
Waktu begitu cepat berlalu. Semenjak pertemuan keluarga besar kala itu, akhirnya Almeer bertunangan dengan Shabila. Berita yang begitu menggemparkan. Pesta pertunangan diadakan tertutup seperti permintaan Almeer.
Zee sudah mulai menjalani pendidikannya disebuah universitas negeri. Awalnya Zee akan pergi keluar negeri, namun mami Zee tidak mengizinkan. Hubungan Melody dan Fathan juga semakin baik-baik saja. Walaupun sering terdengar rumor tak mengenakan, namun rasa saling percaya mereka adalah kunci utama.
Setelah bermusyawarah dengan keluarga besar, diputuskan Almeer akan menikah lebih dahulu. Dan setelah itu diantara si kembar yang akan menyusul. Thian berniat menunggu Zee menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu, baru mereka akan menikah. Serkan sempat menanyakan kepada Thian mengenai hal itu. Karena Thian akan menunggu Zee paling cepat 3tahun lagi.
Thian tidak menjadi masalah. Karena dia ingin Zee fokus dengan pendidikannya. Karena kabar pernikahan Almeer sudah terdengar dimana-mana, adek dan saudara Almeer yang berada diluar negeri segera kembali ke tanah air.
Bahkan pesta kali ini dipastikan akan mewah. Almeer memang bukan anak terakhir dari Arash Malik, tapi Arash ingin putra pertamanya ini juga mendapatkan apa yang didapatkan sudari kembarnya kalah menikah dulu.
Semua keluarga sudah sibuk mempersiapkan pernikahan Almeer. Namun si kembar masih sibuk dengan pekerjaannya. Mereka akan mengambil cuti tiga hari mulai dari sebelum pernikahan Almeer hingga resepsi pernikahan Almeer.
Tak ada hubungan yang tidak mendapat ujian. Mungkin ini yang sedang dialami oleh Fathan. Fathan sedang menjalani syuting layar lebar. Dan salah satu lawan mainnya selalu saja berusaha mendekati dirinya. Bahkan beberapa hari yang lalu gosip kembali menerpa Fathan. Dan hari ini terulang lagi, perempuan itu mendekati Fathan.
"Hai. Sarapan bareng yuk. Aku bawa makanan banyak nih. Aku masak sendiri loh. Cobain deh". Fathan memilih pergi menjauhi perempuan itu. Bukannya menjauh perempuan itu semakin mengejar Fathan.
"Wah ini semakin menantang. Gue yakin loe bisa gue miliki". Gumam perempuan itu. Asistennya sudah mengingatkan jika Fathan sudah bertunangan. Namun gadis itu tidak peduli. Bahkan jika Fathan sudah menikah pun dia akan tetap mengejarnya.
"Loe kenapa Than. Dikejar sama Syeina lagi". Adrian mendekati Fathan membawakan sadwich yang Fathan minta.
"Kapan sih bagian gue kelar, capek gue Yan. Kasian Mel juga tiap hari dapat gosip murahan". Keluh Fathan kepada Adrian sang asisten.
"Kalau dilihat dari jadwal. Scene loe tinggal seminggu lagi Than". Adrian menjelaskan setelah melihat draf perjanjian kerjasama Fathan.
"Lama amat sih Yan. Oya loe udah tau belum siapa yang ngirim foto gak jelas itu ke media". Fathan masih mencari informasi mengenai foto-foto tentang dirinya dan Syeina yang beredar. Foto itu diambil candid dari sisi yang menguntungkan Syeina. Seolah Fathan memiliki affair kepada Syeina.
__ADS_1
"Sudah. Dan sayangnya foto itu disebar dari pihak Syeina. Gue tau loe mau apa. Tapi tahan dulu sebentar lagi syuting ini selesai. Dan loe bebas mau ngapain tuh manusia licik". Adrian berusaha menenangkan Fathan. Dia berusaha agar nama baik Fathan tetap terjaga.
Hari ini tidak ada adegan satu frame dengan Syeina, itu cukup membuat Fathan lega. Fathan bersiap akan kembali ke hotel, namun asisten sutradara memanggil Fathan.
"Than. Pak bos nunggu loe diruangannya. Buruan kesana loe". Fathan mengangguk dan berjalan menuju ruangan produser berada. Adrian mengikuti dari belakang. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Fathan segera masuk. Didalam sudah ada Syeina dan asistennya.
"Oke karena kalian sudah disini, saya langsung saja ke intinya ya". Produser itu membuka percakapan mereka.
"Jadi saya minta kerjasama kalian untuk promosi dan kemajuan dari film yang sedang kita kerjakan". Produser tersebut kembali menjeda pembicaraannya.
"Akhir-akhir ini berita mengenai hubungan kalian nampaknya sedang tranding. Dan saya ingin memanfaatkan kesempatan baik ini untuk menarik minat para penonton. Gimana apa kalian setuju". Fathan mulai merasa tidak enak dengan arah pembicaraan produser itu.
"Maksudnya gimana ya pak. Saya kurang paham". Sebenarnya Fathan bisa menebak arah pembicaraan itu, tapi dia berpura-pura saja agar produser itu menjelaskan.
"Gini Than, Syein. Saya punya usul, gimana kalau kalian akuin saja berita itu. Kan bagus tuh untuk naikkin rating". Syeina berbinar mendengar usulan produsernya. Tidak untuk Fathan.
"Halah cuma pura-pura saja Than. Gak jadian beneran kok. Tapikan media juga gak tau siapa tunangan kamu. Itu kan semakin bagus untuk menggiring opini publik". Produser itu semakin ambisius dengan rencananya.
"Maaf sekali lagi saya menolak. Walaupun media tidak mengetahui siapa tunangan saya, tapi saya harus tetap menjaga hatinya". Kembali Fathan menolak dengan tegas. Syeina semakin kesal.
"Oke deh ya sudah kalau memang kamu gak mau. Walaupun sebenarnya ini kesempatan bagus untuk menaikkan peminat. Tanpa harus promosi berlebihan". Sang produser sudah tidak bisa lagi memaksa Fathan.
Fathan pamit keluar terlebih dahulu dari ruangan produser itu. Syeina menyusul tak lama. Syeina memanggil Fathan untuk berhenti. Dia sudah sangat kesal.
"Than tunggu". Syeina sengaja berdiri didepan Fathan dan menghalangi jalannya. Jika tidak seperti itu Fathan tidak akan berhenti. Fathan berdiri diam tanpa melihat kearah Syeina.
__ADS_1
"Than kenapa loe gak terima aja saran Om Frans. Itu mempermudah promosi kita Than". Fathan tidak menanggapi omongan Syeina. Dia berlalu pergi. Lagi Syeina menghalangi jalannya. Dan Fathan tetap menghindar dan terus berjalan.
"Seperti apa sih tunangan loe. Sampai segitunya loe belain dan loe sembuyiin". Syeina bergumam kesal dan kembali ke lokasi. Syeina masih ada scene hingga malam hari.
Didalam kamar hotel, Fathan menumpahkan segala kekesalannya. Adrian terus berusaha menenangkan Fathan. Adrian pun sama kesalnya dengan Fathan.
"Loe udah minta bang Almeer buat klarifikasi berita murahan itu gak Than". Adrian duduk menyandarkan punggungnya disofa.
"Sudah. Bang Al tau apa yang harus dilakukan". Jelas Fathan. Fathan memilih berendam agar emosinya mereda.
Sedangkan dikediaman Iqbal, Melody sedang menjawab pertanyaan sang Abang karena rumor Fathan terus memanas. Melody bahkan terlihat santai. Itu yang membuat Iqbal bingung.
"Dek. Kamu gapapa kan". Iqbal bertanya khawatir kepada adik perempuan satu-satunya itu.
"Kenapa apanya bang. Mel baik-baik saja kok". Melody menjawab dengan santai. Iqbal merasa lega melihat Melody tetap baik-baik saja.
"Berita yang beredar gak ganggu aktifitas kamu kan dek. Abang khawatir loh dek". Iqbal kembali memastikan keadaan Melody.
"Mel gapapa bang. Lagian kak Fathan selalu kasih kabar kok. Melody percaya sama kak Fathan gak akan berkhianat". Jelas Melody kepada Iqbal. Iqbal hanya tersenyum tipis.
Melody bergegas berangkat ke kafe karena sejak buka, kafe Melody sangat ramai. Iqbal duduk termenung diruang tamu. Sang istri mendekati keadaan suaminya.
"Kenapa by. Kok murung". Tanya istri Iqbal yang sudah duduk disamping Iqbal.
"Aku khawatir keadaan Melody sayang". Sahut Iqbal dengan mata masih menatap keluar..
__ADS_1
"Selama ada kejujuran diantara mereka tidak perlu khawatir by". Usapan lembut dibahunya membuat hati Iqbal sedikit tenang.
"Masalahnya bukan itu sayang". Sang istri yang paham maksud pembicaraan Iqbal hanya bisa tersenyum dan mengatakan semua akan baik-baik saja.