Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Ujian


__ADS_3

"Baby. Maaf aku tidak bisa datang diacara wisuda kamu".


Tiga hari sebelum acara wisuda Zee, Thian membatalkan janjinya untuk hadir diacara wisuda tersebut. Zee nampak kesal dan kecewa setelah membaca pesan Thian. Zee tidak lantas bertanya alasan Thian, namun memilih bertanya kepada Almeer.


"Abang. Kenapa kak Thian dikasih perkejaan saat Zee wisuda. Bukannya kak Thian sudah bilang minta diundur harinya".


Mood Zee sudah benar-benar tidak baik. Hari ini seharusnya Zee akan mencoba kebaya yang akan dipakainya untuk wisuda nanti bersama Melody.


"Zee. Ayo jalan sekarang". Melody masuk kedalam kamar Zee. Setelah menikah dengan Fathan, Zee semakin dekat dengan Melody. Bak kakak perempuan, Zee selalu menceritakan apa saja dengan Melody.


"Gak jadi kak. Zee males". Melody tersenyum dan berjalan mendekati Zee yang sedang tengkurap diatas ranjang.


"Ada apa dek. Kok cemberut gitu". Melody mengusap lembut surai Zee. Zee terus memainkan ponselnya.


"Kak, bang Fathan ada kerjaan diluar kota gak". Zee masih dengan posisinya saat bertanya kepada Melody.


"Gak sayang. Bang Fathan malahan baru pulang tadi pagi. Kenapa emangnya". Melody masih setia mengusap lembut kepala Zee.


"Kak Thian gak jadi datang pas acara wisuda Zee nanti kak. Dia juga gak bilang ada acara apa atau kemana". Zee pun akhirnya menangis. Melody lekas memeluk adik iparnya.


"Mungkin Thian ada acara mendadak sayang. Sudah jangan sedih lagi. Yuk kita ke butik saja. Terus jalan-jalan". Melody mencoba membujuk Zee.


"Rasanya Zee malas untuk datang ke acara wisuda kak". Zee sudah tidak lagi menangis namun masih enggan beralih dari atas ranjang.


"Jangan seperti itu. Ini kan impian kamu sayang. Jangan membuat orangtua kamu ikut sedih dek. Nanti kakak coba tanya bang Fathan kemana Thian pergi. Apa kamu sudah bertanya bang Almeer". Zee mengangguk menjawab pertanyaan Melody. Zee masih menunggu jawaban Almeer.

__ADS_1


"Sudah kak. Tapi belum dibalas dari tadi. Kak Thian gak pernah kayak gini sebelumnya. Ada yang aneh menurut Zee". Zee sudah mulai overthinking kepada Thian. Melody kembali berusaha membuat Zee tetap tenang.


"Gak boleh ya sayang berfikir aneh-aneh. Kamu dan Thian sudah saling kenal lama. Bahkan lebih kenal kamu ke mereka dibandingkan kakak. Jadi jangan berfikir yang aneh-aneh ya sayang". Zee mengangguk paham dan bergegas kembali merapikan dirinya.


"Ayo kak. Kita ke butik aja. Zee udah gapapa kok". Melody mengangguk tersenyum melihat Zee yang kembali ceria.


Saat didalam perjalanan menuju butik, Melody mengirim pesan kepada sang suami. Melody mencoba menanyakan keberadaan Thian. Karena memang pagi ini Melody tidak melihat adanya Thian dirumah. Melody sedang menginap dirumah mertuanya, karena semalam Eneng sakit. Melody membantu menjaga Eneng dan emak.


"Maaf Zee, ada satu pekerjaan yang harus Thian selesaikan dalam Minggu ini dan tidak bisa diundur lagi".


Almeer sudah mengirim balasan kepada Zee. Karena sedang menyetir, Zee belum membaca pesan itu. Setibanya di butik, keduanya segera masuk dan mencoba kebaya yang akan Zee kenakan.


Saat ini Thian sedang berada dikantor bersama Almeer dan Satria. Thian yang meminta Almeer untuk mengatakan jika dia ada pekerjaan mendadak. Walaupun nyatanya Thian tidak memiliki jadwal apapun selama empat hari ini.


"Yan, gue gak mau ikut campur kalau sampai Zee marah. Kenapa loe gak jujur sih Yan". Almeer sudah menolak permintaan Thian untuk berbohong kepada Zee, namun Thian terus memaksa.


"Ingat Yan, kejujuran adalah landasan utama dalam sebuah hubungan. Gue yakin loe pasti bisa mengatasi semuanya. Jangan sampai Zee tau dari berita luar". Almeer mengingatkan kembali Thian, Thian mengangguk dan segera berlalu pergi.


"Kok jadi gini sih Al. Gak beresiko apa buat Thian, kalau dia kesana sendiri". Satria mulai mengkhawatirkan Thian.


"Loe tenang saja. Gue udah nyuruh orang buat jaga Thian dari jauh. Gue juga gak mungkin lepasin Thian pergi sendiri. Semoga ini segera berakhir. Thian segera menikah. Gue harap semua usai sebelum pernikahan mereka dilaksanakan". Satria mengangguk menjawab perkataan Almeer. Almeer mengirim pesan kepada orang yang dimintanya menjaga Thian. Dia memastikan semua berjalan lancar.


Thian pergi menuju bandara dengan penyamaran. Hanya Ono yang ada disampingnya. Awalnya Thian ragu untuk pergi, apalagi tiga hari lagi Zee akan wisuda. Namun jika dia tidak menyelesaikan ini semua. Thian takut akan membawa masalah nantinya.


"Bos loe gak coba kasih tau bos Fathan". Ono mengingatkan Thian untuk memberitahu Fathan tentang kepergiannya.

__ADS_1


"Nanti saja No kalau kita sudah sampai". Suara Thian lirih sekali tak seperti biasanya. Ono paham jika saat ini terlalu banyak beban dalam pikiran Thian.


Pesawat Thian sudah mengudara. Didalam pesawat pikiran Thian terus tertuju kepada Zee. Dia tidak pernah pergi tanpa memberitahu Zee kemana tujuannya.


"Baby tunggu aku. Akan aku selesaikan ini secepatnya".


Thian bermonolog didalam hati. Sepanjang perjalanan, Thian bermunajat dalam hati. Agar semua dipermudah. Dan semua kembali seperti sediakala.


Satu setengah jam waktu tempuh Thian. Segera dia menuju hotel tempatnya menginap. Thian sebenarnya ingin segera menemui seseorang dan menyelesaikan semuanya, namun Ono memintanya untuk istirahat dulu.


Thian merebahkan tubuhnya dan mengaktifkan kembali ponselnya. Beberapa pesan telah masuk dan tentunya pesan Zeelah yang terbanyak. Thian tersenyum memandangi foto Zee mengenakan kebaya berwarna mint.


"Kamu cantik sekali sayang". Thian bergumam pelan sambil menatap foto Zee. Tak lama Fathan menghubungi ponsel Thian. Karena satu pesan juga belum dibalas oleh Thian.


Thian tidak mengangkat panggilan telepon dari Fathan. Thian sedang malas berdebat dengan saudara kembarnya.


"Maaf bang gue lagi mau istirahat. Dan gue lagi gak mau debat sama loe. Gue baik-baik saja. Gue lagi ada urusan sebentar".


Thian membalas semua pesan Fathan dalam satu kali. Thian juga mengirim pesan ke Zee, memintanya agar tidak khawatir. Dan meminta maaf karena tidak bisa menemani Zee hari ini.


"Bos. Loe yakin mau ketempat itu sendirian. Eh sama gue. Lupa hehehe". Ono mencoba bertanya kembali kepada Thian. Karena Ono khawatir dengan keselamatan Thian.


"Insyaallah gue gak apa-apa No. Kan ada loe juga. Gue harus selesaikan ini semua no. Jadi pas gue sudah punya kehidupan baru, tidak ada gangguan lagi". Ono mengangguk paham. Ono paham apa yang sedang Thian rasakan.


"Gue akan jaga loe semampu gue bos. Semoga semua berakhir dengan cepat. Jujur gue kecewa bos. Gue kira masalah ini sudah berakhir. Kenapa muncul lagi". Ono kesal dengan keadaan yang dihadapi Thian saat ini.

__ADS_1


"Gapapa No. Mungkin ini ujian gue sebelum nikah. Dan makasih udah mau jaga gue". ucap lirih Thian kepada Ono.


Thian memilih tidur karena benar-benar lelah. Dan sore nanti Fathan akan menemui seseorang dan melihat keadaannya.


__ADS_2