Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Ada Apa Dengan Almeer


__ADS_3

"Hai kak. Apa kabar"


Fathan sedang membaca sebuah pesan dari nomor tak dikenalnya. Seperti biasa Fathan akan mengacuhkannya. Fathan sedang menemani Oma untuk terapi. Karena hari ini Fathan sedang libur.


"Kak, ini Melody. Masih ingat gak"


Kembali pesan lain masuk. Wajah Fathan nampak berbinar. Hanya dengan sebuah nama saja bisa merubah mood Fathan. Fathan lekas membalas pesan itu.


"Hai Mel. Gak kok. Masih ingat. Apa kabar Mel".


Cukup lama belum juga ada balasan dari Melody. Fathan mulai gelisah. Emak yang melihat sang cucu gelisah tak seperti biasanya, mulai bertanya.


"Bang. Pengen stor ya. Kok gelisah gitu". Pertanyaan emak membuat Fathan bingung. Fathan masih belum paham maksud perkataan Omanya itu.


"Stor apa Oma. Fathan gak ngerti". Fathan menjawab pertanyaan Oma sambil menatap ponselnya. Emak berdecak kesal mendengar penuturan Fathan yang agak lemot.


"Dasar GGL". Fathan menatap emak penasaran dengan istilah baru yang emak lontarkan. Emak yang paham maksud tatapan sang cucu kembali melanjutkan perkataannya dan membuat para dokter dan perawat yang sedang membantu emak terapi tertawa.


"Ganteng-ganteng Lemot". Mata Fathan melotot dan dia menghela nafas lemah. Fathan Kemabli melihat ponselnya namun masih belum ada jawaban. Sedangkan emak sedang beraksi karena dokter yang membantunya melakukan terapi masih muda dan tampan.


"Aduh dok. Rasanya Oma bisa cepat sembuh nih kalau yang ngerawat kayak dokter Angga. Ternyata klinik ini bikin betah ya. Enak suasananya. Adem banget". Fathan melirik sinis kearah Omanya. Dengan sedikit mencibir. Dokter Angga dan asistennya hanya tersenyum mendengar penuturan emak.


"Modus". Fathan bergumam pelan. Tak lama ponsel Fathan kembali berbunyi. Dengan antusias Fathan membuka pesan itu. Bahkan Fathan telah mengubah nama kontak Melody dengan lambang sebuah nada lagu.


"Mel baik. Kakak apa kabar. Sudah lulus casting belum kak".


Fathan tersenyum membaca pesan itu. Karena sampai saat ini Melody masih menganggap jika Fathan sedang mengikuti casting diperusahaan Almeer.


"Alhamdulillah baik juga. Alhamdulillah sudah lulus. Baru selesai juga syuting buat film televisi. Kamu kerja dimana sekarang Mel".

__ADS_1


Emak mulai kepo dengan Fathan. Karena baru kali ini dia melihat sang cucu tersenyum sendiri dengan ponselnya. Emak kembali dengan mode jahilnya.


"Than. Woy than". Teriak emak membuyarkan kesenangan Fathan yang sedang berbalas pesan.


"Apa Oma. Sudah mau pulang apa". Fathan melihat kearah sang Oma yang sedari tadi meneriaki namanya.


"Loe sakit ya than". Tanya emak kepada sang cucu. Fathan hanya menggeleng sebagai jawabannya. Dan kembali membalas pesan dari Melody. Emak berjalan mendekati Fathan dengan meminta bantuan dokter Angga. Padahal emak masih bisa berjalan normal sendiri. Tapi bagi emak selagi ada kesempatan kenapa harus di sia-siakan.


"Aduh kenapa sakit sih dipake berdiri. Tolong dong". Emak berkata manja agar dokter tampan disampingnya menolong. Dokter itu dengan sigap merangkul emak dan memapahnya berjalan. Senyum bahagia tampak diwajah emak. Tidak dengan Fathan.


"Ck. Kambuh penyakit lebaynya. Oma tuh kursi roda nganggur gak usah usah terus kenapa". Fathan memprotes perbuatan emak. Tapi emak menanggapi dengan cibiran. Bahkan emak semakin berulah.


"Haduh. Parfumnya merek apa sih. Wanginya bikin nempel. Jangan-jangan dikasih ajian biar semua perempuan klepek-klepek sama dokter". Emak menempelkan kepalanya dibahu dokter Angga. Merasa tak benar dengan ucapan emak, dokter Angga langsung menyangkal.


"Ibu. Ini parfum biasa kok. Kayak yang dijual di mall. Jadi gak ada ajian apapun". Jelas dokter Angga dengan diiringi senyuman. Tanpa dokter Angga sadari senyuman itu membuat emak kejang-kejang.


Dua jam sudah Fathan menemani emak terapi. Fathan pun juga sudah tidak berbalas pesan dengan Melody. Karena Melody mengatakan sedang bekerja. Fathan tidak ingin mengganggu. Fathan membawa emak pulang kerumah. Saat Fathan mendorong kursi roda emak menuju lobby, mereka bertemu Kirana. Kirana nampak tersenyum bahagia melihat Fathan. Namun Fathan hanya biasa saja. Kirana berjalan menghampiri Fathan dan emak.


"Hai than. Lagi nemenin Oma terapi ya". Tanya Kirana dengan antusias. Emak hanya tersenyum tipis saja namun tak mengeluarkan suara apapun.


"Hm. Iya". Fathan menjawab dengan singkat. Dan hendak melanjutkan langkahnya. Namun Kirana berusaha mencegahnya.


"Tunggu. Bisa kita bicara berdua". Emak yang mendengar itu berusaha mencegah Fathan untuk berbicara berdua dengan Kirana.


"Bang ayo buruan. Oma sudah ngantuk". Sela emak sebelum Fathan memberikan jawaban. Walaupun tanpa bantuan emak. Fathan sendiri juga tidak akan mau menerima ajakan Kirana.


"Sorry. Oma lelah. Gue mau pulang". Fathan melanjutkan langkahnya dan meninggalkan klinik. Sebelum lebih jauh, Kirana sempat meminta Fathan menjawab semua pesannya. Namun Fathan tak merespon.


Berbeda dengan Thian yang saat ini sedang meeting dengan perusahaan yang akan memintanya menjadi model iklan. Awalnya perusahaan itu meminta si kembar. Namun Fathan sudah ada kontrak lain. Mereka sedang berada di kantor Almeer.

__ADS_1


"Oke. Saya rasa sesuai dengan kesepakatan kita. Tinggal kita mulai saja pemotretannya". Ucap pemilik perusahaan yang meminta Thian menjadi model. Satu jam meeting berlangsung dengan kesepakatan yang adil.


"Ya pak. Nanti segera saya atur jadwal untuk Fathian". Almeer masih menjadi manager khusus si kembar. Mereka tidak mau diganti dengan siapapun.


Setelah saling berjabat tangan tanda kerjasama mereka sudah berhasil, klien Almeer meninggalkan ruangannya. Dan hanya menyisakan Almeer dan Thian. Sedangkan asisten Thian sedang sibuk diluar kantor.


"Yan. Loe gak ada jadwal lagi kan habis ini". Almeer bertanya pada Thian yang sedang asyik bermain game diponselnya.


"Gak ada bang. Paling nanti malam gue ada acara". Jelas Thian kepada Almeer. Almeer tersenyum tipis mendengar ucapan Thian.


"Bisa bantu gue gak yan". Ucapan Almeer berhasil membuat Thian menyimpan ponselnya. Karena jika sudah seperti itu Almeer benar-benar butuh bantuan.


"Apa bang. Asal gak susah Thian usahain". Jawaban Thian membuat Almeer semakin bersemangat. Almeer berjalan dan duduk disamping Thian. Dia mulai mengatakan tujuannya meminta bantuan Thian.


"Gimana. Setuju gak". Almeer begitu antusias menunggu jawaban Thian. Namun berbeda dengan Thian yang kaget dengan permohonan sang kakak.


"Gue pikir-pikir dulu bang". Jawab Thian ragu. Thian tak habis pikir dengan jalan giliran sang kakak.


"Gak usah kebanyakan mikir. Gak ada waktu yan. Ayolah, bantu Abang kali ini aja". Almeer masih berusaha membujuk Thian.


"Permintaan loe gak wajar bang. Gue takut mama sama Oma ikut marah sama gue bang" . Thian mengungkapkan kekhawatirannya. Namun disisi lain dia ingin sekali membantu saudaranya itu.


"Sekali ini aja yan. Ayolah". Rengekan Almeer seperti anak kecil. Itu membuat Thian terpaksa menyetujui permintaan Almeer. Almeer bahagia dan segera membawa Thian pergi kesebuah butik ternama.


Sepanjang jalan menuju butik, Thian menghubungi sang kembaran. Untuk menceritakan semuanya. Fathan sama kagetnya dengan permintaan Almeer. Jika Thian tetap menolak, Almeer pasti akan sedih.


Thian hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang dilakukan oleh Almeer. Thian mengikuti segala kemauan Almeer. Hingga tanpa sadar Thian berteriak didalam butik tersebut. Membuat para pegawai dan beberapa pengunjung tertawa.


"Huahhhh. Tolongggg".

__ADS_1


__ADS_2