aku mau melihat perubahan bentuk kalian!" ujar Marco.
Meskipun terlihat bingung, Flints dan Seba tanpa membantah ataupun bertanya, mereka mengikuti perintah Marco.
Setelah tidak berapa lama mereka masuk ke dalam rumah, dan keluar kembali sudah dalam wujud hewan, mereka kemudian berjalan menghampiri Marco.
Baik Flints maupun Seba, masing-masing memilih bentuk yang berbeda, ada yang menjadi serigala, dan yang lainnya hanya menjadi seekor anjing biasa.
Beta, Gamma dan Delta, yang juga ikut turun dari angkasa, dan berdiri di dekat Marco, tampak sama kebingungannya jika dibandingkan dengan Flints dan Seba.
"Yang mana di antara kalian yang adalah Flints?" tanya Marco.
"Aku yang berbentuk serigala," jawab Flints.
Marco kemudian menganggukkan kepalanya.
"Coba kalian berlari dari sini, ke sebelah sana!" perintah Marco, sambil menunjuk dengan gerakan sayapnya
"Bersama-sama, atau bergantian?" tanya Flints.
"Bergantian saja!" jawab Marco.
Flints dengan bentuk serigalanya, kemudian berlari lebih dulu ke arah belakang rumah Marco, lalu berlari kembali menghampiri Marco.
Begitu juga Seba yang melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Flints, bergantian dengan pasangannya itu.
Kemungkinan besar perkiraan Marco memang benar.
Masing-masing shapeshifter bisa terlihat titik kelemahan mereka, dan untuk membuktikannya, Marco menendang titik kelemahan Flints.
Tidak terlalu kuat cakar great horned owl Marco yang menyentuh Flints, tapi Flints segera terbaring jatuh ke tanah, sambil meringis kesakitan.
Marco kemudian berbalik.
Beta, Gamma dan Delta, terlihat bersama-sama bergerak mundur menjauh dari Marco.
Mungkin mereka menganggap Marco sudah gila, dan hendak menyakiti mereka semua.
"Jangan kalian coba-coba untuk lari!" kata Marco tegas, dan seketika itu juga membuat ketiga pemuda itu berhenti bergerak, dan berdiri terdiam.
__ADS_1
"Beta gerakan sayapmu!" perintah Marco.
Salah satu dari elang di situ terlihat membuka sayapnya lebar-lebar, dan menggerakkannya dengan perlahan-lahan.
Marco menghampiri Beta terlebih dahulu, dan dengan mengepakkan sedikit sayapnya, agar terangkat dari tanah, Marco menyambar titik kelemahan Beta dengan cakarnya.
Hasilnya sama seperti Flints.
Beta terkapar sambil meringis kesakitan.
Oke!
Sudah cukup membuktikannya, karena Beta yang lebih kuat dari Gamma dan Delta saja bisa terbantai, jadi apa gunanya mencoba hal itu kepada Gamma dan Delta, selain hanya untuk membuat mereka merasa kesakitan sia-sia.
Marco lalu kembali berbalik dan melihat Flints.
"Maafkan aku...! Aku hanya ingin mencoba sesuatu," kata Marco kepada Flints.
Flints tampak kepayahan hanya untuk berdiri, tapi dia masih menunduk kepada Marco, sebelum dia berjalan pelan dan masuk ke dalam rumah Marco.
Marco hampir saja berjalan pergi, ketika dia mendengar suara Beta.
"Kenapa hanya aku yang kamu serang?" tanya Beta.
"Karena kamu yang terkuat dari mereka!" jawab Marco.
"Lalu cuma aku yang layak dipukul?" tanya Beta lagi.
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya, dan dengan asal-asalan menendang Gamma dan Delta dengan kaki bercakarnya, bergantian di titik kelemahan mereka.
Reaksi Gamma dan Delta sama saja.
Keduanya terbaring ke tanah, dan terlihat aneh, ketika sayap-sayap mereka bergerak tidak beraturan, saat menggelepar kesakitan di sana.
"Sudah puas sekarang?" tanya Marco ketus.
Beta terdengar masih tertawa kecil, sambil berusaha berdiri kembali, lalu berjalan menghampiri Marco.
"Apa maksud dari semuanya itu tadi?" tanya Beta.
"Rasanya aneh saat kamu memukulku tadi," lanjut Beta.
"Perubahan bentuk yang kalian lakukan tidak sempurna. Titik-titik kelemahan kalian masih bisa terlihat dengan jelas," jawab Marco.
"Oh... Jadi itu sebabnya ketika kamu memukulku tadi, aku dengan mudahnya dikalahkan olehmu?" tanya Beta tampak memastikan.
"Iya," jawab Marco.
"Sekarang, kalian harus memperhatikan, apakah ada di bagian tubuhku yang memiliki tanda-tanda kecacatan," lanjut Marco.
"Maksudmu seperti apa?" tanya Beta.
Marco bingung menjelaskannya, karena dia merasa tiba-tiba saja dia mengetahui hal itu.
Setelah memutar otak, Marco terpikir untuk langsung memberikan contohnya saja.
"Delta! Ke sini!" panggil Marco.
Salah satu elang yang baru saja berdiri, kemudian berjalan menghampiri Marco.
__ADS_1
Marco kemudian melihat bagian tubuh Delta.
"Lihat ini!" ujar Marco sambil menggerakkan sayapnya, untuk menunjukkan bagian yang dia maksud.
Tetapi Beta tidak menjawab, bahkan seolah-olah kebingungan, hingga mendekatkan kepalanya ke bagian depan badan Delta.
"Tidak ada apa-apa!" kata Beta.
"Ah! Dasar bodoh!" ujar Marco sebal.
Marco kemudian mengubah bentuknya sebagian, dan kini dengan tangan manusianya, Marco bisa menunjuk ke arah yang jelas.
"Yang ini!" kata Marco.
Beta kemudian mendekat, dan dengan memakai paruhnya, Beta mematuk Delta di titik yang ditunjukkan oleh Marco.
Terang saja, Delta segera terkapar ke tanah, sambil meringis kesakitan, dan Beta terdengar tertawa terbahak-bahak.
"B*rengsek!" teriak Delta.
"Apa-apaan kamu ini?" tanya Marco yang makin kesal dengan Beta.
"Aku ... hanya ... mau ... memastikan...." jawab Beta, dengan suara terengah-engah, tampak berusaha keras agar berhenti tertawa.
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menarik nafas panjang, agar kekesalannya tidak berlanjut.
"Gamma! Kamu ke sini!" panggil Marco.
Gamma kemudian berjalan menghampiri Marco dan Beta.
"Coba perhatikan di badan Gamma! Apa ada tanda yang mirip seperti di badan Delta tadi?" tanya Marco.
"Kamu jangan menyakitinya lagi! Kecuali kamu mau, kalau aku yang membalasmu," lanjut Marco buru-buru, dan dengan suara tegas.
"Oke!" jawab Beta dengan santainya.
Setelah tidak berapa lama Beta memperhatikan tubuh Gamma, Beta tampak mendekatkan paruhnya ke salah satu bagian di badan Gamma.
"Beta!" seru Marco dengan suara meninggi.
Gerakan Beta mendadak terhenti.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Marco kesal.
"Aku hanya mau menunjukkan saja...." jawab Beta datar.
"Atau kamu mau aku menunjuk begini?" tanya Beta sambil membuka sayapnya dan menunjuk ke arah Gamma.
"Apa kamu tahu yang mana yang aku tunjuk?" tanya Beta lagi.
Dengan Beta menunjuk memakai sayapnya, memang tidak ada titik yang spesifik, melainkan seperti sedang menunjuk seluruh bagian tubuh Gamma.
Marco memang hampir hilang kesabarannya dengan tingkah Beta, tapi dia tidak bisa memarahinya, karena memang benar apa yang dibilang Beta.
"Yang mana?" tanya Marco, setelah menarik nafas panjang.
"Yang ini!" kata Beta, sambil menunjuk dengan paruhnya.
Marco melihat ke bagian yang ditunjukkan Beta.
__ADS_1
"Iya. Itu dia!" ujar Marco.
Tanpa ada yang menduga apa-apa, dengan cepat, Beta kemudian mematuk titik kelemahan Gamma, sebelum dia terbang mengangkasa, sambil tertawa terbahak-bahak.