Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Panci


__ADS_3

"No. Gabut banget nih. Ngapain yuk. Sambil nunggu si bos". Kunkun sudah merasa bosan menunggu bos mereka.


"Iya. Kalau kita masuk nanti kena semburan maut dari bos Fathan. Diluar gabut. Ngapain ya kita enaknya Kun". Ono pun merasakan apa yang Kunkun rasakan.


Mereka duduk diatas atap mobil sambil melihat sekeliling. Walaupun gedung yang mereka gunakan sudah tak layak dan cenderung horor, namun lokasinya sangat bagus dan banyak penjual makanan berderet. Diarea tersebut juga terdapat gedung perkantoran.


"Gedung tua tapi tak menyeramkan ya Kun". Ono berkata kepada Kunkun sambil mengamati sekeliling.


"Iya. Mungkin kalau malam baru horor no. Ini kan siang jadi banyak pekerja yang ngantor". Kunkun menjelaskan kepada Ono.


Pandangan kedua makhluk tak kasat mata itu tertuju kepada dua makhluk yang menurut Almeer lebih mengerikan dibandingkan duo KunNo. Karena Almeer pernah mengalami hal buruk dan tak terlupakan dengan dua makhluk itu.


"Kun. Lihat deh. Si asoy geboy lagi beraksi". Ono meminta Kunkun melihat kearah dimana dia menatap saat ini.


"No. Bukannya mereka yang pernah ngejar bos Almeer ya. Pas lagi didekat kampus". Kunkun mencoba mengingat kedua pengamen tersebut.


"Iya. Jauh juga ya mereka mainnya". Jawab Ono.


"Ikutin yuk. Joged gretong kita". Kunkun memberikan ide gila kepada Ono.


"Boleh. Boleh. Boleh". Ono menjawab dengan semangat ajakan Kunkun.


Kedua bodyguard si kembar mendekati dua pengamen tak biasa itu. Mereka asyik bernyanyi dan berjoged sambil menggoda para pria yang sedang makan dikedai tepi jalan tersebut.


"Aduh Abang ganteng. Godain kita dong". Suara melambai dari salah satu pengamen tersebut mencoba menggoda pembeli dikedai tersebut.


"Gue masih normal gak suka terong kali". Jawab salah satu pelanggan diwarung itu.


"Ih. Suka gitu deh si abang. Terong akikah mah super". Jawab si pengamen.


"Masa terong makan terong. Ogah dong". Jawab pembeli lain disaut suara tawa para pembeli didalam kedai tersebut.


Duo pengamen amazing terus berjalan dari satu kedai ke kedai lain. Dan duo KunNo masih mengikuti mereka. Karena merasa lelah, kedua pengamen tersebut berisitirahat dibawah pohon tak jauh dari gedung sekolah tua tempat lokasi syuting si kembar. Mereka duduk sambil menghitung hasil kerja mereka.


"Alhamdulillah ya Njel hasil kita hari ini". Slaah satu pengamen berucap syukur dengan hasil perolehan mereka.


"Iya Alhamdulillah Jen. Berapapun itu harus kita syukuri". Jawab dari pengamen lainnya.


Mereka duduk sambil bersender pada batang pohon besar tersebut dan menikmati semilirnya angin. Sesekali mereka meneguk air mineral yang mereka bawa. Duo KunNo masih setia disamping mereka.


"Kun. Loe tau gak nama mereka siapa". Ono dengan jiwa keingintahuan yang tinggi kembali bertanya kepada Kunkun.


"Gue aja penasaran No. Satu panggil Njel. Yang atu lagi Jen". Kunkun mencoba memikirkan nama kedua pengamen tersebut.


"Gak mungkin kan yang satu namanya Ganjel terus satu lagi Jendol". Ono menebak dengan sekenanya nama mereka.


"Kok aneh gitu namanya". Kunkun bertanya alasan Ono memberi nama itu.

__ADS_1


"Ya karena keduanya sama-sama punya yang Ganjel dan Jendol". Ono menjelaskan sambil melirik kearah rok mini mereka yang nampak wow karena sesuatu.


"Hihihi. Loe bener No". Kunkun yang paham terkikik geli.


Karena tawa KunNo yang tak bisa direm, membuat duo pengamen itu sedikit meremang. Mereka memegang tengkuk secara bersamaan.


"Jen. Loe merinding kagak". Salah satu pengamen bertanya kepada temannya.


"Iya dikit". Pengamen itu menjawab pertanyaan temannya.


"Tapi gak mungkin kan ada setan kelayapan siang bolong gini. Kecuali setan gabut" Kedua pengamen itu terkikik geli saat menyebut setan gabut.


Duo KunNo yang merasa diejek hanya cemberut. Mereka ingin mengerjai dua pengamen unik itu, tapi takut terkena hukuman dari kedua bos kecil mereka. Saat mereka menikmati syahdunya suasana dan semilirnya angin yang bertiup, ketenangan itu terganggu karena bunyi suara denyitan rem yang begitu kencang diikuti dengan bunyi dentuman.


"Suara apa itu Jen". Kedua pengamen itu terlonjak kaget.


"Iya kenceng banget. Lihat yuk". Kedua pengamen tersebut bergegas melihat kearah jalan raya.


Ditepi jalan sudah banyak orang berkerumun. Bahkan para kru dan artis yang sedang syuting ikut keluar. Karena bunyi itu begitu keras. Tak lama suara sirene mendekat karena memang lokasi tak jauh dari klinik dua puluh empat jam.


"Kecelakaan ternyata Jen. Ih kasian banget korbannya". Salah satu pengamen berkidik ngeri melihat kondisi korban.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun". Suara dari beberapa orang yang melihat kondisi korban yang tertabrak dihadapan mereka.


Satu persatu menyingkir dari area kecelakaan saat korban telah dievakuasi. Begitu juga dengan dua pengamen unik dan duo KunNo. Mereka kembali ketempat dimana mereka bersantai tadi. Ada yang berbeda dari raut wajah kedua pengamen unik itu.


"Tentang kecelakaan tadi". Jawab pengamen lainnya.


"Iya. Tapi ada yang lebih dari itu Jen". Nampak pengamen itu sedikit kebingungan dan berfikir.


"Terus apaan". Jawab pengamen lainnya.


"Loe dengarkan tadi ada bapak-bapak yang nolongin korban sambil bilang, almarhum sudah tiada". Jelas pengamen itu kepada temannya.


"Iya. Terus". Pengamen itu masih kebingungan dan belum bisa memahami.


"Loe sadar gak sih. Kalau tiba-tiba kita meninggal nanti. Kita disebut apa dong. Almarhum apa Almarhumah". Jelas pengamen itu.


"Eh iya juga ya Njel. Kok gue baru kepikiran. Ntar dinisan kita sebutannya apa dong". Pengamen lainnya mulai berfikir.


"Gak mungkin kan nisan kita pake dua gelar". Jelas pengamen itu lagi


"Dahlah. Nanti kita tanya pak ustad aja gimana Njel". Saran pengamen yang disebut Jen itu.


"Oke". Jawab singkat temannya.


Tak hanya kedua pengamen unik itu yang sekarang bingung, duo KunNo pun ikut berfikir. Mereka pun terdiam sambil merenung. Entah apa yang sedang mereka renungkan. Tak lama terdengar suara si kembar yang sudah usai melakukan syuting. Duo KunNo kembali keposisi mereka sebelum tuannya mencari.

__ADS_1


Hari sudah malam, si kembar yang mulai lelah memilih untuk segera pulang. Begitu juga dengan Dean bersaudara dan Almeer. Didalam mobil hanya ada suara musik. Thian menengok kearah kursi penumpang dan melihat kedua bodyguard mereka yang begitu tenang. Itu membuat Thian penasaran.


"Kalian kenapa. Mogok ngomong". Tanya Thian kepada keduanya.


"Lagi mikir bos". Jawab Ono.


"Bisa mikir juga". Fathan menimpali jawaban mereka.


"Ck. Si bos mah gitu". Ono kesal dengan jawaban Fathan.


"Mikir apa coba". Thian kembali bertanya kepada duo KunNo.


"Tadi kita kan ketemu si asoy geboy bos lagi ngamen didepan". Ono mulai bercerita.


"Terus. Kalian kerjain gitu". Thian menjawab dan menebak apa yang dilakukan keduanya.


"Gak bos. Kita anak baik kok". Kunkun menyangkal perkataan Thian.


"Yaudah lanjut ceritanya". Thian meminta Ono untuk kembali bercerita.


"Mereka itu bingung bos. Tadi kan ada kecelakaan tuh. Nah mereka bingung karena nanti saat mereka meninggal mau disebut apa". Ono menjelaskan kepada Thian apa yang dipikirkannya.


"Maksudnya disebut apa". Fathan bertanya kepada Ono.


"Lah kan kalau cowok disebut Almarhum. Cewek almarhuma. Nah asoy geboy apaan. Mereka kan jenis keduanya bos". Ono bertanya kepada kedua bosnya.


"Almunium". Jawab Thian savage.


"Kok Almunium bos" Ono masih belum mengerti.


"Ya kan gak jelas statusnya. Dan lagi dimasa hidup mereka sering dibilang apa coba". Thian menjelaskan kepada Ono.


"Buncis Kaleng bos". Ono menjawab pertanyaan Thian.


"Nah tu tau. Lagian juga bingung mau kasih sebutan apa". Jawab Thian.


"Panci dong mereka". Jawab Kunkun


"Bisa jadi. Ntar pas diumumin pake toa masjid. Telah meninggal dunia si A. Mari kita doakan semoga Almunium tenang disisiNya". Ono mencoba mempraktekkan nama tersebut.


"Betulll". Jawaban duo F kompak.


______


Hadehhh ada aja pikiran mereka..


Joget jempol gaesss

__ADS_1


__ADS_2