
"Hallo Mel. Selamat atas pertunangan kamu". Davin mendekati Melody saat acara sudah selesai. Dan hanya keluarga yang masih tinggal di ballroom hotel.
"Makasih Dav". Melody menjawab secara singkat saja. Pak Dimas datang menghampiri putrinya.
"Mel, ayah yang mengundang Davin keacara kamu. Kamu tidak marah sama ayah kan". Pak Dimas menjelaskan kepada Melody. Karena memang tidak ada daftar nama Davin saat Melody memeriksa kembali undangan yang akan dibagikan.
"Iya yah, gapapa kok". Melody tersenyum kepada ayahnya. Fathan tetap setia berada disamping Melody. Davin pun berpamitan kepada Melody dan keluarganya.
Suara canda tawa terdengar riuh didalam ballroom yang hanya menyisakan keluarga besar Malik, Keluarga Prasaja dan keluarga dari pasangan masing-masing. Ayah Melody begitu terkesan dengan kehangatan yang terlihat nyata di keluarga Malik. Bahkan beliau tak menyangka jika putri satu-satunya akan menjadi bagian dari keluarga Malik. Kehangatan itu sejenak hening ketika Shabila mulai menampakkan keasliannya.
"Kangmas. Tolong ambilkan dinda ayam kecap itu". Almeer yang akan menyiapkan nasi kedalam mulutnya terhenti seketika mendengar Shabila merubah panggilan untuknya. Mulut Almeer masih menganga. Keluarga lain pun ikut terdiam. Mereka terkejut mendengar Shabila memanggil Almeer dengan sebutan kangmas.
"Kangmas. Kok malah ngelamun sih. Tolong dong". Shabila menggoyangkan lengan Almeer. Almeer melirik Shabila dan mengambilkan apa yang dia mau. Sedangkan keluarga lain menahan tawanya.
Dean bersaudara saling menatap dengan si kembar Prasaja. Satria pun ikut menahan tawa. Meera dan para sepupu Almeer pun sama. Almeer hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Oya, Zee besok pagi jadi ikut papa ke Jogja kan". Airil sengaja mengalihkan pembicaraan karena melihat wajah masam Almeer.
"Jadi dong Pah. Zee udah izin kok selama satu Minggu". Zee semangat menjawab pertanyaan Airil. Mereka kembali menyantap hidangan yang sudah tersedia.
Drama pun terjadi. Geng onar sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak menjahili Almeer. Apalagi Shabila terus saja memanggil Almeer dengan sebutan kangmas dan kakanda.
"Oh kangmas, adinda begitu lelah hari ini. Sudikah kiranya kangmas memijat tubuh adinda ini". Satria memulai drama perwayangan yang amburadul. Thian memainkan peran selanjutnya.
__ADS_1
"Adinda ingin kangmas selalu setia bersama adinda. Jadikan aku satu-satunya permaisuri dihatimu kangmas". Thian memeluk Satria dan meletakkan kepalanya di dada Satria. Mereka berpelukan mesra.
Almeer yang sudah tak tahan dengan tingkah kedua sahabatnya itu, segera melepaskan sepatunya dan melemparkan kearah pasangan dadakan. Thian yang terkena sepatu Almeer mengaduh dan kembali memainkan dramanya dengan gaya kemayu.
"Aduh. Kangmas ada yang berniat jahat kepada adinda. Sakit kangmas, sakit". Satria pun mengikuti alur Thian. Semua anggota keluarga yang berada disana tertawa melihat tingkah duo konyol itu.
"Hai kisanak kenapa engkau melukai istri saya. Siapa kamu sebenarnya kisanak". Almeer melotot mendengar ocehan Satria yang masih bermain drama.
"Ada apa ini kakanda Satria. Mengapa engkau begitu murka". Ammar ikut ambil bagian dalam peran tersebut. Almeer hanya melihat sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Lihat pria itu adimas. Dia melukai kakak iparmu hingga menangis". Ammar menatap Almeer dan menggulung lengan bajunya seolah menantang Almeer bertarung. Almeer tak mau ini berlanjut panjang. Dia pun mengakhiri drama didepannya.
"Stop. Hei kalian para pengikut gerandong. Minggir dari hadapanku. Bisa gila lama-lama gue sama ulah kalian. Sengkuni ayo kita pergi dari sini". Almeer menarik tangan Shabila untuk meninggalkan ruangan itu.
Dean bersaudara, Satria dan Duo F naik keatas panggung musik yang masih tersedia. Mereka memainkan musik yang berbunyi seperti musik pewayangan hanya tanpa gamelan. Suara tawa terdengar membahana mengiringi kepergian Almeer dan Shabila.
Hanya pengantin baru yang malam ini menginap dihotel milik Arsya. Sedangkan semua keluarga memilih kembali ke kediaman Malik. Saat Thian mengantarkan Zee kembali kerumah, mereka sempat terhalang oleh para wartawan yang meminta wawancara. Keluarga Malik dan Prasaja serta keluarga Pak Dimas sepakat akan memberikan konfirmasi mengenai sedikit insiden dipernikahan Almeer, besok sore. Dan pihak keluarga Prasaja akan diwakili kedua asisten si kembar.
Tanpa terasa pagipun menjelang. Eneng membangunkan kedua calon menantunya saat adzan subuh berkumandang. Zee dan Melody tidur dalam satu kamar milik Fathan. Dan Fathan tidur bersama menggunakan kamar Thian.
"Zee, nak bangun. Subuh dulu yuk". Eneng mengusap lembut pucuk kepala Zee sambil membangunkan secara perlahan. Setelah itu Eneng juga membangunkan Melody.
"Kakak Mel, bangun sayang. Sholat dulu yuk". Suara lembut Eneng membuat Melody tersenyum. Eneng memang membiasakan memanggil Melody dengan sebutan kakak. Karena nantinya Melody akan menjadi menantu tertua dikeluarga Prasaja.
__ADS_1
"Iya mah. Kami sudah bangun kok". Kompak keduanya menjawab Eneng. Perlahan mereka membuka mata dan tersenyum melihat Eneng dihadapan mereka.
"Mandi sekalian ya Zee, kak. Habis subuh kita berangkat ke bandara. Pesawat kita pagi sayang". Jelas Eneng kepada kedua calon putrinya itu. Keduanya mengangguk dan Eneng meninggalkan kamar Fathan. Zee menggunakan kamar mandi dikamar Fathan, sedangkan Melody akan menggunakan kamar mandi bawah. Agar semua selesai tepat waktu..
Melody keluar dari kamar Fathan dan ingin menuju tangga. Namun langkahnya terhenti melihat Fathan sudah rapi dengan baju kokonya serta sarung dan peci berdiri didepannya.
"Mau kemana sayang". Tanya Fathan kepada Melody. Karena Fathan takut Melody mengalami tidur sambil berjalan.
"Mau ke toilet bawah kak. Mau mandi". Jawab Melody sambil menundukkan wajahnya. Dia malu karena baru pertama kali bertemu Fathan saat dia baru bangun tidur.
"Hei kenapa nunduk sayang. Aku didepan kamu loh". Melody masih enggan mengangkat wajahnya. Dia tidak percaya diri dengan kondisinya.
"Mel malu kak. Masih muka banyak banget ini". Fathan tertawa mendengar jawaban Melody.
"Gak usah malu. Kamu tetap cantik kok sayang. Mandi dikamar ini saja. Kakak dan Thian sudah mandi. Masuklah. Kakak ke masjid dulu sayang". Fathan tidak ingin Melody semakin malu, Fathan segera berlari turun mengejar Thian dan papanya yang sudah berjalan keluar rumah menuju masjid.
Semua koper yang akan mereka bawa sudah dimasukkan kedalam bagasi. Mereka juga sudah sarapan terlebih dahulu. Mereka berangkat dengan diantar oleh supir. Didalam perjalanan, nampak para penumpang sedang saling bertukar pikiran dan pengalaman.
Perjalanan kali ini memakan waktu satu jam lima belas menit untuk tiba di kota pelajar. Setibanya mereka di bandara Jogja, Arjuna sudah menunggu dengan membawa supir tambahan. Karena arjuna membawa dua mobil.
Arjuna tidak menginap. Setelah ijab qobul, Arjuna segera kembali ke Jogja. Arjuna tidak hadir dalam pesta karena mengkhawatirkan keadaan papanya. Apalagi ibunya yang menjaga juga sudah semakin menua dan butuh istirahat yang cukup.
"Akhirnya kita bisa liburan juga ya Kun". Ono nampak bahagia bisa diajak pergi oleh bos kesayangan mereka.
__ADS_1
"Iya no. Sudah lama kita tidak refreshing. Apalagi semenjak kita dihukum gak boleh nongol sama si bos. Hampa rasanya". Ono mengangguk setuju dengan perkataan Kunkun.
"Makanya jangan usil terus. Sampai bikin anak-anak sawan. Ngulah lagi kita balikin kalian kedunia kalian". Tiba-tiba Thian datang menghampiri KunNo yang asyik bercerita. KunNo memang sempat dihukum oleh si kembar karena membuat anak bayi ketakutan dan menangis. Dan mereka kini sudah bebas dari hukuman.