Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Bimbang


__ADS_3

"Kenapa cemberut gitu. Habis ketemu mas crush harusnya bahagiakan dek". Nanda menggoda Melody. Nanda menelpon Melody saat Melody saat Melody bersama dengan sikembar.


"Gue bingung bang". Melody menunduk lesu. Nanda sebagai saudara kembar memahami perasaan adik kembarnya itu. Nanda mengusap perlahan kepala Melody.


"Dek. Jangan takut untuk mengungkapkan semuanya. Abang tau kekhawatiran loe. Soal ayah sudah tidak usah loe takutkan. Abang sudah menerima perjodohan ini. Jangan sedih lagi". Melody memeluk tubuh saudara kembarnya itu dari samping. Ananda menerima perjodohan yang diajukan oleh ayahnya. Melody orang yang menentang pertama kali saat tahu Ananda dijodohkan oleh sang ayah.


"Abang yakin dengan keputusan yang Abang ambil". Melody masih meminta Nanda untuk memikirkan kembali keputusannya itu. Karena pernikahan bukan untuk mainan.


"Insyaallah Abang ikhlas sayang. Mutia gadis baik. Walaupun kami baru dikenalkan beberapa bulan, Abang sudah yakin dia memang jodoh Abang". Ananda tersenyum agar Melody tidak terlalu overthinking. Melody mengangguk percaya.


Saat Melody tengah menerima keputusan sang Abang, Thian pun berusaha untuk menghibur Fathan. Malam ini Thian tidur dikamar Fathan. Fathan masih diam menatap buku milik Melody.


"Besok biar Thian yang balikin buku itu bang. Abang kirim pesan ke Melody aja dimana mau ketemu. Biar Thian yang nemuin". Fathan masih saja diam menatap buku itu. Bahkan ponsel miliknya berdering pun, Fathan mengabaikan. Thian mengangkat panggilan telepon dari ponsel Fathan.


"Oke nanti gue sampaikan ke Abang". Thian mengakhiri panggilan dari ponsel Fathan. Fathan menatap manik mata sang adik. Dan Thian pun paham apa maksud tatapan mata itu.


"Dari Leon. Loe diundang ke party dia weekend ini". Thian menjelaskan siapa yang menghubungi Fathan. Fathan hanya berdehem pelan. Suara ketukan pintu kamar membuat Fathan buru-buru untuk segera terlihat baik-baik saja. Karena Fathan tak ingin orangtuanya tau apa yang sedang dia alami.


Eneng meminta kedua putranya untuk makan malam bersama. Setelah merasa siap, Fathan turun menyusul Thian yang lebih dulu bergabung dengan keluarganya. Airil menatap lekat kedua putranya itu.

__ADS_1


"Setelah makan malam papa sama mama mau ngomong sama kalian berdua". Si kembar mengangguk setelah mendengar apa yang Airil ucapkan.


Airil sudah duduk bersama si kembar. Mereka menunggu Eneng yang sedang membereskan meja. Sedangkan emak harus segera beristirahat. Fathan dan Thian diam menundukkan. Airil pun terdiam hanya fokus kepada ponselnya. Sikap Airil membuat sikembar berfikir kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Eneng sudah ikut bergabung dengan ketiga jagoan tercintanya.


"Ehem. Mungkin kalian berfikir kesalahan apa yang kalian perbuat. Kalian tidak berbuat salah apapun. Kalian adalah anak-anak yang terbaik yang kami sayangi". Airil memulai pembicaraan dengan menghilangkan kekhawatiran yang dirasakan kedua putranya.


"Papa ingin sekali bertanya kepada kalian. Mungkin ini sedikit menyinggung privasi kalian. Tapi papa hanya ingin tahu saja sejauh apa kedua putra hebat papa ini melangkah". Airil kembali menjeda pembicaraannya dan menatap kedua putranya dengan senyuman hangat. Tak ada satupun suara yang menyahut perkataan Airil.


"Abang. Abang sudah punya kekasih atau belum". Pertanyaan Airil membuat Fathan sedikit terkejut. Selama ini sang papa tidak pernah menyinggung hal semacam ini.


"Hem. Sebenarnya Abang memiliki seseorang yang Abang suka pah, tapi sayangnya dia sudah ada pemiliknya". Fathan berusaha selalu mengatakan jujur apapun yang sedang dia alami. Karena baginya keluarga adalah orang yang paling utama ada untuknya. Dan dia tidak ingin keluarganya mengetahui apapun tentang dirinya dari orang lain.


"Oh begitu. Dan kamu tidak bermaksud merebut kan bang". Airil kembali mengingatkan Fathan.


"Oke papa percaya Abang pasti bisa mengatasinya. Dan adek, apa adek punya kekasih atau seseorang yang adek sukai". Sebenarnya sejak awal memang pertanyaan itu untuk Thian, tetapi Airil tak ingin terlihat terlalu memojokkan Thian. Dan menanyakan hal yang sama kepada Fathan.


"Gak ada pah. Thian masih sendiri dan belum ada siapapun yang ingin Thian dekati". Secara gamblang Thian menjelaskan semua. Airil sedikit takut jika ingin mengutarakan maksud sesungguhnya dia bertanya hal privasi si kembar.


"Hmmm sebelumnya papa minta maaf jika ini akan menyakiti salah satu dari kalian. Papa dan mama tidak akan memaksa apapun keputusan kalian nantinya. Khususnya Fathian". Thian penasaran dengan perkataan sang papa karena lebih dikhususkan untuknya. Airil menggenggam telapak tangan Eneng, dia meminta dukungan dari sang istri. Eneng tersenyum memberikan dukungan untuk sang suami agar mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Fathian maafkan papa ya nak. Papa dan mama sendiri tidak bisa memutuskan apapun. Papa minta setelah papa mengatakan ini jangan mengambil keputusan hanya karena tidak ingin mengecewakan papa atau mama. Ambil keputusan sesuai perkataan hatimu nak. Karena kamu yang akan menjalin kedepannya. Kamu mengerti nak". Airil benar-benar ingin Thian yang mengambil keputusan sendiri. Dia tak ingin Thian merasa terpaksa menjalani semuanya.


"Iya pah. Adek mengerti". Dada Thian berdebar kencang setelah mendengar penjelasan Airil. Fathan yang juga bisa merasakan, berusaha menenangkan sang adik dengan mengusap telapak tangan Thian.


"Kemarin keluarga Papi Serkan meminta keluarga kita untuk makan siang bersama". Mendengar awalan yang diucapkan Airil membuat jantung Thian semakin berdebar. Dia berusaha sebiasanya mengontrol rasa itu.


"Papa gak akan berbelit-belit lagi. Kamu tau kan dek kalau Zee punya rasa lebih ke kamu melebihi rasa seorang kakak dan adek". Thian mengangguk pelan saat Airil menatapnya. Airil terdiam sejenak mengatur kata-kata yang tepat untuk disampaikan.


"Kemarin secara langsung Papa dan Ayah Arash dan Arsya meminta kepada papa untuk menjodohkan kamu dengan Zee. Papa tau ini akan mengejutkan kamu dek. Oleh karena itu papa bertanya secara langsung kepada kamu. Bagaimana menurut kamu dek. Apa kamu mau dijodohkan dengan Zee". Airil benar-benar tak sanggup untuk mengatakan ini. Tapi dia harus melakukan karena keluarga Malik sudah meminta jawaban.


Thian melihat Fathan. Fathan paham sekali perasaan Thian. Karena sebelumnya mereka sudah membahas hal tersebut. Fathan meminta Thian untuk mengatakan sejujurnya.


"Pah, mah maaf kalau kejujuran Thian akan menyakiti kalian. Selama ini Thian memang menganggap Zee adik Thian. Apalagi Bang Gara meminta Thian menjaga Zee. Beberapa kali memang Zee mengatakan jika Zee menyukai Thian lebih dari seorang kakak. Thian sendiri belum mengetahui secara pasti perasaan Thian kepada Zee. Dan papa sama mama taukan, menyandang gelar keluarga Malik itu tidak mudah. Thian merasa belum pantas untuk itu. Tapi jika memang yang terbaik Thian untuk berjodoh dengan Zee, Thian akan menerima pah, mah. Tapi beri waktu untuk Thian lebih memperjelas perasaan ini. Dan Thian akan terus berusaha untuk belajar menerima Zee". Perkataan Thian membuat Eneng menangis. Airil pun tak bisa menahan air matanya.


"Nak jangan melakukan itu. Jika kamu tidak yakin jangan memaksa. Papa tau ini sesuatu yang berat. Tolong kamu pikirkan lagi nak. Papa gak mau kamu menyesali keputusan kamu sendiri. Jangan terburu-buru nak. Papa akan bicara kepada Papi serkan mengenai hal ini". Airil kembali meminta Thian untuk memikirkan lagi. Karena Airil sangat yakin Thian akan menerima apapun yang membuat kedua orangtuanya bahagia.


"Dek. Papa benar. Loe pikirin lagi ya. Abang yakin papi serkan akan mengerti". Fathan memeluk sang adik memberikan semangat. Thian mengangguk paham dan akan mencoba untuk memikirkan kembali hal itu.


"Ya sudah. Kalian istirahat saja. Sudah malam". Airil mencoba mencairkan suasana yang menegang. Si kembar sudah beranjak menuju kamar.

__ADS_1


"Oya, weekend ini kalian papa ajak keacara pertunangan anak om Dimas. Bisakan". Airil kembali bersuara dan membuat si kembar menghentikan langkahnya.


"Bisa pah. Nanti papa kasih tau saja waktu dan tempatnya. Kami akan sesuaikan jadwal kami". Si kembar kembali berjalan menuju kamar mereka.


__ADS_2