
"Than. Gue lupa mau ngasih tau. Tadi gue ketemu sama cewek yang jadi OB dikantor Almeer". Adrian memberitahu Fathan tentang pertemuannya dengan Melody di resto.
"Kapan. Loe gak salah lihat kan". Fathan masih belum percaya jika Adrian bisa dengan Melody.
"Tadi diresto. Pas gue nyamperin Thian. Eh than gue mau nanya ke loe deh". Adrian sudah penasaran sejak melihat Thian dekat dengan Melody diresto tadi.
"Apaan". Fathan melihat raut wajah Adrian yang nampak serius. Fathan menatap Adrian dengan serius.
"Apa Thian juga dengan cewek itu". Fathan sepotan menggeleng karena dia merasa jika adiknya tidak mengenal Melody. Namun dari tatapan mata Fathan terlihat jika Fathan sendiri tidak yakin. Adrian kembali berbicara.
"Loe jangan mikir negatif dulu. Kenapa gue tanya gitu karena tadi pas gue nyamperin Thian, Thian kelihatan akrab sama cewek itu. Gue takutnya tuh cewek salah orang. Oya tadi gue ngasih nomor ponsel loe ke dia". Adrian mengatakan apa yang sedang dipikirkannya. Fathan pun mulai tersadar dengan perkataan Adrian.
Selama ini banyak fansnya juga masih tertukar menyebut nama diantar mereka. Fathan ingin mencoba bertanya kepada Thian. Namun masih dia urungkan. Karena selama ini Fathan masih belum bercerita mengenai Melody kepada Thian.
Hari ini jadwal syuting si kembar tidak sampai larut. Dan mereka hanya tinggal menyelesaikan beberapa adegan lagi. Dan syuting berakhir. Si kembar lebih menyukai serial film televisi yang tidak banyak memakan waktu dalam pengambilan adegan dan memiliki episode yang pendek.
"Dek. Ntar ke tempat biasa yuk. Udah lama kita gak habisin waktu bareng". Walaupun mereka sering bertemu namun sangat jarang bisa menghabiskan waktu bersama. Sekedar minum kopi bersama sudah sangat jarang bisa mereka lakukan.
"Emang Abang gak ada kegiatan lagi apa". Thian juga tahu kesibukan masing-masing. Dan memang hari ini Thian sudah tidak ada jadwal lagi.
"Gak ada. Gue juga tau loe kosong. Makanya gue ajak nongkrong. Gak kangen apa loe sama gue dek". Fathan menggoda Thian. Walaupun terlihat cuek namun jika sudah menyangkut keluarga terutama saudara kembarnya, Fathan akan berubah.
"Kangen banget". Thian langsung memeluk Fathan. Bahkan mencium kedua pipi kakak kembarnya itu. Hal itu membuat Fathan risih. Fathan memukul kepala sang adik. Adegan mereka berdua menjadi tontonan para kru dan artis lainnya.
__ADS_1
"Si kulkas berjalan kalau udah ketemu kembarannya bisa cair ya ges. Senyumannya itu loh bikin hati leleh". Seru salah satu artis yang terus memperhatikan mereka berdua.
Asisten si kembar sedang membereskan semua barang yang mereka bawa. Mereka meninggalkan lokasi syuting dan langsung menuju kafe tempat biasa si kembar menghabiskan waktu.
---
"Melody. Hari ini kamu bekerja dengan sangat baik. Seperti janji saya jika sudah tiga bulan gaji kamu saya naikkan". Pemilik resto tempat Melody bekerja memberikan gaji miliknya. Dan ini tepat tiga bulan Melody bekerja di resto.
"Makasih pak. Saya akan bekerja lebih giat lagi". Melody tersenyum bahagia menerima hasil keringatnya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang gajinya tak seberapa tapi bagi Melody itu sangat berharga.
Melody hari sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia bekerja dari pagi hingga malam. Malam ini jalanan nampak lebih sepi dari hari biasanya. Melody menunggu angkot untuk membawanya pulang. Dari tempat yang tak begitu jauh seorang ayah sedang memantau putrinya itu.
Pak Dimas sengaja menunggu sang putri dihalte tempat biasa Melody menunggu angkot. Jika bisa, pak Dimas ingin turun dan memeluk sang putri. Namun dia takut putrinya akan lari.
Melody Tiffany Putri. Itulah namanya. Tiffany adalah panggilan dari sang ibu kepadanya. Pak Dimas menatap sendu dari kejauhan. Tak menyangka jika putri satu-satunya akan menjadi sekuat ini. Bahkan dia tetap menolak uang yang diberikannya. Tak lama angkot Melody tiba. Mobil pak Dimas tetap setia mengikuti dari belakang. Hanya dengan cara itu pak Dimas bisa menjaga sang putri.
"Hai cantik. Apa kabar loe sayang". Sapa orang itu. Tanpa berfikir lama Melody berlari memeluk erat seorang pria tampan dihadapannya.
"Kenapa baru sekarang datang. Kenapa loe jahat sekali". Melody menangis dalam dekapan pria itu. Dia sudah tak bisa menahannya lagi. Rindu yang selama ini dia pendam.
"Maaf sayang. Maaf gue baru bisa kembali. Maaf sudah membuatmu berjuang sendiri. Mulai saat ini gue akan ada di samping loe. Gue janji gak akan meninggalkanmu lagi. Gue minta kamu jangan menghilang lagi. Karena itu juga membuat gue sedih". Pria itu memeluk Melody dengan sangat erat. Sudah lama dia merindukan Melody. Dan akhirnya mereka bisa dipertemukan kembali.
Melody dan pria itu berjalan pulang menuju rumah Iqbal. Disepanjang jalan pria itu terus merangkul pundak Melody. Mereka bercerita tentang apa saja yang sudah mereka lalui selama ini. Sedangkan pak Dimas memutuskan untuk kembali kekediamannya.
__ADS_1
"Kamu sudah kembali. Ayah yakin Melody akan lebih aman bersama kalian. Maafkan ayah. Ayah akan segera menemui kalian. Terimakasih sudah mau kembali". Pak Dimas bergumam pelan. Matanya tak bisa berbohong jika dia juga merindukan anak muda itu.
Sesampainya dirumah Melody masuk ke kamarnya. Dia menghitung semua penghasilan yang dia dapat selama ini. Melody menabung sebagian penghasilannya. Dia bekerja apapun untuk mewujudkan impiannya dan membuktikan kepada sang ayah jika dia mampu melakukan apa yang telah ayahnya katakan waktu itu.
"Alhamdulillah. Sebentar lagi aku akan bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpiku. Ayo Melody semangat loe pasti bisa". Melody menyemangati dirinya sendiri. Suara ketukan pintu membuat Melody segera menyimpan semua uang tabungannya. Dia tak ingin seorang pun tau apa yang menjadi rencananya.
"Mel. Gue masuk ya". Suara dari balik pintu kamar Melody. Orang yang sama yang menjemputnya tadi.
"Masuklah". Setelah yakin dia siap, Melody meminta pria itu masuk kedalam kamarnya. Rasa bahagia masih Melody rasakan saat bisa bertemu kembali dengannya.
"Gue masih kangen. Gue mau tidur sama loe malam ini. Boleh kan. Sekalian cerita lagi apa aja yang loe kerjakan selama ini. Dan kemana aja loe selama ini". Pria itu terus bertanya sambil merebahkan tubuhnya diatas rkanjang Melody.
"Loe juga harus cerita. Kenapa loe juga pergi jauh banget. Bahkan loe ganti nomor gue gak tau". Melody juga tak mau kalah. Mereka berbagi cerita malam itu. Melepas semua rindu selama ini.
"Gimana loe udah punya pacar belum". Tanya Melody kepada pria itu. Mereka berbaring sambil menatap langit-langit kamar Melody yang dipenuhi dengan pantulan cahaya lampu yang berbentuk bintang.
"Huh. Gak kepikiran. Gue disana benar-benar kerja dan sekolah. Loe tau kan bang Iqbal itu gimana. Lagian juga gue gak mau punya pasangan dulu sebelum loe punya pasangan". Jawab pria itu. Melody menyambut dengan senyuman.
"Kayaknya seru ya kalau dapat pasangan kembar juga". Melody menghayal sambil terkikik geli. Pria itupun sama.
"Mana mungkin. Jarang sekali ada pasangan kembar berlainan jenis seperti kita Mel. Masa ya gue nikah sama cowok juga. Pisang makan pisang dong". Mereka tertawa bersama hingga larut malam.
"Jangan tinggalin gue lagi ya Nda. Gue gak punya teman". Suara sendu Melody terdengar ditelinga saudara kembarnya.
__ADS_1
"Iya. Gue akan disini temenin loe. Gak usah sedih lagi". Ucapnya menenangkan Melody.
"Makasih my twin. Ananda Steffano Putra". Melody memeluk erat saudar kembarnya itu.