
"Fathian..Fathan...Joey...Amel...Lihat sini dong". Teriakan saling bersautan dari para penggemar saat Thian dan yang lainnya memasuki gedung bioskop.
Mereka berjalan dengan pengawalan yang cukup ketat. Tempat sudah tersedia untuk mereka melakukan fanmeet. Dan akan dilanjutkan dengan nobar pemutaran film yang mereka bintangi. Gedung tersebut sudah dipenuhi wartawan dan fans. Seperti perkataan Fathan sebelumnya, hari ini dia akan hadir terlambat. Namun pagi sebelum rombongan berangkat, Fathan memebrinkabar jika dipastikan tidak akan hadir diacara premiere film yang dibintanginya.
Acara sudah dimulai. Beberapa wartawan mulai menanyakan perihal film layar lebar yang akan diputar perdana hari ini. Pertanyaan pribadi pun tak luput ditanyakan oleh para wartawan. Kisah cinta si kembar adalah hal paling membuat semua wartawan dan penggemar penasaran. Karena mereka selalu kompak untuk menyanggah setiap rumor yang beredar.
"Fathian, apa benar sedang berkencan dengan penyanyi Ghea". Pertanyaan salah satu wartawan yang datang keacara tersebut.
Sebelum menjawab Fathian melihat kearah Almeer. Almeer mengangguk pelan. Almeer sengaja mengangguk untuk memberikan kesempatan Fathian menjawab pertanyaan tersebut tanpa ada yang harus ditakuti. Karena selama ini Almeer yang terus menjawab pertanyaan dari wartawan. Fathian mulai menjawab pertanyaan dari wartawan tersebut.
"Sampai saat ini baik saya maupun kakak saya masih fokus dengan karir. Dan kami belum memikirkan untuk memiliki kekasih. Terimakasih". Jawaban Fathian begitu singkat dan tegas. Para wartawan yang mendengar jawaban tersebut menerima dan tidak mengajukan pertanyaan dengan topik yang sama.
Acara berlanjut dengan pemutaran perdana film layar lebar yang mereka bintangi. Keluarga dan sahabat para aktor yang telah mendapatkan undangan khusus, bisa langsung menempati kursi didalam bioskop. Airil selalu mengosongkan jadwal jika itu berhubungan dengan keluarganya. Tak pernah sekalipun Airil dan Eneng tidak hadir dalam setiap acara kedua putranya. Emak ingin sekali ikut, namun kondisi fisik yang tidak memungkinkan membuat emak memilih berada dirumah.
Acara berakhir hingga malam menjelang. Satu persatu para aktor dan aktris beserta keluarga dan sahabat mereka, meninggalkan lokasi. Terjadi kerumunan didepan gedung bioskop tersebut. Mereka sangat ingin melihat idola mereka dan berharap bisa berfoto bersama. Teriakan nama masing-masing idola mereka. Dan hanya bisa dibalas dengan lambaian tangan dan senyuman.
Airil membawa keluarganya untuk makan malam bersama direstauran. Fathan yang baru usai dengan pekerjaannya, menyusul keluarganya dan bergabung untuk makan malam bersama. Airil bahkan menelpon supir dirumah untuk mengantarkan emak ke restauran tempat mereka akan makan malam.
"Mah. Pah". Fathan menyapa kedua orangtunya sesampainya direstauran. Fathan langsung mencium telapak tangan kedua orangtuanya dan mencium kedua pipi mereka.
"Abang. Duduk nak". Jawab Airil menyambut sang putra.
"Malam om. Tante". Begitu juga asisten pribadi Fathan yang juga ikut serta.
"Malam Adrian. Ayo duduk". Jawab Airil. Fathan dan Fathian memiliki asisten pribadi masing-masing. Agar memudahkan mereka dalam pekerjaan. Dan kedua asisten mereka dekat dengan keluarga si kembar.
"Kita nunggu Oma dulu. Masih dijalan". Ucap Airil. "Kalian boleh memesan dulu makanan yang kalian inginkan sambil menunggu Oma datang". Airil meminta memesan terlebih dahulu. Airil juga memesankan makanan untuk emak.
Lima belas menit berlalu, Emak sudah tiba direstauran dibantu oleh supir mereka. Kaki emak memang susah untuk berjalan agak jauh ataupun berdiri lama. Dan perlu dipapah agar memudahkan emak berjalan. Airil pernah membelikan kursi roda. Namun yang paling terjadi, emak nyangkut didalam kursi roda.
"Malam gesss". Sapa emak kepada Anak menantu dan cucunya.
__ADS_1
"Malam Oma". Jawab mereka kompak. Eneng berdiri membantu emak untuk duduk. Dan mereka memulai makan malamnya dengan diselingi sedikit perbincangan.
"Apa rencana kalian setelah ini. Masih ada shooting lagi atau sekedar pemotretan bang, dek". Tanya Airil kepada kedua putranya disela makan malam.
"Jadwal kami akan selesai akhir bulan ini pah. Dan kami ingin libur dulu sebentar". Jawab Fathan. "Iya pah. Kami sudah lama tidak berlibur semenjak pulang dari rumah nenek". Thian ikut menyahut.
"Mau liburan kemana kalian. Keluar negeri atau hanya sekedar keliling Indonesia". Airil kembali bertanya kepada kedua putranya.
"Belum kepikiran pah. Menurut papa enaknya kemana". Thian menanyakan ide kepada sang papa.
"Yang mau liburan itu kalian. Jadi kalian tentukan sendiri dong mau kemana". Jawab Airil sambil tersenyum. Airil dan Eneng tidak pernah ikut campur kehidupan kedua putranya. Jika itu masih dalam kondisi wajar dan tidak berlebihan. Mereka hanya mengingatkan agar kedua putranya tidak mengambil langkah yang salah. Fathan dan Thian pun selalu menanyakan pendapat orangtuanya sebelum mengambil keputusan.
"Patan. Loe beneran pacaran ma si Nini pelet". Emak yang selalu mengikuti berita sang putra tak luput dari gosip yang sedang beredar.
"Nini pelet siapa Oma. Emang Fathan golongan plastik apa. Transparan gak kelihatan". Fathan masih belum paham siapa yang dimaksud oleh emak.
"Alah itu penyanyi yang suka melet-melet kalo selpi". Emak memperinci pertanyaannya sambil mengacungkan garpu keara Fathan.
"Oma kita loe tadi. Bukannya tadi loe yang datang ke acara penmit". Emak masih belum mau mengalah dengan pertanyaannya.
"Thian Oma yang datang. Fathan ada kerjaan lain. Bang Al lupa jadwal ulang pekerjaan kita. Jadi Fathan gak bisa datang". Fathan menjelaskan kepada sang Oma. Karena memang faktor usia membuat Oma sering salah memanggil kedua cucunya.
"Oma gak usah mikir aneh-aneh. Thian gak suka sama si Nini pelet. Thian juga belum mau cari pacar. Males. Ribet". Tanpa ditanya Thian menjelaskan kepada Omanya. Mereka paham sifat sang Oma sangat selektif dalam memilihkan pasangan untuk cucunya itu. Dan si kembar sangat menghargai apapun yang dipilihkan sang Oma.
"Tapi kalian normal kan". Emak bertanya tanpa basa-basi sambil memajukan separuh badannya kearah meja makan. Semua yang sedang menikmati makan malam tersedak karena pertanyaan emak yang spontan.
"Astaghfirullah. Oma gitu sih. Gak asyik. Sejak kapan kamu belok. Masih lurus Oma". Thian memberi jawaban sambil memanyunkan bibirnya. "Iya ih Oma. Dapat ide darimana langsung ngasih kesimpulan kayak gitu". Fathan tak mau kalah memberi jawaban kepada Omanya.
"Habisnya setiap gosip ditolak. Kayak si Almamater aja. Jomblo sampai tua. Untung ganteng. Jadi gak keliatan kalo udah tua. Ya Oma pikir kalian suka main pedang-pedangan gitu. Gak suka main sodok-sodokan". Emak memperjelas pernyataannya dengan nada santai.
"Gak enak kali Oma main pedang-pedangan. Hehehe". Toni asisten Fathan me impali pernyataan Emak. Yang membuat pembahasan melenceng dari jalurnya.
__ADS_1
"Nah makanya itu. Apa enaknya coba main pedang-pedangan. Lecet yang ada. Gak ada asyik-asyiknya". Emak tak hentinya berbicara sambil menikmati makanannya. Airil dan Eneng hanya bisa menepuk jidat mereka. Si kembar hanya diam tak menanggapi.
"Pokoknya Oma minta bukti kalau kalian masih doyan goa kenikmatan. Kalian harus bawa pasangan kalian sebelum Oma wafat. Biar Oma wafat dengan tenang gak gentayangan. Oma biar fokus jawab pertanyaan malaikat. Kalau kalian gak bawa tuh perempuan. Oma bakalan cariin jodoh kalian. Oma takut karena sekarang jaman edan. Orang suka main anggar aja dibanggain. Amit-amit". Perkataan Oma membuat si kembar berdiri dan mendekat kekursi emak. Mereka berjongkok disisi kanan dan kiri.
"Oma gak akan pergi sebelum melihat cicit Oma. Oma gak boleh lagi omong gitu. Percaya sama kami. Kami gak akan melenceng dari jalur. Jadi Oma jangan mikir aneh-aneh. Oma akan tetap bersama kami sampai kami memberikan cicit pada Oma". Fathan mengatakan hal yang menyentuh hati sambil menggenggam telapak tangan kanan Oma. Dan telapak tangan kiri dalam genggaman Thian. Mereka bergantian memeluk dan mencium pipi emak.
Mereka kembali menikmati makan malam setelah suasana yang sedikit sendu. Restauran yang mereka pilih tidaklah private. Mereka berbaur dengan pengunjung lainnya. Beberapa fans si kembar ada yang terang-terangan mengabadikan idola mereka bersama keluarganya. Ada yang sengaja menghampiri meja untuk sekedar berfoto ataupun meminta tanda tangan. Beruntung tidak ada kejadian yang membahayakan antar fans dan idolanya.
"Selamat malam. Om, Tante. Apa saya mengganggu". Tanya seorang wanita muda cantik yang datang menghampiri meja Airil. Si kembar hanya melihat sekilas. " Malam. Oh tidak nak". Airil menjawab sapaan gadis itu dengan tersenyum.
"Ganggu banget ini mah. Air mancur sok basa basi". Emak bergumam pelan namun masih bisa didengar oleh sikembar dan asisten mereka. Sikembar dan asistennya menahan tawa mendengar ocehan emak.
"Hai Fathian. Fathan. Gue tadi nonton film kalian loh. Bagus banget". Gadis itu menyapa si kembar dan masih dalam posisi berdiri.
"Oh. Thanks". Thian menjawab singkat tanpa menoleh kearah lawan bicaranya. Fathan tetap fokus dengan piring didepannya.
"Ini pasti Oma kalian ya. Wah masih cantik ya. Hai oma. Nama saya Ghea teman dekat Fathian". Gadis itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kepada emak. "Ralat. Bukan teman dekat. Hanya kenal saja". Thian tak terima Ghea mengatakan jika mereka dekat. Wajah Ghea berubah pias.
"Huh dari dulu mah Oma cantik. Mis unipers kalah. Tapi maaf ya kursinya sudah penuh. Jadi cari kursi lain saja". Emak langsung mengusir Ghea. Ghea tersenyum kecut mendengar penolakan emak. "Kalau begitu Ghea pamit dulu. Permisi om, Tante, Oma. Gue kesana dulu Fathian". Ghea berjalan menjauh setelah mendapat jawaban dari Airil.
Wajah Ghea benar-benar sangat masam mendapatkan penolakan dari emak. Dia terus bergumam dan mengumpat. "Gue salah apa sih. Gue oke gini masih aja ditolak. Dasar gajah bengkak. Kalau bukan karena Fathian, gue juga ogah sok akrab sama Omanya yang segede tronton". Ghea bergumam kesal dan sang asisten pun mendengar.
"Wah-wah Nini pelet berani benar menghina emak. Lihat aja apa yang gue lakuin". Jangan lupakan bodyguard ghaibnya sikembar yang selalu setia. "Gubrak". Suara dentuman jatuh terdengar tak jauh dari meja keluarga Fathian. Dan suara tawa terdengar disana.
"Auhh. Sakit. Siapa sih yang dorong gue. Loe dorong gue Met". Ghea terjungkal karena ulah si Ono. Dan Metha sang asisten menjadi sasaran kesalahan Ghea. "Bukan gue. Gue kan jalan didepan loe". Metha yang memang tidak salah langsung menyangkal.
Malu itu yang Ghea rasakan. Rasa sakitnya tak menutupi rasa malunya. Ghea memutuskan untuk keluar restauran karena sudah terlanjur malu. Emak tertawa terbahak-bahak tak tertahankan.
"Matanya gak dipake jadi dlosor kan. Tuh gak sesek samantha ma rachelnya kejepit. Dah gitu kepentok lantai". Emak semakin terbahak. Asisten sikembar pun ikut tertawa. Sedangkan Eneng dan Airi hanya bisa menghela nafas panjang. Tak jauh dengan si kembar.
"Itu akibat menghina kanjeng ratu kita. Hanya kita yang boleh meniskatan emak bukan yang lain". Ujar Ono bangga. Fathian menatap Ono sambil tersenyum disudut bibirnya.
__ADS_1